LOVE STORY PAPARAZZI

LOVE STORY PAPARAZZI
Tertangkap.


__ADS_3

Bintang dan Mama Rita terkejut, mereka menatap Lisa tak percaya. Sementara Lisa sendiri juga bingung dengan perkataannya sendiri, ucapan itu keluar begitu saja dari pikirannya.


"Lisa kamu lagi bercandakan?" Tanya Bintang seolah tak percaya. Selama ini adiknya itu belum pernah menunjukkan ketertarikan pada satu pria pun. Ia lebih menyukai dunia tulis menulis di bandingkan mencari seorang pacar. Bahkan Daniel yang menyukainya dari dulu selalu ia abaikan.


"Iya Lisa, Ibu juga ikut terkejut. Kamu beneran suka sama anak Ibu?" Tanya mama Rita, ia sama terkejutnya dengan Bintang. Ia tak menyangka ada yang menyukai anaknya yang gila kerja itu, apalagi sampai menyamar menjadi pembantu.


"Aku...."


"Assalamualaikum" tiba-tiba Denis muncul dengan menenteng beberapa kantong plastik di tangannya. Lisa yang ingin berbicara menghentikan ucapannya.


"Aku membawakan makanan dan minuman untuk kalian" ucap Daniel sembari masuk ruangan itu. Ia menaruh makanan itu di atas meja.


"Siapa ya?" Tanya mama Rita melihat wajah asing Daniel.


"Tante saya Daniel sahabat bintang dan calon suami Ali" ucap Daniel memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri.


"Ali? Siapa Ali?" Tanya Mama Rita bingung, menoleh ke arah Alisha.


"Ali, Alisha Tante" menunjuk kearah Alisha.


"Oh Lisa, jadi beneran dia calon suamimu Lisa?!" Tanya Mama Rita, semakin bingung. Mungkin ini yang dinamakan cinta segitiga, pikirnya.


"Jangan dengarkan dia Bu, dia memang seperti itu. Dia paling suka bercanda, Lisa belum punya pacar atau calon suami kok Bu" jawab Lisa sembari memelototi Daniel, Daniel hanya bisa tersenyum kikuk mendengar jawaban Lisa.


"Bagaimana perkembangan kasusnya?" Tanya Bintang mengalihkan pembicaraan. Daniel memang baru saja kembali dari kantor polisi.


"Aku akan menceritakannya di jalan nanti, kita harus kembali ke hotel. Ada hal penting yang harus kau urus" jawab Daniel dengan wajah seriusnya.


"Baiklah, tunggu sebentar" jawab Bintang. Ia menghampiri mama Rita dan duduk disamping wanita itu.


"Ibu, kami ingin berpamitan. Besok insyaallah, kami akan kembali kemari melihat Abi." Ucap Bintang dengan lembut.


"Terimakasih karena sudah membawa anak Tante kerumah sakit" ucap mama Rita.


"Harusnya saya yang berterima kasih karena putra Ibu sudah menyelamatkan nyawa saya. Terimakasih Bu, karena telah memiliki putra yang hebat" ucap Bintang membuat mama Rita tersenyum.

__ADS_1


"Ali, ayo kita kembali" ajak Daniel meraih tangan Lisa.


"Nggak Lisa mau disini aja" jawab Lisa menolak ajakan Daniel, ia melepaskan tangan Daniel yang menggenggam tangannya.


"Kak, Lisa disini saja ya menemani Ibu Rita. Kasihan beliau sendiri, nggak ada temannya" ucap Lisa lagi, melihat kearah Kakaknya.


"Ibu tidak sendiri, nanti ibu bisa telpon Isal untuk menemani Ibu disini. Kau tak perlu khawatir" ucap Ibu pada Lisa. Ia merasa tak enak jika terus merepotkan Lisa.


"Tidak, saya masih tetap ingin disini untuk menemani Ibu. Ada yang ingin Lisa bicarakan juga dengan Ibu, Ibu tidak keberatan kan Lisa disini menemani Ibu?" Tanya Lisa. Lisa memang sangat keras kepala jika sudah menyangkut keinginannya.


"Ibu terserah Kakakmu saja, kalau kakamu tidak keberatan Ibu tidak ada masalah" ucap Mama Rita akhirnya.


"Baiklah, kau boleh menginap disini. Nanti jika kau tiba-tiba ingin kembali, tolong telpon kakak atau Daniel" ucap Bintang mengusap lbut kepala adiknya itu.


Daniel hanya diam saja mendengar keputusan Bintang, pikirannya seolah tidak pada tempatnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Ayo" Bintang mengajak Daniel untuk pulang.


"Tunggu sebentar" ucap Daniel.


"Terimakasih Kak" jawab Lisa tersenyum.


Daniel dan Bintang berpamitan pada Lisa dan mama Rita.


