Mahesagita

Mahesagita
part 8


__ADS_3

DELAPAN


Istirahat kali ini tidak hanya aku habiskan dengan sahabat-sahabat perempuanku saja. Tapi dengan tambahan pacar-pacar mereka dan tentu saja Mahesa. Jangan tanya ini ide siapa. Karena di antara kami semua yang mau meribetkan diri untuk mengumpulkan semua orang itu ya cuma Wira, ditambah dukungan dari Jihan pacarnya, maka dua orang itu akan jadi super combo. Di masa depan aku tidak akan heran, kalau sampai Wira dan Jihan jadi politikus, sebab mereka berdua memang sangat pandai untuk mengumpulkan orang untuk memihak mereka.


"Untung aja lo udah putus sama Devano yah Git, kalau nggak lo bakal berakhir ngenes kayak Inez juga, ada tapi berasa tiada!" komen Angga melihat Inez yang duduk di pojokan, sambil VC dengan kak Danil pacarnya.


Meski sedang dibicarakan Angga, Inez memilih acuh, dan tetap berbicara dengan kak Elang seperti orang yang sudah lama terpisah, padahal faktanya tadi pagi Inez baru saja diantar kak Elang ke sekolah. Memang di antara kami semua, yang paling bucin itu adalah Inez dan yang kedua adalah aku--dulu sih pas aku punya pacar--ehmm.


"Pas gue tamat dari sekolah ini lo juga bakal ngerasa kayak gitu kampret?!" peringat Sabil sambil menoyor kepala pacarnya dengan tenaga yang lumayan, sampai-sampai Angga terdorong beberapa senti ke belakang.


"Iya juga yah! Tapi ngomongnya nggak usah pakek KDRT juga kali. Aku ini pacarmu, bukan boneka!" sungut Angga kesal.


"Mau lagi hah?" Sabil memperlihatkan bogemannya pada Angga.


Angga menatap Sabil dengan tatapan pasrah. Memang hubungan yang paling tidak masuk akal itu ya hubungan mereka berdua. Tapi anehnya dua anak taekwondo itu sudah pacaran dua tahun lebih, itu artinya pasangan aneh itulah yang punya hubungan paling langgeng di antara kami semua.


"Pliss jangan perlihatkan ketidakharmonisan kalian pada calon pasangan baru, takutnya nanti mereka nggak berani untuk memulai gara-gara ngelihat kalian!" lerai Wira, sambil melirikku dan Mahesa yang mereka paksa untuk duduk berdekatan.


Aku membalas ucapan Wira dengan cara memelototinya tajam, sedangkan Mahesa kelihatan santai sambil terus memakan makanannya.


"Kelihatan kan yang ngebet itu siapa sekarang!" celetuk Sabil kemudian terbahak.


Mukaku memerah sekarang. Memerah karena tidak sanggup memahan malu tentunya.


"Udah udah, kasian Gita! Jangan bully dia mulu!!" Jihan akhirnya membuka suara.


Kalau sedang rame gini memang cuma Jihan yang masih berpikiran sedikit manusiawi, walaupun ujung-ujungnya dia bakal ikutan juga sih.


"Bukan bully Han, tapi kami mencoba jadi katalis untuk mempercepat laju reaksi!" balas Wira.


"Kimia aja masih suka remed, sok-sok an ngomong laju reaksi lo Wir!" jawab Sabil.


"Kampret benget sih lo Bil!"


"Nggak ada yang boleh ngatain pacar gue selain gue ya!" sahut Angga tak terima.


"Pacar lo tuh yang mulai!" bantah Wira juga tak terima.


"Tetap aja nggak boleh, cepet minta maaf!"


"Si brondong dibilangin kok ngawur banget sih? Ngajak berantem ha?"


"Udah-udah apaan sih, nggak jelas!" lerai Jihan sambil mencubit Wira.


"Aw-aw sakit yang!"


"****** lo!" Angga terbahak.

__ADS_1


"Lo mau juga Ga?" tantang Jihan.


"Eh nggak nggak, gue nggak mau dicubit sama lo. Tapi kalau berantem sama Wira gue mah ayo aja!" timpal Angga.


"Lihat kan siapa yang ngajak berantem duluan!" adu Wira pada Jihan.


Jihan menghela napas panjang. "Sabil lo ngomong juga dong jangan diam aja!" kata Jihan sambil menatap Sabil, meminta pertolongan.


Sabil kemudian menghela napas. "Makasih Ga, serius gue sempat terpaku beberapa detik sama kesosweetan lo. Tapi gue nggak papa kok, Wira nggak perlu minta maaf, karena gue juga nggak akan pernah mau maafin dia."


"Bil!" seru Jihan sebal.


