
Hari sudah sore, kediaman Adikusuma saat ini tampak sepi. Hmm... Sebenarnya tidak bisa dibilang sepi juga sih, karena setiap saat pasti ada banyak yang berlalu lalang, entah itu ART, baby sitter Bhara, juru masak, ataupun tukang kebun.
Tapi hari ini, para penyandang marga Adikusuma tidak ada di rumah. Anjani dan Johnathan masih bekerja di rumah sakit, Hendry masih bekerja di firma hukumnya, sedangkan Alan masih ada urusan kepanitiaan di kampus.
Hanya ada Natasya dan Bhara yang sedang bermain di taman bunga yang ada di halaman belakang rumah.
"Hihi~ Mama! Ayo tangkap Bhala kalau bisa!" anak itu terus berlari menghindari kejaran mamanya.
"Awas ya kamu kalau kena, mama bakal uyel-uyel pipi kamu," ancam Natasya.
Mereka pun lanjut kejar-kejaran di taman. Suara tawa Bhara terdengar ke seluruh penjuru rumah. Para pegawai di sana ikut merasa senang karena tawa lucu anak itu.
"Naah! Kena kamu!" seru Natasya saat berhasil menangkap tubuh anaknya.
"Rasakan ini, Bocah tengil!" Natasya langsung menggelitiki seluruh tubuh Bhara.
"Ahahaha! Mama! Haha! Cudah, Ma! Cudah!" seru Bhara sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa geli.
"Hahaha! Kenapa? Bhara geli, ya?" tanya Natasya tanpa menghentikan gelitikannya.
"Iya, Ma! Ahahaha! Aduh! Cudaah!" Bhara terus saja tertawa hingga mengeluarkan air mata.
Natasya menghentikan gelitikannya setelah melihat Bhara sudah kelelahan karena banyak tertawa. Mereka kini sudah duduk di atas rerumputan.
"Hah~ hah~ Bhala capek cekali, Ma," ucap Bhara dengan napas terengah-engah.
Natasya terkekeh pelan. Ia memeluk tubuh anaknya dengan gemas. Hanya sebentar, lalu Natasya melepas pelukannya dan menatap wajah Bhara yang memerah.
"Hehe... Maafin mama ya, Sayang. Kamu gemesin banget sih, mama kan jadi gak tahan buat gelitikin kamu," ucap Natasya dengan nada bercanda.
Mama dan anak itu tidak menyadari kalau sejak tadi sudah ada yang memperhatikan mereka. Dan orang itu adalah Johnathan. Pria itu baru saja pulang, lalu diberi tahu oleh salah satu ART kalau anak dan istrinya sedang bermain di taman.
Setelah sampai di taman, Johnathan disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Interaksi dari istri dan anaknya sangatlah menyenangkan untuk dilihat.
"Papa!!"
Bhara yang pertama kali menyadari kehadiran papanya langsung berlari menghampiri pria tinggi itu. Natasya baru sadar kalau suaminya itu ternyata berada di sana.
"Ugh! Hai, Jagoan papa!" ucap Johnathan sambil mengangkat tubuh Bhara untuk ia gendong.
Natasya pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri papa dan anak itu.
__ADS_1
"Kak Johnathan udah pulang dari tadi?" tanya Natasya.
"Nggak, Natasya. Aku baru aja sampai di rumah," jawab Johnathan.
Natasya hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Ayo masuk rumah, langitnya udah mulai gelap nih," ajak Johnathan.
Mereka pun memasuki rumah bersama. Natasya tidak melihat kehadiran anggota keluarganya yang lain.
"Eum... Kak John," panggil Natasya membuat Johnathan menoleh, "ibu sama yang lain belum pulang?"
"Ibu masih ada kerjaan tadi, kalau ayah dan Alan pasti masih ada urusan juga," jawab Johnathan.
Itu berarti anggota keluarganya yang lain belum pulang. Hanya ada Natasya, Johnathan, Bhara, dan para pekerja.
"Papa," panggil Bhara.
Johnathan menunduk untuk menatap wajah Bhara yang sedang ia gendong.
"Bhala mau tulun," ucap anak itu.
Johnathan tertawa kecil, lalu menurunkan anaknya itu. Saat telapak kakinya menginjak lantai, Bhara langsung berlari menuju dapur. Anak itu menghampiri para ART di sana dan mulai bermain, atau lebih tepatnya mengganggu mereka.
