Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
32 : Baikan


__ADS_3

"Alan?"


Iya, yang mengetuk pintunya tadi adalah Alan. Berbeda dari sebelumnya, tatapan Alan kali ini tidak datar dan dingin lagi, tatapan itu kembali melembut dan sedikit... Sendu.


"Natasya, ayo ikut aku sebentar, aku mau ngomong sama kamu."


Natasya pun mengikuti Alan yang berjalan di depannya. Mereka pun berhenti di balkon ruang santai yang ada di penghujung lantai 2. Kini, Alan sudah membalikkan badannya untuk menghadap Natasya. Namun, laki-laki itu tetap menunduk, masih enggan menatap mata gadis yang ada di depannya.


"Aku minta maaf...," ucap Alan lirih, hampir tidak terdengar.


"Huh?"


Alan mendongak untuk menatap mata Natasya, "aku minta maaf, Natasya."


Hati Natasya rasanya seperti dicubit saat melihat mata Alan yang berkaca-kaca, ia bisa melihat ketulusan dan kesedihan di sana. Kemudian, gadis itu pun tersenyum lembut.


"Kamu gak perlu minta maaf, Al. Karena kamu gak punya salah apa-apa ke aku, jadi gak ada yang perlu aku maafin dari kamu," ucap Natasya.


Mendengar ucapan Natasya, Alan justru semakin merasa bersalah.


"Tapi aku udah ngerusak persahabatan kita dengan jatuh cinta sama kamu, Sya," lirih Alan.


"Persahabatan kita tetap sama, Al," balas Natasya dengan nada lembut, "cinta itu bukan kesalahan. Dengan kamu yang jatuh cinta sama aku, bukan berarti persahabatan kita berakhir gitu saja."


Alan tersenyum simpul. Ia senang karena Natasya tidak marah kepadanya karena sudah menghadirkan cinta dalam persahabatan mereka. Seperti biasa, sahabatnya ini adalah orang yang sangat baik.


"Tapi maaf, Al," ucap Natasya, wajahnya kini berubah menjadi sendu.


"Aku gak bisa balas perasaan kamu," imbuh Natasya, "...karena aku sekarang udah jadi kakak ipar kamu."


Alan tersenyum masam. Ingin menghindar dari kenyataan pahit ini, tapi yah... Mau bagaimana lagi, mau tidak mau, ia harus bisa menerima fakta menyakitkan ini. Orang yang dicintainya, kini sudah menjadi istri dari kakaknya sendiri.


"Aku gak minta kamu buat balas perasaanku, Sya," ucap Alan.


"Aku cuma mau kita tetap bersahabat. Gak masalah kalau aku harus kehilangan orang yang aku cinta, asalkan aku gak kehilangan sahabat baik aku," imbuh bungsu Adikusuma itu.


Natasya tersenyum kecil dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tahu bahwa Alan pasti sangat patah hati. Tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa, Natasya tidak mungkin membalas perasaan Alan di saat ia tidak memiliki perasaan lebih terhadap sahabatnya.


"Kalau gitu, kita udah baikan sekarang?" tanya Alan sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Natasya tersenyum, lalu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Alan.

__ADS_1


"Iya dong, kita selalu bersahabat," balas Natasya.


Mereka berdua menautkan jari kelingking sebagai tanda persahabatan. Alan menatap kedua mata Natasya dengan tatapan lembut. Biarlah dia tidak mendapatkan Natasya sebagai cintanya, asalkan gadis itu bisa selalu menjadi sahabatnya.


"Mama?"


Suara Bhara yang memanggil Natasya membuat dua orang itu menoleh. Ternyata, di sana sudah ada Bhara yang digendong oleh papanya, Johnathan.


Alan dan Natasya langsung melepaskan tautan jari kelingking mereka, keduanya merasa tegang sekarang. Bagaimana jika Johnathan sudah ada di sana sejak tadi dan mengetahui fakta bahwa Alan menyukai Natasya. Itu pasti akan menjadi masalah besar.


Tapi, sepertinya kekhawatiran mereka berdua itu tidak terjadi. Johnathan menatap mereka berdua bergantian sambil tersenyum lembut.


"Jadi, kalian udah gak berantem lagi?" tanya Johnathan.


Alan dan Natasya hanya mengangguk patah-patah.


"Alan, kakak gak tahu masalah apa yang terjadi di antara kamu sama Natasya, tapi kakak senang kalau kalian udah baikan kayak gini. Kalian ini sahabat dekat, jangan sampai bertengkar terlalu lama," ucap Johnathan memberi nasihat kepada adiknya.


"Eh, i-iya, Kak," jawab Alan, "aku juga minta maaf karena udah bersikap buruk beberapa hari ini."


