Mahesagita

Mahesagita
part 7


__ADS_3

TUJUH


Sekarang hanya tersisa aku, Mahesa, dan ayah saja di ruang tamu. Bunda dan kedua saudaraku sedang membersihkan meja makan, sekalian mencuci semua tumpukan piring kotor. Sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi bunda kekeuh melarang, dan menyuruhku untuk menemani Mahesa saja, karena dia adalah tamuku. See? Lawak banget kan bundaku. Jelas-jelas yang memaksa Mahesa untuk makan malam dengan kami itu bunda, lalu kenapa setelah rencananya berhasil bunda bilang Mahesa adalah tamuku.


Tapi aku maklum sih, karena yang namanya bunda pasti selalu bertingkah ajaib. Justru yang patut dipertanyakan itu jika bunda mulai lurus-lurus saja.


"Mas Eca, Gigi ada nyampein salam dari om nggak buat kamu?" tanya ayah memecah keheningan di antara kami.


Mahesa menatapku. Dia kemudian menggeleng.


"Kamu nggak nyampein salam ayah buat mas Eca Gi?" tanya ayah kepadaku.


"Kan udah Gigi bilang yah, kalau Gigi itu nggak janji, karena Gigi malu-malu orangnya," akuku setengah jujur. Karena alasan setengahnya lagi, karena aku takut Mahesa bertanya darimana ayahku bisa sampai tahu tentang dia! Kan nggak mungkin aku jujur sama Mahesa kalau Mahesa itu udah jadi tagar trending ayah dan bunda saat sedang di rumah.


Mahesa terkekeh guna mencairkan suasana. "Wa'alaikum salam om!" balas Mahesa.


"Aduh sopan banget sih kamu. Pantes bundanya Gigi suka banget sama kamu," komen ayah mendadak berbinar sendiri.


Ini gawat. Kalau cuma bunda aku masih bisa menghandlenya, tapi kalau ayah juga ikutan bertingkah seperti bunda, maka aku harus angkat tangan.


"Om bisa aja!" Mahesa lagi-lagi terkekeh pelan.


"Om nggak masalah kok kalau kamu panggil ayah," balas ayah sangat random.


"Om aja udah bagus kok om," tolak Mahesa lagi-lagi sangat halus.


"Ya udah senyaman kamu aja, om mah nggak pemaksa kayak bunda." Ayah kemudian terbahak, membuat Mahesa juga ikutan terbahak. Sedangkan aku hanya tersenyum tipis saja, sungguh aku benar-benar malu pada Mahesa sekarang karena tingkah absurd keluargaku.


"Ya udah kalian ngobrol berdua dulu ya, om permisi ke kamar mandi bentar." Ayah kemudian menatapku. "Gi ajak ngobrol mas Ecanya yah," pesan ayah kemudian berlalu.


"Maafin keluarga gue ya Sa!" ucapku sepeninggalan ayah.


"Lah kok minta maaf segala sih?"


"Pokoknya gue minta maaf banget soal malam ini. Dan gue harap apa yang lo lihat malam ini nggak lo ceritain sama siapapun termasuk Wira!" mohonku.


Bukannya menjawab Mahesa malah tertawa. "Emang yah roda itu berputar banget, kemaren gue yang malu banget sama lo, eh sekarang malah lo yang ngerasa malu sama gue," katanya.


"Gue serius Sa!"


"Iya gue nggak bakal bilang siapa-siapa."


"Makasih!" ucapku tulus.


Tak lama setelah itu, muncul bunda yang masih memakai celemek dengan kedua saudaraku juga ayah. "Mas Eca udah waktunya pulang, soalnya bunda cuma minta izin sama mami kamu sampe jam delapan aja!" kata bunda.

__ADS_1


"Oke bunda, makasih semuanya untuk hari ini ya. Eca senang banget kenal kalian," balas Mahesa.


Bunda mengangguk dengan mata berbinar-binar. "Gi anterin mas Eca keluar gih, bunda, ayah, kak Al sama Yoyo masih harus bersihin dapur."


Aku mengangguk, pasti ini salah satu akal-akalan dari bunda lagi. Tapi ketimbang banyak bertanya, aku memilih langsung nurut saja, daripada drama yang membuat Mahesa kembali terbahak kembali berlanjut. Aku kemudian berjalan keluar beriringan dengan Mahesa.


"Dah Gigi, gue pulang dulu!" katanya ketika hampir sampai ke tempat mobilnya diparkir.


"Gigi itu panggilan buat orang terdekat gue tahu!"


"Mas Eca juga panggilan dari orang terdekat gue buat gue, tapi keluarga lo dan kadang-kadang lo manggil gue mas Eca. Berarti kita udah dekat dong," balasnya membuatku skak mat.


"Yaudah deh semerdeka lo aja," jawabku pasrah.


Mahesa terkikik pelan. "Keluarga lo seru banget loh Git, justru aneh kalau lo sampai ngerasa malu padahal punya keluarga seseru itu. Gue aja nih ya yang anak tunggal berharap keluarga gue bisa serame dan sekocak keluarga lo. Tapi nyokap bokap gue sering sibuk sama pekerjaannya, jadi gue nggak bisa ngelakuin seperti yang keluarga lo lakuin. Jadi ketimbang ngeluh lebih baik lo bersyukur, karena banyak di luar sana yang mau jadi lo tapi nggak bisa, gue contohnya," jelasnya membuatku terdiam.


"Sekali lagi makasih Git, udah kenalin gue sama keluarga lo, gue pamit, bye!" Mahesa mengacak rambutku, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Dan aku hanya bisa terpaku melihat kepergian Mahesa. Kata-katanya juga perlakuannya hari ini benar-benar membuatku kagum pada sosok yang baru saja pergi itu. Sekarang aku tahu apa alasan guru serta ayah dan bunda begitu mengidolakan Mahesa. Itu karena ia punya aura magis tersendiri yang jarang dimiliki oleh orang lain.


