
"Huaaaa! MAMAAA...."
"Bhara... Tenang dulu ya, Nak. Mama pasti pulang..."
"Hiks... MAMAA..."
"Ssst... Udah ya, Sayang. Jangan nangis lagi..."
"Bhara mau apa, Nak? Mainan? Jajan? Es krim? Kakek akan belikan semuanya."
"Ndak mau... Hiks... Bhala mau mama..."
Seluruh anggota keluarga Adikusuma beserta baby sitter anak itu kewalahan untuk menenangkan Bhara yang terus meraung mencari mamanya.
“Bhara… mama akan segera pulang… sekarang berhenti menangis dulu, ya. Nanti dadanya sesak,” ucap Johnathan lembut.
Bhara yang sedang digendong oleh Johnathan pun menggeleng rebut, “mau mama cekalang… ndak mau nanti.”
“Bhara,” panggil Alan, “Bhara ingat kan kalau mama Natasya sedang kuliah hukum?”
Bhara mengangguk pelan. Walaupun anak itu tidak terlalu mengerti apa itu kuliah, atau apa itu hukum, tapi yang jelas ia tahu kalau Natasya adalah seorang pelajar yang cukup sibuk.
“Nah, mama Natasya sekarang sedang ada ujian praktik, jadi tidak bisa pulang ke rumah dulu,” bohong Alan.
Bhara berhenti menangis dan hanya sesenggukan, “ujian?”
“Iya,” sahut Anjani, “mama Natasya harus ujian supaya bisa lulus.”
Anak itu terlihat mencerna ucapan paman dan neneknya. Semua orang tersenyum lega saat melihat Bhara mulai percaya kepada mereka. Biarlah berbohong sedikit, yang penting anak itu tidak rewel lagi.
Tidak lama kemudian, satpam rumah Adikusuma masuk bersama dengan beberapa orang berpakaian rapi. Semua orang yang di dalam rumah pun menoleh dan bertanya-tanya siapa orang-orang itu.
“Selamat sore, Tuan Adikusuma,” ucap salah seorang wanita berumur 40-an yang berpakaian rapi.
Hendry terdiam saat melihat wanita itu. Menjadi pengacara terkenal membuat Hendry kenal dengan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di bidang hukum, salah satunya adalah wanita itu.
“Sepertinya Tuan Adikusuma sudah mengenal saya,” ucap wanita itu dengan nada tenang, “tapi saya tetap akan memperkenalkan diri terlebih dahulu.”
“Nama saya Andin Hartini, saya adalah kepala KOMNAS perlindungan anak Jakarta Selatan,” wanita yang bernama Andin itu menunjukkan ID card-nya.
Semua orang terkejut dan menjadi tegang. Mereka semua khawatir dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
__ADS_1
“Jadi, apa tujuan anda datang kesini, Nyonya Hartini?” tanya Hendry yang sebenarnya sudah tahu maksud kedatangan kepala KOMNAS perlindungan anak beserta para tim-nya.
“Saya datang untuk menjemput Bhara agar tinggal untuk sementara di KOMNAS Perlindungan Anak hingga kasus ini selesai,” kata Andin.
Bahu mereka semua merosot lemas karena ucapan Andin. Belum cukup menantu Adikusuma harus ditahan selama berhari-hari, kini mereka ingin mengambil cucu keluarga Adikusuma satu-satunya.
“Tidak!” seru Anjani, “jangan coba-coba ambil Bhara! Ini rumahnya! Dia tidak akan pergi kemanapun!”
Alan memegangi pundak Anjani agar ibunya itu bisa tenang. Sedangkan Bhara sudah mulai terisak karena melihat neneknya yang berteriak marah.
“Hiks… Papa…,” Bhara mengeratkan pelukannya pada leher Johnathan.
“Maaf, Nyonya Anjani. Bhara tetap harus tinggal di KOMNAS Perlindungan Anak. Hal ini karena Bhara berstatus sebagai korban penculikan, dan kalian adalah keluarga dari terdakwa,” tegas sang kepala KOMNAS.
Bhara semakin menangis kencang mendengar ucapan wanita asing itu. Meskipun ia tidak terlalu paham, tapi ia tahu kalau dirinya akan dibawa pergi dari rumah ini.
“Hiks… Bhala nda mau pelgi…,” lirih anak itu.
Hati Johnathan rasanya sangat sakit melihat anaknya menangis ketakutan.
“Tolong… Jangan bawa anak saya…” ucap Johnathan dengan nada lemah.
Pria Tangguh seperti Johnathan bisa memohon seperti itu demi sang anak. Beberapa hari ini, ia merasa sangat tidak berdaya atas segala kejadian yang menimpa keluarganya secara bertubi-tubi.
