Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
61 : Upaya Kabur


__ADS_3

Warning : Kekerasan! Senjata api!


“Hiks… mama… ayo kita pulang,” lirih Bhara.


Natasya mengangguk sambil menangis tanpa suara. Perempuan itu terus mendekap tubuh mungil anaknya yang bergetar ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan betapa takutnya anak kecil itu Ketika dikurung selama berjam-jam di ruangan ini sendirian.


Perempuan itu menarik dirinya untuk melepas pelukannya terhadapa Bhara. Ia pun memegangi kedua sisi tubuh anaknya itu dan menatap kedua manik mata Bhara.


“Bhara tenang, ya. Bhara harus menuruti semua perkataan mama agar kitab isa keluar dari sini,” ucap Natasya memberi instruksi kepada sang anak.


Bhara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tanpa disuruh pun, ia pasti akan menuruti segala perintah sang mama.


Natasya tersenyum kecil, “pintar! Mama akan segera mengeluarkan kamu dari sini. Kita akan berkumpul dengan papa lagi.”


“Tidak akan ada yang keluar dari tempat ini.”


Deg!


Tubuh Natasya menegang saat mendengar suara dingin Haikal di belakangnya. Sedangkan Bhara sudah menatap takut orang yang berdiri di belakang mamanya.


Natasya memutar tubuhnya perlahan sambil meneguk ludah kasar. Matanya membelalak terkejut saat melihat Haikal sudah berdiri di ambang pintu bersama dengan seorang anak buahnya yang lain.


Dan yang membuat Natasya semakin terkejut adalah benda yang dipegang oleh Haikal. Laki-laki itu menodongkan pistol ke arahnya dan Bhara.


Perlahan-lahan, Natasya menggeser tubuh Bhara agar bersembunyi di balik tubuhnya sendiri. Setidaknya, ia bisa menjadi perisai untuk anaknya kalau laki-laki gila di hadapannya itu nekat melepas tembakan.


“Bhara, tutup mata kamu dan jangan pernah membuka mata apapun yang terjadi, sebelum mama sendiri yang memintanya,” bisik Natasya kepada anaknya.


Bhara langsung menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajah di sana agar tidak bisa melihat apapun yang terjadi, sesuai dengan perintah mamanya.


Haikal tersenyum miring menyaksikan hal itu, “Natasya… padahal aku sudah berlaku baik kepadamu… tapi apa balasan yang aku dapatkan? Pukulan menyakitkan darimu? Astaga! Kamu ini kenapa keras kepala sekali sih?”


Natasya menatap tajam Haikal yang terus menodongkan pistol itu, “jangan lukai anakku.”


Haikal terkekeh pelan, “lalu, siapa lagi yang akan aku lukai jika bukan anakmu? Tidak mungkin aku menyakiti dirimu, Sayang.”


Natasya hanya diam dan menelan ludahnya kasar. Ia sangat ingin mengumpati laki-laki gila di depannya itu, tapi tidak bisa. Dalam kondisi pistol yang tertodong kepadanya, ia tidak boleh bertindak gegabah.


“A-apa maumu?” tanya Natasya hati-hati.


Haikal mengedikkan bahunya dan berucap santai, “mudah saja…”


“… turuti saja semua perintahku, dan ikut denganku sekarang juga.”


“Dan kamu akan membebaskan anakku?” tanya Natasya memastikan.


“Ya, tentu saja. Itu memang kesepakatan kita dari awal,” ucap Haikal dengan yakin, “kamu bersedia hidup bersamaku, lalu aku akan mengembalikan anak itu kepada keluarganya. Semudah itu, Natasya.”


“Apa yang akan terjadi jika… aku tidak mau?” tanya Natasya.


Haikal terkekeh pelan, “kamu masih bertanya juga, huh? Tentu saja pelatuk ini akan segera kutarik jika kamu berani bilang ‘tidak’.”

__ADS_1


Tentu saja, Natasya tidak punya pilihan lain. Dirinya harus mau menuruti segala ucapan Haikal agar anaknya bisa selamat.


“Baiklah…,” lirih Natasya, “…aku akan ikut denganmu.”


“Bagus!” seru Haikal yang merasa sudah menang, laki-laki itu menurunkan todongan pistolnya, “pilihan yang tepat, Natasya! Tenang saja, aku berjanji, hidupmu akan Bahagia bersamaku.”


Natasya melirik ke arah anaknya yang masih memeluk kedua lutut mungilnya, tanpa berniat untuk mendongakkan kepala sedikit pun. Dalam hati, Natasya tersenyum kecil karena Bhara sangat patuh kepada perintahnya.


‘Tetap tutup mata kamu, Nak… Ini belum saatnya,' batin Natasya seolah-olah Bhara bisa mendengar suara hatinya.


Haikal memberikan instruksi kepada anak buahnya agar membawa Natasya mendekat kepadanya. Kemudian, anak buah Haikal yang merupakan seorang pria berbadan besar itu pun berjalan mendekati Natasya yang masih duduk berlutut.


“Ayo bangun!” ucap pria itu dengan suara rendahnya.


