Mahesagita

Mahesagita
part 14


__ADS_3

EMPAT BELAS


"Bener nih nggak sakit lagi?" tanya Mahesa kesekian kalinya.


"Iya-iya. Udah deh sana pergi, lo kan ada rapat sama anak osis," kataku.


"Gue temanin sampe Sabil sama Jihan balik!" putusnya.


Aku menghela napas, sambil memperhatikan kakiku yang sekarang sudah dibalut dengan sesuatu yang aku nggak tahu namanya apa. Memang surprised banget, kemarin kakiku kelihatannya sudah baik-baik saja, tapi pas aku pulang ke rumah kakiku malah membengkak, alhasil bunda membawaku ke tukang urut sampai aku menangis histeris. Sebenarnya aku mau libur sekolah saja, tapi mengingat hari ini ada ulangan aku memutuskan untuk pergi ke sekolah, meski kakiku masih terasa nyut-nyutan luar biasa.


"Lo udah dipanggil sama Angga tuh Sa, buruan katanya!" kata Sabil yang baru kembali dari kantin dengan menenteng banyak bawaan.


"Oke gue pergi, lo jaga baik-baik Gita ya, jangan biarin dia banyak gerak!" pesan Mahesa pada ketiga sahabatku. Setelah mengelus puncak kepalaku dia langsung berlalu.


"Duh baper banget gue!!" kata Jihan setelah Mahesa berlalu.


"Nah lo aja yang lihat bisa baper, apalagi gue yang rasain sendiri. Asli dari semalam gue nggak tidur gara-gara mikirin dia. Fix deh gue udah jatuh cinta sama dia, huaa!!" jawabku.


"Makan dulu Git, nanti kita bahas calon pacar lo ya!!" kata Inez sambil duduk di sampingku.


"Btw Git gue udah tahu siapa mantan si Mahesa. Semalam gue udah introgasi si Wira habis-habisan," kata Jihan yang sekarang duduk menghadapku.


"Oh ya? Ceritain dong!" suruhku penasaran.


"Namanya Airin, dia satu sekolahan sama Gio. Mereka tinggal satu komplek, pacarannya pas kita kelas sepuluh kurleb 4 bulan," jelas Jihan.


"Lo punya fotonya nggak?"


"Bentar gue cari ignya dulu. Tapi janji ya kalian semua jangan terkejut pas lihat muka dia," peringat Jihan.


Kami semua langsung mengangguk. Setelah itu Jihan baru menampakkan foto mantan Mahesa pada kami semua. Sontak saja ketiganya langsung menatapku.


"Beneran mirip lo Git, dari bentuk wajah, sampe senyum, hampir sama kayak lo!" komen Sabil sedikit terkejut.


"Iya nih, bedanya lesung pipi si Airin lebih dalem daripada punya lo Git!" tambah Inez.


"Git lo nggak punya kembaran lain kan?" tanya Sabil membuatku menggerutu.


"Apasih kalian. Jelas-jelas ini nggak mirip gue, mata kalian tuh lagi soak semua. Dan Sabil jangan ngedrama deh lo, yakali gue punya kembaran satu lagi."


Sabil terkekeh. "Bercanda kali!" kata Sabil.

__ADS_1


"Tapi masih cantikkan lo kayanya Git!" Inez sekarang menyandingkan foto Airin dekat dengan mukaku.


"Ya jelaslah, anak bunda gitu lho!" jawabku bangga.


"Wahgelaseh sih, pantes si Mahesa sama lo baik banget, ternyata sang mantan foto copiannya Gita banget!" kata Sabil sambil geleng-geleng kepala.


"Bentar deh, kalau kayak gini ceritanya, berarti gue jadi pelarian si Mahesa dong!" seruku mendadak sedih.


"Eh buset bener juga yah yang lo bilang!" Sabil menyetujui ucapanku dengan lantang.


Sedangkan Jihan hanya terkekeh. "Lupa kalian kalau hubungan gue sama Wira juga berawal dari dijadiin pelarian? Tapi lihat gimana hubungan kami sekarang? So, nggak selamanya jadi pelarian itu buruk!" jawabanya membuatku terdiam.


"Aduh kalau senior udah ngomong gue mah langsung mundur alon-alon!" kekeh Sabil.


"Okedeh, gue bakal berusaha buat Mahesa jatuh cinta sama gue sebagai Sagita Anastasya!" kataku semangat.


"Ya sebelum itu lo harus makan dulu, bentar lagi mau masuk nih!" potong Inez membuatku terkekeh.


Kami berempat tidak lagi berbicara, dan mulai fokus dengan makanan kami masing-masing. Dasar cewek emang, diamnya pas lagi makan atau lagi selfie doang.


