
Setelah kunjungan emosional Johnathan dan Natasya ke makam Tuan dan Nyonya Fernandez, kini sepasang suami-istri itu sedang duduk manis di mobil. Mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang.
"Kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Johnathan.
"Huh?"
Natasya langsung menoleh saat tiba-tiba suaminya itu bersuara. Johnathan juga menoleh sekilas, sebelum kembali berkonsentrasi pada jalanan di depan.
"Kita bisa mampir ke suatu tempat dulu kalau kamu mau," ajak Johnathan.
"Eum..., tapi Bhara...," gumam Natasya yang memikirkan anaknya di rumah. Khas ibu-ibu sekali.
"Astaga, Natasya. Kasih waktu kamu buat aku juga dong. Aku kan juga pengen tahu lebih banyak tentang kamu," ucap Johnathan yang terus berusaha mengajak Natasya.
Entah kenapa jantung Natasya menjadi tidak beraturan setelah Johnathan mengungkapkan secara terang-terangan bahwa pria itu ingin mengenalnya lebih mendalam.
"Eum... Kalau gitu, kita mau kemana?" tanya Natasya dengan suara pelan.
Johnathan tampak berpikir sejenak. Pria itu sebenarnya juga tidak tahu akan mengajak Natasya kemana. Ia memilih untuk memelankan mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekitar, berusaha mencari tempat yang bagus untuk dikunjungi.
Mata pria itu akhirnya menangkap sesuatu yang menarik. Sebuah kedai gelato kecil dengan nuansa pastel dan dekorasi bunga minimalis. Istrinya pasti akan suka dengan tempat itu.
Dokter muda itu membelokkan mobilnya ke halaman kedai. Natasya memperhatikan tempat yang dituju oleh suaminya. Tebakan Johnathan benar, Natasya tampak antusias dengan kedai gelato itu.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan beriringan memasuki kedai. Saat pintu dibuka, terdengar bel klasik tanda pengunjung datang. Di dalam, sudah ada beberapa orang pelanggan, tapi tidak terlalu ramai.
"Kamu mau gelato yang rasa apa?" tanya Johnathan.
Natasya melihat-lihat menu sebentar, "aku mau yang rasa coklat mix vanilla."
Kemudian, Johnathan memesan 2 gelato. Yang satu, rasa coklat mix vanilla untuk istrinya. Dan yang satu lagi, rasa tiramisu untuk dirinya sendiri.
"Kalian berdua ini sepasang kekasih, ya?" tanya penjaga kasir sambil menunggu pegawai yang lain mengambilkan pesanan.
"Eh," Natasya melirik sekilas ke arah Johnathan, ia bingung harus menjawab apa, "eum... Bukan?"
Pegawai kasir itu sedikit mengernyitkan dahinya bingung karena Natasya malah menjawab dengan nada ragu-ragu.
__ADS_1
Johnathan terkekeh pelan melihat Natasya yang kebingungan menjawab.
"Iya, kami sepasang kekasih," jawab Johnathan, "lebih tepatnya, perempuan ini adalah istri saya."
Natasya tersipu malu mendengar jawaban Johnathan. Pagawai kasir itu melirik kedua tangan pasangan di hadapannya. Benar saja, ada cincin kawin yang tersemat di jari mereka. Kemudian, pegawai yang membawa pesanan mereka pun datang.
"Kalian memang pasangan yang sangat serasi," ucap pegawai yang baru datang itu sambil menyerahkan gelato pesanan mereka, "selamat menikmati~"
Johnathan dan Natasya membawa cup gelato masing-masing dan menempati salah satu meja yang berada di sudut kedai.
"Kak John," panggil Natasya, "makasih banyak karena udah ajak aku ke sini dan beliin gelato."
Johnathan tersenyum, "gak masalah. Aku juga senang makan gelato di sini... sama kamu."
Natasya mengulum senyumnya mendengar ucapan Johnathan, lalu segera memakan gelatonya dengan cepat untuk menghindari menatap wajah suaminya. Ia tidak menyangka kalau dokter pendiam ini bisa bersikap manis juga.
"Natasya," panggil Johnathan, Natasya pun menoleh kembali, "aku ingin berterima kasih karena kamu udah sayang sama Bhara seperti anak kandung kamu sendiri."
Natasya tersenyum lembut, "iya, Kak John benar, aku sayang banget sama Bhara dan aku udah anggap dia sebagai anak kandung aku sendiri."
