Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
37 : Keluarga Kecil


__ADS_3

"Bharaa~~"


Natasya merengek memanggil nama anaknya dengan nada manja sesaat setelah ia memasuki rumah. Alan yang berjalan di belakangnya hanya memutar bola matanya malas.


Bhara yang masih ayik bermain dengan baby sitter-nya langsung menoleh dan dengan sigap berlari menghampiri mamanya.


"Mama kenapa?" tanya anak kecil itu.


Natasya berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bhara. Kemudian, memeluk anak itu dengan erat.


"Mama kangen sama Bhara," ucap Natasya dengan suara lemas.


Bhara hanya mengerjapkan matanya bingung. Kenapa mamanya ini bersikap aneh?


"Mama capek ya?" tanya anak itu dengan nada polos.


"Mama kamu ini terlalu dramatis, Bhara," sahut Alan.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Alan segera beranjak ke lantai atas menuju kamarnya.


"Peluk mama sebentar ya, mama butuh asupan energi dari anak mama ini," pinta Natasya.


Bhara tidak paham, tapi ia menurut saja dan memeluk mamanya dengan erat. Mama Natasya pasti lelah dengan kegiatan belajarnya, pikir Bhara.


...----------------...


Hari sudah menjelang malam, kini Natasya dan Bhara sudah berada di kamar mereka. Natasya sedang belajar untuk persiapan ujian, sedangkan Bhara sudah berguling-guling kesana kemari di atas kasur karena bosan.


"Mama," panggil Bhara.


"Hmm?"


"Mama macih lama belajalnya?" tanya anak itu.


Natasya menoleh, "kenapa? Bhara udah ngantuk, ya? Kalau gitu, Bhara tidur duluan aja, gak usah nungguin mama."


Bhara menggeleng ribut, "Bhala belum ngantuk, Ma. Bhala bocan, ndak ada teman main," keluh anak itu.


Natasya menghela napas panjang. Ia kasihan dengan Bhara, anak kecil itu pasti bosan karena diabaikan terus dari tadi. Tapi Natasya juga masih harus belajar, ia tidak boleh gagal saat ujian nanti. Akhirnya, muncul ide di otak cerdas gadis itu.


"Bhara mau main sama papa dulu gak?" tawar Natasya.


Biasanya, Bhara juga pergi ke kamar papanya untuk bermain. Kalau sudah waktunya tidur, baru dijemput oleh Natasya untuk tidur bersamanya. Bhara tidak bisa tidur kalau tidak dengan mamanya. Hmm... Padahal dulu di panti asuhan, hidup anak itu lancar-lancar saja tanpa ada Natasya.


"Mau, Ma!" seru Bhara.


Natasya tersenyum senang, lalu berdiri dan mengulurkan tangan kepada anaknya. Bhara turun dari kasur dan menyambut uluran tangan mamanya. Mereka pun bergandengan tangan dan pergi menuju kamar Johnathan.


...----------------...


Tok... Tok... Tok...


Johnathan yang sedang membaca laporan medis salah satu pasiennya langsung menoleh saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia sudah hafal siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini, itu pasti anaknya.


Pria itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu.


Cklek


Setelah pintu terbuka, tampak Natasya dan Bhara yang sudah berdiri di sana sambil tersenyum lebar. Johnathan terkekeh pelan melihat tingkah istri dan anaknya itu.

__ADS_1


"Ayo masuk," ajak Johnathan.


Johnathan mempersilahkan anak dan istrinya untuk masuk, tapi Natasya menolak.


"Aku ke sini cuma mau ngantar Bhara aja, Kak John," sahut Natasya.


"Oh, gitu, ya."


Entah ini hanya perasaan Natasya saja atau memang benar-benar terjadi, tapi gadis itu mendengar ada sedikit nada kecewa dalam ucapan Johnathan.


"Eum... Kalau gitu, aku mau balik dulu ke kamar," pamit Natasya.


Setelah Johnathan menganggukkan kepalanya, gadis itu langsung pergi ke kamarnya. Johnathan hanya menghela napas lelah memandang punggung Natasya yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.


"Papa...," panggil Bhara.


Karena sibuk memperhatikan istrinya, Johnathan sampai lupa kalau sejak tadi, Bhara masih menunggu di depan pintu.


Johnathan menunduk untuk melihat anaknya, "eh, iya, Sayang. Ayo masuk."


Setelah itu, Johnathan pun mempersilahkan anaknya untuk masuk ke kamarnya. Bhara langsung berlari dengan semangat dan melompat ke atas kasur papanya itu.


"Bhara kok belum tidur sih? Ini sudah malam lho," ucap Johnathan ikut mendudukkan diri di pinggir kasur.


"Bhala belum ngantuk, Pa," jawab anak itu.


Johnathan tertawa kecil melihat anaknya itu. Lalu, ia pun menyandarkan tubuhnya ke headboard.


"Mama ndak mau main cama Bhala, cibuk belajal teluc," dumal anak itu.


Johnathan kembali tertawa melihat anaknya yang kesal dengan Natasya.


