
DUA PULUH DELAPAN
Aku menghela napas panjang sambil meluruskan kaki-kakiku. Aku benar-benar sangat bersyukur penyampaian visi misi kami di depan umum tadi berlangsung sangat lancar, bahkan di luar ekspektasiku. Melihat euforia yang aku dan Mahesa hasilkan, rasa-rasanya jalan untuk kami menang lumayan besar. Terlebih Rebeca memilih tidak menampakkan dirinya sama sekali, karena malu setelah perlakuannya padaku dibongkar Mahesa di depan banyak orang. Hal itu berarti tidak ada campur tangan Rebeca di dalam pemilihan osis yang sekarang. Artinya pemenang kali ini benar-benar dipilih secara sportif, berdasarkan kualitas yang terlihat.
"Ngapain di sini Git? Kenapa lo nggak ikut lihat penghitungan suara?" Mahesa yang baru datang ke tempatku berada sekarang, langsung duduk di sampingku.
"Di sana rame banget, gue pusing lihat orang sebanyak itu!" jawabku, bohong tentunya.
Faktanya aku memilih pergi sendirian ke taman sekolah yang terbilang tidak ramai ini, ketimbang menonton perhitungan suara, karena aku ingin menenangkan diri dan menjernihkan pikiranku, dari memikirkan kelanjutan hubunganku dan Mahesa.
"Iya sih, di sini adem, di sana panas, buat gue pengen nyanyi haredang aja!" jawabnya sambil terkekeh, mungkin karena teringat video tik tok yang kubagikan kepadanya tiga hari yang lalu.
Aku hanya diam sambil tersenyum simpul.
"Lo tadi pas debat hebat banget lho Git, jangankan orang biasa gue aja yang nggak gampang terkesan sama orang benar-benar kagum sama lo!" katanya lagi, setelah lumayan lama kami saling terdiam.
Aku terkekeh. "Spontanitas aja sih karena pas debat anak buah Rebeca ngomongnya nggak selow banget. Rasanya darah gue mendidih pas dengar omongannya!" jawabku seraya mengingat-ngingat kejadian tadi.
"Emang nggak salah gue pilih lo Git!" sambung Mahesa membuatku mengangguk canggung.
"Ehm soal Airin," kata Mahesa lagi membuatku meneguk salivaku berkali-kali.
Belum sempat dia melanjutkan pembicaraannya tentang Airin, handphonenya keburu berbunyi.
"Hah apa? Lo serius?" serunya heboh sesaat setelah ia mengangkat telepon.
"Git demi apa Git, kita menang!!" Cowok itu berdiri dari duduknya, menarikku untuk ikutan berdiri, kemudian memelukku erat, membuat tubuhku seketika merasa gejolak aneh, sekaligus sedih. "Makasih banget lo udah mau berusaha semaksimal ini buat kita Git!" sambungnya yang entah mengapa membuat mataku berkaca-kaca, yang untungnya masih bisa kutahan agar tak jatuh.
Aku menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya pelan. "Kita berhasil menang, jadi gue bakal tepatin janji gue sama lo. So, mulai sekarang kita nggak usah terlalu dekat lagi, lo nggak usah anterin gue pulang lagi. Hubungan kita sekarang cuma sebatas ketua dan wakil yang hanya ngomong saat diskusi di ruang rapat!" kataku sambil melepas pelukanku dari Mahesa.
"Tapi Gi!"
"Tenang aja, tekat gue buat lupain lo benar-benar udah bulat kok. Dan itu gue rasa mulai berhasil. Apalagi setelah lo nggak terlalu banyak berinteraksi sama gue lagi, pasti tingkat keberhasilan gue buat lupain lo bakal langsung jadi seratus persen. Karena itu lo nggak usah merasa nggak enakan lagi sama gue!" jawabku sambil menepuk bahunya. "Gue duluan ke tempat pemungutan suara, lo nyusul bentar lagi aja!" kataku, kemudian aku langsung pergi dari hadapan Mahesa.
Sungguh dadaku sesak tak terkira karena aku harus mengatakan itu. Sakitnya lagi aku harus bersikap semuanya seolah baik-baik saja, padahal tidak.
__ADS_1
***
Galau lagi.
Lagi-lagi galau.
Rasa-rasanya hidup remajaku begitu miris, karena aku galau melulu-mulu.
"Lo menang tapi kok sedih sih?" Yoyo menghampiriku yang sedang duduk termenung di halaman depan rumahku sendirian.
Aku menghapus air mataku dengan jemariku, kemudian tersenyum sesumringan mungkin di depan Yoyo.
"Bukan sedih tapi terharu!" kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
Yoyo yang baru duduk di sampingku langsung menoyor kepalaku. "Sama gue jangan sekali-kali nyoba bohong ****!" serunya sebal.
