
Mentari memuntahkan garangnya di atas kepala. Terik menyengat kulit, sesekali angin laut bertiup membelai wajahku. Air sungai Batang Arau silaukan mata diterpa pendar nya. Siang ini ku telusuri jembatan Siti Nurbaya sendirian, sekedar Mengengigat kembali dan membuka lembaran masa lalu . Dulu di tempat ini aku selalu menghabiskan waktu bersama sahabat terdekat ku.sekarang entah dimana mereka semua.Dan saat ini Itu ku lakukan kembali tapi hanya sendiri. Ku ayun langkah Di atas jembatan legenda monumen cinta yang tak sampai ini. Dan disini juga pernah ada cerita yang pernah terukir, ketika dunia cinta pertama menghampiri ku. Ah... tiba tiba haru menyentuh. Semua harus berakhir dalam semusim. Matahari mulai condong, rebah di permukaan air, dari atas jembatan ku memandang jauh ke depan, Kota Tua riuh dengan kenderaan yang lalu lalang. Aku kembali tenggelam dalam angan. Angin basah bertiup menguapkan dingin dari Batang Arau. Ku hentikan langkah dan bersandar pada salah satu
dinding jembatan,gawai di saku berdering. Prass bisik ku sambil menekan tuts Ok di Gawai.
"Assalamu'alaikum Aluna" sapa Prass dari sana.
"Waalaikumsalam Prass, Apa kabar mu" balas ku
"Aku baik baik saja Aluna, gimana dengan mu? " sambungnya kembali.
"Alhamdulillah Aku Juga baik -baik aja, " tukas ku kembali.
"Aluna... , " kembali Ia menyapa dari sana
"Iya Prass, ada apa? " balas ku padanya.
__ADS_1
Seperti nya Prass ingin mengatakan sesuatu padaku, Apa gerangan?.
"Aluna.. kapan kamu balik ke Medan? ".tanyanya
" Minggu depan , kenapa Prass? "ucapku penuh heran.
" Ah... enggak apa apa Aluna, cuma kangen aja, "Ucapnya lagi.
Duh... Prass di tengah langkah manusia yang lalu lalang di atas jembatan ini pipiku bersemu merah, Prass suka membuat ku melambung. Tak lagi kuhiraukan terik yang mulai redup di sini.Tiba tiba rindu yang sama di diriku membuncah hebat, memenuhi sukmaku.
"Sabar Ya Prass, aku menunggu Mama dan Papa balik ke Bontang, " Balas ku pada Prass lagi.
"Iya Aluna, untuk mu Aku selalu bersabar".ucap Prass padaku, seraya mengakhiri obrolan kami siang ini.
Ku ayun langkah ku kembali menyusuri sepanjang jembatan, tanpa terasa aku telah tiba di ujungnya. Jembatan yang menghubungkan Gunung Padang dan Kota Tua itu untuk yang kedua kalinya memberi Momen dalam hidup ku, meski saat Ini Prass tak berada di sisiku.
__ADS_1
Entah kenapa tiba tiba saja siang ini ada haru dan rindu yang terus mengganggu ku. Ku hentikan langkah di depan sebuah gedung tinggi dan besar, disini dulu aku selalu menghabiskan senja sekedar melepas sunyi yang selalu menjadi teman dalam hidup ku. Hamparan rumput hijau di pelataran gedung tua itu masih seperti lima tahun yang lalu. Ku alihkan pandangan menjenguk suasana di sekitar ku, kota unik peninggalan penjahah ini tak banyak berubah. Suasana ini kembali mengurak masalaluku. Tiba tiba wajah Prass kembali bermain di pelupuk mataku. Ingin rasanya aku menikmati petang dan menghabiskan senja menunggu Sunset bersamanya disini.
Petang semakin turun, baru ku sadari ternyata cukup lama aku disini, Debur ombak Muaro mengingat kan ku untuk kembali.
Entah dari arah mana sebait lagu Minang mengalun dan kembali perasaan ku tersentuh mendengarnya
Tetes tetes bening itu kembali bergulir di kedua belahan pipiku.
Ku lanjutkan langkah untuk pulang ke rumah, bait lagu itu masih bergema di telinga ku
"Rindu denai.. rindu sayang
hati den ta ibo
siang malam kok tabayang maso maso bacinto
__ADS_1
lai kok uda rasakan rindu di hati.