
Pendar mentari jatuh di pantai, kemilaunya memantulkan cahaya silau di mata. Terik mulai menyengat di kulit. Pasir pantai berkilau layaknya berlian yang bertabur. Ku ayun langkah menyusuri bibir pantai siang ini. Entah sudah berapa lama Pantai Air manis tak ku kunjungi. Di sini dulu tempatku selalu membuang sepi. Tempat dimana aku selalu menikmati Sunset yang membenam didasar samudera.Ada kenangan yang terselip indah di hatiku di tempat Legenda Si Malin Kundang ini. Panas semakin menjadi, segera saja ku mampir di sebuah cafe tenda di pinggir pantai. Ku nikmati Segarnya air kelapa muda dan Sala Lauak yang dijajakan. Nikmat sekali rasanya, aku rindu dengan makanan ini, makanan yang dulu selalu Nenek belikan untuk ku setiap petang, yang dijajakan seorang anak kecil yang kerap setiap petang lewat di depan rumah.
Ahh... ku jadi ingat Kalimat yang di ucapkan Anak itu sepanjang jalan.
"Sala Lauak..... Sala Lauak....
Suara itu melengking panjang hingga sayup terdengar. Tanpa terasa bulir bulir bening bergulir di belahan Pipiku, Aku rindu pada seorang perempuan tua yang sangat menyayangi ku. Nenek!!, Dalam diam ku rangkai doa dalam hati untuk Beliau. Meskipun sebelum berangkat ke pantai ini tadi aku telah berziarah ke Pusaranya.Lekas ku seka air mata yang berderai di kedua pipiku. Aku tak pernah mau ada orang lain yang mengetahui kesedihan ku. Biarlah aku sendiri yang merasakannya dan menanggungnya.
Gawai di dalam hand bag berbunyi. Lekas ku raih.
Ya Allah.... Prass menelpon, aku lupa memberi tahunya tentang keberangkatan ku pulang ke kampung halaman. Semuanya mendadak.
Assalamu'alaikum Prass" ku dahului menyapa Prass.
"Waalaikumsalam Aluna" jawabnya dari sana
Merasa berdosa aku padanya
__ADS_1
Lekas ku minta Maaf pada Prass.
"Prass aku minta maaf, aku pulang kampung, gak sempat beri tahu kamu. " Ucapku pada Prass tanpa henti.
"Iya Aluna, barusan aku hampirin kamu di rumah, tapi sepi , enggak ada siapa siapa. "
"Prass, sekali lagi aku minta maaf ya".
" Iya Aluna, gak Apa apa, kamu baik baik ajakan? "balas Prass lagi.
" Syukur lah Aluna, trus kapan kamu Balik? tanyanya padaku.
"Belum tahu Prass, Kak Harrast kecelakaan, Mama dan Papa juga ada disini.
" Oh gitu ya Aluna, iya Enggak Apa apa. Boleh kalau aku susul kamu Aluna? "tukas Prass lagi.
" Serius kamu Prass"? tanyaku setengahnya tak. percaya.
__ADS_1
"Benar Aluna aku serius nih".lanjutjya.
" Silahkan Prass, aku tunggu kamu ya"ujarku senang.
Prass akan menyusulku? sampai segitu nya dia?
Apa yang akan ku katakan pada Mama, Papa dan kedua kakakku jika mereka bertanya tentang Prass.
"Hallo Aluna kenapa diam aja? ".Prass membuyarkan lamunanku yang sesaat.
" Eh iya Prass, aku senang kamu mau kesini. Terimakasih ya "balas ku lagi padanya.
" Iya Aluna sama sama kembali kasih" jawabnya bercanda.
Sembari mengakhiri pembicaraan kami siang itu.
Mentari mulai condong ke Barat. Ku putar langkah untuk kembali. Alhamdulillah hari ini Kak Harrast sudah kembali dari meskipun kondisi kesehatan nya masih jauh dari pulih. Kususuri jalan di sepanjang sisi Banda Bakali, pantulan bias mentari berkilauan di permukaan airnya. Angin bertiup semilir menyanyikan lagu petang lewat gemulai dedaunan di sisi kanan dan kiri bantaran Banda Bakali. Belai angin menguak kembali masa kecilku. Disini ku selalu menghabiskan waktu untuk sekedar berjalan jalan menikmati udara sore dan tiupan angin pantai.
__ADS_1