Mahesagita

Mahesagita
part 18


__ADS_3

DELAPAN BELAS


Setelah bunda tahu aku berencana jadi wakil ketua osis, bunda yang awalnya sedang marah-marah karena aku lupa menjemur handuk sampai-sampai spreiku jadi basah dan bau, langsung memperlakukan bak ratu. Dimulai dari menanyakan menu apa yang ingin kumakan saat makan malam, dan sekarang badanku diurut bunda bahkan tanpa perlu aku minta.


Apa cuma bundaku doang, yang lupa caranya marah hanya karena kesukaannya dituruti?


"Al mau juga digituin sama bunda!" kata kak Al yang daritadi hanya memperhatikanku sambil melongo.


"Kamu turutin kemauan bunda, baru bunda giniin kamu!" jawab bunda.


Kak Al meringis. "Bunda nggak adil ih!" katanya sedih.


"Suka-suka bunda lah!" jawab bunda makin membuat kak Al tersudut.


Aku terkekeh melihat ekspresi kak Al yang langsung berubah jadi kesal. Dia kemudian memilih menjauh dari kami, dan duduk dekat dengan Yoyo yang katanya sedang bermain game, tapi yang kulihat dia malah senyam-senyum sendiri.


"Ayah kok jauhan dari bunda sih duduknya?" tanyaku bingung pada ayahku yang duduk sedikit berjauhan dari tempatku dan bunda berada sekarang.


Gimana nggak bingung coba, biasanya ayah dan bunda lengket kayak perangko sama surat mulu, tapi sekarang malah duduk jauh-jauhan.


"Kan udah ada kamu sama bunda, mana muat ayah juga duduk di sana!" jawab ayah membuatku langsung tak enak hati.


"Bunda lagi berantem sama ayah ya?" bisikku pada bunda.


Bunda tidak menjawab, hanya sorot matanya yang menampakkan kesedihan. Dari situ aku tahu bahwa bunda sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dengan ayah. Aku rasa kesalahpahaman kembali terjadi di antara kedua orang tuaku.


"Ayah bunda nangis nih!!" teriakku pada ayah, membuat bunda melotot dan berpaling ke arah lain.


Ayah masih mencoba tak peduli, membuat aku gemesh sendiri melihatnya.


"Bunda makin kenceng nih nangisnya yah!" teriakku membuat ayah sedikit menoleh sebentar, lalu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ayah lagi marahan yah sama bunda?" tanyaku lagi, kali ini aku mengatakannya dengan volume yang lumayan supaya kedua orang tuaku bisa mendengar dengan jelas.


Ayah menggeleng. "Nggak, ayah nggak marah sama bunda kamu!" bantah ayah.


"Kalau nggak, berarti ayah mau duduk di samping bunda!"


"Kan ada kamu di situ!"


"Gigi mau pindah duduk bareng Yoyo sama kak Al kok!" tunjukku pada kedua saudaraku yang daritadi hanya nyengir-nyengir seolah menyemangati dari jauh.

__ADS_1


Memang kalau sudah begini hanya sifatku yang kadang kayak bocah inilah yang dibutuhkan untuk mencairkan suasana yang agak panas ini.


Ayah masih tak bergeming dari duduknya. Gemas membuatku menghampiri ayah dan menarik ayah untuk mau duduk di samping bunda yang daritadi terus membelakangi kami semua. Kurasa bunda di belakang sana sudah penuh dengan air mata, dilihat dari bahunya yang terus bergetar dari tadi.


"Saling pelukan kayak teletabies yuk!" ajuku membuat kak Al dan Yoyo bangkit dari duduknya, berlari mendekatiku yang sekarang sedang memeluk ayah dan bunda.


Bunda awalnya masih mencoba melepas, tapi tak lama setelahnya bunda berbalik menghadap ayah, kemudian tangis bunda langsung pecah. "Maafin bunda ayah!!" kata bunda sesenggukan.


Sekarang kalian tahu kan, darimana kecengenganku dan kedramaanku berasal?


Ayah masih bergeming. Tapi tak lama setelahnya langsung mengelus kepala bunda, tanpa banyak berkata. Membuat kami semua bernapas lega. Kemudian aku dan saudaraku langsung menyingkir dari acara peluk-pelukan ini, karena keikut campuran kami sudah cukup di sini


Untuk kalian yang orang tuanya sedang marahan, aku harap jangan pernah kalian memihak atau menghakimi salah satu dari keduanya. Karena berdasarkan pengalamanku, memihak salah satu dari keduanya malah makin memperparah keadaan.