Dalam hati, Alan merasa lega karena Johnathan tidak menyadari fakta tentang dirinya yang menyukai Natasya.


Johnathan tersenyum kecil, "gak apa-apa."


"Eh, iya. Kenapa, Kak John?" jawab Natasya.


"Tadi Bhara bangun, terus langsung nyariin kamu, jadi aku langsung bawa Bhara ke sini," ucap Johnathan.


Natasya mengalihkan pandangannya ke arah Bhara. Anak itu masih terlihat mengantuk dan sesekali ia akan menguap. Kemudian, Natasya pun menghampiri suami dan anaknya itu.


"Hai, anak mama yang manis ini udah bangun, ya," ucap Natasya kepada Bhara dengan nada lembut.


Kemudian, Natasya mengambil alih tubuh Bhara dari gendongan Johnathan. Bhara langsung menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Natasya.


"Udah sore, Nak. Mandi dulu, yuk," ajak Natasya.


Bhara menganggukkan kepalanya pelan, "iya, Ma."


Setelah itu, Natasya membawa Bhara ke kamarnya. Ia berencana memandikan anak itu di kamar mandi pribadi yang ada di dalam kamarnya.


Johnathan dan Alan menatap punggung Natasya yang berjalan menjauhi mereka. Kemudian, Johnathan menoleh ke arah Alan.

__ADS_1


"Al," panggil Johnathan membuat Alan menatapnya, "nanti minta maaf sama ayah dan ibu, ya. Mereka khawatir sama perubahan sikap kamu selama ini."


Alan tersenyum simpul, "iya, Kak. Aku nanti bakal minta maaf sama mereka."


...----------------...


"Bulat bulat bulat, bulat bulat bulat, bulat bulat, oh oh, bulat bulat~"


"Hihihi~ mama lucu."


Bhara terkikik geli saat melihat mamanya menyanyikan lagu sikat gigi dari kartun kesukaannya, upin ipin. (Yang tidak tahu lagu 'bulat bulat' di atas, bisa cek di yt : 'lagu sikat gigi' xixi)


"Kalau sikat gigi tuh harus sampai bersih biar giginya gak berlubang," ucap Natasya.


Sekarang mereka sedang menggosok gigi bersama di depan wastafel kamar mandi. Natasya menggosok giginya seperti biasa, sedangkan Bhara naik di atas kursi kecil agar bisa sampai di wastafel yang lebih tinggi dari badan kecilnya itu.


Bhara meniru semua yang dilakukan oleh Natasya. Mulai dari gerakan menggosok gigi, hingga berkumur-kumur. Setelah selesai, Natasya pun mengangkat tubuh Bhara ke pinggir bak mandi.


"Tangannya ke atas dulu yuk, Sayang," titah Natasya.


Bhara menurut dan mengangkat tangannya. Natasya pun mulai melepaskan seluruh pakaian anak itu. Kemudian, Bhara langsung masuk ke dalam bak mandi yang suhu airnya sudah diatur oleh Natasya agar pas.


"Mama, bebek-bebekku mana?" tanya Bhara.


"Oh iya, mama lupa. Tunggu sebentar ya, Sayang."


Setelah itu, Natasya bergegas pergi mengambil mainan bebek karet Bhara yang masih ia simpan di dalam tas. Bebek-bebek berwarna kuning itu adalah bebek yang sama yang dibeli oleh Natasya saat Bhara tinggal di rumahnya dulu.


Tidak lama kemudian, Natasya kembali ke dalam kamar mandi sambil membawa bebek karet. Akhirnya, Bhara mandi ditemani oleh para teman bebeknya.


Begitulah acara mandi pertama Bhara di rumah barunya, acara mandinya berjalan dengan lancar. Anak yang berusia 3 tahun itu sudah bisa menggosok gigi dan mencuci muka sendiri, tapi kalau untuk mandi, masih memerlukan bantuan dari sang mama tercinta.


Ngomong-ngomong, akta kelahiran Bhara sudah dibuat. Tanggal lahirnya ditulis tanggal ditemukannya anak itu di bandara. Dan untuk tahunnya adalah tiga tahun yang lalu, jadi usia anak itu kini resmi dikatakan 3 tahun.


...----------------...


...Hai, semuanya... Apa kabar kalian?? Semoga sehat dan bahagia selalu ya 😊...


...Hari ini author akan melakukan...


...🚨 triple update lagi, yeay!!! 🚨...

__ADS_1


...Author dedikasikan triple up ini untuk para pembaca baik hati yang sudah setia membaca dan mengapresiasi novel ini. So, selamat membaca ♥♥...


__ADS_2