
Ada rasa ragu di hati Vany saat mereka sudah sampai di depan kamar ruang perawatan Pak Sofyan, yqng Vajy tau pak Sofyan adalah pemimpin di perusahaan mereka sebelum Agam menjabat.
Selama ini mereka belum pernah bertemu. Namun, yang ua dengar ayah pria yang telah memberinya anak itu adalah pria yang baik.
Vany hanya mengikuti Agam yang menggendong Adelia masuk ke dalam ruang perawatan tersebut.
"Assalamualaikum," sapa Agam yang langsung dijawab oleh ayah dan ibunya Agam.
Agam melihat ayahnya yang kini sudah duduk sambil disuapin bubur oleh ibunya, pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya semenjak ia pulang dari luar negeri. Di mana selama ini ayahnya terus berbaring di tempat tidur dengan alat yang terus melekat pada tubuhnya.
"Adelia," ucap Sari yang langsung menghampiri Agam dan mengusap rambut cucunya, mengecup kening dan kedua pipinya.
"Ini nenek masih bisa gendong nggak, ya?" ucap Sari yang ingin menggendong Adelia. Namun, melihat tubuh Adelia yang lumayan berisi membuat ragu, ia takut jika sampai memaksakan diri menggendong cucunya ia malah akan menjatuhkannya. Sari melihat kaki cucunya yang masih diperban. "Kakinya masih sakit, Sayang?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab Adelia dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Jangan, Bu. Adelia cukup berat untuk, Ibu," ucap Agam juga menciup gemas pipi putrinya yang memang mirip bakpao. Vany merawat dan memberikan makanan yang terbaik untuk putrinya selama ini, walau mereka masih sering dalam masalah keuangan.
"Ayo sini, sama kakek," ucap Pak Sofyan menaikkan satu tangannya meminta Agam untuk membawa putrinya mendekat. Agam pun berjalan dan mendekat ke arah sang ayah dan menundukkan Adelia di samping ayahnya.
Adelia masih bingung, mereka tak saling mengenal, tetapi keduanya menyebut kakek dan nenek, membuat ia menatap ayahnya dengan mata bulatnya.
"Sayang, ini kakek dan nenek. Ayah dan ibunya ayah, mulai sekarang Adelia panggil mereka Kakek Nenek, ya," ucapnya membuat Adelia yang tadi terlihat bingung kini tersenyum dan menatap kakek dan neneknya secara bergantian.
"Ibu, apa Adelia juga punya kakek dan nenek?" tanyanya, di mana ia baru saja mendapatkan seorang ayah dan kini ia kembali mendapatkan seorang kakek dan nenek, sesuatu hal yang bahkan tak pernah terpikir olehnya.
"Kakek," ucapnya begitu senang membuat Pak Sofyan langsung mengecup pipi cucunya dengan mata berkaca-kaca. mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Ia kembali memeluk dan menutup-numpuk pelan punggung cucunya, kini setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia sangat bahagia ia bisa melihat cucunya.
"Ayo katakan lagi, panggil kakek." Pak Sofyan yang merasa panggilan itu sangatlah istimewa.
"Kakek, apa kakek akan tinggal bersama dengan Adelia juga?" tanya Adelia membuat Pak Sofyan pun mengangguk dan mengiyakannya.
__ADS_1
"Nanti setelah Kakek keluar dari rumah sakit, kita ke rumah kakek, ya. Ajak ibumu juga, kita tinggal sama-sama," ucapan Sofyan membuat Adelia yang selama ini merasa kesepian karena selalu dititipkan di tempat penitipan pun mengangguk senang.
Sementara Sofyan, Agam dan juga Adelia kini sama-sama bercanda, dengan adanya Adelia yang duduk di samping, Sofyan serasa memiliki kekuatan baru.
Sari, ibu Agam memanggil Bany untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu, letaknya tak jauh dari mereka bertiga.
Keduanya duduk berhadapan, Sari mengambil tangan Vany. "Agam sudah cerita semua kepada kami tentang apa yang terjadi pada kalian 5 tahun lalu, aku tahu kamu tak bermaksud apa-apa dengan tak memberitahu kehadiran Adelia pada Agan, Kan?"
Vany mengangguk, "Aku hanya tak ingin mengganggu kehidupan Agam, Bu."
"Ibu, Paham. Terima kasih, di tengah kesulitan yang kamu hadapi kamu mau merawat dan membesarkan cucuku dengan baik." Vany tak tahu harus menjawab apa, Ia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apa kamu mau menjadi menantu di keluarga kami?" tanya Sari langsung, membuat Agam yang mendengarnya juga berbalik. Sama halnya dengan Vany, Agam juga terkejut. Ia saja belum menawarkan hal itu pada Vany.
"Adelia, Adelia sama kakek dulu, ya," ucap Agam membuat Adelia pun mengangguk dan Agam pun berjalan menghampiri Vany dan juga ibunya. Ia bisa melihat wajah kebingungan Vany dan juga menatap ke arahnya.
__ADS_1