Mahesagita

Mahesagita
part 24


__ADS_3

DUA PULUH EMPAT


"Si Hera yang jadi selingkuhan si Devano udah ngedelete semua fotonya yang sama si Devano di ignya lho Git, anehnya nggak lama setelah itu dia malah pajang foto cowok lain, kan ***** banget kelakuan tuh cewek!" kata Sabil tak habis pikir sambil memperlihatkan ig yang tengah discrolling olehnya.


Aku menghembuskan napas gusar. "Ya baguslah, gue sih berharapnya si Devanonya kali ini kena karma karena dia udah nyelingkuhin gue!" balasku ikutan sebal.


Memang mulut mendadak jadi lemes banget kalau lagi komenin mantan, apalagi kalau putusnya gara-gara perihal selingkuh, rasa-rasanya julidku bisa bertambah ratusan lipat kalau aku sedang membahas Devano. Untungnya Mahesa sedang tidak ada di kelas, karena dia disuruh guru piket ke kantor untuk mengambil buku latihan kami yang belum diperiksa, hal ini karena guru pelajaran hari ini berhalangan hadir dan menyuruh kami melanjutkan latihan di halaman sebelah, alhasil kami bisa bergosip ria selama beberapa menit tanpa Mahesa.


"Gue aminin paling besar kalau soal itu Git," sahut Jihan tiba-tiba. "Ya ampun gue bahagia banget lihat si Da kyung dibuat nggak bisa berkutik sama dr Ji!" sambungnya kemudian tak kalah heboh.


Jihan memang daritadi sedang menonton drama Korea, matanya bahkan sampai membengkak, karena katanya episode yang dia tonton benar-benar sangat menguras air mata. Sungguh aku juga penasaran, tapi aku team menunggu drama itu selesai dirilis semua episodenya, karena aku tidak mau penasaran sampai gila seperti Jihan akhir-akhir ini.


Saat Jihan sedang heboh-hebohnya, telponku berbunyi. Melihat nama Mahesa muncul aku langsung mengangkatnya.


"Iya, halo!"


"Git buk Fitri nitip beberapa buku paket juga nih, gue nggak bisa bawa sendirian ke kelas, lo mau bantu gue nggak?"


"Oke dalam lima menit!"


"Siip, gue tunggu!"


"Siapa Git?" tanya Sabil langsung setelah aku menutup telponku.


"Mahesa. Gue disuruh ke kantor buat bantuin dia bawain buku ke kelas!" kataku sambil bangun.


"Oh okay, lo bisa sendiri aja kan? Harus bisa sih, soalnya kalau kami temanin nanti lo sama Mahesa nggak kelihatan ngedatenya!!" sahut Jihan membuatku mendengus sebal.


"Ya udah, bye!!" kataku, sambil berlalu.


Aku keluar dari kelas dan menuju ke kantor, dengan cepat, karena aku tidak mau membuat Mahesa terlalu lama menunggu. Tapi langkah cepatku harus terhenti, karena aku melihat seseorang yang baru saja kubahas dengan teman-temanku, sedang berbincang hangat dengan Rebeca di depan kantor guru.


Bagaimana ini, tidak ada pintu belakang ataupun jalan lain yang bisa kulewati untuk menuju kantor guru kecuali melewati Devano dan Rebeca yang sedang mengobrol.


Yang bisa kulakukan sekarang, hanya berdiri di balik tembok besar yang membuatku tidak kelihatan di mata Devano dan Rebeca. Dua orang itu berbincang sangat seru, mereka bahkan sesekali terbahak entah karena apa. Tapi yang jelas namaku sesekali disebut di dalam percakapan mereka. Aku memang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan dengan jarak sejauh ini, tapi karena mereka menyebut kata yang kuyakini adalah namaku secara berulang aku jadi tahu kalau mereka sedang membicarakanku.


Untungnya obrolan mereka tak berlangsung sangat lama. Jadi setelah mereka pergi dan aku yakin mereka tidak akan melihatku lagi, aku langsung berlari menuju ke kantor guru, untuk menemui Mahesa.


"Kenapa lo kayak baru ketemu hantu?" komen Mahesa saat kami bertemu.

__ADS_1


"Lebih dari hantu inimah!" jawabku dengan napas terengah-engah.


"Oh ya? Emang siapa?" tanyanya penasaran.


"Mantan yang lagi ngobrol sama Rebeca!"


"Jadi lo agak lama masuk ke kantornya karena habis ngobrol bareng mereka bertiga?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Ih apaan sih! Ya kali gue ngobrol sama mereka. Yang ada gue tuh ya, gue lama karena harus nunggu mereka berdua kelar ngobrol di depan pintu kantor supaya gue bisa masuk tanpa kelihatan sama mereka," jelasku sebal, yang justru membuat Mahesa terkekeh. Untung kantor sedang sepi, karena guru semuanya sedang ngajar, jadi kami bisa tenang ngobrol berdua.


"Kok lo ketawa sih?" sungutku sebal.


"Abis ekspresi lo lucu!"


"Au ah, serah. Ayo kita bawa buku ke kelas!" potongku.


"Oke, ayo!!"