***


Aku menatap malas Sabil yang daritadi sibuk menunjukkan kepadaku motto yang akan aku pakai saat aku dan Mahesa berkampanye, yang baru saja dia searching di internet. Sepertinya minatnya untuk membalas Rebeca benar-benar sangat besar, sampai-sampai ia tidak berniat untuk keluar dari kelas sama sekali. Padahal biasanya jika ada jam kosong begini, terlebih jamkosnya pelajaran olahraga maka cewek itu yang akan memaksa kami untuk mengganti baju olahraga agar bisa keluar tanpa takut akan ditemui oleh guru.


Karena ketotalitasan seorang Sabillah, kami bertiga yakni aku, Sabil, dan Jihan tidak diijinkan oleh Sabil untuk keluar kelas. Sedangkan yang lain bahkan Mahesa memilih keluar dari kelas untuk berolahraga atau sekedar main-main di lapangan. Padahal kan melihat Mahesa sedang berolahraga adalah favoritku, tapi demi Sabil aku korbankan kesukaanku.


"Kapan Wira ada waktu kosong Han?" tanya Sabil pada Jihan, ia sekarang sudah menyimpan handphonenya, kurasa dia mulai males menanyaiku terus karena responku cuma oke, boleh, iya, saat ditanyainya.


"Minggu ini dia sibuk, minggu depan dia baru free!" balas Jihan yang juga sedang bermain handphone.


"Lah ngapain?" Aku mengernyit.


"Lo sama Mahesa bakal difotoin sama Wira terus foto lo berdua bakal dibuatin spanduk!" jawabnya tanpa beban.


"*****, lo kira gue mau jadi bupati pake spanduk-spanduk segala?" tolakku mentah-mentah.


"Ya udah deh nggak jadi di spanduk, tapi di selebaran aja!"


Aku melotot ke arahnya.


"Please Git demi bisa lengserin Rebeca nih!!" katanya dengan wajah pias.


"Oke-oke terserah lo! Tapi gue nggak perlu difotoin Wira segala ya!"


"Ya harus Wira lah, secara gitu dia anak ekskul photografi, pasti dia punya konsep brilian di foto lo sama Mahesa!"


"Lo kira gue mau prewed pake konsep segala?"

__ADS_1


"Gue tahu itu yang lo mau emang kan?" kata Sabil kemudian terbahak.


Bisa aja emang si Sabil membuatku diam tak berkutik karena malu dengan ucapannya.


Tapi diam-diam dalam hati aku bilang amin paling besar lho.


"Si Inez ngelive di pelajaran buk Nurma anjay, malah dia gabung sama cowoknya lagi, kan benar-benar nyari mati nih anak!" teriak Jihan tiba-tiba, membuatku dan Sabil langsung mengintip apa yang sedang ditontonnya.


"Woy Nez, buk Nurma itu lho, buk Nurma!" kataku.


Pasalnya guru kimia kami itu galaknya minta ampun. Oh ya, jangan lupa buk Nurma juga salah seorang anggota kedisplinan.


"Santuy, doi lagi ngantuk, capek banget katanya baru pulang dari luar kota, yang penting nggak ada yang ribut semua aman terkendali!" balasnya via ketikan live.


"Oke! Terus kenapa lo ngelive bareng kak Elang? Yang nonton juga cuma Jihan, faedahnya apa coba?" tanya Sabil kemudian.


Muncul teks baru yang diketik Inez. "Emang cuma kalian yang bisa lihatin ke uwuan kalian sama gue? Gue juga bisa kali, ya kan by?"


Kak Elang yang daritadi hanya menyimak langsung mengangguk sambil memberi senyuman manis.


"By jangan sering-sering senyum gitu yah, bahaya!" seru Inez masih dengan via ketikan tentunya.


"Udah deh keluar aja dari livenya!" kata Sabil yang langsung diangguki oleh Jihan juga aku.


Temanku sepertinya memang nggak ada yang benar!


"Btw Git gue mau bilang sesuatu sama lo, tapi janji ya lo jangan tanya sama Mahesa yah!" kata Jihan setelah menyimpan handphonenya.


"Iya-iya, apaan?"


"Si Mahesa nyuruh Wira ngasihin kado ultah dari dia buat Airin!"


Aku menghela napas, kemudian tersenyum. "Tenang aja, gue itu lebih cantik dari mantan si Mahesa, jadi gue nggak bakal mudah kalah!" jawabku untuk menyemangati diri sendiri.


"Wih pd bener nih orang!" sahut Jihan dan Sabil berbarengan membuatku terkekeh pelan.


Kenapa cewek tuh sukanya sama orang yang nggak sukain dia sih? Maaf nih ya, bukan mau sombong, tapi biar gini-gini banyak dm yang masuk padaku setelah kabar aku jomblo tersebar. Tapi aku malah ngestuck di orang yang gagal move on. Huh nyebelin banget!!!


Tapi aku masih belum menyerah lho ya. Prinsipku jika jalan menuju Roma aja banyak. Apalagi jalan ke hati Mahesa.


Tbc

__ADS_1


Iya


__ADS_2