
Lisa terkejut dengan teriakan Abi, ia secepat kilat keluar dari ruangan itu, wajahnya memerah padam menahan malu. Ia tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Hal yang terjadi barusan bahkan ia tak berani membayangkan terjadi dalam mimpinya.
"Sial!! Kenapa aku bisa nggak sadar" maki Abi pada dirinya sendiri. Sejujurnya ia ingin memaki Lisa tapi gadis itu sudah kabur duluan.
"Haish...." Ucapnya lagi sembari menoleh pada bagian sensitifnya.
Lisa berlari turun kelantai satu, jantungnya berdegup dengan kencang, bahkan tubuhnya sedikit bergetar. Bayangan tubuh atletis Abi bergentayangan dipikirannya.
"Ya Tuhan, ia memiliki tubuh yang tidak kalah **** dari aktor mesum itu" gumam Lisa tanpa sadar.
"Berhenti memikirkannya Lisa, berhenti" Lisa mengacak rambutnya, berharap bayangan haram yang ada dipikirannya menghilang.
Lisa memilih duduk di sofa ruang tengah, yang posisinya tak jauh dari tangga turun. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang dan juga sendi kakinya yang terasa gemetaran.
"Kacamata satu-satunya pecah lagi, apes banget gue hari ini" gumam Lisa lirih.
Setelah lima belas menit, Abi turun dari tangga, Lisa menoleh kearah tangga. Tak sengaja pandangan mata Abi dan Lisa bertemu, spontan mereka mengalihkan pandangannya secara bersamaan. Peristiwa yang memalukan itu masih terekam jelas di ingatan mereka.
"Maaf Tuan, ta-tadi...., saya benar-benar tidak sengaja" ucap Lisa ragu ketika Abi berjalan mendekat.
"Diam kau!!" Ucap Abi dengan wajah memerah.
"Tapi beneran Tuan, tadi itu ..."
"Aku bilang diam!! Jangan bahas itu lagi, kalau kau tidak ingin di pecat!" Ancam Abi menyela ucapan Lisa.
"Siapkan makan malam, aku lapar" ucap Abi lagi, sembari berjalan melewati Lisa, ia bahkan tak menoleh sedikitpun. Ia masih diliputi rasa malu, tapi perutnya yang lapar mau tak mau menuntunnya untuk berbicara pada Lisa.
Sementara Lisa memasak di dapur, Abi memilih menunggunya di ruang tengah. Ia mengecek beberapa pesan yang masuk ke handphonenya.
__ADS_1
Lisa mengikuti petunjuk yang bibik berikan, ia mulai menghidupkan kompor. Mengeluarkan ikan dari kulkas, termasuk lalapan dan sambalnya.
Menghidupkan kedua kompor sekaligus, yang satu Lisa gunakan untuk menghangatkan sambal dan satu kompor lagi untuk menggoreng ikan.
"Kenapa ikannya beku gini" gumam Lisa membolak-balik ikan yang lengket satu sama lain.
Berusaha memisahkan ikan yang membeku rupanya cukup sulit, sementara bosnya sudah menunggu. Lisa menggunakan wajan kecil untuk menghangatkan sambal. Ia menggunakan api kecil untuk menghangatkan sambal sesuai arahan bibi.
Beralih kembali ke ikan yang masih juga belum mencair, akhirnya Lisa memutuskan untuk langsung menggorengnya saja.
"Masukin semua aja deh" Melihat wajan yang penuh dengan minyak sudah mengeluarkan hawa panas, ia memasukkan ikan yang membeku. Total ada 4 ikan dengan ukuran telapak tangan dewasa.
"Mammaaaaaaaaaa......, Tollloooonnng....." Teriak Lisa ketakutan melihat api kompor membumbung tinggi.
Minyak panas, muncrat kesegala arah karena kandungan air yang ada dalam ikan. Belum lagi minyak yang terlalu banyak membuatnya meluap keluar. Alhasil api kompor membumbung tinggi membakar minyak yang tertumpah.
"Hatsyin-hatsyin, to-tolong...., Hatsyin-hatsyin" aroma sambal menyeruak ke hidung Lisa. Membuatnya bersin-bersin tak karuan.
"Bencana apalagi yang dilakukan wanita itu!!" Ucap Abi kesal, ia memiliki firasat yang buruk. Ia yang mendengar teriakan Lisa dari dapur berulang kali dan segera berlari.
"Hatsyin-hatsyin..." Belum juga sampai di dapur Abi sudah bersin-bersin karena bau sambal yang sangat menyengat.
"Hatsyin-hatsyin..., Astaghfirullah, apa yang sebenarnya kau masak ini!!" Teriak Abi sembari memasuki dapur. Sebuah pemandangan yang lebih mengejutkan lagi. Kompor dengan api membumbung tinggi.
"Ya Allah!!" Abi mematikan kompor dan melepas selang gas.
"Jangan diam saja, basahi lapmu dengan air dan tutup apinya dengan lap basah itu!" Perintah Abi, sembari ia menjauhkan tabung gas dari api.
Lisa yang bingung dan panik langsung melempar lap kering yang ada ditangannya tanpa membasahinya. Alhasil api semakin membesar melahap kain itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!!" Teriak Abi marah.
"Ya, Tuhan!!" Teriak Lisa tersadar.
Lisa yang menyadari kebodohannya langsung menghidupkan keran air. Menadah air di dalam panci dan menyiramnya pada sumber api berkali-kali. Ia bekerjasama dengan Abi untuk memadamkan apinya.
"Alhamdulillah padam" ucap Lisa dan Abi lega. Mereka bersandar pada tembok dapur dalam posisi berdekatan.
"Hahaha...." Mereka saling tatap dan tertawa, mendapati wajah mereka di penuhi hangus.
"Diam!!" Ucap Abi ketika sadar kondisi dapurnya seperti habis dilewati badai.
Tidak hanya terdapat bekas hangus di tembok, tapi juga genangan air bercampur minyak di lantai. Belum lagi lima ekor ikan yang ikut berserakan di lantai dapur. Kondisi dapur yang benar-benar sangat mengerikan.
"Maaf" ucap Lisa menunduk. Rasa bersalahnya lebih besar di banding rasa takutnya.
Abi mengajak Lisa ke ruang tengah, ia mengintrogasi Lisa tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Kalau kau tidak bisa memasak kenapa kau mau disuruh menggantikan Bi Darmi!!" Ujar Abi Kesal.
"Saya butuh pekerjaan Tuan" Lisa mencoba untuk membela diri.
"Sepertinya aku tidak bisa mempertahankan kamu bekerja di sini lagi. Kesialanku semakin bertambah memiliki karyawan sepertimu" ucap Abi membuat Lisa terkejut. Ia tak menyangka jika akibat perbuatannya menghancurkan semua rencananya.
"Jangan pecat saya Tuan, tolong beri saya kesempatan sekali lagi. Saya janji nggak akan seperti ini lagi, tolong Tuan" rengek Lisa memohon, ia bahkan sampai jongkok di depan pria yang tengah duduk di sofa itu.
"Sebaiknya kau rapikan dapurmu itu sebelum kau tidur, dan jangan lupa rapikan juga barang-barangmu itu. Mulai besok kau tak perlu bekerja lagi disini."
Suara Abi terdengar tegas dan tidak bisa dibantah. Bahkan Lisa tak mampu menatap balik Abi. Tatapan Abi dipenuhi dengan kemarahan dan kekecewaan padanya.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkan wanita pembuat masalah itu bekerja di rumahku, batin Abi kesal.
TBC.