Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
44 : Cinta


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, Natasya baru saja menidurkan Bhara. Ngomong-ngomong, mereka bertiga, eum... maksudnya Johnathan, Natasya, dan Bhara tidur di kasur yang sama sekamar. Johnathan harus menahan keinginannya dulu untuk memberikan kamar sendiri kepada Bhara. Hei! Anak itu masih berusia 3 tahun, belum berani tidur sendiri dan masih butuh mamanya.


Natasya menepuk-nepuk pelan perut Bhara agar anak itu tidur pulas. Beruntung hari ini Bhara terus berada di kamar kakeknya dan tidak bertemu dengan Sabrina.


Johnathan masih berada di ruang keluarga bersama dengan anggota keluarga yang lain untuk membahas masalah tentang Sabrina. Entah apa yang mereka bicarakan, Natasya tidak ingin ikut kali ini, ia sudah lelah memikirkan tentang wanita itu.


Cklek


Johnathan memasuki kamar dengan wajah lelah. Tentu saja, semua orang pasti lelah dengan apa yang terjadi hari ini.


"Bhara udah tidur?" tanya Johnathan kepada istrinya.


Natasya menoleh, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum. Johnathan duduk di sofa kamarnya, lalu menepuk tempat di sebelahnya agar Natasya ikut duduk di sana.


Sebagai istri yang berbakti, Natasya pun menurut dan menghampiri suaminya. Setelah duduk di sebelah Johnathan, Natasya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Maaf ya, aku udah bikin kamu khawatir tadi," ucap Johnathan sambil mengusap lembut pucuk kepala Natasya.


Alan tadi memberitahunya kalau Natasya sangat khawatir saat mengetahui bahwa dirinya pergi bersama Sabrina.


"Gak apa-apa," balas Natasya.


"Natasya," panggil Johnathan, "menurut kamu, apa Sabrina jujur tentang dirinya yang juga menjadi korban kekerasan dari mantan suaminya?"


Natasya berpikir sebentar, "eum... Aku masih belum yakin. Gimana sama pendapat ayah dan Alan?"


Johnathan menghela napas panjang, "mereka semua gak ada yang percaya sama Sabrina. Ayah, Ibu, dan Alan tetap yakin kalau Sabrina berbohong."


"Terus, gimana sama pendapat Kak John sendiri?" tanya Natasya sambil mendongak, menatap Johnathan penuh harap.


Johnathan menunduk untuk menatap mata Natasya, lalu menggeleng pelan, "sebenarnya aku juga gak percaya sama Sabrina sepenuhnya, Natasya."


"Tapi juga berpikir kalau... Ada kemungkinan Sabrina ngomong yang sebenarnya," imbuh Johnathan.


Natasya mengarahkan pandangannya ke depan, masih dengan kepala bersandar di bahu Johnathan.


"Kak John, boleh gak aku kasih pendapat?" tanya Natasya.


Johnathan terkekeh pelan, lalu mencubit pipi Natasya pelan, "ya boleh dong. Kan tadi aku duluan yang tanya pendapat kamu, tapi kamu malah tanya balik ke aku."


Natasya ikut tertawa kecil, lalu menghela napas bersiap untuk berbicara, "aku gak bisa langsung ambil kesimpulan apakah ucapan Sabrina itu jujur atau bohong. Tapi, sekalipun ia jujur kalau dirinya adalah korban kekerasan dari mantan suaminya, itu tetap gak menutup kemungkinan kalau dia ngelakuin kekerasan yang sama ke Bhara."

__ADS_1


"Korban juga bisa menjadi pelaku disaat yang bersamaan," imbuh Natasya.


Johnathan mengangguk setuju dengan ucapan Natasya. Dalam hatinya, pria itu diam-diam memuji kecerdasan istrinya.


"Menurut kamu, apa kita harus tanya tentang hal ini langsung ke Bhara?" tanya Johnathan.


"Aku gak mau bikin Bhara ingat lagi sama traumanya," lirih Natasya, "tapi aku akan coma tanya dia pelan-pelan."


"Baiklah. Lagipula, ayah punya rencana untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut. Ayah berencana untuk membawa pelaku sebenarnya biar bisa diproses secara hukum, entah itu Sabrina atau mantan suaminya," jelas Johnathan.


Natasya hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, Johnathan menyentuh wajah Natasya, lalu menangkupnya dengan kedua tangan. Mereka kini saling bertatapan mata.


"Natasya," panggil Johnathan, "apapun yang terjadi, aku gak akan ninggalin kamu."


Perkataan yang dilontarkan oleh Johnathan, seolah-olah pria itu mengetahui keresahan sang istri.


Natasya tersenyum lembut, "aku percaya sama Kak John."


