Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
65 : Hari yang Suram


__ADS_3

“Mama…”


Natasya tersenyum getir mendengar panggilan lemah putra kecilnya. Biasanya anak itu akan memanggilnya dengan semangat, tapi lihat sekarang. Bhara tampak tidak berdaya di pangkuan Johnathan.


“Hai, Sayang,” sapa Natasya kepada Bhara, “Bhara sudah makan, Nak?”


Anak itu hanya mengangguk sambil terus memandang wajah Natasya dengan tatapan sendu. Natasya dan Johnathan saling melempar pandangan bersedih karena anak mereka yang biasanya ceria menjadi murung.


“Bhala mau peluk mama,” lirih Bhara.


Johnathan langsung memindahkan tubuh Bhara ke pangkuan Natasya. Ngomong-ngomong, mereka bertemu di ruangan tanpa pembatas kaca, jadi bisa bebas berinteraksi.


Natasya mendekap tubuh kecil putranya dan mengusap lembut pucuk kepala anak laki-laki itu. Sementara itu, Johnathan duduk di samping mereka sambil tersenyum lembut.


“Mama kapan pulang?” tanya Bhara.


“Sebentar lagi, Sayang. Tidak lama lagi, mama akan pulang,” jawab Natasya.


“Mama ndak bohong, kan?” lirih Bhara yang ragu dengan ucapan mamanya.


Natasya tertawa kecil, “tentu saja tidak. Mama benar-benar akan pulang sebentar lagi. Tinggal menunggu persidangan saja.”


“Mama ndak akan dipenjala, kan?” tanya Bhara lagi.


“Bhara…,” panggil Johnathan saat mendengar pertanyaan menuntut dari Bhara.


Natasya menatap Johnathan sambil menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar suaminya tetap diam.


“Kenapa mama harus dipenjara? Mama tidak bersalah,” jawab Natasya dengan santai, “iya kan, Bhara?”


Bhara mendongak untuk melihat mamanya sebentar, lalu kembali mendusal di pelukan hangat Perempuan itu, “iya… mama ndak calah… yang calah om itu.”


Natasya tersenyum puas mendengar jawaban anaknya. Kemudian, ia memandang sebentar kepada Johnathan yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan mama dan anak itu.


“Ekhm…,” Johnathan berdeham sebelum memulai berbicara, “Natasya..."


“Iya?” balas Natasya.


“Ayah sudah berbicara dengan pihak pengadilan untuk memajukan jadwal persidanganmu. Katanya, sidang akan dilaksanakan besok pagi,” kata Johnathan.

__ADS_1


Natasya menganggukkan kepalanya paham, “syukurlah, saya bisa cepat-cepat keluar dari sini.”


Johnathan tersenyum kecil melihat Natasya yang bersikap santai dan memilih untuk menikmati waktu bersama Bhara yang kini mulai terlelap di pelukan sang mama. Tapi di sisi lain, ia merasa cukup khawatir karena sikap tenang Natasya ini. Eum… entahlah, Perempuan itu seperti sedang tidak mengeluarkan emosi yang semestinya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Johnathan.


Natasya menoleh dan mengernyitkan dahinya, “tentu saja. Ada apa?”


Johnathan menggeleng pelan, “tidak apa-apa. Hanya saja, kondisimu terlihat lebih baik daripada kemarin.”


Natasya terkekeh pelan, “bukankah itu bagus, Dokter John? Saya harus tetap dalam kondisi baik agar masalah ini cepat selesai.”


Johnathan terdiam mendengarnya. Dugaan pria itu sangat tepat. Istrinya ini mengesampingkan traumanya dan memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.


“Kamu tidak baik-baik saja, Natasya,” lirih Johnathan.


Kening Natasya berkerut tanda tidak setuju dengan ucapan Johnathan, “sebenarnya apa yang Dokter Johnathan inginkan? Bukankah dokter yang meminta saya untuk tetap fokus agar kasus ini segera selesai?”


“Saya meminta kamu untuk memaafkan diri kamu sendiri, bukan untuk berpura-pura baik-baik saja,” sanggah Johnathan.


“Cukup, Dokter,” sahut Natasya, “jangan membuat pikiran saya semakin kacau. Saya tidak sedang berpura-pura, tapi sedang berusaha.”


Johnathan hanya bisa menghela napas pasrah. Pria itu memilih untuk menggenggam tangan kanan sang istri dengan lembut.


Natasya tersenyum tulus, “saya tahu itu, Dokter John. Anda selalu ada untuk mendukung saya. Saya tidak perlu berbagi apapun sekarang, karena… memang tidak ada kesedihan yang perlu dibagi. Kehadiran anda dan putra kita sudah cukup untuk menenangkan saya.”


Ya… begitulah keluarga kecil ini menghadapi trauma pasca penculikan yang berakhir mengenaskan beberapa hari yang lalu.


Natasya yang berusaha untuk memaafkan diri sendiri dan menghadapi traumanya dengan bantuan obat-obatan dari psikiater, Bhara yang cukup terpukul dan bingung dengan kejadian tragis yang menimpanya dan sang mama, serta Johnathan yang telah melalui berbagai macam ketakutan.


Namun, mereka bertiga kini sudah berkumpul lagi. Dan mereka akan berusaha untuk sembuh dari trauma itu bersama-sama.


...----------------...


Di sisi lain, Hendry baru saja keluar dari kantor direktorat kemahasiswaan untuk mengurus cuti atas nama Natasya. Kondisi menantunya itu tidak memungkinkan untuk masuk kuliah dalam waktu dekat. Sekalipun sudah selesai sidang nanti, Natasya masih butuh waktu untuk memulihkan diri dari trauma.


“Ayah!”


Hendry menoleh ke arah sumber suara beberepa meter di depannya.

__ADS_1


“Oh, Alan!” balas Hendry ketika melihat anak bungsunya yang barusan memanggilnya.


Alan berlari kecil untuk menghampiri sang ayah. Sepasang ayah dan anak itu pun kini berjalan berdampingan.


“Bagaimana, Yah? Sudah disetujui?” tanya Alan.


“Aman,” jawab Hendry, “Natasya mendapat cuti selama tiga bulan.”


“Apa?! Cuma tiga bulan?! Apa tidak kurang, Yah?” seru Alan yang keberatan.


Hendry mendengus kesal, “kurang bagaimana, sih? Natasya bisa menemui psikiater sambil kuliah. Lagipula, apa kamu pikir Natasya mau cuti lama? Dia pasti akan marah kalau sampai ayah mengajukan cuti untuknya lebih dari ini.”


Benar juga, Alan baru ingat kalau sahabatnya itu paling tidak suka meninggalkan kuliah. Bahkan, salah satu impian Natasya adalah lulus sarjana dalam waktu 3,5 tahun.


Hendry dan Alan pun memasuki mobil yang sama. Rencananya, mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Anjani.


“Ngomong-ngomong, bagaimana pendapat teman-temanmu tentang kejadian ini?” tanya Hendry kepada sang putra yang sedang fokus menyetir.


Alan mengedikkan bahunya acuh, “ya… kadang mereka membicarakan tentang kematian Haikal. Tapi sejauh ini, aku belum mendengar ada yang menjelekkan Natasya. Baguslah, aku tidak akan membiarkan siapapun menghina sahabatku.”


Hendry menganggukkan kepalanya paham.


“Ayah,” panggil Alan membuat Hendry menoleh, “apa Sabrina terlibat dalam kasus ini?”


“Tentu saja,” jawab Hendry yakin, “kamu tahu sendiri kan waktu itu, kalau Haikal sempat menemui Sabrina sebelum penculikan itu terjadi.”


Alan mengingat-ingat hal itu, lalu menganggukkan kepalanya paham, “lalu, apa Sabrina akan dihukum atas kasus ini?”


“Tentu saja!” seru Hendry.


Jawaban penuh keyakinan itu membuat Alan menoleh dengan pandangan bingung. Kenapa ayahnya terdengar sangat yakin?


“Apa ayah… sudah melakukan sesuatu yang memberatkan Sabrina?” tanya Alan penuh selidik.


Hendry menoleh sambil tersenyum penuh arti, “tenang saja, ayah tahu apa yang harus ayah lakukan. Sabrina akan mendapatkan hukuman yang pantas untuknya.”


Alan ikut tersenyum senang mendengar perkataan ayahnya. Dalam hati, ia merasa bangga karena memiliki keluarga yang hebat-hebat semua.


...----------------...

__ADS_1


Hai hai... Terima kasih buat para pembaca baik hati yang masih setia menunggu update-an novel ini...


LOVE BANYAK BANYAK ♥♥♥😍😍


__ADS_2