Mahesagita

Mahesagita
part 9


__ADS_3

SEMBILAN


"Bunda maafin Gigi!!" Saat sampai di rumah, yang pertama aku lakukan adalah memeluk bunda yang sekarang sedang menyiram bunga.


Bunda sangat terkejut dengan kedatanganku, dan hendak memarahiku karena telah menganggu kegiatannya menyiram bunga. Untung saja Mahesa datang bersamaku. Jadi bunda tidak akan melakukan apa yang aku takutkan.


Dengan ini, resmi penyelamatku ada dua sekarang. Yaitu Yoyo dan Mahesa.


"Gigi kenapa mas?" tanya bunda pada Mahesa.


"Nggak tahu bun."


Jangankan Mahesa aku saja yang mengalami hal ini tidak bisa menjelaskan apa yang telah menimpaku sampai-sampai aku jadi sebegini takutnya. Aneh banget memang, padahal sebelumnya aku juga sering membohongi bunda, tapi entah mengapa kali ini rasanya beda. Apa mungkin karena kebohonganku ketahuan bunda dan bunda refleks berucap sesuatu di hatinya, makanya aku jadi langsung tidak tenang gini ya?


"Gigi kamu kenapa sih? Jangan buat takut bunda dong!" kata bunda sambil mengelus punggungku.


"Maafin Gigi bun, maafin Gigi karena udah bohongin bunda!" kataku.


Kemudian tangisku pecah. Soal Mahesa aku udah bodoh amatlah, dia juga udah banyak tahu tentang keluargaku, satu tambahan aku yang sebenarnya sangat cengeng tidak akan membebaninya juga kan?


"Iya-iya jangan nangis, bunda udah maafin kamu," jawab bunda, lagi-lagi sambil mengelus punggungku pelan.


Aku sesenggukan dan tidak mampu menjawab lagi.


"Besok-besok dengerin omongan bunda ya, jangan suka ngelawan lagi!" tambah bunda.


Aku yang emang benar-benar sedang ketakutan langsung mengangguk di sela tangisku.


"Mas Eca bunda minta tolong sama kamu lagi boleh kan?" Bunda beralih pada Mahesa yang sepertinya terpaku melihat interaksi aku dan bunda.


Mahesa dengan semangat empat limanya langsung mengangguk. "Iya bunda, boleh!!"


"Besok-besok Gigi pulang sekolah sama kamu boleh nggak?" tanya bunda.


Lagi-lagi Mahesa langsung mengangguk. "Dengan senang hati bun!"


"Benar boleh? Nanti gue malah ngerepotin lo lagi!" tanyaku yang sudah melepas pelukanku dari bunda, dan tentu saja aku enggan menatap Mahesa secara langsung dengan wajah seperti sekarang ini.


"Arah rumah kita kan searah, jadi gue nggak ngerasa repot sama sekali kok!" jawab Mahesa.


"Nah, mas Ecanya aja udah boleh! Jadi kamu nggak akan ngelawan bunda lagi kan Gi?" tanya bunda sambil melirikku.


Aku mengangguk.


"Ya udah ayo kita masuk, mas Eca juga!"


Kali ini Mahesa menggeleng. "Lain kali aja bun, Eca buru-buru, soalnya Eca harus ambil mobil yang ketinggalan di sekolah dulu."


"Aduh si Gigi ada-ada aja tingkahnya," kata bunda sambil menghela napas.

__ADS_1


Kan semua itu nurunnya dari bunda.


"Gapapa kok bun!" jawab Mahesa sopan.


Bunda mengangguk. "Kamu tunggu dulu di sini ya mas, bunda mau manggil Yoyo buat anterin kamu ke sekolah," tawar bunda.


Lagi-lagi Mahesa menggeleng. "Eca dijemput temen ke sini bun."


"Oalah, ya udah bunda masuk duluan ya. Gigi tunggu mas Eca di sini, sampe dia dijemput temannya yah!" kata bunda kemudian berlalu, bahkan sebelum sempat aku membantah.


Dasar bunda, nggak tahu apa aku nggak mau Mahesa melihat wajah kacauku saat sedang menangis, tapi bunda malah menyuruhku menunggu di sini. Sungguh aku sangat menyayangi bundaku.


"Nggak baik lho membelakangi tamu!" kata Mahesa kemudian.


"Awas jangan dekat, gue jelek banget kalau abis nangis!" usirku.


"Emang kalau lagi nggak nangis cantik yah?"


Aku refleks menoleh padanya, dan langsung memelototinya tajam. Tapi bukannya takut, dia malah terbahak, membuatku makin kesal saja.


Ceklek.


What?!


