
TIGA PULUH TIGA
"Lo kalau terus maksain Fika duduk sama Yovie, gue bakal laporin ke buk Ira yang bentar lagi masuk ke kelas kita!" kataku sambil memelototi tajam Mahesa yang baru kembali bersekolah, tapi dengan seenaknya meminta Fika duduk dengan Yovie. Agar ia bisa sebangku denganku lagi.
"Balik ke bangku lo aja kali Sa, Gita mah kalau udah marah bisa lebih ngeri dari gue!" sahut Sabil yang kukira akan merespon lebih dari itu, tapi ia malah kelihatan cuek-cuek bebek aja.
"Nah bener tuh Sa," tambah Jihan.
Mahesa akhirnya menghela napas panjang. Ia kemudian menatap Fika. "Hari ini nggak jadi, tapi besok gue minta lagi ya!" katanya yang langsung diangguki Fika.
Sepeninggalan Mahesa aku juga ikutan menghela napas. Untung sekali hari ini Mahesa tidak berhasil mengacaukan hari juga hatiku.
***
"Nih ice cream!" Aku yang sedang merenung sendirian memikirkan perubahan Yoyo, terkejut bukan main kala seseorang yang baru datang menempelkan bungkusan dingin beroma vanila di pipiku.
"Eh kok lo tahu gue di sini?" Aku melotot ketika melihat siapa yang datang.
"Rahasia!" serunya sambil ikutan duduk di sampingku.
Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku. "Jangan bilang lo ikutin gue?" tanyaku tak habis pikir.
Sungguh aku sangat kecewa. Karena usahaku membuatnya menjauh dariku, cuma bisa berhasil dalam lingkungan kelasku aja.
Ia memasang tampang seolah sedang berpikir. "Yah ketahuan!!" jawabnya lagi dengan wajah yang dibuat sangat polos.
Aku yang memang udah benar-benar speechless hanya bisa menatapnya kesal, sambil menghela napas panjang. "Lo kenapa makin nyebelin sih Sa!!" kataku dengan nada tenang, sambil berdiri hendak pergi dengan kepala dingin. Namun hal itu langsung digagalkan oleh Mahesa.
"Lepasin nggak! Gue mau pulang!!" ujarku yang sudah tak bisa mengontrol emosiku lagi.
"Nggak mau!!" tolaknya santai.
"Kalau lo nggak mau lepasin gue, gue bakal teriak nih!!" teriakku sambil memelototinya tajam.
Ia terkekeh pelan. "Kalau di sekolah lo bisa ngancem bakal ngadu ke guru, kalau gue tetap paksa duduk sama lo. Tapi sayangnya di sini tuh sepi Git, nggak bakal ada orang yang bisa lo mintain tolong!" balasnya makin santai.
Sialnya yang dia bilang itu semuanya benar. Aku memang ke tempat ini sendirian, juga memilih tempat yang terbilang sepi karena aku mau merenung sendirian, eh nggak tahunya masalah lain datang. Kayaknya bulan ini memang bulan sialnya aku deh. Buktinya masalah selalu mencari diriku.
__ADS_1
"Mahesa gila!!" umpatku sangat pelan.
Kukira dengan cara diam mematung sambil berdiri saja, Mahesa akan menyerah kemudian melepas tanganku dari genggamannya. Nyatanya tidak. Cowok itu malah makin konsisten dengan sikap awalnya, yaitu tetap memegang erat tanganku, tanpa ada niatan untuk melepas sama sekali. Karena lelah terus-terusan berdiri, aku akhirnya kembali duduk di samping cowok menyebalkan itu.
"Apa tujuan lo ikutin gue ke sini?" tanyaku kemudian dengan nada yang sudah tenang.
"Ehm, gue mau lanjutin cerita soal gue yang nggak jadi balikan sama lo!" jawabnya.
Karena omongannya itu aku jadi teringat hari di mana aku melihat Airin dan Mahesa yang sedang berbelanja di mall yang sama denganku tempo hari yang lalu. Karena itu aku refleks menggeleng-gelengkan kepalaku, membuat Mahesa yang berada di sampingku mengernyit heran.
"Lo kenapa? Sakit?" tanyanya keheranan.
"Gue nggak mau dengar apapun yang menyangkut sama lo dan Airin," kataku tegas.
Mahesa mengernyit kian dalam. "Lah, kenapa?"
"Karena gue udah tahu semuanya!!" jawabku yakin.
"Lo tahu darimana?" tanyanya seperti panik.
"Ada deh, lo nggak perlu tahu!!"
"Kalau lo tetap nekat cerita, gue bakal nangis nih," kataku dengan mata berkaca-kaca, yang membuatnya menarik napas panjang.
"Lo kenapa gitu sih??"
"LO KIRA GUE MAU DENGAR CERITA LO YANG HAPPY ENDING SAMA AIRIN LO ITU HA?" jawabku yang benar-benar tak tahan lagi, dengan napas memburu.