"Iya-iya maafin gue Wira!"


"Gue juga minta maaf ya Bil!"


Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Jika kami sudah ngumpul rame begini pasti ada aja tingkah ajaib dari Sabil si bar-bar dan pacarnya Angga yang unyu-unyu manja, juga Wira si nyebelin banget tapi kalau udah ditatap Jihan bakal langsung kicep, dan jangan lupakan Inez yang jadi bucin nomor satu kak Elang, serta Mahesa yang meski belum aku kenal lama tapi aku tahu dia akan seseru teman-temanku yang lain. Sungguh aku sangat bersyukur mengenal mereka semua.


"Mahesa sama Gita di depan kami kok cuma senyum-senyum aja sih?" mulai Sabil.


Nah kan dimulai lagi.


"Iya yah, padahal waktu di kelas mereka berdua banyak banget ngomongnya!" jawab Jihan.


Dan sekarang semuanya kembali cie-ciein aku.


"Kalau Mahesa udah ngomong, diem ajalah gue!" jawab Wira yang langsung diangguki yang lain.


Kalau tahu mereka aku langsung diam setelah Mahesa mengeluarkan suara, tentu saja aku bakal memaksa dia ngomong daritadi.


"Keren kan gue bisa diemin semua?" bisik Mahesa padaku saat semua sedang fokus-fokusnya dengan makanan.


Perkataannya itu membuatku langsung menatapnya tajam. Karena itu dia malah terbahak kencang. Hal itu tentu saja menimbulkan tatapan heran dari semua teman-temanku yang sekarang mulai mesem-mesem sendiri.


Apa salah dan dosaku Tuhan, punya teman kok gini-gini amat sih!


***


"Eh lo bawa motor?" tanya Mahesa keheranan, saat melihatku memegang kunci motorku.


Aku mengangguk semangat.


"Kok bisa sih lo lolos dari bunda lo?" tanya Mahesa lagi sambil merapikan alat-alat tulisnya.


"Gue perginya diam-diam, bunda nggak tahu," jelasku pada Mahesa sambil terkikik, ketika mengingat kejadian dari semalam sampai dengan pagi ini.


"Astaga Git, nggak takut lo kena karma karena udah boongin bunda lo?"

__ADS_1


"Mas Eca omongannya kok ngeri banget sih?!" kataku sebal, pelan tentunya.


"Maaf-maaf deh!"


"Excuse me new couple, kami keluar duluan ya, ada ekskul, bye!!" pamit Sabil yang sudah selesai memasukkan semua alat tulisnya.


"Dadah Gita dadah Mahesa!" Jihan juga ikutan pamit.


Aku mengangguk. "Yuk bareng ke parkirannya!" ajakku pada Mahesa.


Mahesa juga langsung mengangguk. Kami kemudian berjalan beriringan menuju ke parkiran.


"Lo kok nggak ikut ekskul kayak dua sohib lo sih?" mulainya.


Aku menoleh pada Mahesa. "Gue mageran anaknya, jadi gue nggak ikut ekskul apapun. Kalau lo?"


"Gue anggota osis inti, cuma itu doang sih kegiatan gue di luar pelajaran sekolah!"


"Kenapa cuma itu doang? Gue lihat lo berbakat di olahraga. Visual lo juga mendukung buat jadi atlit sekolah kita."


Mahesa terkekeh. "Gue cuma bisa main bukan berbakat, tapi di luar sana banyak banget yang berbakat, dan gue nggak mau mereka kehilangan kesempatan buat nunjuin bakat mereka gara-gara gue."


"Wuih bijak banget!"


"Iya dong, tapi jangan sampe lo terpesona yah, nanti bisa berabe soalnya!" jawabnya.


"Ih pede!"


Kami berdua terbahak, sambil terus berjalan.


Saat kami melewati lapangan, tiba-tiba sebuah bola meluncur ke arahku. "Awas Gita!" teriak Mahesa.


Untungnya Mahesa langsung menarikku, sehingga bola itu tidak sempat mengenai kepalaku. Tapi tetap saja aku gemetar, dan mulai teringat bunda.


"Sa kalau gue bener kena karma bunda gue gimana?" tanyaku sesenggukan. Serius aku sangat ketakutan sekarang.


Mahesa mengelus punggungku pelan. "Gue antarin lo pulang!" katanya.


"Terus motor gue gimana? Bunda bakal lebih marah kalau gue nggak bawa pulang motor gue!" kataku yang masih ketakutan.


"Biar mobil gue aja yang tinggal di sini!" jawabnya sambil menggenggam tanganku.


Demi apapun, Mahesa sweet banget!!


Tbc


Iya

__ADS_1


__ADS_2