Mahesagita

Mahesagita
part 11


__ADS_3

SEBELAS


"Wuih lengket benar calon pasangan baru!" komen Wira saat melihatku dan Mahesa berjalan ke kantin beriringan berdua.


"Kenapa emang? Lo cemburu?" tanyaku.


"Ngapain cemburu orang gue punya Jihan kok!" jawabnya sedikit terkejut dengan responku.


Ingat nggak kalau kemarin lusa aku dan Mahesa bilang akan mengikuti saran google? Dan hari inilah aku dan Mahesa mempraktekkan saran tersebut dalam kehidupan nyata kami.


"Baguslah kalau gitu!!" balasku.


Hari ini bahkan tanpa perlu dikompor-kompori oleh Wira and the genks, aku berinisiatif duduk sendiri di samping Mahesa.


"Jangan heran, calon pasangan baru kita udah resmi melakukan genjatan senjata semenjak hari ini!" jelas Sabil yang baru sampai dengan Jihan.


Wira hanya mampu melongo, sedangkan Angga sudah mangap sedari tadi saat aku menjawab pertanyaan Wira, kalau Inez jangan tanya, tentu saja dia sedang asyik melakukan video call dengan pacarnya.


"Udah mesen makanan? Kalau belum sini biar gue pesanin!" tanya Jihan membuat Angga dan Wira kembali ke dunia nyata.


Wira langsung menggeleng. "Pesanannya sesuai reques di grup tadi kan? Kalau itu udah aku pesenin yang, kamu duduk santuy aja!"


"Suka deh, Wira peka banget bahkan sebelum disuruh!"


"Ya dong, pacarnya siapa coba?"


"Pacarnya Jihan dong!"


"Najong banget ih!" komen Sabil yang aku dan yang lainnya langsung angguki.


"Iri aja deh lo!" balas Wira sambil memain-mainkan rambut Jihan.


Wira dan Jihan emang perpaduan yang pas banget. Bayangkan saja, selama hampir setahun pacaran, kami tidak pernah mendengar curhatan Jihan yang mengatakan hal buruk tentang Wira. Padahal si bobrok Wira nampak jelas sangat tidak bisa dijadikan sosok boyfriendable--kecuali tampangnya. Tapi, bagi Jihan Wira adalah yang terbaik. Aku curiga kalau sebenarnya Jihan itu udah kena pelet dari Wira, sampai hubungannya bisa adem-ayem terus tanpa berantem sekalipun padahal mereka hampir setahun pacaran.


"Apaan juga iri, jelas-jelas sosweetan gue sama Sabil!" balas Angga tak terima. "Ya kan yang?" tanyanya pada Sabil.


"Untuk kali ini gue sependapat banget sama Angga!!" jawab Sabil juga nggak kalah pede dari cowoknya.


"Kalian sosweet?" Wira menaikkan salah satu alisnya. "Bentar gue ketawa dulu ya!" ejeknya.


"Sialan lo Wir!" ketus Angga dan Sabil kompak.


Aku juga ikut terbahak. Sosweet dari sisi mananya coba mereka berdua? Orang tiap hari kerjaan mereka itu gelut mulu. Bahkan karena keduanya sama-sama berasal dari ekskul taekwondo, tak jarang kalau mereka berantem itu sampe pake kekerasan. Dan tentu saja hanya dari pihak Sabil, sedangkan Angga bagian menahan sakit aja.

__ADS_1


"Ketawa aja Git? Nggak ikut bilang kalau yang paling sosweet itu lo sama Mahesa?" tanya Sabil membuatku langsung berhenti tertawa.


"Ya ngapain? Kan gue sama Mahesa belum pacaran!" jawabku yang tidak mau mati kutu kayak biasanya.


Kompak semuanya menatapku dan Mahesa dengan tatapan menggoda. Oh tidak sepertinya aku salah bicara!!!


"Udah dikode tuh Sa, tinggal tunggu lonya gerak aja tuh!" kata Wira.


Sialan banget emang tuh mulut comberan!!


"Jadian aja elah, nggak mau kan jadi obat nyamuk kami mulu?" tambah Sabil.


"Yups, gue setuju tuh!!" Inez bahkan ikutan menjawab sekarang. Angga dan Jihan jangan tanya, tentulah mereka sudah kedip-kedip manja padaku dari tadi.


Astaga wajahku pasti sudah memerah layaknya sedang memakai blush on sekarang.


"Putus dari mantan buat gue mikir, ngapain pacaran kalau ujung-ujungnya putus tanpa kejelasan, lebih baik langsung halalin aja!" jawab Mahesa membuat semuanya terdiam.


Kata-kata Mahesa memang ampuh buat semua berhenti bertanya hal yang tidak penting, tapi jantungku juga ikut kena efeknya. Demi kerang ajaib milik spongeboob jangan baper Gigi, Mahesa cuma menjalani saran dari wikihow. Catet itu.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi, tapi aku masih bertahan di dalam kelas meski tinggal sendirian. Aku begini karena aku disuruh menunggu Mahesa yang katanya ada keperluan sebentar sama anak osis. Sebenarnya dia sudah mengajakku untuk ikut dengannya saja, tapi karena aku males berpapasan dengan orang yang nggak kukenal lebih baik aku menunggunya di kelas sambil scrolling applikasi tik tok.


