Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
63 : Terguncang


__ADS_3

Natasya berjalan melalui Johnathan dan Alan dengan tatapan datar mengarah ke depan. Perempuan itu tampak tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Ia bahkan sama sekali tidak melirik suaminya yang Tengah menatapnya khawatir, bahkan ia juga tidak melihat ke arah putra kesayangannya sama sekali.


Kini, Natasya sudah duduk di dalam mobil polisi, dengan seorang polisi wanita yang duduk di sebelahnya. Mobil itu mulai berjalan menuju kantor polisi Jakarta Selatan.


Di tengah perjalanan, polisi wanita itu bergerak untuk membuka kunci borgol di tangan Natasya.


“Untuk apa anda membuka borgol ini?” tanya Natasya dengan nada datarnya.


Polisi itu mengernyitkan dahinya heran, “perjalanan akan memakan waktu cukup lama, dan borgol ini bisa membuat tangan anda lecet, Nona Natasya.”


Natasya berdecih pelan, “memangnya kenapa? Seorang pembunuh memang harus diperlakukan seperti itu, kan?”


Polisi wanita itu menghela napas Panjang dan menatap miris Natasya. Menantu keluarga Adikusuma itu sejak tadi menganggap dirinya sendiri adalah seorang pembunuh, bahkan Natasya sendiri yang menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol.


Mental Perempuan tegar itu saat ini sedang terguncang. Bayangkan saja, seseorang mati di tanganmu, kau tidak mungkin akan baik-baik saja, bukan?


...----------------...


Sementara itu, mobil polisi yang ditumpangi oleh Johnathan dan Alan berada tepat di belakang mobil Natasya. Johnathan duduk di bangku belakang sambil memangku tubuh lemas Bhara yang kini sedang terlelap.


“Kak John…,” panggil Alan membuat Johnathan menoleh, “tenanglah… semuanya pasti baik-baik saja.”


“Bagaimana aku bisa tenang jika istriku terancam dipenjara lagi?” lirih Johnathan frustrasi.


Komandan polisi yang duduk di bangku depan langsung menyahut, “istri anda tidak akan dipenjara, Tuan Johnathan.”


Johnathan dan Alan langsung menoleh.


“Bagaimanapun juga, istri anda adalah korban. Pengadilan pasti bisa menilai bahwa tindakan yang istri anda lakukan adalah sebuah bentuk pembelaan diri,” imbuh sang komandan.


“Tapi… ada hal lain yang harus lebih anda perhatikan,” ucap komandan itu membuat Johnathan mengernyitkan dahinya, “… kondisi mental istri anda… sepertinya terguncang cukup parah.”


...----------------...


Natasya tiba di kantor polisi Jakarta Selatan pada malam hari. Dirinya ditempatkan di dalam sel yang cukup besar, berisi sebuah kasur kecil dan beberapa perabotan lainnya. Lebih manusiawi daripada sel yang pernah ia tempati dulu.


Namun, tampaknya Natasya tidak bereaksi dengan apapun yang terjadi sekarang. Perempuan itu hanya diam dengan tatapan kosong saat dibawa masuk ke dalam sel.

__ADS_1


Perempuan itu bahkan mengabaikan keributan yang terjadi di depan kantor polisi.


“Tolong biarkan saya menemui istri saya sebentar!” ucap Johnathan yang berusaha masuk ke dalam ruang tahanan sementara.


“Maaf, Tuan. Ini sudah terlalu malam. Jam kunjung sudah berakhir,” kata seorang petugas polisi yang berusaha menghalangi Johnathan.


“Sebentar saja!” Johnathan masih berusaha untuk menerobos para polisi yang menghalanginya.


“Kak… Kak John! Tenanglah dulu!” Alan berusaha untuk memegangi tubuh kakaknya agar tidak bersikap keras kepala.


“Tidak! Biarkan aku bertemu istriku!” seru Johnathan yang masih bersikeras untuk menemui Natasya.


“HENTIKAN!” bentak komandan polisi membuat semua orang terdiam dan menoleh.


Pria yang memiliki pangkat tinggi itu baru saja menemui Hendry dan Anjani yang menunggu di luar kantor polisi sambil menjaga cucu tersayang mereka.