Johnathan seperti tersihir oleh manik mata indah milik Natasya. Masih dalam keadaan sadar, ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir istrinya itu.


Natasya terkejut dengan pergerakan tiba-tiba Johnathan, tapi tak lama kemudian, ia pun memejamkan matanya untuk merasakan ciuman lembut yang berlangsung cukup lama itu. Bukan ciuman nafsu, tapi ciuman lembut penuh cinta yang diiringi dengan *******-******* kecil.


Setelah dirasa cukup, mereka pun memutus ciuman tersebut dan saling menatap dalam mata sang pasangan.


Natasya yang mendengarnya pun merasa sangat bahagia hingga matanya berkaca-kaca karena terharu.


"Aku cinta sama kamu, dan aku mau menghabiskan seluruh sisa hidupku bersama kamu," lanjut Johnathan sambil terus menatap mata istrinya.


Natasya mengangguk pelan, "aku juga cinta sama Kak John."


Kini, tidak hanya komitmen ataupun seorang anak yang mengikat mereka. Tapi juga cinta yang telah tumbuh di hati keduanya.


...----------------...


Keesokan paginya, keluarga Adikusuma berkumpul di ruang santai. Hari ini adalah hari libur, jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama.


"Bhara, mama kamu mana?" tanya Anjani kepada Bhara yang masih asyik bermain bersamanya di lantai.


"Eung?"


Bhara menoleh ke sekeliling, ia baru saja menyadari kalau mamanya belum keluar dari kamar. Semua sudah berkumpul di ruang santai, kecuali Natasya.

__ADS_1


"Tadi waktu Bhala bangun, mama macih tidul, Nek. Tapi kok tidulnya lama cekali, ya?" celoteh Bhara yang malah bingung sendiri.


Lalu, anak itu menoleh ke arah papanya yang sedang sibuk menonton TV.


"Papa," panggil Bhara membuat Johnathan menoleh, "mama kok belum tulun cih? Apa mama belum bangun?"


"Mama belum bangun, Sayang. Biar mama tidur dulu ya, mama masih capek," jawab Johnathan santai.


"Huh? Capek? Kok mama bica capek pagi-pagi begini?" tanya Bhara dengan rasa penasarannya yang sangat tinggi.


"Eh, eum... Mama... Mama tuh capek gara-gara... Gara-gara gak bisa tidur kemarin. Iya! Kamu kan kalau tidur suka gerak terus, Bhara. Jadi mama susah tidur," jawab Johnathan gelagapan.


Melihat tingkah Johnathan yang aneh seperti itu membuat Hendry dan Anjani saling melempar pandangan. Tuan dan nyonya besar Adikusuma itu sepertinya memikirkan hal yang sama.


"John," panggil Hendry, "jangan bilang kalau kalian kemarin..."


Johnathan menghela napas lelah. Dia merasa agak kesal dengan pertanyaan itu. Bukan apa-apa, tapi ekspresi ayah dan ibunya yang sedang tersenyum menggodanya itu lho yang membuatnya kesal sekaligus malu.


"Iya," jawab Johnathan malas.


"Oh my God!!!" teriak Anjani histeris.


Bhara terkejut melihat neneknya yang berteriak seperti itu. Ia kira neneknya sedang kesakitan atau apa, tapi ternyata dugaannya salah, karena wajah sang nenek menunjukkan ekspresi sebaliknya, sangat bahagia.


"Astaga, Ibu. Kenapa reaksi ibu kayak gitu sih? Itu hal yang wajar, gak aneh lagi, aku sama Natasya kan udah nikah," kesal Johnathan.


"Itu emang hal yang wajar! Wajar banget malah!" sahut Anjani, "justru ibu senang karena kalian udah berencana punya anak lagi."


Johnathan menggeleng-geleng lelah, "sayangnya itu gak bakal terjadi."


"Bhara masih kecil, Natasya juga masih kuliah. Kami belum mau punya anak lagi, jadi aku pakai pengaman," imbuh Johnathan.


Senyum Anjani luntur seketika. Benar juga sih, tidak bijak kalau mereka memiliki anak sekarang. Tapi tetap saja, Anjani menginginkan cucu lagi.


Hmm... Mereka tidak menyadari, ada seseorang yang merasa sakit hati mendengar pembicaraan ini. Siapa lagi kalau bukan bungsu Adikusuma? Meskipun Alan mencoba untuk mengikhlaskan Natasya, tapi perasaan tidak bisa hilang secepat itu, bukan?


...----------------...



"Saya cinta sama kamu, dan saya ingin menghabiskan seluruh sisa hidup saya bersama kamu."

__ADS_1



"Saya juga mencintai anda... Dokter Johnathan."


__ADS_2