***


Hari ini karena terlalu lelah menyambut tamu, bunda dan ayah memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya. Sebenarnya aku juga lelah, dan pengen langsung tidur. Tapi kak Al tiba-tiba mengetuk pintu kamarku, dan mengajakku menonton film horror bareng. Awalnya aku menolak, tapi karena kak Al terus memaksa, aku akhirnya menuruti kemauannya untuk menonton film horror berdua di kamarku.


"Asli kak, gue bukan takut sama film hantunya, tapi sama lo yang terus teriak padahal nggak ada hantunya!" komenku saat film yang diputar kak Al mulai memperdengarkan backsound-backsound mengerikan.


Aku hanya menatapnya jengah, sambil terus mencoba fokus menonton, meski berulang kali kak Al berteriak, meremas tanganku, bersembunyi di belakang bahuku, dan tingkah menyebalkan lainnya.


"Apasih ribut banget!" Yoyo langsung masuk ke kamarku setelah mendengar kak Al menjerit sedikit kencang saking gregetnya dia sama film yang sedang ditontonnya.


"Ih udah deh, nggak sanggup gue lanjut nonton lagi!" kata Kak Al setelah Yoyo masuk.


"Bagus deh, daripada ayah dan bunda bangun terus marahin kita bertiga padahal yang salah kak Al!" kata Yoyo.


Kak Al hanya mendengus, dia kemudian mematikan laptopnya. "Kita bobo bertiga yuk, kangen juga gue sama lo berdua!"


Yoyo mengangguk antusias, dia langsung melompat ke kasurku. Untungnya kasurku berukuran king size, jadi kami bakal aman-aman aja tidur di sini.


"Kayaknya banyak tentang kalian yang gue nggak tahu deh!" kata kak Al kemudian.


"Udah deh kak nggak usah sok mellow lo!!!" sahut Yoyo.


"Kalian tega banget sama gue," lanjut kak Al.


"Apasih lo kak? Gaje tahu nggak!" kataku.

__ADS_1


"Lo pikir gue nggak tahu lo abis putus sama pacar lo?" tanya kak Al membuatku membisu.


Aku menatap Yoyo, dia menggeleng tanda tidak tahu.


"Sok tahu deh lo kak!" elakku.


"Pliss deh Gi, gue juga pernah SMA kali, jadi gue tahu banget kalau pas libur kemarin lo nangis kejer dan ngurung diri di kamar itu gara-gara abis putus dari pacar lo."


"Iyadeh, gue ngaku. Gue emang baru putus sama pacar gue!" kataku lemas.


Kak Al menghela napas. "Kenapa coba lo berdua nggak mau terbuka sama gue hah?" tanyanya.


Aku dan Yoyo saling menatap.


"Gue kira lo benci sama kami kak." Yoyo yang menjawab.


"Benci?" kak Al mengernyit.


"Gue sama Gigi nemuin diary lusuh lo pas kami masih SMP, di situ lo bilang kalau lo sangat benci gue dan Gigi. Karena menurut lo kami itu nyebelin, nggak bisa diatur, tukang lapor sama ayah dan bunda. Sebenci itu lo sama kami, sampe lo berharap mending gue sama Gigi nggak usah lahir aja ke dunia ini. Nah semenjak kami baca itu, kami kira dengan berhenti urusin urusan lo dan lo berhenti tahu apapun yang menyangkut sama kami lo bakal senang. Eh gatahunya keterusan sampe sekarang," jelas Yoyo.


"Diary lusuh? Maksud lo diary SMP gue?" Aku dan Yoyo sama-sama mengangguk. "Astaga kalian. Waktu itu kan gue masih bocah banget, gue tulis apa aja yang terlintas di pikiran gue. Dan kalian dengan seenaknya mutusin buat percaya isi diary itu tanpa tanya sama gue hah?"


Aku dan Yoyo terkekeh. "Sorry kak, kan waktu itu gue sama Yoyo juga dalam masa labil, baru puber!"


"Yaudah deh yaudah, percuma juga diterusin. Gue cuma mau bilang, gue itu kakak kalian. Tolonglah hargai gue dengan cara sedikit terbuka sama gue."


Bukannya menjawab Yoyo yang tidur di tengah kami justru langsung merangkul kami berdua. "Simsalabim, lupain semua. Karena kita adalah saudara, dan saudara akan selalu berbagi perasaan selamanya."


Aku terharu berat. Akhirnya hubungan kami dan kak Al jadi lebih baik. Sekarang kami sedang saling peluk, sambil mencoba untuk tidak menangis, karena keuwuwan ini.


"Btw Git, kayanya bunda suka lo jadian sama mas Eca deh."


"Lagi uwu gini juga, malah ngomong ngaco lo kak!"


"Bunda tuh trauma sama kejadian gue kenalin pacar yang nggak mereka restui tahu! Supaya itu nggak terjadi lagi sama lo bunda bakal lebih selektif dari sekarang!" kata kak Al.


"Kalau gue nggak mau bunda bisa apa coba?"


"Bisa ngejulidin lo, kayak bunda ngejulidin gue mulu!"


Aku meringis ngeri mendengarnya. "Kalau emang itu kemauan bunda, gue bakal ngelawan. Karena rencana bunda pasti nggak bakal jauh sama rencana hari ini, jadi kalian berdua tolong bantuin gue cari kunci motor yang disembunyiin bunda!"


Ayolah, aku hanya tidak mau merepotkan orang. Terlebih orang itu bukan siapa-siapaku.


Tbc

__ADS_1


Iya


__ADS_2