Mahesagita

Mahesagita
part 36


__ADS_3

TIGA PULUH ENAM


Aku berjalan dengan santai menuju ke lantai satu, tanpa ada prasangka negatif sama sekali. Tapi ketika melihat seseorang yang ikut duduk bersama keluargaku di meja makan, mataku melotot sempurna. Bahkan aku sampai terbatuk-batuk, saking tidak menyangka hal ini akan kulihat sepagi ini di rumahku pula.


"Kamu kenapa tega bohongin bunda sih Gi!!" ujar bunda dramatis saat melihatku.


"Bohongin bunda?" Aku mengernyit bingung. Lantas menatap Mahesa yang hanya mesem-mesem sendiri.


"Kamu bilang mas Eca udah punya pacar, padahal kata mas Eca dia masih jomblo!" Bunda menggeleng tidak percaya. "Tega kamu Gi sama bunda sendiri!"


Aku makin melotot. Apa maksudnya Mahesa ke rumahku, dan bilang ia tidak punya pacar? Emang sepenting apa status jomblonya di hadapan bundaku?


"Bunda nggak mau tahu, pokoknya hari ini kamu nggak boleh berangkat sendirian, kamu harus berangkat dan pulang bareng mas Eca!" putus bunda sepihak yang membuatku kian melotot, seraya melirik ayah yang langsung menggangguk saat tatapannya bertemu denganku.


"Ayah!!" kataku merengek.


"Ayah setuju sama bunda. Karena orang yang berbohong itu memang harus ditegasin sekali-kali," jawab ayah membuat bunda tersenyum lebar sambil membuat gerakan kiss pada ayah, yang membuat Mahesa langsung menatapku seraya terkekeh pelan.


"Gigi nggak mau bunda!!" Aku masih kekeuh merengek. Soal Mahesa aku udah bodoh amat.


"Bunda juga nggak mau tahu Gigi. Pokoknya kamu harus berangkat sama mas Eca, titik." Setelah mengatakan itu, bunda kembali melirik Mahesa. "Bunda ke atas dulu ya mas, kamu kalau buru-buru berangkat aja. Kalau si Gigi nggak mau tarik aja dia!" Bunda kemudian bangun dari duduknya, lalu pergi ke lantai atas, untuk menyuruh Yoyo dan kak Al lekas bersiap-siap.


Mahesa mengangguk antusias. Kemudian dia menyalimi ayahku. "Eca sama Gigi duluan ya ayah!" katanya sambil menyalimi ayahku. But wait, kenapa panggilannya udah berubah jadi ayah, perasaan kemarin-kemarin masih om deh.


"Senang deh kamu mutusin buat manggil om ayah juga." Ayah mengelus rambut Mahesa pelan. Kemudian melakukan hal yang sama terhadapku. "Udah jangan cemberut mulu. Malu sama orang ganteng! Oh ya, bunda juga udah siapin kamu bekal,  nanti jangan lupa makan di mobil ya!" pesan ayah sambil terkekeh.


Astaga? Demi apa coba ayah ngomong gitu? Fix, virus bunda udah merasuki ayahku juga. Dan ini benar-benar gawat.


Aku hanya tersenyum terpaksa. Sambil mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan bunda untukku. Lalu tanpa menungguku membantah lagi, ia langsung menggandeng tanganku, menarikku menuju ke tempat mobilnya berada.


"Lo apa-apaan sih Sa?! Kurang kerjaan bangetkah? Kalau iya nanya gue aja, biar gue rekomendasi tugas buat orang gabut kayak lo!" sungutku sebal saat kami berdua sudah berada di dalam mobil.


"Iya sama-sama!" jawabnya membuatku langsung menatapnya tak percaya.


"Lo gila ya?"


"Kok gila? Gue kan cuma mencoba untuk positif thinking dengan omongan lo, dengan cara nganggap lo lagi ucapin makasih soal kemarin buat gue!" ujarnya santai, sambil melajukan mobilnya.


Aku menggeleng tak percaya. "Jadi lo bela-belain buat jemput gue cuma buat dengar ucapan terimakasih keluar dari mulut gue, karena lo udah perbaiki hubungan gue sama Yoyo gitu?" tanyaku yang membuatnya langsung menoleh, kemudian menaikkan sebelah alisnya. "Kalau gitu mau lo okey. Hemm. Makasih Mahesa Atdmaja, karena lo udah buat hubungan gue dan saudara gue jadi membaik, sumpah gue benar-benar berterimakasih sama lo!" ucapku semenggemaskan mungkin.


Mahesa terbahak. Benar-benar terbahak, sampai-sampai mobil di belakang kami mengklakson berulang kali karena Mahesa mulai berkendara agak ke tengah jalanan.

__ADS_1


"Sa hati-hati, gue belum nikah!" kataku ngeri.


"Eiya, sorry!" Ia memperbaiki duduknya dan mulai fokus ke jalanan lagi. "Btw, gue jemput lo bukan karena gue mau lo ucap terimakasih kok," katanya dengan pandangan yang fokus ke jalanan.


"Terus?"


"Gue bilang juga lo nggak bakal percaya!"


"Ih apasih!"


"Gue gini karena kangen!" Meski sejujurnya aku baper. Tetap saja aku tidak mau percaya omongan Mahesa lagi. Terlalu banyak dikecawain jadinya aku takutan gini.


