
Di luar gerimis berderai, membasahi dedaunan di halaman. Mendung masih menutupi langit kota ini.
Ku sandarkan Kepala di dinding kamar, Entah sudah berapa kali desah panjang meluncur begitu saja dari bibirku. Kesunyian yang merayap didasar hati tak pernah seorang pun yang tahu.
Ku tahan hasrat ingin menelpon Mama, Sebab aku tak ingin kembali kecewa dengan jawaban Mama, yang itu itu saja.
Gerimis semakin deras, Ada ngilu yang menerpa di dasar kalbu, gejolak perasaan yang saat ini sulit berdamai dengan hatiku. Ingin rasanya ku buang jauh jauh rasa rindu pada Mama, Papa dan kedua saudara kandungku. Terkadang aku berpikir, hanya aku yang merindukan mereka. Tapi sudahlah... mungkin ini lah yang harus terjadi.
Jam dinding berdetak, ku tolehkan mata kearah dinding. Pukul Sepuluh,... bisikku dalam hati. Miris mulai menjalari sisi hatiku. Benar aku Tak bisa menolak gejolak hati ini. Cuti yang tak pernah ku ambil,buat apa? Toh aku tak ingin kemana-mana. Separah ini kah hidup ku? Bahkan Lebaran pun aku tetap sendiri, Kemana aku mudik?. Mama dan Papa ? Mereka tak bisa mudik alasan yang kurasa tak begitu masuk akal.
"Aluna, " begitu sapa Papa saat menelpon ku.
"Lebaran Kali ini Papa dan Mama gak bisa mudik,
Sebab lebaran kedua Papa Open house bersama seluruh warga perusahaan"
Duh.. Papa, sebegitu penting kah Mereka dimata kalian, sementara posisi aku sebagai anak dimana kalian letakkan?
Hujan reda, langit mulai berwarna, dari celah dedaunan matahari mulai berpendar. Genangan yang tersisa di halaman silau terbias cahaya nya.
Kuraih gawai di atas meja, melihat pesan yang masuk, Kembali ada getar halus menjalari hati dan jantung ku. Prass Barusan chat,
"Siang Aluna, Apa kabar? "
Kubaca tulisan itu, debar halus itu semakin tak menentu.
"Ya Allah rasa apa. ini? ".Sulit ku mengajak hati untuk berdamai.
__ADS_1
Dengan jemari yang agak gemetaran ku balas sapa Prass di gawaiku
" Kabar Baik, "itu saja ... tak ingin banyak bicara, beginilah aku. Dengan sikap yang terkadang aku sendiri sulit memahami mengapa harus seperti ini.
Dengan rasa malas kusambar handuk , aku melangkah menuju kamar Mandi.
Aku diam terpaku di depan cermin.Hatiku berkecamuk, antara rindu, pedih dan Marah. Sulit untuk ku katakan sesulit Membayangkan entah apa
dan bagaimana akhir dari semuanya.
Kedua belahan pipiku terasa hangat. bulir-bulir
bening mengalir disana.
Kuseka air mata ketika terdengar suara pintu diketuk. Aku bangkit menuju ke arah pintu dan membukanya.
Astaghfirullah,...Aku kaget. Prass sudah berdiri di depanku. Bingung tak menentu aku jadinya. Apa. gerangan yang membawa dia kesini?. Hati ku penuh tanya.
" Waalaikumsalam "jawabku rikuh.
" Silahkan duduk "lanjut ku menyilahkannya duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Lama kesunyian merayap di antara kami. Aku tak tahu untuk memulai obrolan dengan Prass.
Mau apa dia datang? Hatiku penuh tanya. Dalam diam ku amati lelaki yang duduk tepat di depan ku itu. kelihatan sangat Cool dalam balutan jeans hitam dan Kemeja Junkis biru langit. Cukup membuat terpesona. Ah... Ku singkirkan perasaan itu. Tak ingin aku bermain dengan angan angan. Ku. takut Kecewa itu saja!!!!
"Hari Libur enggak Pergi kemana mana Aluna? "...
__ADS_1
suara Prass mengejutkanku.
" Eh.. enggak, "jawabku salah tingkah.
" Lagian dari tadi hujan gak bisa keluar rumah" lanjut ku .
"Hmmm.. iya hujan tapi ini kan sudah reda".katanya lagi.
" Iya, "jawabku singkat.
" Oh iya, kamu mau minum apa?" tanyaku pada Prass.
"Gak usah buat minum, " balasnya..
"Kenapa"? Ucap ku lagi.
" Kita minum. diluar aja"Ujar Prass seenaknya tapi cukup membuat dadaku berdebar.
"Mau kan? ".lanjutnya.
Aku diam, tak dapat menjawab tawaran Prass.
" Ya Allah.... aku bingung, haruskah aku turuti ajakan orang yang pernah membuat ku Sakit hati ini?. "
Tapi dari lubuk hati yang terdalam tak ingin rasanya aku menyimpan dendam.
"Ayo... sana ganti pakaian, kok bengong?" Lanjutnya
__ADS_1
Seperti anak kecil, ku turuti kemauan Prass.
Jujur saja siang ini ada bunga yang bermekaran di taman hatiku.