
Pagi beranjak siang, dedaunan sepi dari tiupan angin. Jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh, mentari berpendar lewat ventilasi ruang kerjaku. Prass baru saja menelpon ku. Ia meminta ku untuk menemuinya di tempat kerjanya. Kebetulan hari ini tak banyak pekerjaan yang harus ku selesai kan.Sejauh ini aku belum pernah tahu Tempat Ia bekerja.
pelan langkahku menyusuri koridor setiap ruang itu.
Mataku lihai melihat setiap penjuru yang mana gerangan tempat Prass beraktivitas.
Setengah terkejut Aku menoleh ke arah sebuah suara memanggilku, Dari depan sebuah bangunan Prass melambaikan tangannya sambil menyebut namaku. Segera ku hampiri Prass yang berdiri menantiku. Prass membawaku memasuki sebuah ruangan. Tiba di dalam Aku takjub, setiap dinding penuh dengan Lukisan, Sebuah meja di sudut kanan ruangan terdapat berbagai alat Lukis. Prass memahami keherananku saat itu. Cepat Ia berkata
"Aluna, Ini ruang kerjaku, setiap hari aku berada disini. " Ucapnya menjelaskan padaku. Aku menatap penuh heran padanya.
__ADS_1
"Prass... Jadi.... Lukisan itu Kamu yang membuat nya? " Ucap ku penuh heran
"Hmmm, Iya Aluna... sengaja semuanya ku sembunyikan sebab Aku mau buat kejutan untuk mu" jawab Prass
Kemudian lanjutnya"Pameran di Galeri tempo hari juga aku yang menggelar, dan ketika pertama Melihat kamu disana, aku perhatikan kamu suka dengan lukisan itu. dan aku sengaja buat kamu penasaran dengan berpura-pura membeli lukisan itu. Agar ada kesempatan bagiku untuk bertemu kembali denganmu. "
Aku menunduk , tersipu dan terharu mendengar ucapan Prass yang begitu polos. Tak tahu harus mengatakan apa. Yang ku tahu siang ini Aku semakin Yakin Bahwa Kasih sayang nya untuk ku begitu tulus. Tak kuasa menahan semua gejolak perasaan ini, Aku menghambur ke dalam pelukannya. Prass memelukku lebih erat. Dan berbisik....
"Aluna, Aku sangat menyayangi mu, semoga Tuhan memberi jalan terbaik buat kita berdua"
__ADS_1
"Amin " ucap ku penuh harap.
Dari luar jendela pendar mentari mulai menyelinap, angin singgah di helai helai daun ketapang. Teduh dan sejuk menyusuri ruang hatiku. Tanpa kusadari kembali bulir bening bergulir di kedua belahan pipiku. Penuh cinta Prass menghapus nya. Bahagia yang belum pernah ku rasakan saat ini ku temui padanya.
Terimakasih Ya Allah, Semoga Prass adalah Imam yang Engkau titipkan untuk ku.
Usai makan siang, Prass mengajakku kembali ke sanggar lukisnya. Entah mengapa Aku pun merasa betah berada di sini. Aku penikmat berat lukisan. Selalu ada Rasa setiap ku amati setiap lukisan yang terpajang di dinding sanggar.Tanpa terasa hari sudah mulai beranjak petang. Matahari mulai meredup di ufuk Barat. Prass berkemas membenahi sanggar lukisnya. Pukul Lima sore kami bergerak meninggal kan tempat yang menjadi koleksi momen cintaku dan Prass.
Hingar bingar kenderaan dan macet berkepanjangan mewarnai suasana petang di kota Medan, fenomena yang tak asing lagi. Hampir Satu jam terjebak macet, ku lirik Prass di sampingku,wajah tenang dan lembut itu selalu memberikan keteduhan pada hatiku. Tak sedikit pun ada tanda jenuh ataupun amarah dalam kondisi antrian panjang seperti ini. Mobil perlahan bergerak, akhirnya sebelum magrib aku telah tiba di rumah. Dari Masjid di ujung Gang terdengar suara Adzan. Ada damai yang mengalir di nadiku. Damai yang ku cari selama ini.
__ADS_1