Kepala KOMNAS itu mengernyitkan dahinya bingung. Meskipun begitu, ia tetap setuju untuk mengikuti Hendry. Kemudian, Hendry mengajak Andin untuk pergi ke ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Sebelum pergi, Hendry memberikan isyarat kepada keluarganya agar mereka tenang dan mempercayainya.
...----------------...
Seluruh keluarga Adikusuma sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu dengan cemas sang kepala keluarga yang sedang bernegosiasi dengan kepala KOMNAS Perlindungan Anak.
“Papa…,” panggil Bhara yang berada di pangkuan Johnathan.
“Apa Bhala akan belpicah dengan papa?” tanya anak itu dengan tatapan berkaca-kaca.
Johnathan memaksakan diri untuk tersenyum manis kepada sang anak, walaupun matanya sudah sangat panas ingin menangis.
“Tidak, Sayang…,” ucap Johnathan lembut, “Bhara tidak akan pergi kemana-mana. Bhara akan tetap bersama papa, dan kita akan segera berkumpul lagi bersama mama.”
Anak itu mendengarkan jawaban Johnathan dengan penuh tatapan penuh harap. Padahal Johnathan sendiri, dalam hatinya terus menerus berdoa agar ayahnya berhasil meyakinkan sang kepala KOMNAS agar tidak membawa anaknya. Sementara itu, Anjani sudah menangis pelan di pelukan Alan.
Tap… Tap… Tap…
__ADS_1
Mereka semua menoleh ke arah Hendry dan Andin yang sedang berjalan menuruni tangga. Semua orang berdiri untuk mendengar hasil dari negosiasi barusan.
“Baiklah, Tuan Adikusuma. Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamit Andin dengan nada yang lebih ramah.
Semua orang merasa lega sekaligus heran dengan ucapan wanita itu yang tiba-tiba pamit tanpa membahas Bhara lagi. Setelah itu, sang kepala KOMNAS Perlindungan anak itu pergi bersama dengan tim-nya. Mereka semua meninggalkan kediaman Adikusuma tanpa mengatakan apapun lagi.
“Sayang,” panggil Anjani sambil bergegas menghampiri suaminya, “apa yang terjadi? Bagaimana wanita itu bisa langsung pergi begitu saja?”
Hendry terkekeh pelan saat mendengar istrinya begitu penasaran.
“Hanya memberikan sedikit penawaran, lalu kami sepakat,” jawab Hendry dengan makna tersirat.
“Ayah melakukan penyuapan?” tanya Alan tidak percaya.
Hendry mengedikkan bahunya, “wanita itu terkenal tegas karena selalu tampil di media dengan sosok dirinya yang aktif membela anak-anak.”
“Tapi tetap saja, manusia akan gelap mata kalau sudah dihadapkan dengan harta dan jabatan,” imbuh Hendry diiringi dengan kekehannya.
Semua orang menatap Hendry penuh tanda tanya. Tidak, tentu saja mereka senang karena Bhara tidak jadi dibawa pergi. Namun, mereka heran dengan perubahan sikap Hendry. Pria bijaksana yang selalu taat hukum itu, kini menjadi sering melakukan pelanggaran hukum.
“Ayah,” panggil Alan, lalu berucap dengan hati-hati, “bukankah seluruh tindak penyuapan itu salah?”
Hendry melihat Alan dan terdiam cukup lama. Pria itu menyadari raut wajah keraguan dari anak sekaligus muridnya itu. Sebagai seorang ayah dan dosen, ia seharusnya memberikan contoh yang baik.
“Ayah masih memiliki hati Nurani, Alan,” jawab Hendry dengan penuh pengertian, “ayah melakukan ini tidak semata-mata hanya untuk kepentingan ayah sendiri. Selama ini, ayah selalu bersikap jujur dalam bekerja di bidang hukum. Tapi, ayah tidak akan tinggal diam jika melihat orang-orang yang ayah sayangi menderita karena hukum.”
Mereka semua menyimak ucapan Hendry dengan perasaan trenyuh.
“Ada hal yang lebih penting daripada menaati hukum, yaitu teguh dalam pendirian yang kita anggap benar dan tidak merugikan orang lain…”
“…karena hukum tidak selamanya adil.”
Sepertinya, Alan mendapatkan kuliah pribadi yang penting hari ini.
...----------------...
...🚨 PENGUMUMAN 🚨...
...Selain baca novel 'Mama Untuk Bhara', para pembaca baik hati juga bisa melihat konten tentang novel ini di akun sosmed author. Yukk... Nonton video-video menarik tentang novel 'Mama Untuk Bhara'...
...instagram : @cacalavender...
__ADS_1
...tiktok : @cacalavender...