
Sebelum lanjut baca, gue cuma mau bilang part ini tuh drama banget. Kalau lo punya potensi gampang jijik, mending ngejauh aja. LOL
DUA PULUH LIMA
"Kamu kenapa menghindar terus dari aku sih?" katanya sambil menarikku ke tengah lapangan.
Sungguh aku menyesali tingkah rajinku yang saat ditanya siapa yang mau membelikan minuman untuk anak osis langsung menawarkan diri, bahkan menolak ketika ada yang ingin menemani.
Dan yang membuatku makin kesal adalah kenapa aku sama sekali tidak terpikir kalau Devano mungkin saja masih berada di sekolahku meski sudah hampir sore sekalipun.
"Lepasin gue Devano, kita itu udah berakhir. Jadi buat apa gue nemuin lo lagi ha?" kataku dengan suara pelan.
Aku mulai ketakutan sekarang, terlebih anak basket yang sedang latihan mulai tertarik melihatku dan Devano.
"Berakhir kapan? Kamu nggak pernah ya minta putus atau putusin aku!" jawabnya dengan suara yang mulai meninggi.
Sepertinya orang ini benar-benar sudah gila, sampai ngomong ngawur begini.
"Apasih lo. Kita itu udah putus, semenjak lo ketahuan nyelingkuhin gue!" kataku masih pelan, aku begini karena aku tidak mau menarik perhatian.
"Oh ya kapan?"
Dan mendadak aku menyesali pilihanku tidak mempublikasi pada khalayak ramai kalau aku diselingkuhi oleh cowok ini, karena aku tidak mau dilihat sebagai cewek bodoh yang harus dikasihani. Jika begini rasanya aku yang bodoh mengatakan itu sekarang, di depan banyak orang, sedangkan yang kelihatan salah sekarang itu aku.
"Kak lepasin gue!" Aku mulai terisak.
Aku benar-benar sangat takut sekarang. Belum lagi saat aku teringat kalau aku bukan orang yang berani untuk menjawab, malah cenderung gagu saat mengalami kejadian yang sama sekali tidak ada dalam planingku ini.
"Gue nggak bakal lepas sampai kapanpun!" katanya.
Sungguh semua yang ada di sini mulai menatap kami penasaran, bahkan yang tidak sedang berada di lapangan mulai berdatangan seolah ada tontonan yang sangat unik.
"Please!!" kataku dengan mata berkaca-kaca dan sesekali terisak.
Hal itu membuat genggaman tangan Devano di tanganku mulai mengendur, meski begitu tetap saja aku yang sudah gemetar daritadi tidak punya tenaga untuk melepas.
"Gita apa alasan kamu menjauh?" tanyanya lagi.
"Lepas!"
"Ini yah alasannya?" Bukannya melepas dia malah memperlihatkan handphonenya yang menampilkan fotoku dan Mahesa. "Lo ninggalin gue karena dia?" tanyanya lagi.
"Lo benar-benar udah gila ya?!" Suaraku mulai ikutan meninggi.
__ADS_1
"Iya dan itu karena lo!"
Aku speechless menghadapi cowok di hadapanku. Untungnya tak lama setelah itu Mahesa mendatangiku. Ia bahkan langsung berdiri di antara aku dan Devano.
"Lepasin Gita!" katanya.
Devano terkekeh. "Berani juga lo datang ke sini yah!"
"Lepasin Gita!" ulangnya lagi.
"Dia masih milik gue!" jawab Devano membuatku dan Mahesa melotot sempurna.
"Nggak usah ngehalu deh lo!" balas Mahesa.
Devano terbahak. "Apa yang lo lihat dari cewek ini sampai lo menutup mata kalau dia itu masih milik gue ha? Atau jangan-jangan dia udah kasih kehormatannya sama lo?" kata Devano membuatku refleks menamparnya, aku benar-benar shock mendengar ucapannya.
Untungnya tingkah refleksku itu membuat Devano melepas tangannya, Mahesa langsung mengambil kesempatan dan mengamankanku di belakangnya.
"Gue nyesel pernah kenal cowok brengsek kayak lo!!" kataku menggebu.
"Git lo mau gue tonjok dia?" bisik Mahesa kemudian.
"Nggak perlu, gue cuma mau kita pulang!" kataku terisak.
"Oke, ayo!"
***
"Lo kok bawa motor sih? Hick!"
Mahesa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "E.. Itu karena gue masih ngerasa bersalah sama lo."
"Ya terus kenapa lo nggak ngabarin gue dari tadi pagi?" tanyaku masih sesenggukan, juga sedikit sebal.
