
TIGA BELAS
Setelah pulang sekolah, aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke rumah Inez dulu. Aku sudah minta izin bunda, dan bunda langsung mengizinkannya mengingat besok akan ada acara pertunangan kakak Inez. Mahesa juga datang, bersama denganku tentunya. Sekarang dia sedang mengobrol dengan kak Elang. Dua cowok beda usia dua tahun itu nampak sangat larut dalam obrolannya. Sedangkan kami berempat yang cewek-cewek bergabung dengan para rombongan perempuan yang sedang mendekor beberapa keperluan.
"Ini si Mahesa nggak bakal dengar omongan kita kan?" tanyaku dengan suara pelan.
"Lo kira si Mahesa punya pendengaran ultrasonik sampe bisa dengar suara kita sejauh ini apa?" dengus Sabil.
Aku menghela napas. Kemudian cerita tentang pengakuan Mahesa yang belum sempat aku ceritakan secara langsung pada mereka karena objek gibahanku terus berada di dekatku, mulai mengalir dengan lancarnya dari mulutku.
"Sialan banget si Wira nggak cerita apa-apa sama gue," komen Jihan langsung setelah aku selesai menceritakan tentang Mahesa.
"Si Angga tahu nggak menurut lo? Kalau dia tahu dan nggak cerita sama gue, bakal gue mutilasi tuh anak!" ketus Sabil yang jadi ikut-ikutan emosi.
"Eh kalian jangan sampe berantem sama pacar kalian gara-gara gue yah, nggak mau gue diamuk sama Wira dan Angga karena kalian ngambekin mereka!!" kataku ngeri.
Inez hanya terkekeh pelan. "Kalian seharusnya bangga dong sama cowok kalian, karena mereka konsisten ngejaga rahasia temannya. Itu artinya curhatan kalian juga aman sama mereka, dan nggak akan pernah bocor ke orang lain!" katanya kemudian.
Sabil dan Jihan langsung manggut-manggut. "Iya juga yah, yaudah gue nggak jadi ngambek deh, malah makin gue sayang si Wiranya nanti!" balas Jihan, yang lagi-lagi langsung diangguki Sabil.
"Oke kalian baik-baik aja sama pacar kalian, tapi gue harus gimana?" tanyaku gusar.
Semuanya lantas menoleh padaku. Lalu mereka mulai memasang wajah seolah-olah sedang berpikir keras.
"Lo naksir Mahesa nggak Git?" Sabil yang bertama bertanya.
"Lo tahu kan kalau yang paling gue suka itu cogan. Dan Mahesa mau diliat dari segala sisi dia masuk ke dalam golongan itu. Jadi secara visual gue udah tertarik sama dia. Dan kalau sifatnya dia selalu kayak sekarang terus sama gue, bukan nggak mungkin gue bakal jatuh cinta sama dia," jawabku serealistis mungkin.
"Kalau gitu berarti lo harus berjuang buat Mahesa bisa move on dari mantannya," kata Jihan.
"Iya Git, lo harus berjuang!" seru Inez.
"Tidak semudah itu Markonah!!" jawabku.
"Belum berjuang udah nyerah, malu-maluin kita aja lo Git." Sabil menggeleng tidak percaya.
"Nggak gitu juga maksud gue!" bantahku.
"Kalau lo mau Mahesa pacaran sama yang lain, atau balikan sama mantannya, ya udah lo diam aja, pura-pura jadi orang ****!" sahut Jihan kemudian.
Aku langsung menggeleng. "Amit-amit Han, nggak bakal rela gue digituin!"
"Nah itu, makanya berjuang dong!!" tambah Jihan.
__ADS_1
"Nggak gampang lho sayang-sayangku buat orang move on dari mantannya!!"
"Gampang kalau kasusnya Mahesa mah, apalagi kata dia lo juga mirip sama mantannya. Lagian ngelihat interaksi kalian gue yakin Mahesa bakal mudah tertarik sama lo!" tambah Sabil sangat yakin.
"Setuju pake banget gue sama yang dibilang Sabil. Ayo-ayo lo bisa Git, buktiin kalau Gita kita itu hebat banget!"
"Semangat Gitaku, lo pasti bisa." Inez tak mau kalah memberi keyakinan padaku.
Aku harus berjuang?