"Kalian nggak ke kantin buat lihat si Rebeca ngelabrak adek kelas?" tanya seorang siswi dari kelas kami yang baru pulang dari kantin.


"Apa? Rebeca mulai lagi?" tanyaku heran.


"Kurang ajar, gue nggak bakal biarin tuh cewek semena-mena sama orang lain!" Sabil langsung bangun dari duduknya.


Jihan langsung memegang tangan Sabil. "Sabar dulu Bil, kalau misalnya besok dia masih berulah baru deh kita labrakin balik Rebecanya!"


"Nggak bisa Han, nggak bisa. Barbie santet itu harus dikasih pelajaran secara langsung!" bantahnya.


"Ingat pesan Angga Bil, lo jangan ngeladenin si Rebeca lagi!" kata Inez.


"Tapi!"


"Gue telpon si Angga nih Bil, mau lo?" tantangku.


"Iya oke deh, gue diam. Tapi awas aja kalau besok dia masih ngulah, bakal gue patahin leher barbienya!" sungut Sabil sebal, yang membuat kami semua menghela napas lega.


Hubungan Rebeca sama Sabil emang nggak bagus semenjak kami masuk ke SMA ini. Hal itu karena Sabil nggak suka tipe kakak kelas yang soknya kebangetan, dan suka memberlakukan bawahannya sebagai babu hanya karena dia punya jabatan di sekolah ini. Karena hal itu mereka jadi terus berperang, dan tentunya kami juga dilibatkan, namun entah apa yang terjadi hingga keduanya melakukan genjatan senjata, sampai-sampai sekolah adem beberapa saat. Tapi sepertinya genjatan senjata tersebut telah resmi ditarik keduanya mulai hari ini.


***

__ADS_1


Aku daritadi asyik menstalking ig mantannya Mahesa dengan menggunakan second account. Sebenarnya cewek ini tidak menggembok akunnya sih, tapi karena takut aku kebablasan sampai mengelike postingannya, jadi aku memilih menggunakan akun lain saja. Meskipun dia tidak mengenalku, tetap saja aku nggak mau dia melihat ada seorang cewek kepo ketahuan ngelike postingan lamanya, bisa-bisa besar kepala nanti dia.


Astagfirullah! Kenapa suuzonku pada orang makin menjadi-jadi sih!!


"Padahal gue maunya mirip muka idol, eh nggak tahunya malah mirip mantannya calon pacar, sebel deh gue!" gerutuku pada diri sendiri.


"Woyyy!!" teriak Yoyo yang sedikit mengangetkanku.


"Paansih!!" sungutku sebal.


"Ngapain lo serius amet?" tanyanya kemudian sambil duduk di sampingku.


Aku langsung menunjukkan handphoneku pada Yoyo. "Dia katanya satu sekolahan sama lo. Lo kenal nggak?"


"Eh kok lo tahu gebetan gue?"


"Apa? Gebetan lo?" tanyaku heboh.


"Eh nggak, maksud gue teman sekelas gue," jawabnya sambil menyisir-nyisir rambutnya, nampak sekali adikku lagi salah tingkah sekarang.


"Dia teman dekat lo yah? Ngaku hayoo!" godaku.


"Dekat gimana coba. Orang gue baru kenal dia nggak nyampe sebulan gitu. Lagian dia anaknya kalem nggak banyak ngomong kayak lo, jadi lumayan susah buat didekatin."


"Jadi lo punya rencana buat deketin dia yah?"


"Apasih lo Git nggak jelas banget. Btw kenapa lo kepo tentang dia?"


"Jadi ini tuh mantannya si Mahesa, katanya mirip gue gitu. Padahal nggak kan, jelas cantikan gue ke mana-mana."


"Narsis amat sih lo. Sini gue kasih tahu ya, kalau tipe Mahesa itu kayak si Airin jelas banget lo nggak bakal bisa ngambil hati dia."


Aku menatapnya sebal. "Btw menurut lo gue mirip dia juga nggak?"


"Lo tahu kan mitos tiap orang punya tujuh orang kembaran selain keluarga di dunia ini, dan gue rasa dia salah satu kembaran lo itu. Tapi dari segi sifat kalian nggak mirip sama sekali sumpah!!"


"Tipe lo pasti yang mirip gue kan Yo? Kalau gitu gue minta tolong lo dekatin dia," pintaku pada kembaran tidak identikku.


Tbc


Haloha? Gimana-gimana menurut kalian. Paling suka sama siapa di story ini? Ayo dikomen!

__ADS_1


Iya


__ADS_2