Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
52 : Hakim Jujur?


__ADS_3

Tiga hari kemudian, sidang kedua kasus Natasya dilaksanakan. Kini, Natasya sudah duduk di kursi terdakwa didampingi oleh sang pengacara, Hendry Adikusuma. Seperti sebelumnya, Bhara juga hadir di persidangan dan duduk di pangkuan Johnathan.


Dua laki-laki berbeda usia itu, Johnathan dan Bhara, sejak tadi menatap sosok perempuan yang sangat mereka cintai. Pandangan mereka tidak beralih dari Natasya yang duduk di depan. Johnathan dan Bhara sama-sama sangat merindukan Natasya.


Sementara itu, sejak dibawa ke ruang sidang, Natasya hanya menunjukkan raut wajah dingin. Wajah Lelah itu sama sekali tidak melirik kemanapun, dan hanya menatap lurus ke depan.


‘Kenapa Natasya sama sekali tidak menoleh? Apa dia tidak merindukanku dan Bhara?’ batin Johnathan.


Padahal tidak seperti itu, Natasya tidak mau melihat mereka karena ia tidak ingin menjadi lemah dan emosional. Beberapa waktu yang lalu, Hendry memberitahunya bahwa keluarga Sabrina sudah menyuap hampir seluruh pihak, termasuk para hakim. Hal itu membuat hati Natasya diliputi dengan amarah. Dan ia berniat untuk menjaga kemarahan itu untuk memotivasi dirinya sendiri agar menang dan mengalahkan semua orang.


Sidang sudah dimulai. Hakim sudah membuka persidangan ini secara resmi.


“Saudara terdakwa Natasya, apakah saudara sehat hari ini?” tanya hakim.


Natasya hanya diam sambil menatap tajam sang hakim ketua. Hal itu membuat semua orang mengernyit heran atas sikap perempuan itu.


“Saudara terdakwa Natasya?” panggil sang hakim, tapi Natasya tetap diam.


“Natasya…,” Hendry menyenggol pelan lengan Natasya untuk menyadarkan menantunya itu.


“Kalau saudara terdakwa merasa tidak enak badan, kitab isa menunda persidangan ini,” ucap hakim ketua.


“Tidak, Yang Mulia,” jawab Natasya dengan nada dingin, “saya baik-baik saja.”


Hakim ketua itu pun mengangguk, “baik, kalau begitu, mari kita lanjutkan proses persidangan.”


Sabrina tersenyum sinis melihat Natasya, ‘pasti dia sudah depresi. Hahaha… tidak ada kesempatan untuk kamu menang, Natasya.’


“Masih ada satu bukti yang belum diperiksa. Apakah saudara terdakwa Natasya ingin menyerahkan bukti tersebut untuk pembelaan?” tanya hakim.


“Apakah saya perlu mengatakannya lagi, Yang Mulia?” celetuk Natasya dengan nada kesal.


Ucapan Natasya yang dinilai tidak sopan itu mampu membuat semua orang yang ada di sana cukup terkejut. Mereka tidak menyangka, seorang Natasya yang sangat sabar dan bijaksana saat sidang sebelumnya bisa tampak semarah ini.


“Ekhmm… baiklah, langsung saja kita periksa buktinya,” ucap sang hakim yang merasa terintimidasi dengan kekesalan Natasya.


Hendry pun menyerahkan sebuah flashdisk. Di dalam flashdisk itu hanya ada satu file rekaman suara. Natasya memperhatikan gerak-gerik petugas pengadilan yang sedang menyambungkan flashdisk pada monitor dan speaker.


“Bukti itu sangat kuat. Kalau sampai mereka menolak bukti itu dan tidak membebaskanku, akan aku bakar gedung pengadilan ini,” gumam Natasya yang hanya bisa didengar oleh Hendry.


Hendry cukup tersentak dengan kata-kata Natasya. Ia paham bahwa menantunya itu pasti sangat marah, tapi ucapannya itu terdengar sangat brutal.


“Tenang saja, Natasya. Saya berjanji, kamu pasti bebas hari ini,” bisik Hendry.

__ADS_1


Natasya hanya diam mendengarnya. Ia tidak akan tenang sebelum hakim yang telah disuap oleh Sabrina itu benar-benar membebaskannya.


Petugas selesai menyiapkan bukti tersebut. Kemudian, rekaman suara itu akhirnya diputar…


"Ahaha! Astaga! Kamu lucu sekali sih,… utututu~ anaknya mama marah, ya?"


"Aaaaaa! Mamaaa!"


"Ahaha! Iya iya,… maafin mama ya, Sayang karena sudah mainan hp terus."


Itu adalah rekaman suara beberapa hari lalu saat Natasya bermain bersama Bhara. Waktu itu, Natasya bermain ponsel karena menyiapkan rekam suara sebelum mengorek informasi dari anaknya. Menantu Adikusuma itu memang benar-benar pintar.


"Eum... Bhara…”


"Apa, Ma?”


"Bhara ingat tidak, waktu pertama kali Bhara ketemu mama di bandara?"