“Biarkan Tuan Johnathan menemui istrinya,” perintah komandan polisi kepada para bawahannya.


“Tapi, komandan, jam kunjung sudah berakhir,” jawab salah satu petugas polisi.


“Tidak ada bantahan! Biarkan Tuan Johnathan masuk!” seru komandan itu.


Sorot mata kosong yang bahkan tidak menyadari kehadirannya itu membuat hati Johnathan terasa perih. Istrinya itu benar-benar terpukul atas kejadian yang sebenarnya bukan kesalahan Perempuan itu.


Johnathan berdiri di luar jeruji besi itu. Polisi yang tadi mengantarnya pun langsung pergi untuk memberikan suami-istri itu privasi.


“Sayang…,” panggil Johnathan dengan nada yang amat sangat lembut.


Natasya mengabaikan panggilan itu, atau lebih tepatnya tidak mendengarnya. Pikirannya saat ini sedang melayang entah kemana. Dan hal itu mampu membuat bahu Johnathan merosot.


“Natasya…, ini saya…,” panggil Johnathan sekali lagi.


Senyum Johnathan perlahan mengembang saat Natasya merespon panggilannya. Perempuan itu menoleh dengan tatapan sendu.


“Dokter…,” lirih Natasya.


Johnathan mengangguk pelan, “iya, Natasya, ini saya, suami kamu. Kamu dan anak kita sudah aman sekarang.”

__ADS_1


Natasya beranjak dari duduknya dan berjalan pelan mendekati suaminya. Ketika sudah berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, Johnathan langsung mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi sang istri. Andaikan tidak ada jeruji besi yang menghalangi, ia pasti sudah mendekap tubuh ringkih istrinya itu.


“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Johnathan sambil menyalurkan kehangatan melalui usapan di pipi Natasya.


Natasya tersenyum simpul, “bagaimana saya bisa baik-baik saja… setelah tangan saya baru saja menghilangkan nyawa seseorang…”


“Ssstt… hei, jangan bilang begitu,” sahut Johnathan sambil menangkup kedua pipi istrinya, “apa yang telah terjadi… semua ini bukan salah kamu, Natasya.”


“Bagaimana bisa ini buk—”


“Dengarkan saya dulu!” sahut Johnathan saat Natasya mulai panik dan menyela perkataannya.


Pria itu tidak bermaksud untuk membentak sang istri. Namun, ia harus tegas dan tidak boleh membiarkan Natasya tenggelam dalam pikirannya yang selalu menyalahkan diri sendiri.


“Dengarkan saya, Natasya,” ucap Johnathan dengan nada yang lebih lembut, “jangan salahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi pada Haikal hari ini. Kamu melakukannya untuk melindungi dirimu sendiri dan juga anak kita, Bhara.”


Natasya terus menyimak semua ucapan suaminya.


“Kamu tidak ingin Bhara celaka, bukan?” tanya Johnathan yang dibalas dengan gelengan pelan Natasya.


Johnathan tersenyum lembut, “maka, apa yang kamu lakukan hari ini sudah tepat. Fokus saja dengan fakta bahwa kamu telah menyelamatkan putra kesayangan kita.”


Air mata Natasya menetes perlahan, lalu ia berucap pelan, “apakah saya benar-benar tidak bersalah?”


Johnathan mengangguk mantap, “iya! Kamu tidak bersalah! Dan saya bangga karena kamu telah melakukan hal berani untuk melindungi nyawa anak kita. Saya bangga memiliki istri seperti kamu.”


Natasya tersenyum kecil mendengar ucapan Johnathan. Dalam hati, ia bersyukur karena memiliki seorang suami yang tulus berada di sisinya.


Kali ini, Natasya akan berusaha keras menjaga kewarasannya. Ia harus tetap menyadari bahwa kematian Haikal bukanlah kesalahannya. Dan ia memang tidak seharusnya disalahkan.


...----------------...


Halo para pembaca baik hati... ♥♥


Lama banget yaa digantung sama author huhu... Author udah ilang berapa lama nih??? Xixixi...


Maaf ya guys... Author sibuk sama kuliah dan kondisi kesehatan juga memburuk 😭😭

__ADS_1


Tapi mulai hari ini, author bakal rajin up lagi... Yeay!!!


__ADS_2