
Sebulan berlalu, Sudah saatnya ku harus meninggal kan Kota Padang untuk kembali ke Medan. Kemarin Pagi Papa dan Mama sudah kembali ke Bontang. Kesehatan Kak Harrast sudah hampir pulih. Berat rasa nya untuk meninggalkan semua ini. Namun ada hal lain yang juga harus ku kejar disana. Prass sudah berulang kali menanyakan kapan aku balik kesana. Pukul sepuluh pagi, Aku berpamitan pada Kak Harrast dan Nadya. Ku lihat sudut mata Kak Harrast menggenang dan berkaca kaca. Begitu juga Nadya Ia tak kuasa menahan bulir bulir bening mengalir di kedua Pipinya. Kupeluk Kakak ipar dan teman sekelas ku itu.Dalam hati ada sedikit penyesalan yang terbersit, Mengapa baru sekarang ada artinya persaudaraan itu, namun disisi lain aku sangat bersyukur bahwa Allah masih memberi jalan bagi kami semua untuk saling memberi dan menerima kasih sayang. Jujur ku akui sejak Kak Harrast pulang dari rumah sakit, akulah yang terus menerus merawatnya. Sebab Nadya Pagi pagi sudah harus berangkat mengajar. Ku alihkan pandangan pada Vio, berat rasanya untuk meninggalkannya, Vio kecil yang selalu membuat ramai suasana.Aku sayang pada Dia. Ku cium pipi mungil dan halus milik Vio, sembari berkata
"Vio sayang... Tante Aluna pamit ya ntar lebaran Kita ketemu lagi. ".Ada guratan sedih di wajah kecil itu. Tak tahan Air mata ku pun menetes di kedua belahan pipi.Pagi mulai beranjak, matahari kian bergerak mengikuti garis edarnya. Kutinggalkan kota Padang yang telah kembali mengukir momen dalam Kehidupan ku saat ini.
Lewat tengah hari, Bus agak lambat bergerak melewati ruas jalan berliku-liku sepanjang kelok sembilan. Tebing terjal dan jurang yang dalam saksi
diam berbagai peristiwa yang pernah terjadi.
__ADS_1
Petang mulai merayap di cakrawala. Ada rindu yang terlintas di antara dingin yang mulai turun. Terbayang wajah Prass di pelupuk mata ini. Sedang apa dia?, Ku raih Gawai dari dalam handbag, Tak bisa ku berbohong pada hatiku sendiri, aku juga sangat rindu pada Prass. Ku hubungi Prass lewat gawai.
"Assalamu'alaikum Prass" ucapku setelah Prass menjawab telpon ku.
"Waalaikumsalam Aluna " balasnya dengan suara lembut. Kembali getar getar halus menjalar di sanubari ku.
"Prass, aku sudah dalam perjalanan nih, " lanjut ku.
__ADS_1
"Kalau sudah sampai kabari aku Ya Aluna biar aku jemput kamu".lanjutnya kembali.
" Baik Prass", jawabku.
Tentu Prass aku pasti kabari kamu kalau aku sudah tiba kembali di Medan. Sebenarnya jika aku naik pesawat tak sampai selama ini perjalanan ku. Tapi aku lebih suka naik Bus agar banyak waktu untuk merenung sepanjang perjalanan. Ini adalah kebiasaan ku yang tak pernah dapat ku hilangkan sejak dahulu. Yah... merenung itu selalu ku lakukan hingga saat ini.
Pagi pagi Bus yang kutumpangi sudah memasuki kota Medan. Ku telpon Prass agar menjemput ku.
__ADS_1
Bus berhenti di Terminal Amplas. Terasa benar perbedaan yang kentara. Hingar bingar dan kebisingan di setiap sudut.
Prass sudah berada di sana, dan berjalan menuju ke arah ku berdiri menantinya. Setelah kami saling berdekatan kelihatan sekali bola mata Prass menyampaikan kerinduan yang dalam. Begitu pun aku yang tak dapat berdusta pada hatiku sendiri. Aku bahagia sejak Ia hadir dalam kehidupan ku saat ini.