
"Terus, kenapa?" ucap Natasya remeh, "melahirkan aja gak membuat kamu pantas untuk jadi mamanya."
Diam-diam, seluruh keluarga Adikusuma tersenyum puas karena menantu mereka bisa mengucapkan sesuatu yang tajam seperti itu. Apalagi Hendry, sebagai seorang pengacara, menurutnya, lidah adalah senjata yang paling mematikan.
"Kamu...," geram Sabrina, "berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu! Bhara itu anakku, bukan anakmu! Sampai kapanpun, dia akan tetap jadi anakku."
"Oh ya? Kalau kamu emang segitu sayangnya sama Bhara, terus kenapa kamu ninggalin dia di bandara waktu itu?" desak Natasya.
Sabrina tersentak, matanya bergerak gelisah untuk mencari jawaban yang tepat.
"I-itu cuma kesalahan. Ya! Itu kesalahan! aku gak sengaja ninggalin dia," jawab Sabrina.
Natasya berdecih, "cih! Omong kosong! Kamu pasti sengaja ninggalin dia di sana."
"Mama..."
Natasya menoleh saat mendengar suara lirih Bhara. Astaga! Karena terlalu fokus melawan Sabrina, ia jadi melupakan anaknya yang pasti sedang ketakutan saat ini.
"Iya, Sayang. Sebentar, ya," ucap Natasya lembut, lalu kembali menatap tajam Sabrina, "lebih baik kamu segera pergi dari sini."
"Emangnya kamu siapa, hah?! Berani banget ngusur aku dari sini!" sungut Sabrina yang sekarang sudah berteriak di hadapan Natasya.
Natasya menaikkan alisnya sebelah, "loh, ternyata kamu belum paham ya dari tadi? Oke, biar aku perjelas. Aku adalah menantu sah dari keluarga Adikusuma."
Sabrina semakin geram dengan ucapan berani Natasya. Sedangkan yang lain hanya diam menikmati perdebatan kedua wanita itu.
"Cukup, Sabrina," ucap Anjani menengahi mereka, "lebih baik kamu segera pergi, sebelum saya memanggil satpam untuk menyeret kamu keluar."
Sabrina tidak bisa berkutik lagi. Jika sampai dirinya diseret oleh satpam di hadapan semua orang, sudah bisa dipastikan bahwa harga dirinya akan hancur.
"Tunggu mama, Bhara," ucap Sabrina tajam keada Bhara, "mama akan kembali nanti untuk menjemput kamu."
Setelah mengatakan hal itu, Sabrina langsung pergi dari sana sambil terus menatap tajam Natasya. Sedangkan Natasya hanya memberikan tatapan remeh kepada wanita itu.
Setelah Sabrina sudah benar-benar keluar dari rumah Adikusuma, ekspresi Natasya langsung berubah. Ia bergegas menghampiri Bhara dengan raut wajah cemas.
"Bhara," panggil Natasya.
Natasya langsung mengambil alih tubuh Bhara dari gendongan Alan. Anak itu langsung menangis dan memeluk erat leher Natasya.
"Ssst... Tenang ya, Sayang. Bhara sudah aman sama mama sekarang," ucap Natasya mencoba menenangkan anaknya.
__ADS_1
Semua orang menatap Bhara dengan tatapan sendu. Anak itu pasti ketakutan tadi. Bhara pasti trauma dengan KDRT yang dilakukan keluarganya sebelum bertemu dengan Natasya.
...----------------...
Natasya menyelimuti tubuh Bhara yang sudah terlelap. Anak itu tertidur saat digendong oleh Natasya tadi. Dan sekarang, ia sudah dibaringkan di tempat tidur kamar Natasya.
Cklek
Pintu kamar Natasya dibuka dari luar. Natasya menoleh dan mendapati Johnathan yang berjalan menghampirinya.
"Natasya," panggil Johnathan.
Natasya tersenyum lembut melihat suaminya datang menghampiri dirinya. Johnathan duduk di tepi kasur, tepat di sebelah Natasya.
"Aku gak nyangka kalau Sabrina bakal datang ke rumah ini," lirih Johnathan, "maaf ya, kamu pasti kaget banget tadi."
Natasya menggenggam tangan suaminya pelan, "gak apa-apa, kita semua gak ada yang tahu kalau wanita itu bakalan datang."
"Aku cuma khawatir sama Bhara," ucap Natasya cemas, "dia pasti syok berat."
Johnathan mengalihkan pandangannya kepada wajah tenang Bhara yang sedang tertidur. Hidungnya memerah, pasti karena terlalu banyak menangis.
"Kak Johnathan," panggil Natasya, "eum... Boleh nggak... aku pengen tahu lebih banyak cerita tentang ibu kandung Bhara?"