Kurasa aku sudah gila menunggu Mahesa yang katanya bakal selesai mengurus urusannya dalam lima belas menit, tapi hampir tiga puluh menit dia belum juga kembali. Sampai aku mulai ngawur dan mengomentari fyp tik tokku dengan diri sendiri.


"Aaa!!"


Tidak cukup itu saja, hujan juga mulai turun. Sendirian di kelas dengan kilat yang sesekali menyambar membuatku ketakutan setengah mati. Mendadak aku jadi teringat pesan bunda yang bilang jika ada kilat dan aku tidak mau disambar maka aku tidak boleh bermain hp. Dan hal itulah yang kulakukan sekarang, yaitu menyetel handphoneku ke dalam mode pesawat.


Jika sudah begini, untuk keluarpun aku jadi tidak berani. Jadi yang bisa kulakukan hanya menunggu Mahesa di sini. Semoga saja urusan cowok itu bisa cepat kelar.


Aku merasa aura yang ada di sini makin mencekam saja, terlebih saat mengingat cerita temanku saat aku kelas sepuluh kalau sekolah ini adalah bekas tempat pembuangan mayat masa penjajahan. Hal itu membuatku merinding. Bahkan sekarang aku sudah menenggelamkan diri di bawah lipatan tanganku, saking takutnya aku dengan bayangan-bayangan seram yang tiba-tiba saja mendominasi isi pikiranku.


"Woy!!"


"Aaaaa!!!"


"Aw aw!! Sakit aw!!"


"Mahesa!!" Aku melotot sempurna, ketika melihat siapa yang baru saja kupukuli dengan sekuat tenaga.


"Ada masalah apa sih lo sama gue? Kok lo mukul gue sih!" herannya sambil mengusap-ngusap pipinya yang memerah karena tamparan tidak terduga dariku.

__ADS_1


"Lo sih lama! Gue kan takut sendirian di sini! Sampe-sampe gue ngira kalau lo itu hantu," balasku sebal.


Ia terkekeh. "Hihi, sorry-sorry. Urusannya jadi bertambah tadi, makanya gue agak lama. Tapi, gue udah nyoba telpon lo kok daritadi, tapi lonya nggak aktif. Rencananya gue mau marahin lo, karena udah buat gue khawatir banget, tapi karena lo baik-baik aja nggak jadi deh!"


Aku mengerecutkan bibirku sebal. "Gue takut sama kilat, jadi hp gue ubah ke mode pesawat," akuku.


Mahesa menghela napas, ia kemudian memperlihatkan plastik yang wanginya sangat enak padaku. "Gue beliin lo bakso sebagai permintaan maaf gue. Ayo kita makan!" katanya.


"Iya-iya gue maafin!" kataku mendadak berbinar.


Aku memang lapar dari tadi, untung Mahesa peka mau belikan aku bakso di hujan-hujan begini.


"Sini biar gue aja yang siapin buat lo!" kata Mahesa lagi yang tentu saja langsung aku angguki.


"Makasih!" kataku. Kemudian aku memakan bakso kantin dengan khidmat.


"Lima belas menit lagi kita pulang ya, gue mau mampir bentar ke rumah lo!" katanya di sela makannya.


Aku mengernyit. "Tumben mau mampir, biasa harus dipaksa dulu sama bunda baru lo mau."


"Soalnya gue mau minta maaf!"


"Minta maaf karena hari ini kita telat pulang hah? Kalau itu mending nggak usah, kan tadi lo udah pamit juga sama bunda kalau lo bakal telat anterin gue pulang. Lagian bunda mah nggak bakal jadiin masalah kok kalau gue sama lo. Kerennya lagi gue juga udah maafin lo kok. Jadi lo nggak perlu minta maaf sama bunda segala," kataku lancar sekali.


Mahesa menoyor kepalaku. "Lancar amat tuh mulut kalau ngomong ya. Siapa juga yang mau minta maaf karena itu? Gue mau minta maaf sama bunda lo, karena kemarin lo suruh gue bilangin bunda lo kalau kita nggak jadi jalan karena gue lagi ada urusan! Jadi gue mau jujur hari ini sama bunda lo," jawabnya membuatku melongo.


"Janganlah!"


Fyi, gara-gara kak Al kemarin aku jadi harus merayu Mahesa supaya dia bilang ada urusan mendadak sehingga kami tidak jadi jalan sama bunda lewat sambungan telepon, agar aku terbebas dari rencana gila kak Al.


"Nggak mau gue bohong sama orang tua!"


"Pliss jangan!" kataku dengan wajah pias.


"Nggak mau blee!!"


"Gue bakal ngelakuin apapun yang lo suruh, asalkan lo nggak bilang bunda!"


"Termasuk mau suapin gue makan bakso ini?"


"Eh?"


Tbc

__ADS_1


Iya


__ADS_2