
Musim telah berganti, Hujan yang biasa turun telah pula pergi, Kemarau setiap hari beri panas pada cakrawala. Dan pada siang yang terik ini Prass telah beri keteduhan buatku. Baru saja Ia mengutarakan kembali isi hati nya padaku.
Prass mengatakan bahwa Dia ingin hubunganku dengannya dibawa ke arah yang lebih serius.
ya... Prass ingin menghalalkan ku untuk mendampingi hidup nya. . Saat itu pula Aku tertunduk, tak mampu untuk berkata walau hanya satu kalimat.
Kembali Bunga bunga di taman hatiku mekar dan berseri. Itu yang membuat ku tak sanggup untuk mengatakan apa pun padanya.
"Aluna... " Prass kembali membuyarkan kesunyian sesaat.
"Kamu menangis ya? "...lanjutnya.
Ku angkat wajahku menatap Prass di depanku, ku seka airmata yang tergenang di pipi. Prass membimbingku duduk di dekatnya. " Kenapa menangis Aluna? "Lanjutnya lagi."
"Gak apa apa Prass, aku bahagia. " jawabku pada Prass agak tersipu.
"Kamu mau kan Aluna? " Tanyanya kembali.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk sambil menatap wajahnya.
Prass mengenggam Jemariku dan mengecup penuh mesra. Aku tak kuasa menahan gejolak perasaan dan menghamburkan diri ke dalam pelukannya. Prass membelai lembut rambutku yang tergerai.. Sambil berkata.. "Baiklah Aluna sayang minggu depan Mama dan Papa ke sini. "
"Kamu sudah siap kan Aluna? " ujarnya lagi
Aku kembali menganggukkan kepala pada Prass.
Diam diam dalam hati aku berkata "tentu aku siap Prass, aku juga ingin ada yang menemani hidupku selamanya. "
Di luar, Angin berhembus semilir, bertiup lewat jendela sanggar menyusup ke dalam hatiku beri kesejukan yang damai.
Petang beranjak menyusuri Sisi cakrawala, Bias jingga berpendar di setiap penjuru. Nyanyian petang mengalun bersama gesekan daun cemara di halaman. "Semoga ini bukan mimpi" bisikku dalam hati.Hari ini aku benar benar bahagia. Dari masjid di ujung jalan adzan mulai bergema. Aku bangkit dari sofa di ruang tamu untuk berwhudu.Senja belum sepenuhnya mengubur petang, matahari sudah lelap di peraduannya. Di senja yang indah ini pada sujud akhir kurangkai sebait doa pada yang kuasa mohon Ridho dari Nya selamanya.
Waktu berjalan terus Seperti yang di katakan Prass padaku, bahwa kedua orang tua Prass akan datang ke Medan. Berbagai perasaan muncul silih berganti dalam benakku. Seperti apa nanti jika Aku bertemu dengan mereka, Bagaimana cara terbaik yang harus kulakukan? Waktu itu hanya dua hari lagi. Aku bingung apakah aku harus segera beritahu Mama dan Papa, atau tunda saja dulu.Bahagia dan bingung silih berganti menghampiri. Gawai di meja berbunyi. Kak Harris menelpon ku.
"Assalamu'alaikum Kak", ucap ku mendahului panggilan kak Harris.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, Aluna, Jawab Kak Harris dari sana.
"Gimana kabar kamu Aluna? " tanya kak Harris.
"Baik Kak, Kakak Gimana Sehat kah? " lanjut ku bertanya di awal pembicaraan kami.
"Semua baik baik saja koq Aluna" tukasnya lagi.
Dalam hati aku berkata sendiri, ada apa gerangan Kak Harris koq tumben Menelpon ku.
Agak sungkan aku bertanya padanya
"Ada apa kak?, Mau beri uang jajan ya? " kataku bercanda.
"Hmmm Adik Manis, Besok Kakak Tf ya. Sekalian buat beli rumah balas Kak Harris juga bercanda.
" Huuuu, paling juga kuncinya doang, "jawabku Sebel. Dari seberang sana ku dengar Kak Harris tertawa terbahak.
__ADS_1
Tak ada yang penting yang kami bicarakan. Yang ku tahu bahwa Kak Harris rindu itu saja, demikian juga aku. Sejak Kejadian yang menimpa Kak Harras beberapa bulan lalu, telah mencairkan ke bekuan dalam keluarga kami.
Malam perlahan turun,Lelap telah menyapaku untuk terlena di tengah dingin malam. Kurebahkan diri di pembaringan, Semoga mimpi indah menghampiri tidur ku malam ini.