Mahesagita

Mahesagita
part 30


__ADS_3

TIGA PULUH


Mahesa benar-benar jatuh sakit, sampai ia tidak masuk sekolah. Awalnya sih aku biasa saja saat mendengar wali kelasku memberitahu kabar itu pada sekretaris kelas kami. Tapi saat mami Fira menelponku terus-terusan, tingkat kekhawatiranku langsung naik berpuluh-puluh lipat. Belum lagi mami Fira menelponku sambil menangis. Hal itu membuatku jadi ingin mampir ke rumah Mahesa. Masa bodoh sama move on. Aku tidak mau merasa menyesal belakangan lagi.


Ya ampun otak! Kenapa kamu mikirnya selalu over begini sih? Kenapa ke over-thinkingan bunda, semuanya harus turun ke aku coba?


"Kamu kenapa ngelamun Gi?" tanya mami Fira, yang sekarang sedang membukakan pintu untukku.


Omong-omong, saat pikiranku mengoceh sendiri tadi. Aku sebenarnya sudah sampai ke rumah Mahesa, dan sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Tapi saking banyaknya aku memikirkan hal yang tidak penting, aku akhirnya tidak sadar bahwa mami Fira sudah berdiri lumayan lama di depanku.


"Eh, mas Ecanya gimana mi?" tanyaku kemudian.


"Alhamdulillah demamnya udah turun, muntah-muntahnya juga udah berhenti. Tapi mami masih khawatir banget, soalnya mas Eca itu jarang sekali sakit anaknya!!" jelas mami Fira sambil menghela napas.


Aku ikutan menghela napas mendengarnya. Sungguh aku benar-benar lega mendengar keadaan Mahesa sudah membaik.


"Oh ya karena kebetulan ada kamu, mami nitip mas Eca bentar sama kamu bisa nggak? Soalnya mami mau jemput adik mami yang dokter buat meriksa keadaan mas Eca," kata mami Fira kemudian.


Mahesa disuruh jaga sama aku? Itu artinya aku akan berduaan lagi sama dia. Kalau gini ceritanya move onku bisa gagal lagi dong! Tapi menolak permintaan mami Fira pun tidak mungkin karena aku sudah sampai ke sini. Akhirnya dengan setengah hati aku mengangguk mantap seolah sangat senang menerima mandat dari mami Fira.


"Kamu emang paling bisa diandelin." Mami Fira mencubit pipiku gemas. "Kalau gitu mami mau siap-siap dulu, kamu ke atas aja nemenin mas Eca. Takutnya dia nanti ngingau kalau kelamaan ditinggal sendirian," tambah mami Fira, yang lagi-lagi langsung kuangguki.


Mami Fira kemudian membawaku ke depan kamarnya Mahesa. Setelah memberikan petuah lainnya, seperti kalau ada apa-apa aku langsung memanggil bibi yang sedang ketiduran karena sudah terlalu cape mengurus Mahesa sedari pagi. Dan kalau bibi tidak mampu menyelesaikannya, aku harus segera meminta bantuan tetangga. Aku juga harus selalu mengupdate perkembangan Mahesa pada mami Fira kalau-kalau cowok itu makin merasa kesakitan. Setelah berbagai petuah panjang itu, barulah mami Fira pamit masuk ke kamarnya untuk bersiap dan mengambil beberapa keperluan yang akan dibawanya.


Sambil menghela napas aku menatap pintu kamar Mahesa. Kalau dipikir-pikir pintu ini adalah awal mula semua penyebab masalahku. Pintu inilah yang membuatku memikirkan kata bulan dan pintu dalam bahasa inggris, plus peluit tukang parkir. Yang kalau digabung menjadi moondoor, kemudian prit prit prit.


Melihat pintu itu rasa-rasanya aku pengen pulang saja. Tapi karena aku tahu itu tidak mungkin. Akhirnya aku mutusin untuk langsung masuk saja ke kamar Mahesa yang penuh dengan kenangan menyesakkan dadaku.


Setelah masuk, kulihat cowok itu sedang dalam posisi bayi dalam kandungan ibunya. Bedanya cowok itu membalut dirinya dengan selimut tebal bewarna senada dengan spreinya.


Niatnya sih aku mau berdiri jauh saja darinya. Tapi melihat wajahnya yang kelihatan gusar seperti sedang bermimpi aneh, aku akhirnya mendekat padanya. Sialnya lagi, pas aku mendekat dengannya, dia malah langsung menggenggam tanganku. Mau memaksa lepas eh akunya juga terlanjur nyaman. Dasar Gigi lemah!!


"Gigi..."


What?!


Demi apa? Mahesa sampai membawa namaku di igauannya. Nggak cuma itu, dia bahkan memanggilku dengan nama rumahanku. Astaga naga. Seketika aku gagal move.

__ADS_1


"Jangan..." sambungnya.


"Ninggalin lo kan pastinya?" kataku sok ngeramal. Oke, maaf. Aku mulai random karena terlalu frustasi dengan hubunganku dan Mahesa.


"Airin!" sambungnya lagi yang kali ini membuatku langsung drop.


"Gigi jangan Airin? Apa coba maksudnya? Ih nyebelin banget! Apa jangan-jangan Mahesa si softboy mulai berubah jadi fuckboy? Astaga!! Mau nangis!!!" Aku mulai menjambak rambutku dengan satu tanganku yang tidak digenggam Mahesa, saking frustasinya aku dengan semua ini.


