
"Bagaimana kabar kalian, Nak?" ucap paman Vany bersikap baik pada Vany, jauh berbeda saat sifat terakhir mereka bertemu.
"Baik, Paman," jawabnya, dimana mereka kini sudah duduk di ruang tamu sederhana di kediaman itu. Vany tak pernah lepas menggandeng tangan Agam, seolah menegaskan pada mereka semua jika kini ia bukanlah Vany yang dulu, kini ada Agam yang akan menjaganya jika mereka sampai berani kembali menyakitinya.
"Paman tak menyangka jika kalian mau datang ke tempat sederhana kami ini, terima kasih, Nak Agam," ucap paman juga bersikap baik menyambut Agam, juga sangat berbeda dengan sambutannya dulu saat mendapati Vany bersama dengan Agam di mobil waktu itu, saat ia ingin membawa Vany pergi dari kampung itu.
"Aku hanya ke sini ingin berterima kasih karena Anda sudah menampung Vany di sini selama beberapa tahun. Aku hanya tak ingin ada hutang budi di antara kalian dan satu hal lagi tolong jangan mengganggu Vany dengan mengirim pesan-pesan seperti yang kalian lakukan selama ini," ucap Agam membuat paman Vany langsung bersitatap dengan istrinya dan ia pun berdahem.
"Maaf jika masalah pesan itu, kami tak bermaksud mengganggu, kami pikir Vany mungkin tak membacanya karena pesannya tertumpuk dengan pesan lainnya, makanya kami terus mengiriminya dengan harapan Vany mau menaggapinya," ucap paman menjadi salah tingkah.
"Ibu buatkan minum dulu, ya," ucap bibi Vany yang kemudian ingin berdiri menuju ke dapur.
"Gak usah, Bi. Kami nggak lama kok di sini. Mas Agam sangat sibuk. Oh ya, ini aku bawa sedikit oleh-oleh dari luar negeri, aku harap Bibi suka," ucap Vany memberikan oleh-oleh dari luar negeri tersebut yang telah ia pisah dengan yang lainnya.
"Untuk bibi?" Ia pun langsung mengambil apa yang dipegang oleh Vany, ia langsung melihat apa isinya. Matanya berbinar senang saat melihat jika itu adalah pakaian yang sangat indah.
"Terima kasih ya, Vany. Kamu memang anak yang baik, tak lupa membelikan kami oleh-oleh yang indah ini. Harganya berapa? Apa hanya ini saja? Apa tak ada yang lain lagi?" ucap bibi Vany melihat ke arah koper besar yang dibawa oleh Vany tadi saat mereka datang. Matanya terus tertuju pada koper itu setelah menerima paper bag yang ada di tangannya.
"Oh iya, di tas itu juga ada beberapa hadiah untuk kalian semua, itu untuk yang lainnya dan ini untuk paman," ucap Vany kembali memberikan satu paper bag lagi untuk pamannya. Paman Vany juga dengan cepat mengambilnya dan juga ikut langsung melihat apa isi dari paper bag tersebut, ia juga senang mendapatkan ponsel baru dan Baju batik baru.
Sedangkan bibi Vany sudah berdiri dan membongkar isi koper tersebut tanpa di persilahkan, membuat Agam hanya menggeleng kecil.
Bibi Vany membongkar semua dengan lincah, Ia sangat senang saat melihat begitu banyak mainan untuk cucunya dan juga beberapa oleh-oleh lainnya untuk kedua anaknya dan matanya langsung tertuju pada kotak yang ada di tumpukan salah satu mainan, ia yakin jika itu adalah kotak perhiasan.
Ia pun langsung mengambil kotak tersebut dan membuka isinya, matanya hampir keluar saat melihat satu set perhiasan di sana.
Ia pun langsung berdiri dan menghampiri Vany kembali.
"Apa ini perhiasan asli?" tanyanya membuat Vany pun mengangguk dengan senyum terpaksanya.
"Terima kasih ya, lain kali bawah yang lebih banyak lagi," ucap bibi Vany dengan tak tahu malunya dan dengan segera memakai semua perhiasan tersebut, membuat Agam hanya melirik ke arah bibi Vany dengan kening berkerut meresa heran.
'Sudah diberi emas, tetap saja meminta lebih.' Agam hanya bisa membatin melihat kelakuan mereka.
"Oh ya, apa Bibi masih menyimpan barang-barangku? Apa aku boleh mengambilnya?" tanyanya membuat bibi dan juga paman Vany saling melihat dan memberikan senyum canggungnya.
"Ada apa? Di mana barang-barangku? Apa kalian sudah membuangnya?" tanya Vany membaca raut wajah merek.
"Maaf, tadi kami pikir itu adalah sampah yang sudah tak berguna lagi, makanya kami buang dan kamarmu sudah kami gunakan untuk kamar cucu kami," ucap bibi Vany membuat Vany hanya menghela napas berat dan menatap ke arah Agam dengan raut wajah sedih. Ada sedikit kecewa yang tersirat dari tatapan tersebut.