"Gue malu ngabarin lo!" akunya.
Aku menatapnya tak percaya dengan mata yang kuyakin sudah memerah sekarang. "Terus sekarang gimana? Gue nggak pake rok yang kemarin." Meski sudah membuatku kesal aku tetap tidak bisa memarahinya.
"Gue bawa celana olahraga kok! Tenang aja ini baru dicuci, masih wangi, bau laundry banget pokonya!" katanya semangat sambil merogoh isi tasnya. "Nah ini pake! Oh ya sekalian pake jaket, di jalan dingin!" Dia juga menyerahkan jaketnya yang baru saja diambil dalam tasnya padaku.
"Terus lo?"
"Gue bawa dua kok!"
__ADS_1
Aku langsung mengambil celana olahraga dan jaket Mahesa. "Lo ngebuat gue pengen makin nangis aja Sa!" kataku dengan mata yang kembali berkaca-kaca
Mahesa terkekeh. "Gue pengen nebus kesalahan sama lo secara totalitas. Ya udah ah sana ganti!" katanya sambil mendorongku menjauh darinya.
***
Kukira naik motor bersama dengan Mahesa akan membuatku merasa lebih baik. Faktanya aku masih tetap sedih, keadaan jalan yang sepi juga cuaca dingin selepas hujan lebat seakan mendukungku untuk terus menangis.
Gara-gara mantan brengsek itu juga moment yang seharusnya membuatku bahagia, karena aku akhirnya bisa merasa diboncengi orang selain anggota keluargaku dengan motor besar, malah jadi terasa hambar gini. Aku yang seharusnya memberi banyak ekspresi di wajahku, malah diam dan murung sekarang.
"Gigi anaknya bunda! Halo! Gigi!" panggil Mahesa yang membuatku duduk lebih dekat dengannya, karena aku tidak bisa terlalu mendengar apa yang dia katakan dengan jarak begini di atas motor.
"Ehm iya!" kataku.
"Pakein tas lo ke depan!" perintahnya.
"Lah buat apa?" tanyaku bingung.
"Udah iyain aja!"
Akupun dengan polosnya langsung mengikuti apa yang dia suruh.
"Terus sekarang?"
"Peluk gue, terus lo nangis sepuasanya!" katanya kemudian, membuat makin terharu saja.
Aku yang daritadi menahan isakanku agar tidak terlalu didengar oleh Mahesa, akhirnya menuruti permintaannya. Aku memeluknya erat, lalu menangis kencang sepuasnya, berbarengan dengan gerimis yang kembali turun membasahi bumi.
"Gue masih nggak nyangka, Devano yang benar-benar udah lost kontak sama gue tega ngatain gue sebegitunya. Gue. Hick. Gue nyesel nggak putusin dia secara langsung, tapi malah serahin semua ke Yoyo. Gue marah sama diri gue dulu yang terlalu lemah, hick!" kataku di sela isakanku.
Menangis begini, dibasahi hujan, sambil memeluk Mahesa, mengeluarkan semua unek-unek adalah hal yang bisa membuatku merasa sedikit lega.
"Gue juga minta maaf sama lo, karena gara-gara gue nama lo jadi ikutan nggak baik, padahal nggak lama lagi bakal diadain pemilihan osis!" sambungku. Sekarang aku sudah menangis makin kencang.
"Jangan mikirin gue, lo fokusin tata hati lo yang hancur gara-gara omongan si Devano dulu!" jawabnya.
Aku makin mempererat pelukanku pada Mahesa, setelah mendengar jawabannya. Cowok ini benar-benar selalu bisa membuatku merasa baik-baik saja. Andai dia tahu bahwa yang paling menghancurkan hatiku adalah mengatakan aku rela dia kembali dengan mantannya.
Bodohnya lagi, meski aku tahu yang kulakukan sekarang malah akan makin membuatku hancur, aku tetap tidak mau mempedulikan itu sekarang, karena aku bertekad akan menikmati sisa hariku sebelum aku kembali patah hati, yang mungkin bakal jadi patah hati termanis di hidupku.
Btw aku menarik kata-kataku tentang naik motor berdua bersama Mahesa terasa hambar, karena ulah Devano, karena sejujurnya naik motor besar ini dengan orang tersayang itu benar-benar sangat menyenangkan, dalam keadaan sedih sekalipun. Hal itu bahkan membuatku merasa jadi Milea dadakan, dan Mahesa yang jadi Dilannya.
Tbc
__ADS_1
Gue ketiknya sambil pup, makanya part ini agak gimana gitu. *JK *LOL *MAAPKEUN
Iya