Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
33 : Salah Paham


__ADS_3

Keesokan harinya, keluarga besar Adikusuma melaksanakan acara sarapan bersama, termasuk Natasya, yang kini sudah menyandang marga Adikusuma, dan Bhara Putra Adikusuma. Itu adalah nama lengkap Bhara sekarang.


"Natasya," panggil Hendry.


"Iya, Ayah?" jawab Natasya.


"Mulai hari ini, kamu berangkat ke kampus sama Alan, ya," kata Hendry.


Natasya pun mengangguk, "okey, Ayah."


"Apa kamu mau berangkat sendiri aja? Nanti biar Johnathan beliin mobil buat kamu," tawar Anjani.


"Eh, tidak usah, Ibu," panik Natasya, ia merasa tidak enak sekarang, "tidak perlu repot-repot membelikanku mobil."


"Nggak repot kok, uang Johnathan kan banyak, habiskan aja uangnya, anggap kayak uangmu sendiri. Iya kan, John?" goda Anjani kepada anak sulung dan menantunya.


Johnathan terkekeh pelan, "ibu ini bisa aja, uang aku gak sebanyak itu kok."


Kemudian, dokter muda itu pun menoleh ke arah Natasya dan tersenyum, "tapi kalau kamu mau mobil, pasti bakal langsung aku beliin."


Pipi Natasya memerah malu karena ucapan suaminya. Duh! Jadi begini ya rasanya punya suami, minta apa saja pasti dituruti. Asalkan suaminya kaya, hihi.


"Wah! Pipi mama melah," seru Bhara yang dari tadi mengamati perubahan pada wajah mamanya itu.


"E-eh, Bhara, apa sih, Nak," ucap Natasya pelan, ia semakin malu karena ucapan anaknya.


Semua orang yang ada di sana, bahkan para ART yang melihat, ikut tertawa gemas karena tingkah lucu Bhara dan Natasya. Wajah Natasya yang tersipu malu membuatnya berkali-kali lipat lebih imut dan manis.


"Jadi, gimana? Kamu mau dibelikan mobil sendiri?" tanya Anjani.


Natasya menggeleng, "terima kasih, Ibu. Tapi tidak perlu, saya pergi je kampus sama Alan aja."


Alan hanya menganggukkan kepalanya setuju. Toh, memang tidak masalah kalau Natasya pergi ke kampus bersamanya.


"Astaga! Aku lupa!"


Alan yang tiba-tiba mengeluarkan suara cukup keras membuat semua orang menoleh terkejut.


"Ada apa, Al?" tanya Anjani.


"Aku ada rapat pagi buat panitia acara kampus," seri Alan, lalu menoleh ke arah Natasya, "kamu berangkat sama aku kan, Sya? Kalau gitu, kita harus cepetan berangkat sekarang."


Natasya mengangguk mantap. Ia langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas. Gadis itu jadi ikutan panik karena melihat Alan yang panik.


"Eh, eh, sarapan kalian belum habis ini!" seru Anjani.


"Aduh, Bu. Tapi Alan harus tepat waktu, bentar lagi rapatnya dimulai," kata Alan.


"Huh! Ya udah," ucap Anjani.


Nyonya besar Adikusuma sebenarnya tidak ikhlas karena anak-anaknya tidak menghabiskan sarapan. Tapi mau bagaimana lagi, Alan masih punya tanggung jawab di kampus.


Mereka pun menoleh saat mendengar derap kaki Natasya yang menuruni tangga.


"Udah siap?" tanya Alan.

__ADS_1


Natasya mengangguk, lalu menoleh ke arah anggota keluarganya yang lain.


"Ayah, Ibu, saya berangkat dulu," pamit Natasya.


"Iya, hati-hati ya, Nak," jawab Hendry.


"Nanti beli makan di kantin kalau masih lapar, ya," ucap Anjani, khas ibu-ibu sekali.


Natasya mengangguk, lalu beralih kepada anaknya, "Bhara, mama berangkat kuliah dulu, ya."


"Iya, Ma. Hati-hati, ya," ucap Bhara dengan riang.


Natasya tersenyum, "nanti jangan terlalu ngerepotin kakak pengasuh kamu, ya."


"Okey, Ma," seru Bhara sambil membuat pose hormat.


Natasya tertawa kecil, kemudian beralih kepada suaminya, "Kak John, aku berangkat dulu, ya."


Johnathan mengangguk, "hati-hati, ya."


Lalu, Johnathan mengalihkan pandangannya kepada sang adik, "Alan, jangan ngebut di jalan karena ngejar waktu, tetap hati-hati nyetirnya."


"Iya, kakak," ucap Alan jengah karena semua orang meminta mereka berhati-hati.


...----------------...


Alan dan Natasya sudah sampai di kampus dengan selamat. Mereka menjadi pusat perhatian karena turun dari mobil yang sama. Meskipun sebagian besar mahasiswa sudah tahu jika Alan dan Natasya adalah sahabat, tapi mereka belum pernah melihat mereka berdua berangkat bersama, apalagi sepagi ini.