"Ingat, Ma. Bhala ndak mungkin lupa waktu peltama kali ketemu cama mama. Itu adalah caat yang telindah di hidup Bhala."


"Manis sekali sih, anak mama…”


"Oh iya, mama penasaran. Bagaimana bisa kamu di toilet bandara sendirian? Kamu berangkat ke bandara sama siapa?"


Sabrina menegang saat rekaman itu memperdengarkan Bhara yang menyebut Namanya.


"Ooh, sama mama sabrina… memangnya kalian mau bepergian? Kok bisa sampai di bandara?"


"Mama lina bawa Bhala ke bandala kalena dikejal cama papa Tio."


"Terus, kenapa harus ke bandara? Mama Sabrina mau mengajak Bhara pergi naik pesawat?"


“Ndak tau. Mama lina cuma bilang kalau Bhala diculuh nunggu di toilet, dan ndak boleh kelual."


"Bhara… Papa Tio... Jahat sama mama Sabrina, ya?"


"Papa Tio... Jahat, cuka mukul mama."


Sabrina tersenyum miring. Wanita itu tidak habis pikir dengan Natasya. Untuk apa Natasya memberikan bukti yang justru membela Sabrina.


"Bhara dipukul juga, Nak?"


"Bhala dibentak-bentak teluc cama Papa Tio," ada sedikit jeda di antara ucapan Bhara, "tapi Papa Tio ndak pelnah mukul Bhala."

__ADS_1


Rekaman suara itu hening sebentar, menunjukkan bahwa Natasya sedang bingung dengan ucapan Bhara pada waktu itu.


"Bhara, mama Sabrina baik, kan sama Bhara?"


Semua orang memfokuskan telinga mereka menunggu jawaban dari Bhara. Sabrina sudah berkeringat dingin menanti apa ucapan Bhara berikutnya di rekaman suara itu.


"Hiks... Mama lina jahat… Papa Tio malahin Bhala, tapi mama lina ndak membela Bhala. Hiks... Mama lina malah ikut malahin dan memukul Bhala."


Klik!


Hendry yang membawa remote pengendali rekaman suara itu menekan tombol ‘pause’.


“Kalian dengar sendiri, kan?” ucap Natasya santai, “apa masih kurang jelas? Korban sendiri sudah mengatakan kalau yang memukulinya adalah saudara penuntut atau ibu kandung korban sendiri. Korban juga mengatakan kalau dia sangat menyayangi saya. Memangnya ada orang yang menyayangi penculiknya sendiri?”


Semua orang terdiam mendengar ucapan Natasya. Walaupun terdengar santai, tapi nada bicara perempuan itu terdengar menusuk, seolah menunjukkan bahwa apa yang mereka semua lakukan ini sangat tidak masuk akal.


“Itu semua bohong! Bhara hanyalah anak kecil! Dia tidak bisa dipercaya!” teriak Sabrina berusaha membela diri.


Natasya memutar bola matanya jengah, “tidak bisakah anda lebih beretika di ruang sidang ini, Saudara penuntut?”


Sabrina merasa tertohok dengan ucapan nyinyir Natasya. Kemudian, jaksa memberi isyarat kepada Sabrina agar tetap tenang.


“Yang Mulia,” panggil jaksa penuntut, “saya mengajukan keberatan dengan bukti tersebut. Korban hanyalah anak berusia tiga tahun, itu berarti ucapan korban masih belum bisa dipastikan kredibilitasnya.”


Sabrina menghela napas panjang, ‘huuh~ ayah sudah menyuap hakim itu, dia pasti akan menuruti ucapan jaksa. Tenang saja, aku pasti menang.’


Natasya memandang Sabrina, jaksa penuntut, serta hakim secara bergantian. Ia bisa melihat jaksa menatap hakim seolah-olah sedang memberi isyarat.


‘Kurang ajar! Awas saja kalau hakim sialan itu tidak menerima buktiku, benar-benar akan kuhancurkan gedung ini,’ batin Natasya yang sudah semakin marah.


“Setelah pertimbangan dari majelis hakim…,” saatnya hakim berbicara, “… keberatan jaksa penuntut… tidak diterima.”


Sabrina dan jaksa penuntut tampak sangat terkejut, ini tidak seperti kesepakatan mereka sebelumnya.


‘Apa-apaan ini?! Hakim itu mengkhianatiku?! Sial! Padahal ayah sudah memintanya untuk memenangkan aku di kasus ini,’ geram Sabrina dalam hati.


“Dan bukti yang baru saja diserahkan oleh saudara terdakwa, kami nyatakan bahwa bukti tersebut valid dan bisa diterima.”


...----------------...


Hah? Padahal hakim sudah disuap oleh pihak Sabrina, tapi kenapa hakim malah menerima bukti dari Natasya? Sebenarnya hakim ini adil atau tidak sih? Hmm...


...🚨 nonton konten POV di tiktok & instgram @cacalavender 🚨...

__ADS_1


__ADS_2