Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
42 : Penjelasan


__ADS_3

"Tapi aku ibu kandungnya!" balas Sabrina tidak terima.


Johnathan menggertakkan giginya geram.


"Kamu gak pantas menyebut diri kamu ibu kandung Bhara," geram Johnathan, "kamu udah nyakitin dia selama ini."


"Apa maksud kamu, John?! Aku gak pernah nyakitin anakku sendiri," sangkal Sabrina.


Johnathan berdecih, "cih! Gak usah bohong. Kamu ngelakuin kekerasan ke Bhara sebelum kamu buang anak itu di bandara."


Sabrina membelalakkan matanya terkejut, "astaga! Kok bisa sih kamu mikir kayak gitu, John?! Aku gak pernah nyiksa anakku sendiri! Aku juga gak buang dia di bandara!"


Johnathan menatap Sabrina dengan tatapan tidak percaya. Wanita yang dulu pernah ia cintai itu masih berani mengelak atas perbuatan buruknya terhadap anak kandungnya.


"Terus, kalau kamu gak ngelakuin itu semua, gimana kamu jelasin tentang lebam-lebam yang dulu pernah ada di tubuh Bhara saat anak itu pertama kali ditemukan di bandara?" desak Johnathan.


"Apa kamu pernah lihat lebam-lebam itu secara langsung?" sahut Sabrina.


Johnathan terdiam. Tentu saja ia tidak pernah melihat lebam itu secara langsung. Dirinya saja baru bertemu Bhara saat anak itu sudah berada di panti asuhan dan kecelakaan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Saat itu, lebam di tubuh Bhara sudah pudar.


Ia hanya tahu dari cerita Alan dan Natasya. Namun, Johnathan yakin bahwa istri dan adiknya itu tidak berbohong tentang lebam itu.


"Nggak, kan?" tanya Sabrina membuyarkan lamunan Johnathan.


"Terus, gimana sama Bhara yang ditemukan sendirian di bandara?" tanya Johnathan kembali mendesak Sabrina.


Sabrina menghela napas panjang. Wajahnya berubah menjadi sedih. Air matanya perlahan-lahan kembali menetes.


"John, biar aku jelasin ke kamu semuanya--"


"Emangnya kamu bisa dipercaya?" sahut Johnathan.


"Maka dari itu, John, dengerin penjelasan aku dulu," ucap Sabrina dengan tatapan memohon.


Johnathan pun diam dan memilih untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh mantan kekasihnya itu.


"Sebenarnya... Luka lebam di punggung Bhara... Itu beneran ada, John," lirih Sabrina.


Mata Johnathan membola, "benar, kan! Kamu emang nyiksa Bhara!"


"Tapi bukan aku pelakunya, John!" teriak Sabrina.


Air mata Sabrina yang tadi keluar setetes demi setetes kini sudah berubah menjadi isakan tangis.


"Bukan aku yang ngasih lebam itu di tubuh Bhara," lirih Sabrina, "tapi mantan suamiku.


"A-apa?"


Johnathan sangat terkejut dengan fakta baru ini. Semuanya menjadi semakin rumit.


"Tunggu dulu," ucap Johnathan sambil berpikir keras, "mantan suami?"


Sabrina mengangguk lemah, "iya, John. Aku cerai sama suami aku karena udah gak tahan sama kekerasan yang dia lakukan dalam rumah tangga kami."

__ADS_1


"Terus... Yang mukulin Bhara itu... Mantan suami kamu?" tanya Johnathan.


Sabrina kembali mengangguk, "sekarang aku menyesal karena gak cepat-cepat cerai sama dia dari dulu..."


"...sampai Bhara harus jadi korbannya," lirih Sabrina sambil terus menangis.


Johnathan mengacak rambutnya frustrasi. Pria itu merasa bingung, kesal, dan marah dengan situasi dan segala fakta yang baru saja dibeberkan oleh Sabrina.


"Terus gimana sama insiden di bandara?" tanya Johnathan, "kamu yang ninggalin dia di sana?"


Sabrina menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia tidak berani menatap mata Johnathan. Lalu, wanita itu mengangguk pelan.


"Iya... Aku yang ninggalin dia di bandara," lirih Sabrina.


"Tapi aku gak sengaja!" imbuh wanita itu sebelum Johnathan menyela ucapannya.


"Apa maksud kamu gak sengaja?" tanya Johnathan.


"Waktu itu, aku berencana untuk bawa Bhara kabur dari kejaran mantan suamiku. Tapi saat pas kami udah sampai di bandara, ada sesuatu yang terjadi padaku yang bikin aku akhirnya ninggalin Bhara sendirian di sana," jelas Sabrina.