"Kali ini gue nggak bakal goyah lagi Sa, karena sekarang gue udah punya pacar baru!"


"Hah siapa?"


"Haris anak kelas dua belas ipa empat!"


"Maksud lo Haris anak basket hah?"


"Iya! Hebat kan!"


"Emang lo siapa suruh gue putus hah?" kataku mendada sewot sendiri.


"Jadi lo mau dijadiin siapa-siapa gitu sama gue? Kalau gitu gue janji bakal sanggupin kemauan lo. Tapi lo harus nunggu bentar lagi, karena gue harus mastiin sesuatu dulu!" jawabnya membuatku melotot.


"Lo benar-benar udah gila ya Sa!!"


"Iya, gila sama lo!!"


"Cringe banget sumpah!!"


"Gue serius Sagita Anastasya," tekan Mahesa.


"Gue juga serius Mahesa Admatja!" sambutku.


"Pokoknya lo harus putusin Haris. Karena dia itu playboy banget, gue nggak mau lo sakit hati karena dia." Nada bicara Mahesa mulai melunak, meski begitu aku tetap akan pada keputusan awalku.


"I know. Tapi kan bisa jadi gue bakal jadi pelabuhan hati terakhir si Haris," kataku pede.


"Pokonya lo harus putusin Haris, kalau nggak," katanya menggantung.

__ADS_1


"Kalau nggak apa?"


"Nggak papa sih. Karena gue yakin nggak nyampe dari seminggu lo juga bakal putus sendiri!"


Aku menghela napas panjang. Kukira kata-kata seorang Mahesa bisa lebih meyakinkanku akannya. Nyatanya aku salah besar. Mahesa tetaplah Mahesa yang ngomongnya selalu bikin baper dan emosi menjadi satu, tanpa ada kejelasan.


"Terserah!" balasku, kemudian memejamkan mata sambil memasang headshet yang kebetulan kubawa.


***


Sekarang jam istirahat, tapi ketiga temanku--bahkan Inez yang entah bagaimana bisa sampai ke kelasku bertepatan dengan lonceng berbunyi, menyuruhku untuk tidak keluar kelas.


"Kalian apaan sih?! Gue mau keluar!!" Aku tentu saja menolak ide mereka mentah-mentah, secara aku sudah diajak Haris untuk ketemuan berdua di kantin.


"Nggak bisa Git, nggak bisa. Lo harus nurutin apa yang dibilang sama Mahesa," jawab Inez membuatku melotot.


"Iya Git, lo harus tunggu Mahesa pulang dari kantin, terus kita semua makan di kelas," tambah Jihan makin membuatku melotot.


"Mahesa lagi? Mahesa lagi. Dulu kalian suruh gue move on. Dan sekarang gue udah pacaran lagi supaya bisa secepatnya move on. Tapi kenapa kalian masih ada di pihak dia? Padahal jelas-jelas kalian tahu dia orangnya nggak jelas, dan suka bikin gue ngerasa sedih!!" ujarku dengan instonasi lumayan keras sambil menatap ketiganya heran. Untungnya di kelas cuma ada aku dan ketiga temanku, jadi kami aman-aman saja, selama kami tidak menjerit bareng.


Sabil menghela napas. "Kami setuju kalau lo move onnya ke kandidat yang kami kasih. Tapi ini apa coba? Lo malah jadian sama Haris. Yang hampir semua cewek di sekolah ini tahu tukang selingkuh. Karena itu kami putusin buat ngedukung Mahesa!" balasnya membuatku menghela napas.


"Dulu Devano yang kelihatan baik, tapi ternyata selingkuh juga kan? Jadi gue rasa seseorang itu bukan dinilai dari kelihatannya, tapi saat mengenalnya secara langsung. Makanya gue putusin buat nerima si Haris. Karena gue mau lebih kenal sama dia!"


Ketiga temanku kompak melotot. "Anjer!!" ujar mereka, bersamaan dengan Mahesa yang kembali ke kelas bersama Angga.


"Kata Wira anak basket ada latihan mendadak, jadi meskipun lo kekeuh ke kantin lo tetap nggak bakal ketemu sama Haris!" kata Mahesa membuatku menggeleng tidak percaya.


"Bohong kan lo?!"


"Kalau lo nggak percaya ke lapangan aja, liat yang gue bilang benar apa kagak." Setelah mendengar itu, aku menatap Jihan, yang langsung mengangguk, sambil memperlihatkan layar handphonenya, yang berisi kolom chattannya dengan Wira beberapa menit yang lalu.


Aku menghela napas. Kemudian duduk di bangkuku. Iya, aku percaya Mahesa dan Jihan tidak berbohong. Karena kalau mereka berbohong pasti Wira ada di sini, karena ia tidak akan tahan berjauhan dengan pacarnya. Jadi tidak akan ada kerja sama team di antara mereka semua.


"Udah deh, ayo makan, lapar gue!!" kata Angga membuatku tersadar dari lamunanku.


"Ya ayo!" seru Sabil, Inez dan Jihan berbarengan. Untungnya mereka tidak memperpanjang bahasan tentang Haris, yang tidak memberitahu aku, meski aku sudah berulang mengecek handphoneku untuk memastikan perkiraanku tidak salah.


Tbc


Iya

__ADS_1


__ADS_2