Kami berdua berjalan beriringan menuju kelas. Saat sampai ke lapangan aku kembali melihat Devano, dan lagi-lagi ada Rebeca juga yang sudah berganti seragam menjadi seragam olahraga.


"Gue termasuk halu nggak Sa kalau gue bilang sama lo gue tadi sempat dengar Devano sama Rebeca sebut nama gue beberapa kali waktu mereka lagi ngomong berdua?" tanyaku, membuat Mahesa langsung menoleh padaku.


Selain bel pulang aku juga sangat menyukai bel istirahat. Tapi karena tiba-tiba aku mendapat kabar dari pacar-pacar sahabatku yang sudah duluan ke kantin kalau Devano sedang nongkrong bersama beberapa temannya yang lain, moodku langsung hancur. Meski aku sudah move on, tapi siapa sih yang mau ketemu sama mantan yang udah nyelingkuhi kita secara sengaja gini. Jadi aku memutuskan untuk diam di kelas aja.


"Lo yakin Git sendirian di kelas?" tanya Jihan memastikan kesekian kalinya padaku.


Aku mengangguk. "Udah ah buru sana, nanti makanannya habis lagi!" jawabku.


"Ya udah Git, kami duluan, lo kalau laper wa aja ya!" balas Sabil sambil menarik Jihan mengikutinya.


Sepeninggalan mereka aku menghela napas panjang. Kalau Mahesa tidak dipanggil guru pasti cowok itu akan memilih menemaniku alih-alih ke kantin. Sayangnya makin hari, tingkat kesukaan guru padanya makin bertambah, buktinya guru suka sekali memanggilnya ke kantor dengan alasan yang kadang nggak bisa masuk di akalku. Aku curiga jangan-jangan guru-guru honorer muda sengaja begitu, supaya bisa tebar pesona sama Mahesa.


Ya ampun, kenapa suuzon aku kian hari kian bertambah saja sih?!


"Katanya di bawah ada yang lagi kerasukan, jangan-jangan lo lagi selanjutnya karena lo ngelamun terus!" kata seseorang yang langsung duduk di sampingku.


"Gue lagi sendiri ngelamun ya pantes dong, yang patut lo heranin itu gue lagi sendiri tapi banyak ngomong!" kataku sok sebal, padahal faktanya aku suka sekali Mahesa tak ke kantin dan memilih menemaniku sekembalinya dari kantor guru.


Dia menggaruk tengkuknya, kurasa cowok di depanku salting gara-gara tidak tahu harus menjawab apa sanggahanku. "Kata Wira lo nggak mau ke kantin gara-gara ada Devano? Emang iya itu? Bukannya lo masih kepikiran dia yang obrolin lo sama Rebeca?" tanyanya mengalihkan.

__ADS_1


"Ya nggak lah. Lagian kan lo udah bilang, kalau Devano nggak cuma omongin gue sama Rebeca, tapi sama yang lain dia juga nanya, karena dia masih nggak percaya kalau gue daftar osis," bantahku.


"Terus kenapa?"


"Gue cuma males aja liat dia, bawaannya pengen muntah!" jawabku.


Dia terkekeh. "Kayaknya si Airin kalau ketemu gue, dia juga bakal bilang gitu deh!!"


Airin lagi. Airin lagi. Bikin moodku makin swing aja si Mahesa ini!!


"Lo nggak laper emang?" tanyanya lagi seakan paham situasi.


"Laper banget, bahkan gue pengen makan lo sekarang!!"


Mahesa terbahak besar, seolah ia sengaja memperlihatkan titik lemahku padanya, yaitu lesung pipinya yang selalu bisa bikin aku jadi hanyut dan lupa sejenak kalau aku lagi marah.


"Ya udah tunggu di sini ya, gue beliin lo makan dulu, ingat jangan ngelamun mulu, soalnya nggak gampang nyari pawang setan!" katanya sambil mengelus puncak kepalaku kemudian berlalu.


Oke, aku bisa mentoleransi sikap Mahesa kalau ia baiknya ke semua orang, masalahnya ia baiknya cuma ke aku doang nggak ke orang lain. Jadi dia maunya apa? Belum move on, tapi perilakunya sama aku kayak lagi dalam proses PDKT. Mau mundur tapi sikapnya kayak minta diperjuangin terus. Kan aku jadi bingung.


Saat aku sedang asyik menggerutui Mahesa, tiba-tiba handphoneku berbunyi nyaring.


"Iya Bil!"


"Lo sendirian di kelas?"


"Tadi sempat sama Mahesa, tapi sekarang dia udah ke kantin beliin gue makanan!"


"Lo jangan ke mana-mana, tungguin gue balik!"


"Lah kenapa emang?"


"Devano nanyain lo mulu nih, gue takutnya dia malah nyamperin lo nanti!"


Apa rasa penasaran Devano padaku yang daftarin diri jadi wakil ketua osis belum juga terpecahkan, sampai-sampai dia heboh nyariin aku segala.


Bodo amat lah. Mikirin Mahesa aja udah buatku pusing tujuh keliling. Aku nggak mau menambah beban dengan mikirin mantan yang anehnya nggak ketulungan.


Tbc

__ADS_1


Iya


__ADS_2