Mahesagita

Mahesagita
part 22


__ADS_3

DUA PULUH DUA


Semenjak aku mendaftarkan diri menjadi wakil osis, aku jadi sangat sibuk, mengurus ini itu, bahkan hari ini aku diajak Mahesa untuk ikut rapat dengannya. Berhubung anak osis sedang sibuk-sibuknya mengurus banyak hal tentang kegiatan sekolah ke depan, mengenai pensi dan yang lain-lain. Namun karena akan ada pergantian anggota, yang mana anak kelas dua belas akan diturunkan dari jabatan, terlebih karena ada beberapa anggota yang sudah mengundurkan diri duluan, dengan alasan mau fokus bimbel dan ***** bengeknya, yang mengharuskan anak osis yang tersisa harus ekstra bekerja terus-terusan. Dengan pertimbangan itu akhirnya aku iyakan saja ajakan Mahesa.


Untungnya nenek sihir yang sangat aku benci tidak berada dalam satu ruangan denganku, jadi aku masih aman-aman aja. Lagian anak-anak osis welcome banget sama aku. Nggak papa deh aku merelakan waktuku untuk ini, karena aku senang bertemu dengan orang-orang baru yang sangat ramah ini.


"Jadi lo sama Mahesa masih belum pacaran yah dek?" tanya cowok berkumis tipis yang menyuruhku memanggilnya bang Richo.


"Hehe, belum nih bang!"


Lebih tepatnya nggak akan pernah bang! Sambungku di dalam hati.


"Berarti masih bisa gue embat lah ya nih!" sambung bang Richo membuat teman di sampingnya menoyor kepalanya.


"Punya teman lo nih oy, masa mau lo embat juga sih?" Mahesa yang menjawab sambil merangkulku. Sumpah yah, kok mendadak udara di sekitarku jadi menipis gini. Ya ampun, gimana caranya aku lupain dia kalau tingkahnya suka spontan gini coba?


"Kalau gitu mundur deh gue!" kata bang Richo kemudian terkekeh.


"Maaf Git, gue harus gini, soalnya bang Richo tuh buaya banget orangnya, gue nggak mau lo jadi targetnya!" bisik Mahesa kemudian padaku, yang dengan lugunya langsung kuangguki.


Hati kecilku sebenarnya berteriak senang, karena Mahesa sangat peduli padaku. Tapi otakku terus berteriak, jangan geer woy, kalian itu sama sekali nggak ada harapan. Rasa-rasanya aku mau merosot aja ke lantai, untuk menangisi nasibku.


"Hey, kalian tuh disuruh rapat, bukan pacaran! Belum kepilih tapi kelakuan udah kayak orang nggak ada akhlak. Kalau anak osis yang lihat mereka gini tapi masih mau pilih mereka, fix deh udah gila semua lo pada!" teriak Rebeca yang baru datang membuatku terkejut, dan Mahesa langsung melepas rangkulannya dariku.


Sumpah, gendang telingaku lama-lama bisa pecah, kalau Rebeca sering berteriak seperti itu. Kurasa jika aku adalah Sabil aku akan langsung balas meneriaki, tapi ini aku, dan aku tidak berani untuk begitu, jadi yang bisa kalakukan hanyalah menunduk.


"Mental lo udah langsung drop baru gue teriakin dikit ha?" Rebeca berdiri di sampingku, dia kemudian memegang daguku, membuatku jadi mendongak ke arahnya. "Leadership itu harus kuat, bukan lemah kayak lo! Mahesa benar-benar sarap milih lo!" katanya lagi. Rasanya aku ingin menangis saja, karena aku terus diteriaki Rebeca, tapi aku tidak boleh menampakkan kekuranganku padanya, aku harus kuat.


"Lo keterlaluan!!" Mahesa bangun, dia memegang tangan Rebeca menariknya menjauh dari wajahku. "Selama ini gue tau banyak kesalahan lo yang merugikan sekolah ini, tapi gue cuma diam aja karena gue mencoba sportif. Tapi kayaknya lo minta gue bongkar itu semua di hadapan semua anak osis deh. Oke, gue siap kalau itu yang lo mau!" Wajah Rebeca langsung berubah pucat. Kemudian dia melepas cengkraman tangan Mahesa di tangannya.

__ADS_1


"Lo halu apa gimana sih Sa?"


"Divisi rapat ini gue kan ketuanya? Hari ini gue bubarin lebih awal rapatnya. Gita lo ke parkiran duluan ya, yang lain tinggal di sini, ada yang mau gue omongin!" kata Mahesa membuatku mengangguk, dan langsung keluar.


***


Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit dengan gelisah di parkiran, akhirnya Mahesa kembali. Serius deh, aku daritadi udah kayak menunggu suami yang ikut perang pulang ke rumah aja, saking takutnya aku Mahesa kenapa-napa karena melawan orang yang mempunyai akal Abu Lahab seperti si Rebeca.


