Mahesagita

Mahesagita
part 16


__ADS_3

ENAM BELAS


Setelah drama saling jambak-menjambak kami semua berakhir dengan mendapat hukuman membersihkan kamar mandi yang baunya naauzubillah setelah pulang sekolah. Cuma kami saja tentunya, sedangkan Rebeca dan dua orang temannya bebas, malah guru mengkhawatirkan mereka yang mendapat banyak cakaran di wajahnya karena kami.


Tentunya kami tidak akan marah pada sistematika sekolah ini, karena sudah pasti guru-guru di sini akan lebih mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Rebeca sang ketua osis, ketimbang kami yang bukan siapa-siapa, bahkan tanpa mau capek-capek bertanya pendapat saksi yang berada di kantin. Meski begitu kami harus banyak bersyukur juga karena cuma dikasih hukuman seperti ini, dan tidak sampai mendapat surat cinta yang harus dibaca di depan orang tua.


Omong-omong keadaan kami berempat baik-baik saja, kami hanya mendapat sedikit cakaran, karena ketidakmahiran Rebeca and the genks dalam menghadapi pertengkaran antar perempuan.


"Kenapa harus toilet laki-laki sih?" gerutu Inez yang mulai mual-mual setelah menyikat kamar mandi di sampingku.


"Karena kalau cuma kamar mandi cewek, guru pikir kita nggak akan merasa jera!" jawabku sambil menyikat keramik dengan keras.


"Mandi kembang lah gue pas pulang nanti!" tambah Jihan yang daritadi juga mual-mual terus gara-gara tak tahan bau kamar mandi ini.


Terdengar helaan napas panjang dari Sabil. "Maafin gue ya guys, coba aja gue nggak emosi tadi, pasti kita nggak bakal berakhir gini," katanya pelan.


"Kalau misalnya kami merasa lo salah, kami juga udah mundur dari awal kok Bil, nah ini si bule sarap itu emang udah keterlaluan banget," bantah Inez.


"Iya Bil lo nggak perlu minta maaf segala!" tambahku.


"Kalau gue sih Bil perlu maaf lo. Tapi maafnya diganti sama ditraktirin makan aja deh!" ujar Jihan membuat kami semua terbahak, bahkan Sabil yang daritadi kelihatan murung terdengar kekehannya.


"Serius gue masih sakit hati banget dia katain ibu gue!"


Kami dan yang lainnya mengangguk setuju. Fyi, Rebeca dan Sabil adalah saudara tiri. Papa Rebeca dan ibu Sabil menikah lima bulan yang lalu. Semenjak itu Rebeca yang memang sudah membenci Sabil jadi makin membenci Sabil, hingga dia mulai mengarang gosip yang bukan-bukan. Dimulai dari gosip ibunya Sabil adalah pelakor, kemudian diganti menjadi dukun guna-guna, sampai yang baru-baru ini *******. Karena tidak merugikan orang lain, Sabil memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan masalah itu, karena Sabil mengerti posisi Rebeca yang tidak mau orang tuanya bercerai, dan menikah lagi, tapi makin ke sini kok pemikiran cewek itu malah makin aneh, makanya tadi Sabil langsung kalaps hingga langsung menyerang Rebeca, meski sudah ditenangi oleh Angga.


"Kalian kepikiran gimana caranya kita ngelengserin kekuasaan tu barbie santet nggak? Gue juga kesel banget sama dia!!" kata Jihan kemudian.


"Yang jelas jangan kayak tadi lagi, soalnya kalau kita main bar-bar kayak tadi bisa-bisa kita dikeluarin dari sekolah ini sebelum ngelengserin si barbie santet," jawabku yang langsung disahuti yes oleh Inez.


"Kita harus main cantik kali ini!" kata Sabil yang langsung kami semua angguki.


"Kalian ngebersihin wc apa ngobrol sih? Pegel tahu nyimak tapi nggak tahu apa-apa!" teriak Wira dari luar sana. "Btw Jihan gue jangan banyak kalian suruh sikat-sikat tuh!" tambahnya.


"Yang aku mau ke kantin nih, kamu mau dibeliin apa? Biar aku beliin!" Angga ikutan berteriak.


"Git pulang aja yuk, lo bisa pakai alasan kaki lo masih sakit!" Mahesa juga ikut-ikutan berteriak.


Kami bertiga langsung senyum-senyum sendiri, kecuali Inez.


"Kak Elang kenapa tamatnya cepet banget sih?!" katanya mendadak sedih


***


"Pokoknya nanti pas bunda nanya gue kenapa, lo jawabnya gue dicakar kucing yang gue selamatin di atas pohon makanya gue sampe gini," peringatku pada Mahesa saat kami dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Git kok lo ajarin gue bohong mulu sih? Malah alasan yang lo suruh bilang ke bunda lo ngawur banget lagi!" jawabnya sambil terkekeh.