Johnathan terkekeh, kemudian menoleh ke arah istrinya, "Natasya."
Natasya menoleh, "iya, Kak John?"
"Eum...," gumam Johnathan sebelum mengutarakan isi pikirannya, "besok kan hari libur, aku juga kebetulan gak ada jadwal di rumah sakit."
Natasya hanya diam menyimak ucapan Johnathan.
"Gimana kalau kita...," Johnathan menjeda ucapannya, "berkunjung ke makam orang tua kamu."
Natasya terdiam mendengar ucapan Johnathan. Ia tidak pernah berpikir bahwa suaminya ini akan mengajaknya pergi mengunjungi orang tuanya duluan.
"Aku pengen menyapa orang tua kamu," ucap Johnathan.
Menurut orang lain, mungkin ucapan Johnathan terdengar biasa saja. Tapi menurut Natasya, ajakan Johnathan untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya sangat menyentuh hatinya. Suaminya itu masih menghormati sang mertua yang sudah tidak ada lagi di dunia.
...----------------...
__ADS_1
Sesuai perkataan Johnathan kemarin, kini Johnathan dan sang istri, Natasya, sudah berdiri di hadapan dua batu nisan milik orang tua Natasya.
Natasya bersimpuh di tengah-tengah makam kedua orang tuanya. Johnathan juga ikut bersimpuh di sebelah istrinya.
"Papa..., Mama...," lirih gadis itu sambil menahan tangisnya.
Ia tidak pernah terbiasa dengan kepergian orang tuanya dengan cara yang mengerikan. Natasya tidak akan pernah lupa bagaimana dirinya dulu pergi ke rumah sakit untuk menemui papa dan mamanya yang sudah terbujur kaku di kamar jenazah.
"Aku kangen banget sama papa dan mama..."
Air mata Natasya tidak bisa dibendung lagi, tangisan gadis itu sudah pecah sekarang.
"Hiks...," gadis itu kesulitan berucap karena isak tangisnya, "aku hidup dengan baik, Pa, Ma. Aku udah punya keluarga yang sayang banget sama aku."
Natasya mengusap air matanya, ia berusaha untuk tersenyum di hadapan orang tuanya.
"Aku juga udah punya anak yang lucu sekarang, cucu kalian, namanya Bhara. Tapi maaf, aku belum bisa ajak Bhara ke sini buat ketemu sama kalian," lirih Natasya.
Johnathan hanya bisa menatap istrinya yang sedang menangis, tapi berusaha untuk tetap tersenyum saat bercerita dengan makam kedua orang tuanya.
"Aku sayang sama papa dan mama," ucap Natasya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, tangis Natasya kembali pecah. Johnathan langsung memeluk tubuh istrinya itu, tangannya mengusap pelan punggung perempuan di dekapannya itu agar lebih tenang.
Beberapa menit mereka berpelukan, Natasya pun menarik dirinya agar terlepas dari pelukan Johnathan. Gadis itu menatap mata suaminya yang dibalas dengan tatapan hangat oleh pria itu.
"Aku mau bicara sebentar sama orang tua kamu," ucap Johnathan meminta izin kepada Natasya.
Natasya hanya mengangguk pelan. Lalu, mereka berdua mengalihkan pandangan kembali ke arah makam. Johnathan mengarahkan kepala Natasya agar gadis itu bersandar pada bahunya. Natasya sama sekali tidak menolak, gadis itu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu lebar milik sang suami.
"Selamat pagi, Papa... Mama...," ucap Johnathan sambil terus mengusap surai hitam Natasya yang berada di bahu kirinya.
"Perkenalkan, saya Johnathan Adikusuma, suami dari putri kesayangan kalian. Maaf karena pernikahan kami tidak seperti pernikahan impian pada umumnya," lirih Johnathan.
"Meskipun begitu, saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk putri kalian dan papa yang baik untuk cucu kalian. Saya akan berusaha membuat Natasya terus bahagia."
Natasya tersenyum lembut mendengar penuturan suaminya. Walaupun tidak ada cinta di antara mereka, tapi ia bisa merasakan bahwa Johnathan tidak menganggap pernikahan mereka adalah permainan. Natasya berharap ia bisa menjalani kehidupan rumah tangganya dengan penuh kasih sayang.
...----------------...
...Maaf ya... Author hari ini telat update T_T...
__ADS_1
...♥ Selamat Membaca ♥...