Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
45 : Kebenaran


__ADS_3

Natasya menemani Bhara bermain lego di kamar. Mereka hanya berdua, karena Papa Johnathan ada panggilan untuk operasi mendadak. Bhara yang sedang bermain lego di karpet mendongak untuk melihat mamanya yang sedang duduk di sofa. Mamanya itu terlihat sibuk bermain ponsel, entah apa yang dilakukan oleh perempuan yang sangat ia sayangi itu.


"Mama," panggil Bhara.


"Hmm?" gumam Natasya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Bhara yang merasa diabaikan pun merasa kesal. Lalu, ia sengaja berteriak lantang.


"MAMA!"


"Eh! Astaga!" kaget Natasya, "ya ampun, Bhara. Kamu bikin mama kaget aja."


"Huh! Mama nakal cih! Mama pelnah bilang kan, kalau lagi main cama Bhala, mama gak bakal mainan hp cendili. Bohong! Mama main hp teluc dali tadi, gak mau main cama Bhala!" omel anak itu sambil bersidekap dada.


Natasya yang mendengar omelan Bhara, bukannya merasa bersalah atau bagaimana, justru sekarang tertawa kencang karena ekspresi anaknya yang begitu lucu. Perempuan itu turun dari sofa dan duduk di depan anaknya.


"Ahaha! Astaga! Kamu lucu banget sih," seru Natasya, lalu mencubiti kedua pipi bulat Bhara, "utututu~ anaknya mama lagi marah, ya?"


"Aaaaaa! Mamaaa!" kesal Bhara karena pipinya diuyel-uyel terus.


"Ahaha! Iya iya," ujar Natasya, lalu melepas cubitannya, "maafin mama ya, Sayang karena udah mainan hp terus."


Bhara mencebikkan bibirnya kesal. Kemudian, anak itu pun lanjut bermain lego-nya lagi. Sekarang ia sudah tidak marah, yang penting mamanya fokus menemani dirinya bermain.


"Eum... Bhara," panggil Natasya.


"Apa, Ma?" jawab Bhara sambil tetap fokus pada mainannya.


Natasya tertawa kecil mendengar suara lucu Bhara. Anaknya itu selalu menggemaskan. Kemudian, tawa Natasya hilang dan berganti dengan raut wajah berpikir perempuan itu.


"Bhara ingat nggak, waktu pertama kali Bhara ketemu sama mama di bandara?" tanya Natasya.


Bhara menoleh dan mengangguk semangat, "ingat, Ma. Bhala ndak mungkin lupa waktu peltama kali ketemu cama mama. Itu adalah caat yang telindah di hidup Bhala."


Natasya tersenyum mendengarnya. Hatinya tersentuh atas ucapan Bhara barusan. Ia berpikir, darimana anaknya itu bisa merangkai kata-kata yang mengharukan seperti itu.


"Manis banget sih, anak mama," ucap Natasya sambil mengusak rambut Bhara.


Anak itu tertawa ringan, lalu kembali bermain.


"Oh iya, mama penasaran. Kok kamu bisa ada di toilet bandara sendirian? Kamu sebenarnya berangkat ke bandara sama siapa?" tanya Natasya hati-hati.


Bhara menoleh sebentar, lalu fokus ke mainannya lagi, "Bhala ke bandala cama mama lina."


"Ooh, sama mama sabrina," ucap Natasya, ia masih berusaha untuk mengorek informasi dari Bhara, "memangnya kalian mau pergi kemana? Kok bisa sampai di bandara?"

__ADS_1


Bhara mengedikkan bahunya, "mama lina bawa Bhala ke bandala kalena dikejal cama papa Tio."


Dahi Natasya mengernyit bingung, ia berusaha untuk memahami ucapan Bhara.


'Papa Tio? Apa itu mantan suaminya Sabrina, ya? Berarti ucapan Sabrina itu benar, kalau mantan suaminya yang udah ngelakuin kekerasan dalam rumah tangga mereka,' batin Natasya.


"Terus, kenapa harus ke bandara? Mama Sabrina mau bawa Bhara pergi naik pesawat, ya?" tanya Natasya kembali.


Bhara menggeleng, "ndak tau. Mama lina cuma bilang kalau Bhala diculuh nunggu di toilet, dan ndak boleh pelgi kemana-mana."


'Jangan-jangan waktu itu Sabrina beneran lagi berusaha melindungi Bhara, ya? Apa dia minta Bhara sembunyi di toilet bandara biar gak ketemu dan disiksa sama mantan suaminya?' batin Natasya yang mulai percaya dengan semua ucapan Sabrina waktu itu.


"Bhara," panggil Natasya, "Papa Tio itu... Jahat sama mama Sabrina, ya?"


Bhara terdiam sebentar, lalu mengangguk lemas, "Papa Tio... Jahat, cuka mukul mama."


Natasya menatap sendu Bhara yang saat ini terlihat sedih. Bhara dan mama kandungnya pasti tersiksa selama ini.


"Bhara dipukul juga, Nak?" tanya Natasya sambil menahan air matanya.


"Bhala dibentak-bentak teluc cama Papa Tio," anak itu menjeda ucapannya, "tapi Papa Tio ndak pelnah mukul Bhala."