Natasya mengingat-ingat awal pertemuannya dengan anak manis itu, "sejak pertama kali ketemu sama Bhara, aku udah jatuh hati sama dia. Hati aku terasa sakit banget waktu lihat Bhara nangis sendirian di tengah keramaian. Aku pengen ngerawat dan ngelindungi Bhara seumur hidupku."
"Natasya," panggil Johnathan lagi, "aku juga mau minta maaf sama kamu karena sempat mau melawan kamu buat dapetin hak asuh Bhara."
"Gak apa-apa, Kak John," kata Natasya, "itu semua kan gara-gara aku dan Kak Johnathan sama-sama sayang sama Bhara dan pengen lindungin dia."
Johnathan tersenyum mendengar jawaban dari Natasya. Ia bersyukur karena setidaknya gadis itu bisa mengerti bahwa waktu itu dirinya sama sekali tidak berniat buruk, baik kepada Bhara, maupun kepada Natasya.
Lama mereka hanya saling berpandangan sambil melempar senyum, tangan Johnathan terulur untuk menggenggam tangan Natasya yang berada di atas meja.
"Eh?"
Natasya tersentak saat tangan pria di depannya itu terasa hangat saat menggenggam tangannya. Gadis itu hanya diam menunggu apa yang akan dilakukan Johnathan selanjutnya.
"Kamu tahu, Natasya? Pas kita berdua mengucap janji suci waktu itu, aku bersungguh-sungguh berjanji kepada Tuhan untuk mengambil kamu sebagai istriku," ucap Johnathan sambil terus menatap mata Natasya.
Ibu jari tangan Johnathan mengusap-usap tangan istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Bukan cuma untuk dapetin hak asuh Bhara, tapi karena aku emang berniat untuk membangun keluarga yang bahagia bersama kamu."
Natasya tidak bisa untuk tidak terharu dengan ucapan suaminya.
"Jadi, Natasya, aku mohon sama kamu, jangan pernah punya pikiran untuk berpisah," ucap Johnathan dengan nada memohon, "ayo kita terus bersama dan membesarkan Bhara, anak kita, dengan baik."
Mengalir sudah air mata Natasya yang sedari tadi ia tahan agar tidak keluar. Ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang menangis terharu.
Johnathan yang melihat istrinya menangis langsung berdiri dan mendekati kursi Natasya. Ia berlutut di samping gadis itu. Johnathan harus mendongak sedikit untuk melihat wajah cantik yang sedang mengeluarkan air mata itu.
"Hei..., kenapa kamu malah nangis, hmm?" tanya Johnathan sambil menangkup pipi chubby Natasya.
Natasya menatap wajah suaminya sambil sedikit sesenggukan. Dalam hati, Johnathan ingin tertawa karena hidung istrinya yang memerah membuat wajah itu menjadi berkali-kali lipat lebih lucu.
"Hiks... A-aku terharu sama ucapan kakak... Huee..."
Setelah menjawab pertanyaan suaminya, Natasya kembali menangis lagi. Johnathan tertawa kecil melihatnya. Cara Natasya menangis mirip seperti Bhara saja.
"Astaga! Kamu kok jadi gemesin banget gini sih," ucap Johnathan.
Kemudian, pria itu membawa Natasya masuk ke dalam pelukannya. Kepala Natasya bersandar di dada bidang yang mulai sekarang akan menjadi favoritnya itu. Natasya merasa nyaman dalam dekapan Johnathan, rasanya begitu hangat.
Setelah tangisannya benar-benar berhenti, Natasya melepaskan pelukannya. Ia menatap mata suaminya itu dan tersenyum penuh arti.
"Kak John," panggil Natasya, "gak cuma kakak aja yang punya pikiran kayak gitu, tapi aku juga. Aku gak pernah menganggap pernikahan ini cuma sebagai alat untuk mencapai tujuan aja."
Johnathan hanya diam menyimak ucapan Natasya.
"Dengan pernikahan kita, aku berharap keluarga kecil kita akan bahagia selamanya. Kak Johnathan, aku, dan Bhara. Aku akan jadi istri dan mama yang penuh kasih sayang untuk kalian."
Kini, giliran Johnathan yang tersentuh dengan kata-kata yang keluar dari mulut Natasya. Ia sempat khawatir jika Natasya memiliki rencana untuk bercerai nantinya, tapi sekarang kekhawatirannya itu lenyap seketika. Johnathan bahagia karena dirinya dan Natasya sama-sama memiliki komitmen untuk menjaga pernikahan.
...----------------...
...Terima kasih untuk para pembaca baik hati yang sudah memberi apresiasi kepada novel ini 😊...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥♥...