Mahesagita

Mahesagita
part 5


__ADS_3

LIMA


+62823.....


Selamat yah Git, lo udah jadi anggota keluarga gue. Karena panggilan mas Eca cuma diketahui sama keluarga gue aja.


Aku langsung menyimpan nomor yang baru masuk ke kontakku, sambil cekikikan karena teringat apa yang tadi kualami di toko mas Eca.


Me:


Wah, terharu banget gue Mas Eca!


Mas Eca:


Iya, tapi lebih baik lo nggak usah manggil deh kalau ujung-ujungnya cuma buat dijadiin bahan ejekan.


Me:


Ngambekan banget sih mas Eca ini🙁


Mas Eca:


Biarin blee😑


Me:


Yaudah maaf deh! Maaf juga buat yang tadi karena udah keterlaluan banget ngetawain lo!


Mas Eca:


Nggak mau!!!


Ternyata Mahesa dalam mode mas Eca sangat menggemaskan. Pengen rasanya kubungkus dan bawa pulang ke rumahku aja deh. Eh?!


"Darimana lo Gi? Tumben banget udah jam segini lo belum ganti seragam lo!" Yoyo yang baru pulang dari sekolah langsung duduk di sebelahku.


"Nemenin bunda beli kue," jawabku.


"Lo nemenin bunda?" Melihatku mengangguk Yoyo sedikit terkekeh. Dia kemudian menyampirkan rambut yang menutupi telingaku. "Syukur deh kuping lo masih ada pada tempatnya," ejek Yoyo.


"Jahat lo Yo, gue bilangin bunda tahu rasa lo!!"


"Ampun ndoro, jangan aduin bunda pliss," kata Yoyo mendadak takut.


Aku mengerlingkan mataku jahil. "Bunda, oh bunda!!" teriakku.


"Jangan gitu lah Gi!!"


"Bun... Bun!!"


Entah ada angin apa sampai-sampai bunda yang sedang sibuk memotong kue malah langsung mendatangiku setelah mendengar aku memanggilnya. Melihat kedatangan bunda, Yoyo jadi sedikit kalap dan langsung menutup mulutku. Sepertinya ia berpikir aku akan benar-benar melaporkannya pada bunda, padahal kan aku niatnya cuma bercanda, eh nggak tahunya bunda malah langsung datang pas dipanggil.


"Yoyo lepasin Gigi!" perintah bunda yang membuat Yoyo jadi mati kutu.


"Iya bunda."


Aku terkekeh melihat ekspresi Yoyo, sepertinya dia sangat takut predikat 'anak baik kesayangan bunda' dicabut darinya, kalau aku melapor apa yang baru saja dikatakan olehnya pada bunda.


"Gigi kamu udah minta maaf sama mas Eca?" tanya bunda setelah Yoyo menyingkirkan tangan besarnya dari mulutku.


"Udah bun," akuku.

__ADS_1


"Bener?"


"Masa anak baik kayak Gigi bohong sih bun!"


Yoyo yang mendengar ucapanku, langsung membuat ekspresi mau muntah.


"Bagus, lain kali jangan gitu lagi ya Gi!" peringat bunda.


"Iya bunda, maaf!"


"Yaudah ayo kita makan kue mas Eca!" kata bunda kemudian.


"Daritadi bunda sama Gigi ngomongin mas Eca mulu, emang dia siapa sih?"


"Orang ganteng!"


"Apa?!" Baik aku dan Yoyo sama-sama melotot mendengar jawaban bunda yang sekarang sedang mesem-mesem sendiri.


"Gi ayah harus tahu ini nggak?" bisik Yoyo padaku ngeri.


Kalau rumah tangga ayah dan bunda hancur sekarang aku tahu harus meminta pertanggung jawaban siapa.


***


"Wah anak cantik ayah tumben udah siap jam segini," kata ayah saat melihatku sudah duduk manis di meja makan.


"Bunda tuh nggak tahu kesambet apa yah. Masa Gigi dibangunin cepat banget, tapi kak Al sama Yoyo enggak!" aduku sebal.


"Hush nggak boleh ngomong gitu!"


Aku menghela napas panjang. Sejujurnya aku agak heran sama bunda hari ini yang menyuruhku untuk cepat-cepat bersiap, pasalnya selama aku sekolah bunda tidak pernah seexcited itu dalam membangunkanku, bahkan di hari pertama saja aku telat gara-gara bunda tidak sekekeuh sekarang dalam membangunkanku. Aku curiga bunda sedang merencanakan sesuatu yang aneh.


"Gi kamu hari ini berangkat sama ayah ya!"


"Kok sama ayah sih bun, kan Gigi biasanya bawa motor sendiri."


"Kamu nggak jelas bawa motornya, bunda takut kamu kenapa-napa."


"Bunda apa sih!!"


"Nggak ada bantahan Gigi!"


"Ayah!!"


"Dengerin aja bunda hari ini Gi, besok biar ayah yang bujuk bundamu," bisik ayah padaku, sambil mengelus puncak kepalaku.


Kalau ayah sudah berkata begitu itu artinya aku memang harus pasrah. Aku memakan sarapanku dalam diam. Setelah semuanya selesai, aku langsung pamitan dan menunggu ayah di luar.