"Curang! Lo bisa tahu semua yang lagi gue rasa!!" jawabku.
"Makanya jadi orang peka dikit dong!!" balasnya masih sebal.
"Bodo!!" Aku memalingkan wajah ke arah lain. Masa lagi sedih-sedih gini Yoyo malah ngatain aku sih?
"Pikir aja sendiri, lo kan cenayang!" jawabku acuh.
"Ya udah kalau lo nggak mau cerita sendiri. Tapi jangan salahin gue, kalau gue bilangin bunda lo lagi nangis, terus plost twistnya bunda bakalan maksa lo buat cerita!" Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk berdiri, membuatku yang tadi hanya menangis dalam diam, mulai mengeluarkan suara.
"Ih apasih cengeng! Padahal gue bercanda doang!" sungutnya sebal.
"Ngejek aja terus!!"
"Lo kenapa sih Gi? Coba cerita!" kata Yoyo mulai pelan.
Mendengar nada suara Yoyo aku jadi makin sedih, hal itu membuatku refleks langsung memeluknya. "Anterin gue buat ketemu Airin, please!" kataku di sela tangisanku.
***
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di depan rumah Mahesa, aku langsung menelpon Airin, agar cewek itu lekas membukakan pintu rumahnya. Sebenarnya awalnya aku mengajak Airin untuk bertemu di luar saja, tapi ia dengan tegas menolak hari minggunya diganggu oleh aku. Karena aku terus memaksa akhirnya ia menyuruh aku untuk mampir ke rumahnya saja.
"Lo ikut masuk?" tanyaku pada Yoyo.
Dia menggeleng lesu, membuatku mengernyit heran. Entah mengapa setelah aku menceritakan semua permasalahanku, adikku jadi seperti kehilangan arah hidup. Apa ikatan batin di antara kami membuat dia ikut merasakan yang seharusnya aku rasa? Entahlah aku tidak tahu.
"Dia udah bukain pintu tuh, gue masuk dulu ya. Lo tunggu di sini!" pesanku yang lagi-lagi hanya dianggukinya.
Kemudian aku berjalan sambil melirik kanan kiri takut-takut ada yang keluar dari rumah Mahesa. Setelah memastikan semuanya aman, aku lantas berlari masuk ke gerbang ke rumah Airin.
"Kata kamu ngobrolnya nggak lama kan? Jadi kita ngobrol di luar aja ya!" mulainya saat aku sudah masuk ke gerbang rumahnya.
Aku yang terpaku pada wajahnya yang katanya mirip denganku mengangguk saja. Tapi jujur Airin ini emang mirip banget denganku, tapi dalam versi warna yang berbeda. Singkatnya aku punya rambut bewarna cokelat, dengan mata yang bewarna serupa dengan rambutku, sedangkan warna rambut Airin hitam legam, mengikuti warna matanya. Hidungku juga sedikit lebih mancung dari dia, tapi dia memiliki lesung pipi yang lebih dalam dariku. Airin juga sedikit lebih tinggi dariku. Ringkasnya dia versi manis dan anggun, sedangkan aku versi imut dan petakilannya.
Ets, jangan pikir kami kembar yang terpisah yah. Karena kata Yoyo tanggal lahir kami berbeda, Airin lebih tua beberapa bulan dariku. Golongan darah kami juga berbeda. Dengan itu ia pure salah satu dari tujuh kembar beda ibu dan ayah denganku. Atau bisa dibilang aku pelarian yang sangat pas bagi Mahesa. Untungnya aku cepat sadar dan memilih sakit sebentar daripada memaksakan hal yang akan membuatku sakit selamanya.
"Kok ngelamun? Waktu saya nggak banyak, kamu mau bilang apa?"
Aku meneguk salivaku berkali. Sepertinya Airin tipe orang yang sangat to the point dan sangat berhati-hati sekali.
"Mahesa mau balikan sama lo, tapi dia nggak berani maju, karena takut lo tolak!" kataku.
Kulihat ekspresinya langsung berubah menjadi tidak bisa kubaca.
"Cuma itu yang mau gue bilang!" kataku sambil berbalik badan.
"Mahesa suka sama saya?" tanyanya membuatku bergetar.
Aku mengangguk. "Melebihi dari yang lo pikirkan malah!" jawabku.
Dia terdengar sedikit terisak. Nampaknya dia juga masih sangat suka pada Mahesa. Tapi aku tidak mau berbalik badan, karena faktanya aku lebih terpuruk dari dia.
"Gue pamit pulang, gue harap lo benar-benar pikirin apa yang gue bilang!" kataku sambil berlalu.
"Sergio kenapa block nomor saya?" tanyanya membuat langkahku terhenti.
__ADS_1
Tbc
Iya