"Gimana-gimana tadi?" tanyaku heboh pada Mahesa.


"Wuih, santai, masuk ke mobil dulu, nanti biar gue cerita!" balasnya terkekeh, sambil membuka pintu mobil mempersilahkanku untuk masuk.


"Jadi gimana?"


"Pokoknya lo tenang aja ya, si Rebeca gue jamin nggak bakal ngelabrak lo lagi, tapi lo tetap harus hati-hati karena Rebeca punya banyak trick licik!" jelasnya.


"Lah kok cuma itu sih? Gue perlu tahu apa yang terjadi di ruang rapat tadi!"


Aku mengangguk. "Gue juga harus bilang makasih sama lo, karena lo udah mau belain gue di depan Rebeca!"


"Baguslah, kita saling timbal balik!"


Setelah percakapan itu aku diam. Aku bukan diam karena canggung, tapi aku diam karena aku memang tidak tahu harus mengobrol apa. Biasanya kalau sudah begini cowok itu yang akan mulai bicara, tapi kurasa setelah aku kepergok menyukainya, cowok itu akan lebih selektif mengeluarkan kata padaku.


"Ehm gue penasaran satu hal dari kemarin," katanya. Lagi-lagi aku salah praduga, sepertinya dia masih ingin terus lanjut mengobrol denganku, guna mencairkan suasana di antara kami.


"Penasaran apaan?"


"Lo tawarin diri kalau kita menang lo bakal bantuin gue balikan sama Airin, itu karena lo yakin kita nggak bakal menang yah?" tanyanya.

__ADS_1


"Suuzon banget sih lo sama gue. Lagian mana ada orang yang mau dirinya sendiri kalah sih!" sebalku. Memang inisiatifku mengatakan itu pada Mahesa karena aku memang sudah menyerah, bukan karena aku berharap kami akan kalah. Catat itu.


"Sorry gue salah," sesalnya.


"Makanya hati lo itu harus dibersihin dulu, supaya nggak suuzon mulu."


"Iya-iya. Gue yang salah!" Dia kemudian menatap ke luar jalanan. "Diboncengin pake motor itu gimana sih rasanya Gi?" tanyanya kemudian membuatku jadi mengikuti arah pandangnya.


"Mau gue tanya sama mereka, biar lo nggak penasaran lagi!" tawarku.


"Ngapain tanya mereka. Kan lo sendiri pasti udah pernah diboncengin Devano pake motor gede itu, kan?" katanya. "Kalau gue sama Airin jelaslah nggak pernah gituan, karena dari awal hubungan kami emang udah kacau!" sambungnya sebelum ku bertanya.


Aku menghela napas. "Gue nggak pernah naik motor Devano, soalnya gue takut kalau di tengah jalan gue ketemu sama ayah dan bunda gue, terus gue diturunin secara paksa, kan nggak lucu banget!" jelasku jujur, yang selama pacaran sama Devano selalu parno hal itu akan terjadi, sampai-sampai kalau ke mana-mana aku selalu minta nebeng sahabatku, atau aku menyuruh Yoyo mengantarku ke tempat pertemuanku dengan Devano.


Dia terbahak. "Lo sama Devano yang pacaran nggak dikasih gituan sama bunda lo ha? Tapi sama gue yang nggak ada hubungan apa-apa malah disuruh pulang bareng!"


"Gue dulu nggak dikasih pacaran, tapi kalau sama lo kayaknya bunda bolehin deh. Tapi sayang, pilihan bunda gue salah, soalnya lo nggak suka gue balik," kataku kemudian terbahak.


Kemudian Mahesa terdiam. Tidak menjawab apa-apa lagi. Kurasa dia merasa bersalah. Akumah udah bodoh amat, karena emang dia salah kok. Kan yang kasih harapan ke aku sampe aku punya perasaan sama dia itu dia sendiri. Jadi yang salah di sini itu dia. Bukan aku.


Aku memilih untuk kembali melihat yang ditunjukkan Mahesa padaku tadi. Karena itu aku tiba-tiba jadi teringat saat aku dibocengin Mahesa ketika aku sangat ketakutan kena karma bunda. Jika saat sedang sedih begitu aku bisa nggak karuan di belakang Mahesa yang membawa motor scoppyku, lalu apa kabar kalau aku sampai naik motor gedenya Mahesa?


Please, Gi. Jangan mulai lagi halunya.


"Kalau gue ajak lo buat ngerasain rasanya diboncengin pake motor gede itu sama orang selain keluarga lo dan sahabat lo, lo mau nggak?"


Hah? What?!


Tbc

__ADS_1


Iya


__ADS_2