Mantan Suamiku Ternyata Bosku

Mantan Suamiku Ternyata Bosku
Hadiah Untuk Istri dan Anak


__ADS_3

Dengan wajah sumringah Dodi yang meminta izin untuk pulang lebih awal langsung menuju ke rumah yang telah disepakati dengan temannya itu, walau rumah itu masih sederhana dan jauh dari kata mewah. Namun, rumah itu sangat layak untuk mereka huni untuk sementara, ia akan memberikan rumah itu dulu untuk mereka sambil mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang lebih layak lagi.


"Semoga saja Nilam dan anak-anak suka tinggal di sini," gumam Dodi di mana tepat di samping rumah itu adalah sekolah dasar, ia berencana akan memindahkan anak-anak kembali ke sekolah tersebut. Dengan begitu, Nilam tak akan kesulitan mengantar anak-anaknya ke sekolah, dimana selama seminggu ini ia berjalan kaki cukup jauh untuk mengantar anak-anaknya.


Awalnya mereka menggunakan ojek online. Namun, satu minggu terakhir saat uang mereka menipis, Nilam yang sudah mengerti memutuskan untuk mengantar anak-anaknya berjalan kaki, mereka berangkat lebih awal. Nilam, akan menunggu anak-anaknya pulang sekolah dan kembali berjalan kaki pulang ke rumah.


Dadi sangat terluka melihat hal itu. Namun, semua ditahannya dan tetap giat bekerja dan hasilnya sangat memuaskan, itulah salah satu yang membuat Dodi memilih rumah itu sebagai tempat tinggal mereka sementara ini.


Setelah membersihkan rumah itu, juga mengisi kulkas dan juga perabotan makannya, tak lupa ia juga membeli lemari, tempat tidur, sofa, TV, bahkan mesin cuci untuk istrinya. Ia sudah memperhitungkan semuanya dan sisanya akan digunakannya untuk ongkos ke kantor dan juga uang makan mereka selama sebulan ini, untuk saat ini ia tak akan memikirkan mengenai tabungannya dulu dalam 5 bulan ke depan, ia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya dengan melengkapi apa yang dibutuhkan istrinya di rumah itu dan apa yang di inginkan anak-anaknya, barulah kemudian ia akan mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli rumah.


Sebelumnya Dodi sudah mendiskusikan hal itu pada Nilam, ia ingin dialah yang akan mengatur keuangan mereka sampai mereka bisa membeli rumah. Nilam yang sudah tak ada lagi ibunya yang mempengaruhinya hanya menurut saja.


Itulah salah satu yang membuat Dodi ingin keluar dari kampung dan jauh dari mertuanya, karena selama ini istrinya selalu saja membantah apa yang dikatakannya dan menuruti ibunya.

__ADS_1


Sepulang dari mempersiapkan semua rumah mereka, Dodi membeli makanan yang enak, membeli ayam goreng untuk anak-anaknya. Mereka semua malam ini makan dengan enak dan lahap, suatu kebahagiaan tersendiri melihat anak-anaknya makan dengan lahap apa yang dibelinya.


Mereka menunggu sampai anak-anak mereka tertidur, setelah Nilam menidurkan anak-anak mereka ia menghampiri Dodi yang duduk di kursi plastik yang sudah hampir patah, mereka hanya menggunakan prabotan yang ada di rumah itu, mereka memakai semua perabotan yang ada di rumah itu walaupun sudah tak layak pakai.


"Mas, bagaimana? Apa Mas sudah gajian sehingga membeli makanan sebanyak ini?" tanya Nilam melihat makanan yang bahkan masih tersisa di atas meja, ia akan menyiapkan makanan itu kembali untuk mereka makan besok pagi.


"Iya, siapkan barang-barang kita, besok Mas tak masuk ke kantor, besok hari libur kita akan ke rumah baru kita, Mas sudah bicara pada guru anak-anak jika kita akan memindahkan mereka," ucap Dodi membuat Nilam tersenyum senang, ia berharap mereka akan tinggal di rumah yang lebih layak.


Setelah mereka siap-siap dan menghampiri pemilik kontrakan tersebut, ia memberikan kunci rumahnya dan mengatakan jika mereka akan pindah. Sebagai rasa terima kasih Dodi karena waktu itu pemilik rumah tak memberi beban dengan membayar sebulan full, membuat Dodi melebihkan uang tambahan untuk menutupi kekurangan uang yang diberikannya saat pertama tinggal di sana.


"Maaf ya, Pak. Kami sudah tak bisa tinggal di sini lagi," ucap Dodi.


"Iya, Nak. Sebenarnya di rumah ini memang sudah tak layak, bapak ingin memperbaikinya. Semoga kamu mendapat rumah yang lebih baik untuk keluargamu," ucap bapak tersebut membuat Dodi pun mengangguk dan mereka pun pergi ke rumah di mana mereka akan tinggal menggunakan taxi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan anak-anak terus melihat ke kiri dan ke kanan, melihat gedung yang bertingkat dan taman-taman yang indah.


"Mas, apa tempatnya masih jauh?" tanya Nilam.


"Sudah dekat kok, sedikit lagi mungkin 15 menit lagi," ucap Dodi membuat mereka pun kembali melihat pemandangan di luar sana.


"Anak-anak kalian lihat bangunan itu? Di sana ayah bekerja," tunjuk Dodi pada perusahaan di mana ia bekerja.


"Serius Mas bekerja di sana? Kapan-kapan aku boleh ya menghampiri Mas di kantor?" ucap Nilam yang juga ingin melihat bagaimana suasana kantor, bagaimana tempat suaminya itu bekerja.


"Tentu saja boleh, tapi jangan dulu ya. Mas kan baru sebulan kerja, tunggulah satu tahun Mas bekerja atau doakan Mas dalam tahun ini bisa naik jabatan dan memiliki ruangan sendiri di kantor itu, setiap hari kamu bisa menemani Mas ke kantor untuk bekerja setelah mengantar anak-anak sekolah," ucap Dodi membuat Nilam pun kegirangan dan mengangguk dengan senang, anak-anak juga merasa bahagia saat melihat tempat bekerja ayah mereka yang begitu megah. Hingga mereka berhenti di sebuah rumah, rumah yang sederhana. Namun, terlihat sangat layak untuk mereka tinggali, jauh berbeda dari rumah yang sebelumnya.


"Turunlah, ini rumah kita," ucap Dodi.

__ADS_1


__ADS_2