Pria itu mengulurkan tangan hendak menarik lengan Natasya untuk bangun. Begitu juga Natasya, ia pun mengulurkan tangannya hendak menyambut tangan pria itu. Tunggu dulu! Sepertinya bukan itu tujuan Natasya mengangkat tangannya.


Srett!


“Jangan mendekat!”


Natasya bergerak dengan sangat gesit mengambil pistol yang ada di saku anak buah Haikal. Perempuan itu langsung berdiri dan mengarahkan pistol itu kepada Haikal dan anak buahnya secara bergantian.


Haikal dan anak buahnya langsung menjadi tegang dan tidak berani mendekat, Natasya bisa menembak mereka kapanpun juga.


“Jangan mendekat atau kuhabisi kalian semua!” ancam Natasya.


Haikal dan anak buahnya itu saling melempar pandangan was-was.


Natasya menoleh dan menatap tajam Haikal, sambil tetap mendongkan pistolnya kepada laki-laki itu.


“Padahal aku benar-benar mencintaimu… tapi kenapa balasanmu sangat menyedihkan?” lirih Haikal memasang wajah terluka.


“Cih! Berhenti mengatakan cinta! Laki-laki seperti kamu itu tidak tahu cara mencintai dengan benar!” sinis Natasya.


Haikal berusaha memutar otak untuk mencegah Natasya menarik pelatuk pistol itu. Bagaimanapun juga, Natasya adalah seseorang yang profesional di bidang menembak.


“Apa kamu akan membunuhku, Natasya?” tanya Haikal.


Natasya mengeratkan genggamannya pada pistol tersebut, “tentu saja! Jika kamu tidak mau membebaskanku dari sini, maka aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


Haikal tersenyum miring, “lalu, apa bedanya kamu denganku, Natasya? Kalau begitu, kita sama-sama seorang kriminal.”


“Jangan samakan aku denganmu! Aku berusaha melindungi diri darimu! Sedangkan kamu… kamu adalah kriminal yang sesungguhnya!” geram Natasya.


“Benarkah itu?” ucap Haikal dengan nada remeh, “kalau kamu menembakku, bukankah kamu akan menjadi pembunuh?”


Natasya mengeraskan rahangnya, ia sangat geram dengan ucapan Haikal.


“Aku bukan pembunuh,” geram Natasya.


Haikal tertawa remeh, “tentu saja kamu bukan pembunuh, Natasya! Aku berani bertaruh, kamu tidak akan berani menarik pelatuk itu.”

__ADS_1


Natasya tersenyum miring, “oh ya? Pistol ini sudah mengarah tepat pada jantungmu, Haikal. Sekali kutarik pelatuknya, maka nyawamu akan benar-benar melayang. Jangan coba-coba memprovokasiku.”


“Sekarang, cepat serahkan pistolmu kepadaku!” perintah Natasya.


Haikal menggeleng santai, “tidak akan.”


Alis Natasya menukik tajam. Laki-laki itu benar-benar gila. Sudah ditodong dengan pistol, masih berani melawan juga.


Tentu saja, karena Haikal memang sedang berusaha memprovokasi Natasya agar Perempuan itu fokus padanya. Natasya bahkan tidak sadar, jika anak buah Haikal sudah berjalan pelan mendekati dirinya.


Brugh!


“Akh!”


Tiba-tiba, anak buah Haikal menerjang tubuh Natasya hingga tubuh mereka berdua sama-sama terjatuh. Pistol di genggaman Natasya juga ikut terlepas.


“Kena kamu!” seru anak buah Haikal.


Masih dalam posisi tergeletak, pria bertubuh besar itu memiting tubuh kecil Natasya agar tidak bisa bergerak.


“Lepas!” seru Natasya.


Perempuan itu terus berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya agar bisa terlepas. Tapi tetap saja, tenaganya kalah jauh dengan pria itu.


“Mama…”


Natasya menoleh ke arah Bhara yang sudah melihat Natasya sambil menangis. Anak itu membuka matanya karena mendengar suara tubuh mamanya yang jatuh ke lantai.


“Bhara! Tutup mata kamu, Nak! Jangan membuka mata, apapun yang terjadi!” perintah Natasya.


Dengan berat hati, Bhara kembali menutup menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.


“Lepaskan aku!” berontak Natasya.


“Diam!” bentak si anak buah itu.


Natasya terus berusaha memukuli tangan kekar yang sedang memitingnya itu. Sesekali matanya melirik ke arah pistol yang tergeletak di lantai tidak jauh dari posisinya.


“Ugh!! Lepaska—”


Mata Natasya membelalak lebar Ketika melihat Haikal mengangkat pistolnya perlahan ke arah tubuh kecil sang anak. Wajah laki-laki itu tampak marah dan sepertinya sungguh-sungguh berniat untuk menarik pistol di tangannya.


“Tidak!!!”


DOR!!!


...----------------...


Huwaaa... Siapa yang kena tembak?!!! 😭😭


Kalian tim happy ending or sad ending?? 😈

__ADS_1


__ADS_2