__ADS_1
"Ya sudah, aku rasa kalian sudah bertemu. Aku sedang ada banyak pekerjaan, maaf kami tak bisa berlama-lama, pergi dulu," ucap Agam yang berdiri dari duduknya, membuat Vany langsung ikut berdiri dan paman Vany dengan cepat menghentikan mereka.
"Apa kalian tak berniat untuk menginap dulu? Menginaplah, lagian Vany kamu belum ketemu dengan kakak-kakakmu, kan? Mereka sebentar lagi akan datang," cegah paman Vany.
"Maaf, Pak. Akan tetapi aku benar-benar sibuk, kami harus pulang sekarang," ucap Agam yang menjawab pertanyaan tersebut, ia langsung menarik Vany keluar dari rumah itu, ia yakin jika kedua kakak Vany datang akan lebih banyak drama di rumah itu dan ia tak ingin menghabiskan waktu dengan semua drama yang tak penting itu. Agam ingin menghabiskan waktu dengan Vany, bukan mendengar omelan mereka yang tak masuk akal.
"Vany, kenapa kamu pergi begitu cepat? Kamu bahkan belum makan bersama kami, Nak. Ini juga rumah kamu dulu, kan. Pergilah setelah makan siang," ucap bibi Vany.
"Terima kasih, Bi. Maaf aku harus pergi, Bibi dengar sendiri kan jika suamiku sedang sibuk, dia ada pekerjaan," ucap Vany yang kembali ingin berjalan keluar. Namun, tiba-tiba kedua kakak sepupu Vany datang begitupun dengan anak-anak mereka dan langsung menghalangi mereka yang ingin keluar. Bukan hanya itu saja, suami mereka juga datang dan langsung menyalami Agam dan sok akrap.
"Ini kalian sudah mau pulang? Kok buru-buru sekali, kita kan baru bertemu," ucap salah satu kakak sepupu Vany dan menarik Vany untuk kembali masuk ke dalam rumah mereka. Namun, Agam langsung menghentikan apa yang dilakukan oleh sepupu Vany tersebut, ia tak suka melihat Vany diseret seperti itu oleh mereka.
"Maaf, tetapi kami benar-benar sibuk, meluangkan waktu ke sini saja kami harus mencari waktu yang pas. Jadi, maaf kami harus pergi sekarang," ucap Agam tegas dan menarik kembali Vany untuk tetap berada di sampingnya.
"Iya, Pak. Kami mengerti jika Anda pasti sangat sibuk. Oh ya, perkenalkan ini suami saya, dia sarjana dan sudah dipastikan ia sangat pandai dalam pekerjaannya. Namun, sayang perusahaannya ada masalah dan harus mengurangi beberapa karyawan dan salah satunya adalah suamiku, kalau Anda tak keberatan bolehkah suamiku diterima bekerja di perusahaan Anda? Kita kan sudah keluarga, kamu boleh memperkerjakan di bagian mana saja, tetapi jika bisa carilah posisi yang cukup tinggi dan mendapat gaji yang lumayan besar. Lihatlah, aku punya dua orang anak kami harus menafkahi anak-anak kami, memberikan yang terbaik untuk mereka," ucap anak tertua dari bibi Vany tersebut, membuat Agam hanya menghela napas jengah.
Ternyata anak sama ibu sama saja, mereka sama-sama tak tahu diri, apa mereka tak sadar jika dulu mereka pernah memperlakukan Vany dengan tak baik, apa mereka berpikir ia akan memperlakukan mereka dengan baik setelah apa yang mereka lakukan dulu pada istrinya.
"Maaf, itu urusan kalian, jika ingin mendapat pekerjaan yang lebih bagus dan gaji tinggi silahkan melamar pekerjaan sendiri dan carilah perusahaan yang memang cocok dengan Anda, jika memang kualitas pekerjaan Anda bagus Anda pasti akan mendapat gaji yang tinggi tanpa meminta dariku," ucap Agam melihat suami dari sepupu Vany tersebut yang juga terlihat menyombongkan diri.
Agam malas meladeni mereka, dan menarik Vany ke mobil mereka. Agam membuka pintu mobil untuk Vany, ia melihat Vany masih berdiri saat kembali mendapat panggilan dari Pamannya.
"Ayolah, kita ini keluarga tak masalah kan kamu memberikan pekerjaan pada suamiku, kami tak meminta uang kalian, kami hanya meminta pekerjaan," ucap yang lainnya yang tak membiarkan Vany pergi.
"Saya akan berusaha bekerja dengan sebaik mungkin, Pak. Jika Bapak mempercayakan saya untuk memberikan pekerjaan kepada saya, saya mohon Pak," ucap suami dari sepupu Vany yang usianya lebih muda. Ia sejak tadi bersikap lebih sopan dari yang lainnya.
"Baiklah, kalian berdua datanglah ke perusahaanku. Namun, aku tak janji jika kalian akan mendapat pekerjaan," ucap Agam memberikan kartu namanya kemudian barulah sepupu Vany itu melepaskan tangan Vany dan mengambil kartu nama yang disodorkan oleh Agam. Agam langsung menarik Vany untuk masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya, ia berjalan cepat memutar pintu tersebut, ia tak ingin lagi terjebak di sana. Ia ingin segera pergi saat ada kesempatan, tak ingin ada halangan lagi yang menghalangi mereka untuk pergi dari sana secepatnya.
