
Sinar matahari memasuki kamar sepasang suami istri muda melalui gorden jendela yang transparan. Kedua mata sang suami mengernyit terganggu dengan cahaya tersebut. Johnathan perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa pagi sudah tiba.
Ia menoleh ke samping dan tersenyum lembut. Istrinya tampak tertidur sangat pulas di bawah selimut yang menutup hingga ke bagian leher perempuan itu. Johnathan pun menggeser tubuhnya agar lebih mendekat kepada Natasya. Kemudian, ia pun memeluk tubuh ramping itu layaknya guling.
“Emh..,” Natasya menggeliat terganggu akibat pelukan Johnathan.
Johnathan terkekeh pelan, “selamat pagi, Sayang~.”
Natasya membuka matanya sedikit dan tersenyum melihat wajah tampan Johnathan yang berada tepat di depannya.
“Selamat pagi, Dokter~,” balas Natasya.
“Ini sudah pagi, masih belum mau bangun?” tanya Johnathan dengan nada lembut.
Natasya mendusal di dada Johnathan yang tidak tertutup apapun, “badan saya masih sakit semua…”
Johnathan meringis mendengarnya, pasti ia terlalu kasar saat mereka ‘bermain’ kemarin malam.
“Maaf, ya… gara-gara saya, tubuh kamu jadi sakit seperti ini,” ucap Johnathan.
Natasya menggeleng pelan, “tidak perlu minta maaf, Dokter.”
Johnathan menangkup kedua pipi Natasya dan menghadapkan wajah cantik itu agar mengarah paadanya. Ia menatap manik mata cantik itu dengan penuh cinta, lalu memberikan sebuah kecupan di dahi sang istri.
“Terima kasih, Natasya… terima kasih karena sudah menjadi istri saya… terima kasih untuk semuanya,” ujar Johnathan.
Natasya yang mendengarnya pun merasa Bahagia, “saya juga ingin berterima kasih kepada Dokter Johnathan, karena sudah mau menjadi suami yang sangat menyayangi saya.”
Johnathan dan Natasya sama-sama saling mengungkapkan cinta. Mereka berharap agar kehidupan pernikahan mereka bisa terus damai dan Bahagia ke depannya. Semoga saja, tidak ada lagi masalah yang menimpa keluarga mereka.
...----------------...
Siang harinya, Johnathan dan Natasya pergi ke pusat perbelanjaan, tentu saja bersama dengan buah hati tercinta mereka, Bhara. Satu minggu lagi, kuliah Natasya akan dimulai lagi, dan ia harus mencari barang-barang kebutuhan kuliahnya.
“Alan sudah membeli perlengkapan? Kenapa tadi dia tidak mau ikut kita?” tanya Johnathan.
Natasya mengedikkan bahunya, “saya tidak tahu, mungkin dia akan membelinya sendiri nanti.”
Tentu saja Alan tidak mau ikut mereka. Bungsu Adikusuma itu tidak mau menjadi nyamuk di tengah-tengah keluarga kecil yang sedang berbahagia itu.
__ADS_1
Mereka pun memasuki stationery. Natasya berdiri di depan rak-rak yang tersusun rapi di sana dan memilih-milih perlengkapan yang sekiranya ia butuhkan. Sementara itu, Johnathan menggendong Bhara dan berkeliling untuk melihat barang-barang lucu yang ada di sana.
“Papa, Bhala mau buku gambal,” pinta anak itu.
“Bhara mau yang mana? Tunjuk saja, Sayang,” ucap Johnathan menuruti permintaan anaknya.
Bhara memekik senang dan mulai menunjuk barang-barang yang menarik perhatiannya. Johnathan dengan santai memasukkan barang-barang yang diminta oleh anaknya. Tidak peduli berapapun uang yang akan dikeluarkan, yang penting ia akan menuruti semua keinginan sang anak.
“Buku sudah, pulpen sudah,” gumam Natasya sambil memeriksa Kembali belanjaannya.
Setelah dirasa sudah cukup berbelanja, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling guna mencari keberadaan suami dan anaknya. Tak lama kemudian, ia melihat Johnathan yang sedang menggendong Bhara berada di rak sebelah.
Natasya berjalan menghampiri mereka, tapi langkahnya terhenti dan matanya membelalak terkejut saat melihat keranjang belanja mereka yang sangat penuh, bahkan melebihi keranjang belanja miliknya.
“Astaga! Kalian beli apa saja?” tanya Natasya masih syok.
Bhara menoleh dengan senyum ceria, “mama! Papa beliin Bhala banyak cekali. Ada buku gambal, pencil walna, mainan. Banyak cekali, Ma!”