"Aku pergi dulu ya, Sya," pamit Alan.


"Huuh~ jadwal pertama masih lama, aku enaknya ngapain ya sekarang?" gumam Natasya.


Akhirnya, mahasiswi hukum itu pun memutuskan untuk ke perpustakaan. Beruntung perpustakaan sudah buka, jadi ia bisa menghabiskan waktu di sana sebelum kuliah pertama dimulai.


Natasya memasuki perpustakaan dengan langkah tenang. Ruangan berisi buku-buku itu tampak sepi, hanya ada petugas dan satu-dua orang yang sibuk membaca di sana.


Gadis itu pun memutuskan untuk menyusuri rak buku untuk mencari buku yang menarik. Ia berjalan dari rak satu ke rak yang lainnya, tapi tidak juga menemukan buku yang membuatnya berminat. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang punggungnya.


"Kamu sekarang makin nempel sama Alan, ya?"


Natasya langsung berbalik karena terkejut. Ia semakin terkejut saat melihat Haikal yang sudah berdiri di sana.


"Maksud kamu apa?" tanya Natasya dengan alis berkerut.


"Kamu gak tau, ya? Semua orang di sini pada ngomongin kamu sama dia, Natasya," ucap Haikal, "kamu rela berangkat pagi sama Alan, padahal jadwal kuliah kamu masih lama."


"Terus, apa salahnya?" heran Natasya yang masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Kamu pacaran sama Alan?"


Natasya membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana bisa laki-laki di hadapannya ini berpikir bahwa dirinya dan Alan berkencan? Sungguh tidak masuk akal.


"Nggak tuh, aku gak pacaran sama dia," sangkal Natasya.


"Terus, apa? Jangan-jangan kamu tidur sama dia, ya?"

__ADS_1


Alis Natasya menukik tajam mendengarnya. Kenapa kakak tingkatnya ini selalu berbicara hal kotor tentang dirinya.


"Jaga omongan kamu ya! Aku gak tidur sama Alan, dan aku gak pernah tidur sama siapapun," tegas Natasya.


Gadis itu segera pergi dari sana meninggalkan Haikal. Ia sudah tidak tahan berlama-lama dengan lelaki kurang ajar itu.


...----------------...


Kuliah pertama pun selesai. Ngomong-ngomong, Alan kembali duduk di samping Natasya. Selalu bersamanya, seperti saat sebelum Alan merajuk dulu.


Drrrt... Drrrt...


Alan meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya saat merasakan ponsel itu bergetar. Ternyata, yang meneleponnya adalah sang ayah.


"Halo, Yah. Ada apa?" ucap Alan mengawali percakapan.


"Halo, Alan. Kamu udah selesai kelas, kan?" tanya Hendry.


"Udah, Yah," jawab Alan, "kenapa?"


"Kamu ke kantor ayah sekarang ya, sekalian ajak Natasya. Ayah mau ngobrol sama kalian," ucap Hendry.


Alan mengernyitkan dahinya, "mau ngobrolin apa, Yah?"


"Bukan apa-apa, Nak. Hanya obrolan keluarga biasa, biar kita semakin akrab sebagai keluarga," jawab Hendry.


Alan tertawa kecil, "aku kira mau ngobrolin apa. Oke, Yah, aku sama Natasya segera ke sana."


Natasya yang merasa namanya disebut langsung menoleh dengan tatapan bertanya. Tak lama kemudian, Alan menutup panggilannya dengan sang ayah.


"Ada apa, Al?" tanya Natasya.


Alan menoleh masih dengan senyum lebarnya, "ini, Sya, ayah minta kamu sama aku buat datang ke ruangannya sekarang. Katanya sih, mau ngobrol biar kita makin akrab sebagai keluarga."


Natasya yang mendengarnya pun juga tertawa, "astaga, aku kira ada apa. Ya udah, kita kesana sekarang, yuk."


Alan mengangguk setuju. Setelah itu, mereka berdua keluar dari kelas bersama dan menuju ruangan Hendry.


Alan dan Natasya tidak menyadari bahwa beberapa teman-temannya menguping pembicaraan mereka di belakang. Sekarang, mereka pun berkumpul dan membicarakan dua orang yang baru saja pergi itu.


"Eh, menurut kalian hubungan Alan sama Natasya itu aneh gak sih kalau cuma dibilang sahabat?" ucap seorang mahasiswa mengawali sesi perghibahan.


"Iya. Aku tahu kalau dari dulu mereka emang dekat, tapi kayaknya hari ini ada yang beda sama kedekatan mereka."


"Kalian dengar sendiri, kan? Alan ngajak Natasya buat ketemu sama ayahnya sebagai keluarga."


"Bukannya itu berarti Alan berencana buat jadiin Natasya anggota keluarganya?"


"Maksudmu, mereka bakalan nikah?!"


...----------------...


...Apresiasi dari para pembaca baik hati adalah semangat untuk author... 😊😊...


...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥♥...

__ADS_1


__ADS_2