"Ya udah deh terserah lo mau bilang apa. Yang jelas jangan bilang sama bunda kalau gue habis berantem sampe cakar-cakaran sama barbie santet," jelasku sekali lagi.


"Gue terima kalau imbalan lo buat gue menarik!" balasnya.


"Gue lagi PMS, kaki gue juga masih sedikit, terus muka gue perih banget, masa lo tega minta imbalan sih Sa!!" kataku dengan nada yang kubuat sangat sedih.


Mahesa menghela napas panjang. "Oke demi lo gue bakal cari alasan yang bagus!" katanya.


"Thanks!!"


Mahesa mengangguk. "Makanya lain kali jangan berantem lagi, kalau yang repot bukan cuma lo!" katanya sambil mencubit pipiku gemas.


"Ih sakit tahu!!"


"Nah gini aja udah sakit, tapi kayaknya lo malah punya niat buat berantem ronde kedua sama Rebeca dan teman-temannya."


"Sok tahu lo. Gue sama teman-teman gue berencana main lembut kali ini, nggak bar-bar lagi!" bantahku.


"Emang udah ada rencananya yah?"


"Belum sih. Bantu mikirin dong, kan lo brilian!" rayuku.


"Nyebelin banget sih lo!"


"Nyebelin-nyebelin gini tapi ngangenin kan!"


"Serah lo Sa, serah!!"


Mahesa terkekeh melihat ekspresi sebalku. "Btw Git, gue bakal sering rapat nih, jadi gue bakal sering telat pulang!" katanya kemudian.


"Terus?"


"Emang lo mau nungguin gue selesai rapat tiap hari?"


"Ya nggak mau lah!"


"Karena itu kayaknya gue nggak bisa sering anterin lo pulang lagi, eh tapi kalau lo mau nungguin gue sampe sore gue sih okay-okay aja," katanya.


"Menyatu dengan kelas juga gue lama-lama kalau disuruh tunggu selama itu!"


Mahesa terbahak. " Iya juga sih, tapi gue bakal berusaha sebisa mungkin kalau ada waktu buat anterin lo pulang kok!"


Aku mengangguk. "Lo bilangin bunda juga ya soal ini, soalnya kalau gue bilang bunda suka nggak percayaan!"

__ADS_1


"Sip!"


Aku mendadak jadi sedih. Udahlah di sekolah aku nggak punya banyak waktu sama Mahesa karena cowok yang kutaksir ini kalau sedang balajar sangat fokus orangnya, eh sekarang waktuku dengannya makin berkurang karena rapatnya itu.


***


Hari ini seperti malam-malam biasanya, aku berkumpul dengan seluruh anggota keluargaku di ruang tengah.


"Yah bunda gendutan nih, perut bunda aja udah buncit banget!" kata bunda pada ayah.


"Nggak apa-apa loh bun. Karena panda itu jauh lebih imut daripada jerapah!" jawab ayah.


Bunda langsung senyum-senyum sendiri, membuat kami anak-anaknya menatap jengah perilaku dua insan yang terkadang suka nggak sadar umur itu.


"Gigi mengenai mas Eca yang akan sibuk rapat bunda punya saran, gimana kalau kamu jadi anggota osis kayak mas Eca juga? Kan lumayan tuh buat caper sama guru!" saran bunda tiba-tiba.


Mengingat aku juga ingin terus sama Mahesa, saran bunda itu sangat bagus. Tapi karena jiwa malesku lebih besar daripada antusiasku bersama Mahesa, aku langsung menggeleng.


"Nanti deh Gigi pikirin, tapi tujuh puluh persennya Gigi nggak setuju sama saran bunda!"


"Bunda harap pas bunda nanya besok jawaban kamu seratus persen setuju sama saran bunda!" balas bunda.


Karena aku memang sedang tidak mood untuk membantah bunda aku mengiyakan saja ucapan bunda, urusan bantah membantah biar besok sajalah aku pikirkan. Setelah itu aku beralih pada Yoyo yang sedang sibuk bermain hp dan sesekali senyam-senyum sendiri.


"Ngapain lo?" bisikku.


"Ngemodusin si Airin kayak lo suruh lah!" jawabnya.


"Eh gue nggak cuma suruh modusin yah, tapi seriusin juga!" bantahku.


"Iya-iya!"


"Jadi gimana dia?"


"Seru banget, gue merasa tertantang buat dekatin dia!"


"Ya udah semangat!!"


"Lo juga semangat! Tapi dari tangkapan gue kayaknya si Airin juga masih gagal move on dari mas Eca!" jelasnya.


Entah mengapa hanya dengan mendengar itu rasanya aku pengen langsung menangis.


Tbc


Iya

__ADS_1


__ADS_2