LUKISAN SENJA

LUKISAN SENJA
KEHANGATAN YANG DI RINDUKAN


__ADS_3

Alphard merah itu berhenti di pekarangan Rumah kak Harrast, Prass turun dari dalam mobil. Jantung ku berdegup keras akan kehadiran Prass pagi ini. Kusambut Prass di depan pintu, Mama dan Papa duduk di ruang tengah. Kubawa ia menuju kesana untuk memperkenalkan pada mereka. Sikap santun Prass ketika bertemu Mama dan Papa membuat ku terkesima sesaat.


Papa melontarkan berbagai pertanyaan padanya. Aku merasa agak risih juga. Namun sikap. santunnya tetap terjaga untuk menjawab semuanya. Prass lagi capek, kenapa Papa menjejalnya dengan berbagai pertanyaan?. Perjalanan Panjang berjam jam , mengendarai sendiri, tentu lelah.


Mama mungkin menyadari situasi saat ini. Untuk meng clearkan suasana. Mama Berkata


"Ayo kita sarapan bareng. Nanti kita lanjut ngobrol nya".begitu ucap Mama.


Prass menyambut ucapan Mama


" Maaf Ma, Seperti nya saya mau membersihkan badan terlebih dahulu. "


Kembali aku Terperangah, Prass ikut memanggil "Mama"?


Terbersit rasa senang di dalam hatiku. Bunga bunga kembali bermekaran di taman hati ku.


Sesaat aku terperanjat ketika Mama pelan memanggilku,


" Aluna,.. ayo ambilin handuk buat Prass. "


"Iya, Ma, jawabku salah tingkah sembari berjalan menuju ke kamar. Prass menyusul berjalan pelan di belakangku dan langsung menuju ke kamar Mandi. Sebelum ia memasuki kamar mandi kuberikan handuk berwarna pink padanya. Mata elang itu menatap lekat padaku saat menerima handuk.

__ADS_1


Duh... Aku tertunduk, ada rindu yang tiba tiba menjalar di ruang hatiku.


"Terimakasih Aluna " ucapnya penuh santun.


Aku mengangguk tertunduk, Seperti mimpi rasanya Prass sudah berada di hadapan ku pagi ini. Sambil menyiapkan sarapan aku berbisik di hati.


"Prass, aku tak kan pernah meragukan mu selamanya".


Tanpa aku sadari Mama ternyata telah berdiri di samping ku.


" Aluna, Ayo panggil semua biar kita sarapan bareng"ujar Mama meluluhkan lamunanku


"Iya Ma, jawabku sembari berjalan meninggal kan Mama di ruang makan.


Kelihatan sekali kehangatan mewarnai keluarga kami. "Ya Allah mengapa tak dari dahulu seperti ini?"Lirih aku berkata pada hatiku sendiri.


" Tante Luna, Om Prass makannya dikit"tiba tiba Vio memecahkan keheningan. Serentak Pandangan kami beralih pada Prass. pias wajahnya oleh Ucapan Vio.


"Oh Tidak Vio, Om Prass sudah kenyang. " Ucapnya mengatasi grogi yang disebabkan oleh Vio.


Ada ada saja ulahnya. Vio yang pintar, Kasih sayangku melekat padanya sejak kehadiran ku disini. Jujur sejak dia lahir hingga sekarang, baru ini aku bertemu dengan penerus keturunan kami ini.

__ADS_1


Lagi lagi Vio bertingkah.


Dia berjalan mendekati Prass sambil berkata


"Om... nanti kalau Om pergi sama Tante Luna, Vio di ajakin ya. " ucapnya.


"Boleh ya Om", lanjutnya.


" Boleh Vio, kemana kita pergi? "balas Prass menyenangkan hati Vio kecil.


Pagi beranjak siang, Matahari mulai menyeruak di sela sela dedaunan.Mobil meluncur melewati ruas jalan sepanjang pelabuhan Teluk Bayur. Vio nyenyak tidur di pangkuan ku. Disamping ku Prass dengan tenang duduk menyetir mobil. kelihatan dia paham semua tempat yang kami lalui.


Merasa heran aku bertanya pada nya.


"Prass, kamu tahu semua jalan disini?. "


"Tahu dong Aluna. " Jawabnya.


"Koq bisa"? balas ku lagi.


" Hmmmm, Aluna sayang, Dua belas tahun aku disini, sejak SD hingga lepas SMA. "Lanjutnya.

__ADS_1


"Loh.Kamu gak pernah cerita Prass? " tanyaku lagi.


"Hehehe, Lupa Aluna," Jawab nya juga tertawa.


__ADS_2