"Hah?"


Tunggu, Natasya jadi bingung sekarang. Kalau mantan suami Sabrina tidak pernah memukul Bhara, lalu bagaimana Bhara mendapat luka lebam waktu itu. Atau, jangan-jangan....


Namun, Bhara hanya diam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Astaga! Padahal Natasya sempat percaya kalau Sabrina hanya korban di sini. Tapi melihat reaksi Bhara seperti ini, sepertinya dugaannya di awal dulu benar.


Grep!


Natasya langsung membawa Bhara ke dalam pelukannya dan mengusap pelan punggung anak itu.


"Hiks... Mama lina jahat," cicit Bhara disela isak tangisnya, "papa Tio malahin Bhala, tapi mama lina ndak pelnah belain Bhala. Hiks... Mama lina malah ikut malahin dan mukulin Bhala."


Natasya ikut meneteskan air matanya mendengar cerita pilu anaknya itu. Ia mendekap erat Bhara agar anak itu tahu bahwa dia sekarang sudah memiliki mama yang sangat menyayanginya.


...----------------...


Setelah menenangkan Bhara dan menimang-nimang anak itu hingga tertidur, Natasya bergegas menuju ruang kerja Hendry. Ayah mertuanya itu tidak pergi ke firma hukum hari ini, melainkan bekerja dari rumah.


Tok... Tok... Tok...


Natasya mengetuk pintu ruang kerja Hendry. Setelah mendengar perintah "masuk" dari dalam, ia pun segera membuka pintu.


Cklek

__ADS_1


Hendry yang sedang duduk di kursi kerjanya menoleh, "Natasya? Ada apa, Nak?"


Natasya berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang berada di hadapan Hendry.


"Ayah, apa saja yang sudah ayah dapatkan dari kasus KDRT yang dialami Bhara?" tanya Natasya.


Hendry paham, ternyata menantunya itu ingin membicarakan kasus Sabrina.


"Hmm... Ayah sedang menyelidiki mantan suami Sabrina. Tidak mudah untuk menemukan bukti bahwa dia adalah pelaku KDRT terhadap Bhara. Ditambah fakta bahwa pria itu adalah orang penting, jadi sangat sulit untuk memenjarakan orang itu nanti, kalau dia memang terbukti bersalah," jelas Hendry.


Natasya mengangguk-angguk paham, "Ayah, jujur saja, saya sudah tidak peduli lagi dengan mantan suami Sabrina..."


"... Karena yang melakukan kekerasan terhadap Bhara adalah Sabrina, bukan mantan suaminya," imbuh Natasya.


"Ayah juga berpikir seperti itu, tapi... Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita harus mempercayai semua kemungkinan sebelum menemukan bukti yang jelas? Termasuk kemungkinan bahwa Sabrina adalah korban, bukan pelaku," tanya Hendry.


"Tapi, saya sudah yakin kalau Sabrina adalah pelakunya," seru Natasya dengan yakin, "Bhara sendiri yang mengatakan hal itu kepada saya."


Mata Hendry melebar, "Bhara mengatakannya kepada kamu? Apa dia berkata bahwa Sabrina selama ini sering memukulnya?"


Natasya mengangguk mantap.


"Sudah kuduga, Sabrina bukan wanita baik-baik," geram Hendry, "kalau begitu, ayah akan fokus untuk menyelidiki Sabrina."


Natasya mengangguk dan menatap Hendry penuh harap. Natasya tidak peduli lagi jika Sabrina adalah korban kekerasan dari mantan suaminya sendiri, karena wanita itu adalah pelaku kekerasan terhadap Bhara. Seharusnya, Sabrina tidak melampiaskan rasa sakitnya kepada anak sekecil Bhara.


Cklek!


Brak!


Hendry dan Natasya menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka dengan kasar. Ternyata, itu adalah Alan yang baru saja datang dengan wajah tidak santai.


"Ada apa, Al?" tanya Hendry.


Alan tampak terengah-engah menetralkan napasnya. Sepertinya, laki-laki iti baru saja berlari.


"Ayah... Natasya...," panggil Alan, "di bawah ada Sabrina."


Hendry dan Natasya terkejut. Untuk apa lagi wanita itu datang ke rumah mereka?


...----------------...


Para readers baik hati... Kalian bingung gak sama cerita ini??? Author khawatir kalau penyampaian ceritanya malah susah dipahami T_T


Intinya tuh, Natasya dari awal nebak kalau pelakunya itu mama kandung Bhara. Tapi pas Sabrina datang dan jelasin kalau dirinya bukan orang yang mukuli Bhara, Natasya mencoba buat percaya dulu, soalnya orang hukum haram buat menerka pelaku tanpa bukti.

__ADS_1


Tapi pas tanya sama Bhara, anak itu bilang sendiri kalau mama kandungnya yang sudah mukulin dia. Nah, akhirnya Natasya percaya 95% kalau Sabrina pelakunya. Kenapa gak 100%? Karena buktinya cuma ucapan, belum terlalu kuat. Jadi gitu yaaa 😊♥


__ADS_2