Natasya mendengus kesal dan menatap jengah Johnathan. Sedangkan, yang ditatap seperti itu hanya menyengir lebar bersiap untuk mendengar omelan sang istri.
“Mau memanjakan anak ceritanya?” Natasya menginterogasi Johnathan dengan tangan yang sudah bersidekap dada.
“Tapi kan bisa dibatasi, kalau seperti ini malah mengajarkan Bhara untuk boros,” omel Natasya.
“Iya iya, lain kali tidak seperti ini lagi. Tapi yang ini biarkan saja ya, sudah diambil masa mau dikembalikan,” ucap Johnathan mencoba membujuk Natasya.
Natasya hanya mendengus kesal, lalu berlalu begitu saja menuju kasir. Johnathan dan Bhara terdiam cukup lama menatap punggung Natasya.
“Mama kamu cerewet sekali ya ternyata,” celetuk Johnathan.
Bhara menoleh dengan tatapan polos, tapi sedetik kemudian, anak itu tersenyum… licik? Dan tiba-tiba berteriak, “mama! Kata papa, mama celew—mmphh!”
Johnathan langsung membekap mulut anaknya yang ember itu. Natasya yang sudah sampai di tempat kasir pun menoleh.
“Dokter! Itu Bhara jangan dibekap! Nanti tidak bisa bernafas!” teriak Natasya.
Johnathan melepas bekapan tangannya dari mulut sang anak sambil mendengus kesal. Sedangkan Bhara sudah tertawa kencang melihat papanya yang terus dimarahi oleh sang mama.
‘Astaga… anak siapa sih ini?! menyebalkan sekali,’ dumal Johnathan dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain, Alan ternyata pergi ke kampus untuk mengurus acara organisasi. Jangan lupakan fakta bahwa Alan adalah mahasiswa yang aktif berorganisasi. Bahkan, di kala libur kuliah seperti ini, ia masih terus bolak balik ke kampus.
Saat sedang mengerjakan proposal dengan tenang di salah satu bangku di tepi danau sendirian, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Alan mengira jika itu adalah salah satu temannya. Tapi saat ia menoleh, ternyata bukan, itu adalah seseorang yang sangat ia benci.
“Jadi, Natasya sudah menjadi istri kakakmu, ya?”
Alan hanya memandang laki-laki yang merupakan kakak tingkatnya itu dengan tatapan kesal. Ia sama sekali tidak ingin berbicara dengan Haikal. Ya, Haikal yang sering mengganggu Natasya itu.
“Bukankah kamu juga menyukai Natasya? Kamu pasti sakit hati, kan?” tanya Haikal dengan senyum mengejek.
Alan mengeraskan rahangnya, “bukan urusanmu.”
Haikal terkekeh pelan, lalu mengarahkan pandangannya ke depan, “haah~ kamu tidak pandai memanfaatkan situasi, ya. Padahal kamu punya kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan--, emm… maksudku merebut Natasya.”
Alan menutup laptopnya dengan kasar dan menatap nyalang laki-laki di sebelahnya yang sangat menyebalkan itu.
“Tutup mulutmu atau kuhajar lagi kamu di sini sekarang juga,” ancam Alan.
Haikal menoleh, tatapannya masih santai dan seperti tidak terganggu dengan ancaman Alan. Laki-laki itu tersenyum miring.
“Kamu terlalu bodoh, Alan,” kata Haikal, “apa kamu selemah itu, hingga menyerah begitu saja dan tidak berusaha untuk memperjuangkan cintamu?”
“Kalau aku, pasti akan terus berusaha untuk mendapatkan orang yang aku cintai,” imbuh Haikal.
Alan berdecih remeh, “cih! Jangan menyebut obsesi gilamu itu dengan kata cinta! Menjijikkan.”
Setelah berkata seperti itu, Alan langsung mengemasi tasnya dan pergi dari sana. Ia sudah tidak tahan jika harus berdekatan dengan Haikal lama-lama. Laki-laki itu benar-benar sudah gila.
Iya, Haikal sudah gila, hingga mungkin kegilaannya itu akan menimbulkan bencana besar.
...----------------...
Siapa yang udah pengen konflik lagi??? Hehe... Chapter kali ini happy-happy dulu yaa... Kasihan Natasya kalau dikasih konflik terus xixi
Si cowok organisasi, Alan Robert Adikusuma ❤❤>>>
__ADS_1
...🚨 Cek instagram & tiktok @cacalavender untuk melihat konten POV 🚨...