Bhara hanya diam mendengar penjelasan papanya. Anak itu tahu bahwa penting untuk mamanya belajar, tapi ia tetap kesal karena diabaikan.


Melihat anaknya yang masih cemberut, Johnathan berinisiatif untuk terus mengajaknya berbicara.


"Bhara," panggil Johnathan, "Bhara mau pergi liburan gak?"


Wajah anak itu langsung bersemangat, "mauu!! Kapan, Pa?"


"Setelah mama selesai ujian," jawab Johnathan, "nanti kita bisa pergi bersama-sama."


"Waah~ Bhala mau, Pa! Mama kapan celecai ujian?" tanya anak kecil yang masih bersikap antusias itu.


Johnathan tertawa kecil mendengarnya. Ujiannya saja belum dimulai, sudah tanya kapan selesainya. Dasar anak kecil.


"Hmm... Mungkin sekitar tiga minggu lagi," jawab Johnathan yang sebenarnya tidak terlalu yakin.


"Tiga minggu itu, macih lama atau ndak?" tanya Bhara dengan nada polos.


Johnathan terkekeh pelan, "yaa... Bisa terasa lama, bisa juga terasa sebentar. Tergantung kamu pakai untuk apa waktu kamu selama menunggu tiga minggu itu datang."


Bhara hanya manggut-manggut, meskipun ia tidak paham dengan jawaban papanya. Jadi, tiga minggu itu lama atau tidak? Duh, ucapan papanya itu memang terlalu sulit dimengerti.


"Bhara mau tidur sama papa malam ini?" tanya Johnathan.


Bhara menggeleng, "ndak mau, Bhala tetap mau tidul cama mama nanti."


Lagi-lagi, Johnathan hanya bisa menghela napas kecewa. Padahal, ia ingin sekali tidur bersama anaknya ini. Namun, tiba-tiba saja, ia memikirkan sebuah ide yang sangat cemerlang.

__ADS_1


"Bhara," panggil Johnathan.


Anak itu menoleh dengan tatapan polos. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh papanya itu.


"Gimana kalau kita ajak mama tidur bersama-sama di kamar papa?"


"Wah! Ide baguc, Pa! Acyiik! Bica tidul cama mama cama papa!" seru Bhara dengan semangat.


Johnathan tertawa melihat Bhara yang senang dengan idenya. Sepertinya, semenjak kehadiran Bhara dan Natasya, Johnathan semakin sering tertawa ya.


...----------------...


Tok... Tok... Tok...


Natasya menoleh saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Apakah yang mengetuk pintunya adalah Bhara yang sudah ingin tidur?


"Apa anak itu udah ngantuk, ya?" gumam Natasya.


Gadis itu segera menuju pintu dan membukanya. Dan benar saja, ternyata itu adalah Bhara yang sedang digendong oleh Johnathan. Tapi sepertinya anak itu belum mengantuk.


"Loh, kok cepat banget balik ke kamar. Bhara udah mau tidur, ya?" tanya Natasya.


Bhara tidak langsung menjawab. Anak itu menoleh ke arah papanya dulu dan saling melempar isyarat.


"Mama," panggil Bhara, "Bhala cama papa ke cini mau jemput mama."


Natasya mengernyitkan dahinya bingung, "jemput mama? Memangnya kita mau kemana?"


Bhara tersenyum, lalu berucap dengan riang, "kita mau tidul belcama di kamal papa!"


"Eh?!"


Natasya cukup terkejut dengan ajakan anaknya itu.


"Bhara," Natasya melirik ke arah Johnathan canggung, "Bhara kalau mau tidur sama papa gak apa-apa kok, mama biar tidur sendiri aja."


Wajah Bhara pun meredup mendengar jawaban Natasya, "tapi kan Bhala tetap mau tidul cama mama."


Natasya semakin bingung. Masa dirinya harus tidur bersama Johnathan juga? Ia merasa tidak enak dengan suaminya itu. Duh! Andai kamu tahu Natasya, padahal yang menyuruh Bhara seperti itu juga suami kamu sendiri.


"Gak apa-apa, Natasya," ucap Johnathan, "turuti aja kemauan Bhara, daripada nanti dia rewel, kamu juga yang susah."


Natasya melihat wajah Bhara yang sudah murung. Mau tidak mau, ia pun menuruti keinginan Bhara (dan Johnathan) untuk tidur di kamar pria itu.


Berakhirlah malam ini dengan mereka bertiga tidur bersama. Dengan Bhara yang berada di tengah-tengah mama dan papanya. Sepanjang malam, Natasya merasa malu, ia masih canggung untuk tidur bersama Johnathan. Berbeda dengan Johnathan, senyum pria itu tidak hilang. Akhirnya, kasurnya ada yang menempati selain dirinya.


...----------------...



(Senyum manis Bhara saat Johnathan membuka pintu kamarnya.)



(Senyum manis Mama Natasya saat Johnathan membuka pintu kamarnya.)



(Senyum manis Papa Johnathan saat melihat keimutan anak dan istrinya.)

__ADS_1


__ADS_2