
SEPULUH
Pagi-pagi sekali kak Al sudah merecoki tidurku. Ia mengajakku ikut dengannya membeli perlengkapan untuk membuat kue yang tutorialnya dia dapat dari tik tok. Sebagai adik aku hanya bisa pasrah dan mengikuti semua kemauannya tanpa banyak membantah walaupun dia sudah sangat mengacaukan minggu pagiku.
"Menurut lo udah manis belum sih? Atau harus ditambah gula lagi?" tanya kak Al beruntun kepadaku sambil memperlihatkan wadah adonannya.
"Ya mana gue tahu, kan gue belum nyoba."
"Menurut lo lebih manjur ikutin tutorial komposisi gula yang di tutorial tik tok atau youtube?" tanyanya lagi makin heboh sendiri.
"Heboh banget sih lo! Padahal cuma buat cake biasa!" komenku.
"Ini perdana gue buat gue tanpa dibantu sama bunda tahu, makanya gue heboh banget!!" balasnya sambil memperlihatkan perbandingan resep yang ada di tik tok dan youtube kepadaku.
"Udah deh biar gue aja yang tarok!" kataku sebal sambil memasukkan gula ke dalam wadah yang baru berisi telur.
"Kalau nggak manis lo ya yang tanggung jawab!"
"Kalau nggak manis lihat gue aja nanti!" balasku tak mau pikir panjang.
"Udahlah males debat sama lo, mending lo lanjut mixer adonannya gue buat flanya," putus kak Al yang tentu saja langsung kuangguki, ketimbang dia punya kesempatan untuk mikir makin ribet nanti.
Aku mulai memasukkan bahan sesuai tutorial yang kutontan satu persatu, kemudian memixernya dengan kekuatan turbo agar adonan telurnya cepat memutih. Sebenarnya ini kali pertamaku juga membuat kue tanpa ada campur tangan bunda, sejujurnya aku juga sedikit khawatir mengingat aku dan kak Al sama-sama tidak mempunyai bakat seni dalam hal apapun. Kan nggak lucu sama sekali kalau adonan yang kami buat tidak mau mengembang, gosong, atau parahnya lagi tidak mau dikeluarkan dari loyangan. Tapi melihat kak Al yang sangat semangat membuktikan pada ayah bunda kalau dia itu bisa menghasilkan sesuatu aku jadi ikutan terpacu untuk membuktikan hal yang sama pada ayah bunda.
"Loyangnya udah lo olesin mentega belum?" tanyaku yang sudah menyelesaikan kegiatan memixer adonan.
"Lo aja ih, nggak lihat nih gue lagi repot banget!" jawabnya sambil mengaduk-ngaduk flanya.
Aku menatapnya kesal. Dikiranya daritadi aku cuma berdiri sambil lihatin dia aja. Tapi emang karena kakak akan selalu benar, tanpa mau membuang tenaga untuk menjawabnya, aku memilih untuk langsung melakukan tugasku.
"Bagian gue udah kelar nih, gue tinggal ke depan yah!" kataku yang untungnya langsung diangguki kak Al.
Aku menuju ke ruang keluarga, di mana semua anggota keluargaku selain kak Al sedang berkumpul. Sampai di sana aku langsung mengambil tempat di antara ayah dan bunda, membuat Yoyo yang tadinya berada di situ berdecak sebal karena dia telah kusingkirkan dari posisi anak tunggal dari keluarga yang sangat bahagia.
"Mana kuenya Gi? Ayah laper?" tanya ayah begitu aku sampai.
"Sabar yah, bentar lagi mateng, ayah pasti bakal terkesan banget sama rasanya," jawabku bangga sekali.
__ADS_1
"Jangan banyak ngomong Gi. Dapur yang tadi dipakek udah dibersihin belum?" tanya bunda.
Memang cuma bunda yang tidak akan pernah mengapresiasi sesuatu hal yang kami lakukan, kalau itu akan membuatnya ikutan ribet. Tapi kalau kuenya enak percayalah bunda akan jadi yang paling banyak makan, dan tentu saja tanpa pujian untuk pembuatnya.
"Udah Gigi bersihin sebagian, sisanya kak Al!" jawabku.
"Bunda nggak mau tahu, dapurnya udah harus bersih pas bunda periksa!" jawab bunda.