"Kangen Gigi..." kata Mahesa lagi. Kali ini ia mengatakannya sambil memperat genggaman tangannya pada tanganku.


MAHESA FIX BENERAN SAKIT!!


***


"Malam ini kamu boleh tidur cepat Al!" kata bunda pada kak Al yang baru saja selesai menguap.


Kak Al langsung berbinar. "Serius bun?"


Bunda langsung mengangguk.


Selama ini kami memang selalu mencharger handphone kami di luar kamar, hal itu karena bunda selalu memarahi kami yang sering lupa mencabut chargeran handphone kami. Takut listrik konslet, katanya.


"Nggak papa, biar bunda aja nanti yang lepas!" saran bunda.


"Wah benar nih? Ya udah kalau gitu Al mau tidur dulu. Dadah semua!" kata kak Al sambil bangkit dari duduknya, kemudian berlalu.


Feelingku sebenarnya sudah nggak enak dari pertama, karena bunda terlampau baik sama kak Al hari ini. Tapi karena lagi nggak mau suuzon aku memilih menghiraukan itu, dan fokus pada acara yang sedang aku tonton saja.


"Al udah beneran tidur kan itu? Dia nggak bakal dengar apa yang kita omongin kan!" kata bunda kemudian membuatku mengernyit.


"Bunda mau ngomongin apa?" tanyaku penasaran.


"Kamu buka pasword kak Al, terus buka wa-nya!" pinta bunda membuatku melongo.


"Lah buat apa bun?" tanyaku bingung.


"Udah buka aja!" kata bunda.

__ADS_1


Gawat banget emang ini. Masa bunda yang tahu aku jadi terbuka akan segalanya dengan kak Al semenjak insiden buka-bukaan kami saat nonton waktu itu, jadi semena-menanya gini sih sama aku.


"Tapi bun.."


"Udah kamu buka aja!" perintah bunda pelan, agar ayah yang sedang tertidur di ruang keluarga karena sangat kelelahan tidak terbangun.


Akhirnya dengan terpaksa, aku menuruti semua kata-kata bunda. Membiarkan bundaku berselancar di medsos kak Al.


Anehnya lagi bunda malah mulai senyam-senyum sendiri. Tiap hari ada saja tingkah aneh bunda yang membuatku mengernyit bingung.


"Bun Yoyo juga tidur dulu ya. Ngantuk banget soalnya!" Bunda yang sedang keasyikan dengan handphone kak Al langsung mengangguk.


Setelah itu Yoyo langsung berlalu. Aku yang melihatnya hanya mampu menghela napas. Entah mengapa Yoyo jadi sangat berbeda semenjak aku menceritakan semua masalahku. Entah mengapa dia jadi banyak murung, jarang bicara, bahkan diam saat diganggu aku.


"Bunda ngerasa Yoyo aneh nggak sih?" tanyaku sepeninggalan Yoyo.


"Team basket Yoyo kalah, makanya Yoyo jadi aneh gitu!!"


"Masa gara-gara itu sih bun?" heranku yang sudah tahu tentang itu, tapi menolak percaya, karena Yoyo sudah sering kalah, dan setiap kalah dia selalu biasa aja, beda seperti sekarang.


"Udah ah bunda nggak tahu!" jawab bunda membuatku menghela napas. "Nah Gi, gimana calon abang ipar kamu. Ganteng kan?" bunda tiba-tiba menunjukkan layar handphone kak Al padaku.


"Abang ipar?" Aku mengernyit.


"Jadi kemarin bunda sama kak Al ke bank, terus ketemu teller ganteng. Feeling bunda bilang itu jodoh kakakmu, apalagi setelah bunda lihat mereka saling tukeran nomor. Nah, bunda suruh kamu bukain hp kak Al, karena bunda mau lihat mereka chattan mereka. Tapi setelah lihat isinya, bunda malah kecewa, bahasannya mereka datar banget. Kayaknya bunda harus cari tahu silsilah keluarganya deh, supaya bisa maju duluan!" jelas bunda membuatku melongo.


"Kamu pokoknya harus dukung bunda. Oh ya, mas Eca gimana keadaannya? Kata kamu dia udah pacar, terus kenapa kamu yang ditelpon mami Fira? Kenapa nggak pacarnya aja yang ditelpon?" tanya bunda yang tadi membuatku sedikit terpaku dengan ceritanya langsung ambyar karena mengingat nasib diriku sendiri.


"Ehm, udah baik kok keadaan mas Eca bun. Soal pacarnya Gigi masih kurang tahu!!"


Bunda yang masih fokus dengan handphone kak Al, hanya mengangguk.


Melihat itu aku menghela napas. Iya juga ya, kenapa aku yang ditelpon mami Fira? Kenapa bukan Airin? Apa mungkin Mahesa belum memberitahu maminya tentang hubungannya dan Airin? Ehm, entahlah. Aku lebih penasaran kenapa Mahesa terus memanggil namaku di tidurnya, bukan Airin. Ah udahlah bikin pusing aja. Pokoknya aku nggak mau terlalu geer, daripada endingnya aku sakit lagi.


Tbc


Iya

__ADS_1


__ADS_2