
Di sinilah mereka bertiga berada. Hendry dan Johnathan sedang duduk berhadapan dengan Natasya di sebuah kafe. Sebelumnya, mereka sudah memesan minuman masing-masing.
Cukup lama mereka bertiga hanya duduk diam tanpa ada pembicaraan. Situasi di antara mereka saat ini sangat canggung, mengingat kejadian tidak menyenangkan yang terjadi kemarin di kediaman Adikusuma.
Hendry sudah tidak tahan dengan situasi ini, akhirnya ia pun memilih untuk memulai percakapan.
"Ekhmm," Hendry berdeham untuk menetralkan rasa canggung, "eum... Natasya?"
Natasya menoleh dengan tatapan bertanya tanpa menjawab panggilan itu.
"Sebelumnya, saya dan keluarga ingin meminta maaf karena sudah melakukan hal yang buruk kepada kamu," ucap Natasya.
Natasya hanya menyimak ucapan Hendry tanpa berniat untuk menbalasnya. Gadis itu masih belum bisa memaafkan apa yang telah orang yang pernah sangat ia hormati itu lakukan.
"Kamu tidak perlu memaafkan kami sekarang, Natasya," ucap Johnathan, "tapi ada hal penting yang harus kita bicarakan, dan saya harap kamu menyetujuinya."
"Apa?" tanya Natasya.
Johnathan menoleh kepada Hendry dan memberi isyarat mata agar ayahnya itu yang membicarakan tentang kesepakatan yang akan mereka buat.
"Natasya," panggil Hendry, "berkas kamu ditolak karena kamu belum mempunyai surat nikah, kan?"
Natasya mengangguk ragu, "iya, memangnya kenapa?"
"Saya akan membantu kamu untuk mengurusnya," kata Hendry.
Mendengar hal itu, Natasya mengernyitkan dahinya bingung, "membantu saya? Dengan cara apa? Memanfaatkan jabatan anda lagi? Bukankah anda ingin mendapatkan hak asuh Bhara untuk keluarga kalian sendiri?"
Hendry dan Johnathan meneguk ludah kasar mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Natasya. Gadis itu masih terlihat sangat kesal dengan mereka.
"Tidak, Natasya. Untuk surat nikah, saya tidak bisa melakukan manipulasi, karena kepala KUA tidak mau melakukan cara yang tidak sesuai prosedur," jawab Hendry.
"Lalu?" tanya Natasya dengan alis terangkat sebelah.
"Saya memiliki alternatif lain untuk memenuhi persyaratan surat nikah itu," ucap Hendry.
Kepala pengacara itu melirik ke arah putra sulungnya sebentar, lalu kembali melihat Natasya dan berucap, "yaitu... kamu menikah dengan ayah kandung Bhara... Johnathan."
"Hah?"
Otak Natasya berhenti bekerja untuk sementara. Ucapan Hendry membuatnya tidak bisa berkata-kata. Apakah ia baru saja dilamar? Astaga! Ini terlalu mendadak.
...----------------...
Alan berjalan keluar dari kelasnya dengan perasaan cemas. Natasya melewatkan kelas pertama. Hendry juga tidak hadir untuk mengajar dan digantikan oleh dosen pengganti. Ia sudah mencoba menghubungi sahabatnya itu, tapi sama sekali tidak diangkat.
Mahasiswa itu mencoba menelepon Natasya sekali lagi. Saat ia menempelkan ponselnya ke telinga, yang ia dengar adalah suara operator.
"Duh, kemana sih kamu, Natasya?" gumam Alan.
Alan bergegas menuju tempat parkir. Ia berencana untuk mencari Natasya sampai ketemu, entah itu di rumahnya ataupun di panti asuhan. Namun, ketika ia hampir sampai di parkiran, Alan bisa melihat Natasya berjalan memasuki area kampus dengan wajah yang terlihat lesu.
__ADS_1
"Natasya!" panggil Alan.
Laki-laki itu langsung berlari menghampiri Natasya. Sedangkan gadis itu hanya melihat Alan yang berlari menghampirinya tanpa ekspresi.
"Kamu dari mana aja sih? Aku telepon, gak diangkat. Aku chat, gak dibalas. Kamu dari mana aja?" tanya Alan saat sudah berada di depan gadis itu.
Natasya menatap kedua mata Alan, lalu berujar lirih, "kenapa kamu gak bilang sama aku lagi tentang rencana ayah dan kakak kamu?"
Alan membelalakkan matanya, "ada apa?! Apa lagi yang dilakuin sama ayah dan Kak John?!"
Natasya menundukkan kepalanya, "mereka... Mereka nawarin ke aku kesepakatan yang... Agak rumit."
Alan menggenggam kedua bahu Natasya dan menatap mata sahabatnya itu.
"Mereka nawarin apa, Natasya? Bilang ke aku! ada apa sih sebenarnya?" tanya Alan cemas.
"Ayahmu... Minta aku buat nikah sama Dokter Johnathan," lirih Natasya.
Alan sangat terkejut dengan ucapan Natasya. Genggaman tangannya pada bahu Natasya sampai terlepas.
"A-apa? Nikah sama Kak John?" ucap Alan yang masih tidak memercayai apa yang ia dengar.
