
Serenada lembut mengalun menemani malam ku. Begitu syahdu menembus relung hati. menghantar sunyi yang kesekian kali dalam hidup ku. Derai embun membias di kaca jendela. Buram dan menghalangi pandangan ku untuk sekedar nikmati pendar rembulan di langit yang jauh.
Dingin mulai menjelma, menusuk hingga kedalam tulang.
Kantuk mulai mengajakku untuk lelap dalam lena .
Aku beranjak ke tempat tidur. Baru saja aku ingin memejamkan mata, Gawaiku berdering. Dengan rasa kantuk berat kuraba gawai di atas meja disisi
tempat tidur. Tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Hallo, " ucapku berat.
"Assalamu'alaikum Aluna, " Ucapan dari seberang sana.
Mendengar suara itu, langsung kantuk ku hilang.
Mau apa Prass yang aneh itu menelpon ku malam malam begini?
Masih dengan berat hati kujawab salam itu.
"Waalaikumsalam" jawabku singkat. Takut berdosa
sebab menjawab salam hukumnya Wajib. bisa bisa
nanti aku berdosa dan malahan pahalaku berpindah pada Prass yang aneh itu.
"Belum tidur Aluna? " tanyanya padaku.
"Gimana mau tidur, baru aja mau baring, ehh... kamu
telpon aku, mata yang udah ngantuk jadi melek lah".
Jutek ku muncul lagi karena gondok.
" Ya sudah, maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat mu, saya kira kamu belum tidur, sekali lagi
maaf ya"
__ADS_1
ucapnya Dengan nada menyesal.
"Assalamu'alaikum, " ucapnya mengakhiri Percakapan.
"Waalaikumsalam, " jawabku terheran heran sendiri
dan merasa agak berdosa.
Benar saja, kantuk yang tadi merajai mataku, hilang sama sekali. Ku coba memejamkan mata lagi,
Namun bayangan wajah Prass di pelupuk mataku.
Ah... ku coba menepis nya, tapi semakin menganggu ku.
Ku letakkan kembali gawai ke atas meja, Ku duduk di sisi tempat tidur, masih memikirkan Prass.
"Ah terlalu bodoh Aku, memikirkan hal itu". Ku coba mendustai hatiku sendiri dengan menepiskan bayangannya dari mataku.
Baru saja aku ingin berbaring lagi. Gawai kembali bergetar.
" Oh... hanya pemberitahuan Whatsapp, "batinku.
" Hmmmm, Prass yang Aneh chating...
"Selamat Bobo, judes, jangan marah melulu".
Ada getar halus yang tiba tiba merayap di serambi hatiku, entah getar apa itu, aku sulit memahami nya.
Enggan ku membalas nya. cukup ku Red saja,
Kulirik jam beker di atas meja, sudah menunjukkan pukul Setengah sepuluh. Ku paksa membuang jauh bayangan Prass, agar tak terbawa dalam mimpiku.
Malam kian sepi dan larut, kaca jendela semakin buram sebab tetesan embun yang singgah disana.
Dingin semakin sempurna merayap di sekujur tubuh. Ku tarik selimut untuk menghangatkan tubuh. Menghalau dingin yang ada. Serenada mengalun lembut, melagukan bait bait dalam tembang yang mengisyaratkan kebimbangan.
Embun biaskan buram dikaca jendela
__ADS_1
serenada lembut, pelan meniti
pada bait bait berirama.
Siul panjang burung malam
melengking perih menyayat
gores kan silhuet panjang
di langit malam
kejora tak sempat berpijar
berebut dengan mega kelam di cakrawala
Pendar rembulan sirna
tak sempat biaskan cahayanya di sudut kelam
kemana ku cari ?
tangan yang ter ulur ketika ku terjatuh
dengan jemari yang kokoh membimbingku
pada arah yang kan kutuju
masihkah ada....
detak jantung didada
yang kan menyambung debarku
ketika sesak menghampiri.
dalam rangkulan erat yang tak terlepas?
__ADS_1
Malam kian larut, Kantuk telah mengajakku untuk lena di peraduan. Malam ini kuserahkan lelap ku pada dunia. Berharap esok ada secercah asa yang dapat ku wujudkan.