"Hingga akhirnya... Bhara terpisah dariku, hiks..." Sabrina kembali menangis, kali ini tangisannya lebih keras.


Johnathan tidak sanggup mengatakan apa pun lagi. Kepalanya sudah terlalu pusing untuk memikirkan semua fakta yang memusingkan ini. Apakah Sabrina mengatakan hal yang sebenarnya?


...----------------...


Suara tawa khas anak kecil menggema di seluruh penjuru rumah Adikusuma. Memang satu bulan terakhir, hal ini menjadi hal biasa di sini. Kehadiran Bhara membuat suasana rumah itu terlihat semakin hidup.


"Mama, kenapa pangelannya ndak datang menemui latu?" tanya Bhara kepada Natasya.


Anak itu sedang melihat-lihat buku bergambar ditemani oleh mamanya.


"Karena sang ratu jahat, jadi pangerannya milih buat gak pulang ke istana," jawab Natasya.


"Ooo~"


Bhara mengangguk paham, lalu melanjutkan untuk melihat-lihat gambar di buku itu. Tidak lama kemudian, mereka melihat Hendry yang berjalan memasuki rumah.


"Wah! Kakek cudah pulang," seru Bhara.


Anak itu langsung berdiri dan berlari menghampiri Hendry. Hap! Hendry langsung mengangkat tubuh Bhara ke dalam gendongannya.


"Ugh! Bhara sudah semakin besar ya," ucap Hendry.


"Hihihi~ itu altinya Bhala cehat dan bahagia, kakek," jawab Bhara.


Hendry tertawa mendengar ucapan cerdas cucunya. Lalu, ia pun menoleh ke arah Natasya.


"Natasya, apa yang lain masih belum pulang?" tanya Hendry.


"Ibu dan Kak Johnathan belum pulang, Ayah. Kalau Alan tadi masih keluar untuk ketemu sama teman-temannya," jawab Natasya.


Hendry menganggukkan kepalanya paham, lalu beralih kembali untuk melihat cucunya.

__ADS_1


"Bhara mau main di kamar kakek?" tawar Hendry.


Bhara mengangguk antusias, "mau mau! Bhala mau main cama kakek."


Kemudian, Hendry pun membawa Bhara naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sementara itu, Natasya memutuskan untuk membereskan mainan Bhara terlebih dahulu.


Drrrt... Drrrt...


Natasya mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat nama Alan terpampang di layar. Natasya pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Alan. Ada apa?" tanya Natasya mengawali pembicaraan.


"Sya, kamu sekarang lagi jemput Kak John di rumah sakit?" balas Alan yang malah bertanya balik.


Natasya mengernyitkan dahinya bingung, "hah? Nggak tuh. Aku lagi di rumah sekarang. Emangnya kenapa, Al?"


Hening...


Alan tidak segera menjawab ucapan Natasya. Natasya pun melihat layar ponselnya untuk memastikan bahwa panggilan itu masih tersambung.


"Al?" panggil Natasya.


"Natasya, mending kamu lihat foto yang aku kirim ke kamu," jawab Alan.


"Foto apa, Al?" tanya Natasya.


"Mending kamu lihat sendiri, Sya. Aku juga gak terlalu yakin sama apa yang aku lihat," jawab Alan dengan nada ragu.


"Oke, bentar, aku lihat dulu," jawab Natasya.


Kemudian, gadis itu melihat foto yang dikirimkan oleh Alan tanpa memutus sambungan telepon terlebih dahulu. Matanya membelalak lebar saat dirinya melihat foto yang dikirimkan oleh sahabat sekaligus adik iparnya itu.



"Kamu udah lihat, Sya?" tanya Alan di seberang telepon.


"Darimana kamu dapat foto ini, Al?" tanya Natasya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Alan.


Walaupun foto yang dikirim oleh Alan resolusinya sangat jelek, tapi ia yakin betul bahwa pria di foto itu adalah suaminya, Johnathan.


"Aku tadi lewat depan rumah sakit, terus gak sengaja lihat Kak John keluar sama wanita itu," ucap Alan, "aku kira itu kamu, Sya."


"Aku?! Apa kamu gak lihat, Al?! Itu jelas-jelas Sabrina!" seru Natasya.


"Sabrina?" Alan menjeda ucapannya, sepertinya ia sedang berpikir, "astaga! Kamu benar, Sya! Itu Sabrina."


Natasya khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya Johnathan sangat membenci Sabrina, lalu kenapa pria itu malah bersama Sabrina sekarang?


...----------------...


...Seperti biasa... 🌸 apresiasi 🌸...


...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥♥...

__ADS_1


__ADS_2