Mahesa menatapku heran. "Happy ending? Gue nggak balikan sama Airin Git, jadi dari mananya happy ending?" katanya mencoba menjelaskan.
Aku terkekeh. "Lo pikir gue nggak lihat lo kemarin habis jalan sama Airin?" Aku sudah terlanjur kecewa, jadi aku sama sekali tidak bisa menahan mulutku untuk tidak membicarakan hal yang telah kucoba buang, tapi malah disuruh bongkar oleh Mahesa lagi.
"Itu nggak seperti yang lo pikirin Git, gue bisa jelasin!" katanya sambil menatapku.
Aku menatapnya tak habis pikir. Untungnya setelah aku marah-marah genggaman Mahesa di tanganku jadi melemah. Hal itu kugunakan untuk lari dari Mahesa. "Lo nggak bisa ngibulin gue Sa!" kataku seraya berlalu.
"Gue batalin rapat hari ini karena gue tahu lo lagi ada masalah sama Yoyo Git!" katanya yang membuat langkahku terhenti. "Maaf gue udah buat lo ngerasa nggak enak, padahal tujuan gue ikutin lo itu buat memperbaiki semua keadaan!" sambungnya yang tiba-tiba sudah berada di sampingku, sambil menyerahkan ice cream yang dibawanya tadi padaku.
__ADS_1
Aku mengambil ice cream di tangan Mahesa. "Kok lo bisa tahu?" tanyaku dengan nada memelan, mencoba memberanikan diri.
Ia membalasku dengan senyum. "Kalau gue jelasin sekarang lo juga nggak bakal percaya, jadi mending kita pulang aja ya!" katanya sambil mengacak rambutku. "Hati-hati ya, gue duluan, bye!" sambungnya, setelah itu berlalu. Meninggalkanku yang sekarang mematung.
Baiklah, dengan ini resmi pikiranku makin bertambah.
***
"Makasih Gita, berkat lo gue udah baikan sama kak Elang!" teriak Inez kesenangan lewat sambungan video call padaku.
Sebenarnya Inez juga ingin mengatakan ini pada Jihan dan Sabil, tapi mereka sedang tidak online.
Aku tersenyum. Jujur aku sangat senang karena hubungan sahabatku kembali berjalan lancar. "Bagus deh, nggak kuat juga telinga gue dengerin tangisan lo mulu!" balasku seraya terkekeh.
"Sa ae lo Git. Btw kata Fachri lo udah mulai chattan sama doi via wa yah?" katanya membuatku mengerucut sebal. Si Fachri kenapa mulutnya lemes kayak si Wira sih?
Aku mengangguk. "Nggak cuma dia sih, gue juga nerima permintaan follow dari si Husein, Dimas juga. Terus ada juga beberapa kakel yang gue acc!" jawabku sok.
"Eh buset dah. Mau jadi fakgirl lo?" tanyanya sambil melotot.
Aku terkikik pelan. "Bukan mau jadi fakgirl, tapi mencoba mencari yang terbaik. Lagian nggak semua gue ladenin baik kok, yang terlalu banyak nanya lagi apa, sama suruh pap mulu, otw gue jauhin!" jawabku.
Inez hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sebahagia lo aja Git!" katanya. "Udah dulu ya, gue mau vc sama kak Elang dulu, bye Gitaku sayang!!" sambungnya yang tak lama setelah itu langsung memutuskan sambungan video call kami.
Aku menatapnya seraya terkekeh. Aku sama sekali nggak menyangka hanya dengan baikan dengan kak Elang, akan langsung membuat kebucinan Inez kembali ke taraf seratus persen.
Aku yang sedang mesem-mesem sendiri, langsung berhenti, karena mendengar grasa-grusu dari kamar sebelah. Hal itu membuatku langsung berjalan ke pintu penghubung antara kamarku dan Yoyo.
"Kalau gue masuk si Yoyo bisa marah, tapi kalau nggak masuk terus dia kenapa-napa gue bakal disalahin sama ayah dan bunda, secara sekarang yang ada di rumah itu cuma gue." Aku bermonolog dengan diriku sendiri.
"Ya udah ah, mending gue masuk aja ke kamar Yoyo, lagian gue juga nggak tahu mau ngapain sendirian. Urusan dia marah mah belakangan," lanjutku sambil mengambil kunci pintu penghubung antara kamarku dan kamar Yoyo yang untungnya sempatku simpan setelah Yoyo bilang butuh privasi dengan cara membuat pintu itu tidak lagi berfungsi, beberapa hari yang lalu. Supaya Yoyo tidak curiga aku melakukan proses pembukaan pintu itu dengan sangat elegan.
"Yo--!!" Aku langsung membekap mulutku melihat Yoyo yang sedang menghisap rokok.
"INI NGGAK YANG KAYAK LO LIHAT GI!!"
Tbc
__ADS_1
Iya