Natasya diam dan memperhatikan wajah Johnathan, ia bersiap untuk mendengar semua yang akan dikatakan oleh suaminya itu.
"Aku sama Sabrina udah saling suka sejak SMA," kata Johnathan memulai kisahnya, "kami pacaran selama 7 tahun."
"Hubungan kami bisa dibilang sehat dan wajar, gak pernah macam-macam. Tapi malam itu... Semuanya terjadi gitu aja," lirih Johnathan.
"Kami berdua cuma ngelakuin 'itu' sekali, dan aku gak terlalu ambil pusing. Toh, waktu itu, aku pikir kalau kami berdua pada akhirnya akan menikah juga," lanjut Johnathan.
"Tapi, satu minggu setelah kejadian itu, tiba-tiba Sabrina minta putus," ucap Johnathan.
Natasya cukup terkejut mendengar fakta ini. Selama ini, ia mengira bahwa yang mengakhiri hubungan adalah Johnathan. Entahlah, ia hanya berpikir seperti itu tanpa alasan.
"Dia bilang kalau dia udah capek nungguin aku. Sabrina emang selalu minta ke aku untuk cepat-cepat nikahin dia, tapi aku selalu minta dia untuk menunggu karena aku mau menyelesaikan pendidikan S2 dulu."
"Tapi ternyata Sabrina udah benar-benar gak sabar buat nikah. Akhirnya, pas ada seseorang yang datang untuk melamar dia, Sabrina langsung setuju untuk menikah sama orang itu."
"Hah?! Bentar bentar," sela Natasya, "jadi, Sabrina udah nikah?!"
__ADS_1
Johnathan mengangguk pelan. Natasya semakin terkejut dengan fakta itu. Semuanya menjadi semakin rumit sekarang.
"Apa hubungan kalian selama 7 tahun gak berarti apa-apa buat dia?! Kenapa gampang banget diambil orang sih?" cibir Natasya.
Johnathan mengedikkan bahunya, "entahlah. Tapi aku paham kenapa dia rela ninggalin aku waktu itu. Selain emang gara-gara kesalahan aku yang selalu gantungin perasaannya, orang tuanya juga terus mendesak dia buat menerima lamaran dari orang itu. Calon suaminya adalah anak pengusaha kaya raya."
"Cih! Emang kenapa kalau anak pengusaha? Keluarga Kak Johnathan kan juga kaya," cibir Natasya.
Johnathan terkekeh pelan, "ya udah lah. Yang berlalu biar berlalu, lebih baik kita fokus sama apa yang terjadi sekarang."
Kemudian, Johnathan merentangkan kedua tangannya meminta sebuah pelukan dari istrinya. Natasya tertawa kecil, lalu menghambur ke dalam pelukan hangat sang suami.
"Sampai kapanpun, aku gak akan pernah menyesal sama apa yang telah terjadi, Natasya," ucap Johnathan sambil mengusap lembut pucuk kepala Natasya, "karena dengan begini, aku bisa ketemu dan hidup bersama kamu."
Natasya tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Johnathan, "aku juga bahagia karena bisa hidup bersama Kak Johnathan dan Bhara."
Johnathan tersenyum lebar mendengar kata-kata Natasya. Mereka terus berpelukan, menikmati kehangatan satu sama lain.
"Besok pagi, aku akan pindahin barang-barang kamu ke kamar ini," celetuk Johnathan.
Natasya langsung melepas pelukannya, dan menatap Johnathan ragu, "eum... Emang harus gitu ya?"
Johnathan menghela napas lelah, "kita kan udah nikah, Natasya. Pasangan yang udah menikah tuh emang seharusnya tidur sekamar."
"Kamu sendiri kan yang bilang kalau mau pindah ke kamar aku kalau udah selesai ujian?" imbuh Johnathan.
Natasya hanya menunjukkan cengirannya saat mengingat-ingat bahwa dirinya memang pernah berjanji akan pindah kamar setelah selesai ujian.
"Nanti biar kamar ini jadi kamar Bhara. Hmm... anak kita udah harus belajar tidur sendiri," ucap Johnathan sambil tersenyum jahil.
"Eh?!"
Natasya terkejut sekaligus malu dengan ucapan Johnathan. Kalau tidur bertiga sih masih bisa diatasi. Tapi kalau Bhara bisa tidur sendiri, maka Natasya hanya tidur berdua dengan Johnathan. Dan itu sangat tidak baik bagi keselamatan Natasya. (hmm... Oke, pemikiran Natasya terlalu berlebihan)
...----------------...
(muka julid Mama Natasya saat berdebat dengan Sabrina.)
__ADS_1
(Ini muka datar Mama Natasya pas melihat Sabrina berusaha untuk mendapatkan Bhara kembali.)