Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
68 : Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

“Apa?! Cuti tiga bulan?!”


Suara teriakan Natasya menggema di meja makan. Keluarga besar Adikusuma sedang melaksanakan sarapan bersama. Dan Natasya baru saja diberi tahu kalau Hendry telah mengambilkan cuti tiga bulan untuknya.


“Kenapa ayah tidak bilang pada saya dulu?” keluh Natasya.


“Kamu tidak akan setuju kalau ayah minta izin padamu dulu,” jawab Hendry dengan santai.


Natasya mendengus kesal, “kalau ayah sudah tahu, lalu kenapa ayah tetap melakukannya?”


“Natasya,” panggil Johnathan, “kamu baru saja melalui hari-hari yang berat, tentu saja kamu butuh istirahat dulu di rumah.”


“Astaga, saya baik-baik saja, Dokter John, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Natasya tetap kukuh pada pendiriannya, “bahkan saya bisa berangkat kuliah hari ini juga.”


“Tidak!” seru Anjani dengan wajah tegas, “Kamu dan Bhara butuh istirahat. Tetap di rumah dan nikmati waktu santai dengan cucuku.”


Semua orang tidak berani membantah ucapan Nyonya besar Adikusuma itu. Mau tidak mau, Natasya tetap harus tinggal di rumah selama tiga bulan.


“Nenek malah, ya?” tanya Bhara yang duduk di antara Johnathan dan Natasya.


Wajah tegas Anjani berubah melembut, “nenek tidak marah, Sayang. Nenek hanya memberi nasihat kepada mama kamu.”


Bhara hanya manggut-manggut sambil memasukkan sepotong telur ayam ke dalam mulut kecilnya.


“Mamamu itu sangat nakal, Bhara. Jadi, harus dimarahi biar tidak nakal lagi,” celetuk Alan.


Ucapan Alan itu langsung dihadiahi dengan tatapan tajam dari Natasya.


“Mama kenapa nakal?” tanya Bhara kepada Natasya dengan polos.


“Eh, eum…, m-mama tidak nakal kok. Om Alan memang suka bohong, Sukanya mengejek mama saja,” cibir Natasya.


Bhara beralih kepada sang papa, “Papa, mama nakal apa ndak, Pa?”


Natasya tersenyum sambil memberi isyarat kepada suaminya agar menjawab pertanyaan dengan benar. Johnathan membalas senyuman Natasya dengan manis, dan itu membuat Natasya lega.


“Mama kamu tidak nakal kok,” jawab Johnathan membuat Natasya menghela napas lega, “tapi sangaaaat bandel. Saking bandelnya sampai mama tidak pernah mau mendengar nasihat papa.”


Natasya menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Kenapa suaminya ini malah ikut merendahkan dirinya di hadapan putra mereka sendiri?


Bhara langsung menatap tajam mamanya berharap agar perempuan itu merasa terintimidasi.


“Apa? Mama tidak bandel kok. Kalau kamu tidak percaya, ya sudah,” kata Natasya merajuk.


Semua orang di sana langsung tertawa melihat Natasya yang merajuk pada anaknya sendiri. Menjahili Natasya adalah hobi baru keluarga Adikusuma, dan mungkin juga menjadi hobi Bhara.

__ADS_1


...----------------...


Menjelang malam, Natasya berdiam diri menatap cermin di kamarnya. Entahlah, sejak berada di dalam sel tahanan, ia jadi semakin sering melamun menatap pantulan wajahnya. Ia selalu merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya setiap kali melihat wajahnya sendiri, tapi ia sendiri juga tidak tahu perasaan apa itu.


“Haah~”


Tidak terhitung berapa kali ia menghela napas panjang. Ingin sekali rasanya mengatakan sesuatu, tapi ia tidak mampu, atau bahkan tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.


“Apa yang terjadi padamu sebenarnya?” tanya Natasya pada dirinya sendiri.


Hanya keheningan yang menjawabnya. Tentu saja, siapa yang akan menjawabnya sementara ia kini berada di kamar sendirian, hanya bersama dengan pantulannya di cermin.


“Kamu sedih?” tanya Natasya.


Sedetik kemudian ia menggeleng ketika merasa itu bukan jawabannya.


“Atau kamu takut?” perempuan itu kembali menggelengkan kepala dan berbicara sendirian, “tentu saja bukan takut. Memangnya apa yang harus aku takutkan?”


“Atau… kamu merasa bersalah?”


Natasya menatap lurus ke dalam pantulan matanya. Ia berusaha menyelami perasaannya sendiri, bertanya-tanya apakah emosi tidak menyenangkan yang dirasakannya saat ini adalah perasaan bersalah atau bukan.


Kurang lebih 5 menit ia berdiam dan melamun, akhirnya Natasya menggelengkan kepalanya frustrasi, “astaga… apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku masih merasa bersalah? Untuk apa aku merasa bersalah, huh?! Menyebalkan sekali.”


Seperti biasa, Natasya kembali gagal mengenali dan memahami emosi yang ia rasakan. Dan itu membuatnya merasa kacau.


“Natasya.”


Natasya tersentak dan langsung menoleh ketika mendengar suara suaminya yang memanggil namanya di pintu kamar.


“Eh, Dokter John,” balas Natasya, “dimana Bhara?”


Johnathan menutup pintu kamar mereka dan berjalan mendekati Natasya, “Bhara masih bermain bersama ibu dan Alan di ruang keluarga. Kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tidak segera menyusul kami?”


“Oh, itu, emm… bukan apa-apa,” ucap Natasya dengan senyum canggung, “saya sudah berencana menyusul keluar, tapi Dokter John lebih dulu menyusul saya.”


Johnathan tersenyum kecil sambil memikirkan sesuatu di kepalanya, “apa kamu mau tidur lebih dulu? Saya bisa menemani kamu kalau mau.”


Natasya mengernyitkan dahinya sambil menatap dengan penuh selidik, “hmm… kalau begitu, saya tidak yakin jika saya bisa tidur lebih awal malam ini.”


Suara tawa Johnathan cukup kencang terdengar di kamar itu, “kamu sudah hafal ternyata, ya? Tentu saja saya tidak akan membiarkan kamu tidur lebih awal malam ini. Saya sangat merindukanmu, Natasya.”


Natasya tersenyum malu mendengarnya, “baiklah, saya juga rindu dengan Dokter John. Kalau begitu, saya akan pergi menemui Bhara dulu, sekalian meminta tolong kepada ibu supaya Bhara tidur bersamanya mala mini. Tidak lucu kalau nanti tiba-tiba Bhara merengek meminta tidur bersama kita.”


Setelah itu, Natasya bersiap keluar kamar untuk menjalankan misinya agar sang anak tidak mengganggu malam menyenangkan mereka.

__ADS_1


“Jangan lama-lama, Sayang!” teriak Johnathan kepada sang istri yang sudah keluar dari kamar mereka.


Johnathan terkekeh, lalu duduk di tepi ranjang. Setelah pintu tertutup, kekehan Johnathan pun menghilang. Dokter muda itu memandang pintu yang tertutup dengan wajah sendu.


“Ternyata kamu masih belum baik-baik saja, Natasya,” gumam Johnathan.


Johnathan mendengar seluruh ucapan Natasya tadi dari balik pintu kamar. Pria itu tahu bahwa istrinya sedang mengalami konflik batin yang membuat perempuan yang sangat dicintainya itu sering terhanyut dalam pikirannya sendiri.


Natasya baru saja bermain bersama anaknya di ruang keluarga, dan kini ingin kembali menuju kamarnya. Tapi sebelum itu, ia turun ke dapur untuk mengambil beberapa camilan.


Perempuan itu membuka pintu kulkas dan memindai makanan apa yang bisa ia bawa ke kamar, “huh… padahal aku sudah makan malam tadi, kenapa masih saja ingin makan terus?”


Natasya mendumal sendiri, tapi ia tetap mengambil apapun yang ia inginkan. Roti, es krim, coklat milik Bhara, buah-buahan. Sadar atau tidak, tangannya penuh dengan makanan saat ini.


“Sudah cukup,” ucap Natasya sambil melihat makanan yang ia dekap.


Setelah itu, ia pun berbalik hendak menuju kamar. Tapi ia terkejut karena ternyata ada Alan yang berdiri di belakangnya.


“Astaga! Kamu mengagetkanku saja!” seru Natasya kesal.


Tidak jauh berbeda dengan Natasya, Alan juga terkejut dan menatap sahabatnya itu dengan mata membelalak.


“Kamu mengambil semua makanan ini?!” tanya Alan dengan tampang terkejutnya. Bagaimana tidak, sahabatnya itu membawa—atau bisa dibilang memeluk banyak sekali makanan ringan.


Natasya berdecak kesal, “memangnya kenapa? Tidak boleh?”


“B-bukan begitu,” sahut Alan terbata-bata.


Sepertinya Alan harus mulai berhati-hati saat berbicara dengan Natasya karena perasaan perempuan itu kini menjadi sangat sensitif dan uring-uringan.


...----------------...


Huaaa... Maaf banget para pembaca tercintaaa 😭😭😭


Aku ga bermaksud jadi kang ghostingT_T


Tapi ternyata dunia kuliah ini sangatlah memakan waktu.


Aku gak berani janji buat rajin update, daripada ngasih harapan palsu. Tapi aku bakal usahain buat tetep update kalau ada waktu luang.


Oh iya, kalian kalau ada kritik sampaikan aja yaaa,, misalnya ada yg gak cocok sama cast, atau panggilan johnathan ke natasya kurang romantis, gapapa, aku open bgt buat saran dari kalian.


nanti di akhir chapter, aku bakal revisi dari awal.


Terima kasih buat para pembaca setia yang masih setia di book ini 😍😍😍

__ADS_1


Sekali lagi, aku minta maaf kalau slow update 🙏🙏


__ADS_2