Natasya mengangguk lemah.
"Terus, kamu setuju?" tanya Alan.
Lagi, Natasya menganggukkan kepalanya lagi. Alan mengacak rambutnya frustrasi dengan keputusan Natasya.
"Kenapa kamu setuju, Natasya?! Ini masalah pernikahan, gak bisa dibuat main-main," ucap Alan.
"Apa ini emang satu-satunya cara, Sya?" tanya Alan dengan suara lirih.
Natasya mengangguk pelan, "iya, udah gak ada cara lain lagi."
Alan memejamkan matanya, pikirannya menjadi kacau. Laki-laki itu tidak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini.
...----------------...
Malam ini, suasana di kediaman Adikusuma tampak ramai dan sibuk. Beberapa juru masak sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan berbagai macam menu. Kali ini, mereka diawasi langsung oleh nyonya besar Adikusuma. Makan malam ini adalah makan malam yang spesial, karena mereka akan mengundang calon menantu mereka, yaitu Natasya.
"Sayang," panggil Hendry.
Anjani yang masih mengawasi di dapur pun langsung menoleh ke arah suaminya yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Kenapa Alan belum pulang juga? Aku tidak bisa menghubunginya dari tadi," ucap Hendry.
"Oh iya, Alan belum pulang, ya," balas Anjani yang baru ingat kalau anak bungsunya belum terlihat, "apa dia masih ada urusan di kampus?"
Hendry menggelengkan kepalanya, "kelasnya sudah berakhir sejak sore tadi. Dan setahuku, dia tidak ada jadwal organisasi hari ini."
"Eum... Biar aku coba telpon anak itu," ucap Anjani.
__ADS_1
Lalu, nyonya besar itu berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di sana. Sementara itu, sang suami tetap mengekorinya.
"Ayah, Ibu," panggil Johnathan yang baru saja turun dari lantai atas, "aku mau berangkat jemput Natasya sekarang."
"Oh, iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya," balas Anjani sambil menyalakan ponselnya.
Johnathan hanya menganggukkan kepalanya. Lalu, ia pun bergegas untuk pergi dari sana. Tapi, belum sempat ia pergi, dan Anjani belum menelepon Alan, tiba-tiba putra bungsu Adikusuma itu berjalan memasuki rumah dengan langkah tergesa.
"Nah, ini sudah datang," ucap Hendry.
"Kemana aja sih kamu, Nak? Kenapa gak langsung pulang? Padahal ibu kan udah bilang kalau ada acara penting," omel Anjani.
Alan menatap keluarganya dengan ekspresi marah. Johnathan yang baru menyadari kemarahan adiknya langsung mengernyit bingung.
"Apa sebenarnya yang kalian lakukan?" geram Alan.
"Maksud kamu?" tanya Anjani dengan bingung.
"Tadi ayah sudah bilang kan, kalau ada acara makan malam dengan Natasya, kakakmu akan menikah dengannya," jawab Hendry dengan santai.
"Itu yang aku maksud!"
Mereka cukup tersentak dengan Alan yang baru saja meninggikan suaranya.
"Kenapa kalian minta Natasya buat nikah sama Kak John?! Mereka gak saling mencintai!" seru Alan.
"Kamu kenapa sih, Al?! Dari awal, selalu aja gak mendukung dengan apa yang keluargamu sendiri lakukan," ucap Anjani yang kesal dengan Alan.
"Gimana aku bisa dukung kalian? Kalau kalian malah bersikap kekanak-kanakan dan ngelakuin hal konyol kayak gini," balas Alan.
"Cukup, Al!" bentak Johnathan, "Natasya gak keberatan sama pernikahan ini! Terus, apa masalahnya?"
"Jelas dia langsung setuju! Karena Natasya dalam kondisi putus asa sekarang!" bentak Alan melawan Johnathan.
"Terus, apa lagi masalahnya? Pernikahan ini menguntungkan kedua belah pihak. Kita semua, dan juga Natasya, kita akan berhasil mengadopsi Bhara. Gak ada yang bermasalah dengan itu," ucap Johnathan.
"Kakak bercanda, ya?! Ngelakuin pernikahan karena sebuah keuntungan?! Pernikahan itu sakral, Kak!" balas Alan.
"Cukup, Alan!" bentak sang kepala keluarga.
"Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi," ucap Hendry dengan nada dingin, "ikuti saja apa keputusan kami. Ini urusan Johnathan dan Natasya, kamu tidak perlu ikut campur."
Alan hanya bisa diam menahan amarahnya. Ia sangat marah dengan ucapan ayahnya barusan, tetapi ia tidak bisa membantah lagi. Karena ayahnya benar, dia bukan siapa-siapa di kasus ini, ini tentang Johnathan, Natasya, dan Bhara.
"Sebenarnya, apa masalahmu, Alan?" lirih Anjani.
Alan tidak menjawab pertanyaan ibunya sama sekali. Laki-laki itu lebih memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan keluarganya dan menuju ke kamarnya di lantai atas.
'Karena aku menyukai Natasya.'
...----------------...
__ADS_1
Semakin rumit ya permasalahannya...
Seperti biasa, jangan lupa like, komen, dan vote yaa... ♥♥