Lima menit kemudian ayah juga ikutan keluar, kami langsung berangkat berdua menuju ke sekolahku. Fyi, ayah adalah kepala sekolah, di SMPku dan Yoyo dulu.


"Anak cantik jangan merengut gitu mulu, nanti jadi jelek lho!" kata ayah yang sedang fokus menyetir.


Aku mencoba tersenyum meski sedikit terpaksa.


"Kata bunda mas Eca itu teman sekelas sekaligus teman sebangku kamu yah?" tanya Ayah kemudian.


"Ayah juga kenal mas Eca?"


Ayah menggeleng. "Bunda kamu dari seminggu yang lalu sejak dia tahu kalau temannya buka toko kue selalu aja bahas mas Eca sama ayah, jadi meskipun ayah nggak kenal siapa mas Eca, tapi ayah tahu banyak tentang mas Eca."


Aku langsung berpikir overthinking pada bunda setelah mendengar cerita ayah. "Ayah jangan marah yah, tapi kayaknya bunda itu naksir sama mas Eca deh yah," kataku sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


Ayah terbahak, kemudian mengacak rambutku gemas. "Kamu kalau ngomong sembarangan banget sih Gi!" kata ayah.


"Yakan Gigi cuma takut yah!"


"Ya nggaklah, bundamu itu cuma cinta ayah seorang. Kalau sama mas Eca bunda suka juga sih, tapi dalam konteks yang berbeda artiannya sama ayah," jawab ayah.


"Ayah ribet ih ngomongnya ih, Gigi nggak ngerti."


Ayah terkekeh pelan. "Ayah udah dengar banyak tentang mas Eca dari bundamu, sekarang ayah mau dengar dari kamu juga dong."


"Kayaknya wawasan Gigi tentang mas Eca nggak seluas bunda deh yah, jadi percuma aja ayah tanya sama Gigi," kataku ikutan terkekeh.


"Nanti kalau kamu udah banyak tahu tentang mas Eca, ceritain ke ayah yah Gi. Sekarang cukup salamin mas Ecanya aja!" kata ayah saat kami sudah sampai ke sekolahku.


Aku terkikik pelan. "Oke ayah, tapi Gigi nggak janji yah, soalnya Gigi anaknya malu-malu," kataku kemudian menyalimi ayah.


"Belajar yang bener! Dah anak ayah!" kata ayah setelah aku turun dari mobil.


Aku mengangguk sambil ikutan melakukan dadah-dadahan dengan ayah. Setelah mobil ayah hilang dari pandanganku, barulah aku masuk ke sekolahku.


"Ke mana aja gue, masa gue baru tahu kalau jam segini sekolah udah rame," kataku prihatin sama diri sendiri.


Maklum saja selama ini aku selalu datang ke sekolah mepet dengan bel berbunyi.


"Kesambet apa lo Git udah nyampe ke sekolah jam segini?" Aku lantas menoleh pada orang yang tiba-tiba sudah berjalan beriringan denganku saja.


"Eh mas Eca!" Aku jadi cekikikan melihat wajahnya yang langsung berubah jadi kesal karena keceplosanku.


"Mahesa aja di sekolah, kalau di luar terserah lo!"


"Iyadeh tapi nggak janji!"


Dia mendengus. "Lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi!" ulangnya lagi.


"Sebelum gue jawab, gue mau tanya balik dulu, kenapa lo cepet banget hari ini?"


"Ye gue emang selalu cepet kali!"


"Masa? Nggak ingat senin kemarin lo telat bareng gue!"


"Asal lo tahu ya, selama gue sekolah di sini, gue itu baru telat satu kali, itupun karena gue harus nganterin mami gue ke toko dulu, makanya gue telat," jelasnya. "Tapi gue tahu lo selalu telat, karena selama lo sekelas sama gue, selalu duluan gue yang nyampe ke sekolah!"


"Sedetail itukah mas E.. Eh lo perhatiin gue? Duh jadi malu!" godaku.


"Kayaknya lo lebih diem aja deh, daripada ngomong tapi nyebelin!" Ia mengeram sebal.


Aku terkikik melihat bagaimana ekspresinya.


"Kak!"


"Mahesa!"


"Mahes!"


Dalam perjalanan ke kelas, banyak yang menyapa Mas E.. Maksudku Mahesa. Sepertinya berpacaran selama setahun dengan Devano benar-benar membuatku tidak tahu menahu tentang dunia luar, buktinya aku sama sekali tidak tahu tentang Mahesa, padahal dia sepopuler itu di mata adik kelas, seangkatan, sampai kakak kelas yang daritadi terus menyapanya, tersenyum padanya saat ia melewati siswa dan siswi tersebut.


"Iya gue emang terkenal. Tapi tenang aja, kenalan gue nggak akan ngelabrak lo karena lo jalan sama gue kok, jadi lo nggak perlu nervous ya!" katanya sambil tersenyum.


Perkataannya emang nyebelin banget. Tapi senyum di akhir kalimatnya itu membuatku terdiam dan nggak bisa marah. Lesung pipinya itu benar-benar membuatku hanyut.


Tbc

__ADS_1


Gimana? Udah jatuh cinta sama mas Eca belum?


Iya


__ADS_2