Di perjalanan Daniel menjelaskan apa yang telah terjadi selama proses penyelidikan.


"Polisi sudah menangkap pelaku, Jadi di duga pelaku mabuk. Ia emosi mengetahui istrinya berselingkuh di hotel, lalu karena dipengaruhi alkohol dan dalam keadaan marah jadi ia menabrak kalian berdua. Begitu penjelasan yang di dapat oleh kepolisian" jelas Daniel pada Bintang.


"Tidak, aku merasa tidak seperti itu. Aku bisa melihatnya pada saat ia mengendarai kendaraan itu ia tidak seperti orang mabuk, ia memang menargetkan kami berdua. Ia membawa kendaraan dengan posisi yang memang berencana untuk menabrak kami sengaja. Jika ia mang mabuk pasti mobilnya akan sedikit oleng" Bintang mengeluarkan pendapatnya.


"Tapi polisi sudah mengecek kadar alkohol dalam darahnya, dan ia positif dalam kondisi mabuk dibawah pengaruh minuman keras" Daniel menyampaikan informasi yang ia terima dari kepolisian.


"Entahlah, aku merasa ada yang janggal dalam kecelakaan ini. Pasti ada motif lain atau bahkan dalang dibalik ini semua. Aku berpendapat kasus Ini lebih ke pembunuhan berencana di bandingkan hanya sebuah kecelakaan yang diakibatkan orang mabuk" Bintang berfikir kasus kecelakaan yang di hadapi Abi tidak semudah itu.


"Polisi sudah memanggil istri pelaku dan juga selingkuhannya. Dan memang benar, mereka berselingkuh di hotel milikmu itu. Polisi juga sudah memeriksa CCTV hotel dan hasilnya sesuai dengan perkataan tersangka. Jika kau berpikir ini pembunuhan berencana, berarti dalang di belakang ini cukup hebat, hingga ia bisa mengaburkan motif dibelakangnya" ucap Daniel. Ia memikirkan kemungkinan kebenaran perkataan Bintang.

__ADS_1


"Aku ingin kau carikan aku detektif yang hebat untuk menyelidiki kasus ini. Aku tidak ingin pelaku itu bebas begitu saja. Bagaimana jika ternyata targetnya bukan Abi, melainkan diriku" Bintang memikirkan kemungkinan yang ada.


"Tenang saja aku sudah meminta seseorang untuk menyelidiki kasus ini, aku paling mengerti apa maumu bahkan sebelum kau memberi perintah padaku" ucap Daniel membanggakan dirinya.


"Dan aku paling mengerti dalam hal perasaanmu, terutama tentang Lisa. Kau mendengar percakapan kami bukan?" Tanya Bintang pada Daniel. Daniel tak menampakkan wajah terkejut sedikitpun. Ia paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada sahabatnya itu.


"Hemm, dan terrnyata sesakit itu" Daniel mengakui perkataan Bintang.


"Apa kau menyerah?"


"Tidak, kenapa aku harus menyerah? Aku sama sekali belum mau menyerah. Kau tenang saja aku tidak akan memaksakan perasaanku padanya. Ia berhak bahagia dengan pilihannya, dan aku juga mempunyai hak untuk mencintainya. Cukup adilkan" ucap Daniel sok bijaksana.


*********


Sementara itu disebuah tempat, di sebuah ruangan yang terlihat besar dan mewah. Seorang pria paruh baya sedang mendengarkan laporan kedua anak buahnya.


"Jadi maksudmu dia selamat?!" Tanya pria itu, kepada anak buahnya.


"I-iya Tuan" jawabnya tergugup.


"Kalian memang tidak berguna!! Berhari-hari kalian mengawasinya tapi kalian masih saja gagal membunuhnya" ujar pria itu kesal. Ia melempar asbak kaca kearah kedua anak buahnya itu. Asbak itu mengenai salah satu pelipis dari anak buahnya itu hingga berdarah.


"Bagaimana dengan pelakunya?" Tanyanya lagi.


"Pelakunya tertangkap Tuan. Tapi anda jangan khawatir, kami sudah menyiapkan motif lain, jadi tidak akan ada yang mencurigai Anda Tuan" jelasnya lagi.


"Awasi dia terus secara diam-diam, dan jangan membuat pergerakan apapun yang akan membuat orang lain curiga. Cukup awasi saja, kalian mengerti maksudku bukan!!" Teriak pria itu.


"Kami mengerti Tuan."


"Pergilah!!" Perintah pria itu. Kedua anak buahnya itu menunduk dan keluar dari ruangan itu. Mereka cukup lega karena Bosnya mengampuni nyawanya.


"Aku mengampuni nyawamu kali ini. Tapi lain kali, kau tidak akan bisa lolos dari kematianmu!" Gumam pria itu, ia memecahkan cangkir kopi yang ada di dalam genggamannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2