"Ih kok lo fotoin gue sih?! Hapusin nggak?!"


"Nggak mau. Abisnya muka lo lucu banget tadi."


"MAS ECA?!!"


Lagi-lagi dia terbahak. Dia kemudian menyentuh puncak kepalaku. "Udah sana masuk, bentar lagi Wira nyampe ke sini. Lo nggak mau kan muka jelek lo dilihat sama dia juga?" katanya lagi membuatku makin kesal saja.


"Ya udah gue masuk, thanks and bye!" kataku.


Dia mengangguk. "Btw gue izin lihatin foto lo yang tadi kalau gue lagi sedih ya."


"Gue bunuh juga lama-lama lo ya?!" kataku dengan wajah memerah.


Tanggung jawab Mahesa, aku baper huaaa?!


***


Ternyata tidak cukup semalam saja semua teman-temanku mengejekku, karena mereka tahu Mahesa kemarin pulang dari rumahku dari mulut si ember Wira. Mulanya aku mencoba biasa dan tidak mau peduli dengan mereka, karena kukira itu akan berakhir saat jam istirahat, tapi karena Wira mengajak kami semua untuk berkumpul, lagi-lagi mereka dapat kesempatan untuk terus mengejekku dengan level yang lebih serius. Ejekan demi ejekan itu membuatku mulai merasa risih sendiri, karena itu aku langsung pamit untuk masuk kelas lebih awal sendirian.


"Maafin gue ya Git!" kata seseorang yang baru masuk lantas langsung duduk di sampingku.


"Nggak mau!" jawabku yang masih kesal.


"Padahal gue maunya lo jawab, 'kok lo yang minta maaf sih, kan yang salah mereka' terus gue mau jawab 'karena gue orang keren, dan orang keren itu minta maaf walau nggak salah'," balasnya membuatku langsung terkekeh.

__ADS_1


"Kan ketawa, bilang makasih dong!" sambungnya.


"Gue karungin mau nggak lo mas Eca?"


"Mau kalau dikarunginnya bareng lo!" jawabnya membuatku refleks memukulnya.


"Sakit lho Gi! Aw!" ringisnya.


Aku terbahak melihat ekspresinya, yang meski sedang kesal tetap saja ganteng. Memang susah si orang yang berwajah maskulin seperti Mahesa ini menampilkan ekspresi yang nggak bagus, aku jadi cemburu melihat wajahnya yang bisa dibilang hampir nggak ada jelek-jeleknya.


"Kok diem? Terpesona yah?"


"Mau lagi yah lo?" tantangku sambil memperlihatkan tanganku.


"Lama-lama mirip Sabil pas lagi marah sama Angga juga lo ya!"


"Bodo amat!"


Ia hanya menatapku sambil tersenyum tipis. Dan kemudian mulai fokus dengan handphonenya.


Aku menghela napas sambil sedikit melirik ke arahnya. Kalau bisa kudeskripsikan cowok di hadapanku ini terbilang sempurna dari sifat dan visual. Dia tipe orang yang bisa buat nyaman. Bisa banyak banget ngomongnya kalau menurutnya topik yang sedang dibahas itu menarik. Maka jangan heran kalau sama aku dia bisa banyak banget ngomongnya, karena biar gini-gini aku ini sangat asyik orangnya, wawasanku juga nggak kalah luas sama Mahesa. Hal itulah yang membuatku sangat nyambung ngobrol sama Mahesa, terlebih saat kami sedang berdua.


"Git gue ketemu cara supaya kita nggak diejek lagi nih di wikihow," kata Mahesa tiba-tiba.


"Apaan tuh?" tanyaku penasaran.


"Katanya kita disuruh ladenin aja semua ejekan mereka sampe mereka sendiri bosan dan nggak mau ngejek lagi," jawabnya.


"Ladenin gimana tuh?"


"Ikutin jalan cerita yang mereka mau, sampe mereka speechless sendiri."


"Ih ngaco banget tuh sarannya!"


"Ya kan nggak salahnya dicoba!"


"Nggak mau ah!"


"Kenapa? Takut beneran nyaman?"


"Anzay!!"


Kami berdua terbahak bersama. Dan kemudian aku jadi terpikir sesuatu.


"Lo beneran abis diselingkuhi Sa?" tanyaku refleks, karena dengan segala kelebihan itu rasa-rasanya aku kurang percaya kalau Mahesa itu putus gara-gara diselingkuhi.


Ekspresi Mahesa langsung berubah. "Sorry, gue belum mau bahas itu," jawabnya.


Dan entah kenapa perasaanku jadi nggak enak setelah lihat responnya.

__ADS_1


Tbc


Iya


__ADS_2