Aku sempat curiga kalau bunda itu sebenarnya mengidap OCD, soalnya sedari kami kecil tidak ada istilah dalam kamus bunda 'ayo berani kotor' kayak iklan-iklan di tv. Tapi saat kutanyakan pada bunda, bunda malah memarahiku dan mengatakanku telah mendoakannya yang bukan-bukan, bahkan saat itu bunda sampai menangis seharian. Setelah kejadian itu aku berhenti menebak-nebak, dan membiarkan semua mengalir dengan semestinya.
"Eh yah cantik ya Dewi Sandra!" komen bunda tiba-tiba saat melihat artis yang muncul di tv.
Ayah menggeleng. "Nggak tuh, nggak cantik sama sekali!"
"Ayah kalau ngomong suka nggak bener ih!"
See? Yang dikomen ayah Dewi Sandra tapi yang marah malah bunda.
"Kok salah sih bun, kan di mata ayah itu yang paling cantik ya cuma bunda!" kata ayah kemudian, membuat bunda bersemu merah.
"Ya bagus dong, apalagi kalau dengan itu kamu bisa dapat pasangan kayak bundamu!" jawab ayah bangga.
"Udah deh yah, bunda malu!" kata bunda sambil menahan senyum.
Aku hanya cekikikan melihat mereka semua. Sambil diam-diam berdoa agar kelak aku bisa dapat pasangan seseru ayah.
"Ada apasih kok seru banget?" kak Al tiba-tiba datang sambil membawakan kami kue buatan aku dan dia yang sudah siap untuk dimakan.
"Mon maap nggak ada reka ulang adegan!" jawab Yoyo yang membuat kak Al mendengus.
"Wah wangi banget, ayah mau dong!" kata ayah antusias melihat kue yang kami buat terbilang berhasil secara bentuk.
"Enak kan yah?" tanyaku yakin sekali, dan sangat antusias saat ayah telah mencoba kue buatan kami.
Ayah mengangguk. "Enak banget inimah, ayah jadi kepikiran buat bikin usaha kue nih, tapi nggak jadi deh takut toko kuenya mas Eca kalah saing sama toko kue anak-anak ayah!"
Aku dan kak Al kompak tos bareng.
__ADS_1
"Ayah lebay banget deh, padahal biasa aja nih kue!" sahut Yoyo tak terima.
"Ya udah kamu nggak usah makan!" kata ayah.
"Eh nggak-nggak, ini enak banget kok!" ralat Yoyo yang membuatku dan kak Al kembali bertos ria.
"Dapur gimana Al? Udah bersih kan?" tanya bunda tanpa mau ikut berkomentar, padahal bunda sedang memakan kue kami juga.
"Udah bun!" jawab kak Al.
Kami semua makan dalam khidmat, sambil sesekali terbahak karena ulah salah satu dari kami. Semuanya sangat seru, sampai teriakan bunda yang pamit untuk pipis membuat kami semua kaget.
"ALISYA, SAGITA?!! BERSIHIN DAPURNYA SEKARANG! BUNDA NGGAK MAU BERSIHIN DAPUR SEHARI SAMPAI TIGA KALI GARA-GARA ULAH KALIAN YA!!!"
Untungnya kami sudah biasa dengan keadaan seperti itu.
Ayah terkekeh. "Udah sana bantu bundamu dulu!" saran ayah.
"Siap ayah!" kataku dan kak Al berbarengan.
Tahu kenapa ayah tidak memarahi kami kayak yang bunda lakukan? Itu karena ayah tahu kalau kami sudah membersihkan dapur sesuai dengan standar kami sendiri. Tapi bunda yang entah menganut standar darimana, tidak akan pernah terkesan dengan kerja kami. Pokoknya apapun yang kami kerjakan itu, tetap harus ada campur tangan bundanya, barulah bunda akan anggap itu sempurna walaupun banyak kurangnya.
"Lo mau supaya bunda berhenti ngomel nggak Gi?" bisik kak Al padaku.
"Mau lah, sakit telinga gue nih!"
"Lo bilang sama bunda kalau lo bakal jalan sama Mahesa hari ini!"
"Gila ya lo?!"
"Yaudah biar gue aja yang bilangin! Bunda mau dengar kabar baik nggak?" teriak kak Al yang membuatku menghela napas panjang.
Keluargaku bukan spesies langka kan?
Tbc
Iya
__ADS_1