"Git Mahesa izin ngefollow Anya Geraldine, boleh kan?" kata kak Elang yang baru saja mendekat dengan kami.
"Nggak usah dengar Git, itu tuh kode si Elang buat Inez!" jawab Mahesa yang sudah berada di sampingku.
"Nggak kok by nggak, si Mahesa cuma ngarang aja tuh!"
"****** lho, si Inez mau nangis!" Mahesa terbahak melihat bagaimana wajah takutnya kak Elang karena Inez sudah memasang wajah sangat pias.
Aku ikut tersenyum. Ada sudut dalam hatiku yang menghangat mendengar tawa dari cowok di sebelahku. Itu artinya aku harus berani berjuang untuk kesukaanku seperti saran teman-temanku.
***
Hari ini aku dijemput Mahesa untuk pergi ke acara di rumah Inez. Sejujurnya seluruh anggota keluargaku mendapat undangan dari Inez, tapi karena ada acara lain yang harus dihadari bunda, ayah serta kak Al juga Yoyo si sok sibuk, akhirnya aku hanya bisa pergi dengan Mahesa saja.
"Gigi mas Eca udah sampe tuh!" teriak kak Al.
"Iya-iya bentar!" Aku mengambil handbag warna hitam, lalu bergegas keluar kamar.
"Mau ke mana neng? Cantik bener!" komen kak Al saat melihatku.
"Nggak usah ngejek deh lo! Bunda mana? Gue mau minta izin!"
"Bunda lagi mandi, ayah lagi siap-siap. Lo pergi aja biar gue yang bilang nanti," kata kak Al
Aku mengangguk. Lantas aku langsung berlari ke lantai bawah. Mengambil heels bewarna senada dengan tasku, dan membawanya keluar.
"Waduh mba Gigi mau caper sama siapa nih?" komen Mahesa saat melihatku.
"Jelek banget ya gue?" Ekspresiku langsung berubah murung.
Mahesa terkekeh. "Kalau jelek gimana bisa caper coba?"
"Jadi artinya?"
__ADS_1
"Lo cantik gue suka!"
"Apa? Lo suka gue?" tanyaku mencoba cool. Padahal mah mukaku sudah memerah sekarang, tapi untung saja aku memakai blush on, jadi Mahesa tidak akan tahu aku sedang blushing karena ulahnya.
Mahesa kelihatan salah tingkah. "Bukan lo tapi make up lo, karena kelihatan natural nggak lebay kayak yang lain," sambungnya.
Drop anjay!
"Udah ah ayo buru, takutnya nanti gue nggak sempat beli kado buat abang si Inez!"
"Hmm gue pake heels dulu," kataku sambil menunduk.
"Nggak kepanjangan tuh?"
"Udah biasa make kok gue."
***
"Cepet-cepet, acaranya mau dimulai nih!"
Setelah mengatakan itu, aku langsung berlari keluar dari toko acsesorris. Saking terburu-burunya, aku sampai lupa kalau aku sekarang sedang memakai heels. Alhasil aku terjatuh, kakiku terkilir, dan tentu saja heels cantikku patah.
"Ya ampun Gita, lo kenapasih pake lari-lari segala!" kata Mahesa sambil mencoba membangunkanku.
"Sakit mas Eca, jangan marahin gue, hick!"
Mahesa hanya geleng-geleng kepala. Dia kemudian memapahku, membawaku ke dalam mobilnya.
"Lo masih sanggup ke acara abangnya si Inez?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Kaki gue cuma sakit dikit, tapi heels gue patah, kan nggak mungkin gue nyeker ke sana. Ya ampun, gue pengen banget ke sana!" kataku mendadak sedih.
"Bentar yah, kayanya mami gue pernah nyimpan sepatunya di bagasi gue deh," kata Mahesa sambil berlalu ke belakang.
Tiga menit kemudian dia kembali, lalu dia menunduk di depan pintu mobil yang terbuka.
"Keluarin kaki lo ke sini," katanya. Dan aku langsung menurut saja, tanpa membantah. "Ukuran kaki mami gue pas sama lo," katanya setelah memakaikan flat shoes maminya yang bewarna hitam di kakiku.
"Lo mau move on nggak Sa?" tanyaku reflek.
Tbc
Iya
__ADS_1