
Gerimis mengguyur kotaku. Dingin membuatku enggan bangkit dari pembaringan. Sepi menjelma menembus ruang hatiku. Sendiri di kota ini membuatku selalu merasa ada yang tak sempurna.
Ada sesal yang tak pernah hilang dari sudut hati. Kecewa yang tak tahu kemana harus ku katakan.
Ku seperti sebatang kara, padahal ada Mama dan Papa yang jauh. Ada Dua kakak lelakiku, Harist dan Harast., mereka semua jauh dari kota ini dan jauh dari hatiku. Untuk Materi aku sejak kecil ku tak pernah merasa kekurangan, bahkan lebih dari cukup. Saat ini Saja Walaupun aku sudah bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup juga, mereka semua Papa, Kak Harist dan Kak Harast masih tetap tf untuk ku. Tapi bukan ini yang Ku mau. Ku ingin senantiasa berada di tengah tengah mereka.
Namun ini hanya tinggal di angan angan ku saja. Mereka selalu sibuk dengan Aktivitas masing masing. Untuk menelpon saja harus aku yang mendahului, Tak pernah terpikir oleh mereka bertanya kabar ku atau apalah.
Setiap Aku menelpon Papa dengan santai Papa Jawab
"Nanti Ya Sayang, ntar Papa telpon lagi ni Papa lagi di lapangan".Bicara pun di akhiri, sampai malam aku menunggu telpon Papa Tapi ternyata Papaku lupa Dengan Janjinya. Akhirnya Aku tertidur dan ku hanya Bermimpi bercengkrama dengan Papa Dan Mama.
Ketika ku coba menelpon Kak Harist, Dengan tenang Dari tempat yang jauh Kak Harist menjawab
__ADS_1
"Ada Apa Adik Kakak yang Cantik? Nanti Kakak Tf Uang jajannya Ya. Kakak lagi sibuk nih" Klik gawai pun dimatikan.
Lain halnya dengan Kak Harast Aku mungkin dianggapnya seorang Tahanan, Selalu bicara dengan nada keras dan membentak. Kak Harast seorang anggota Polisi, aku tak tahu mungkin lingkungan sosialnya telah mewarnai kepribadian nya saat ini.
Beliau selalu bilang saat ku Telpon
"Kamu itu Kalau nelpon jangan jam tugas dong
memang kamu gak tau saya lagi tugas? "
Satu satu nya Mama yang selalu baik Menerima telpon ku. Tapi aku tetap merasa kekurangan kasih sayang. Setiap aku bicara Rindu pada Mama. Mama
selalu mengatakan"
__ADS_1
"Iya Aluna., Mama juga rindu, tapi mau gimana lagi?
ntar kalau Mama gak ikut Papa., Siapa yang akan ngurusin Papamu? " Itu jawaban Mama.
"Oh Mama... Pedihnya hatiku dengan jawaban itu. Aku ini anakmu. Aku juga butuh kasihmu, yang tak pernah mendapat kasih sayang sempurna darimu. Yang semenjak kecil aku ditiitpkan pada Nenek di kampung".
" Mama... Pernah kah engkau Tahu saat perempuan renta itu, Nenekku pergi untuk selamanya menghadap sang Robb. Hatiku remuk. Kuputuskan meninggal kan kota kelahiran ku. Membawa hancurnya hati ini. Sebab hanya Nenek yang Bisa memahamiku Dan hanya dari beliau aku dapat kasih sayang yang benar benar tulus. "
Sementara Mama? .....
Dia lebih memilih Pindah dari satu kota ke kota yang lain bersama dengan Papa mengikuti Kontrak di perusahaan tempat Papa Bekerja.
Hangat mulai mengalir di kedua belahan pipiku. Bulir bening itu bergulir mengantar sedih ku Saat ini.
__ADS_1
Pagi beranjak gerimis masih menyisakan tetes tetes kecil . Dari jendela kamar ku jenguk ke luar, ada sepi yang membentang disana sepi yang aku tak pernah tahu entah kapan akan berakhir.
Dengan rasa Enggan bercampur pilu ku seka bulir bening yang mengalir di pipiku. ku Ambil Handuk dan segera memasuki kamar Mandi.