Agam benar-benar geram berada di sekitaran orang-orang seperti mereka. Namun, baru saja ia akan naik ke mobilnya, ia melihat pak Yosep, orang yang katanya akan dinikahkan dengan Vany waktu itu melambaikan tangan padanya dan berlari kecil menghampirinya. Orang tersebut terlihat menghampiri Agam dan ingin berbicara membuat Agam pun menghentikan langkahnya masuk ke mobil.
"Mas, ayo masuk. Kita pulang saja," ucap Vany yang bisa melihat pak Yosef ingin menghampiri Agam.
"Jangan keluar dari mobil," ucap Agam, dia juga ingin tahu apa yang ingin disampaikan oleh pria yang pernah hampir saja menikahi istrinya itu.
Pak Yosep langsung menghampiri Agam dan menyalaminya.
"Apakah Anda suaminya Vany?" tanya pak Yosep membuat Agam pun menyambut uluran tangan pak Yosep.
"Iya, saya suaminya," jawab Agam dengan bangga.
__ADS_1
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, apakah Vany bahagia hidup bersamamu? Oh ya, di mana dia?" tanya pak Yosep melihat ke arah di dalam mobil. Namun, Agam menghalangi pandangan pak Yosep untuk melihat istrinya.
"Tentu saja Vany sangat bahagia menjadi istriku, dia sangat bahagia tak jadi menikah dengan Anda dan menikah denganku. Kami sudah memiliki anak sekarang dan aku rasa istri saya tak mau bertemu dengan Anda," ucap Agam yang masih menghalangi pandangan pak Yosep yang terus mencoba mengintip. Tadi ia melihat sosok wanita cantik yang masuk ke dalam mobil tersebut dan pak Yosep yakin jika itu adalah Vany.
"Maaf, Pak. Aku rasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi dulu, anak aku ada di rumah, kami meninggalkannya," ucap Agam yang bergegas masuk ke dalam mobil meninggalkan pak Yosep yang masih terus mencoba mengintip. Agam langsung menutup kaca jendela mobilnya.
"Apa yang dikatakannya, Mas?" tanya Vany membuat Agam mengangkat bahunya dan melajukan mobilnya.
"Ini untuk terakhir kalinya kita ke kampung ini, aku tak mau ke sini lagi, aku tak mau kau bertemu dengan keluargamu apalagi pria tua itu," ucap Agam membuat Vany pun hanya mengangguk. Mungkin memang lebih baik mereka tak datang lagi, tatepi jika keluarganya datang menemuinya ke kota ia tak akan menolak dan akan menyambut mereka, walau bagaimanapun jahatnya mereka di masa lalu mereka tetaplah keluarganya, ia tak punya siapa lagi keluarga di dunia ini dari kedua orang tuanya kecuali mereka.
Vany sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu, ia juga menganggap jika mungkin saja semua kejadian di masa lalu itu adalah jalan yang harus dilaluinya untuk bertemu dengan kebahagiaannya saat ini.
Agam melajukan mobilnya menuju ke kontrakan di mana dulu mereka tinggal bersama setelah mereka menikah.
Begitu Vant masuk, ia menarik garis senyumnya di mana rumah itu masih begitu tertata rapi dan yang paling membuatnya takjub semua perabotannya masih sama seperti terakhir ia meningalkannnya, padahal itu sudah berlalu 5 tahun yang lalu. Tata letak semua barang-barangnya juga masih sama waktu itu, Vany mendapat tempat di rumah temannya sehingga ia tak mengambil beberapa barang yang sudah dibelinya dan disimpan di rumah itu. Ia berpikir biarkan saja perabotan yang sudah dibelinya dipakai oleh orang yang akan menyewa kamar itu. Namun, ternyata Agam sudah membeli rumah itu untuknya dan yang ia tahu dari Agam jika selama ini tak ada penghuni dan tinggal di sana. Namun, rumah itu selalu terawat dan bersih, mereka pun melangkah masuk.
"Aku mau mandi dulu, aku gerah," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk, ia bisa melihat jika seprai yang ada di kasur itu pun sepertinya masih baru, sepertinya Agam sudah menyiapkan semuanya sebelum mereka datang.
Vany membuka tas ranselnya dan mengeluarkan baju dan handuk untuk Agam, sementara ia mencoba menuju ke dapur. Vany tertawa kecil saat melihat ternyata dapur mereka juga masih lengkap dan yang paling membuat Vany geleng-geleng kepala, isi kulkas di rumah itu masih penuh, sepertinya Agam benar-benar mempersiapkan kedatangan mereka.
"Baiklah, aku akan memasak makan malam untuk kita," gumam Vany kemudian mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas dan mulai memasaknya, di saat ia memasak ia terkejut saat Agam tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Mas, kamu ya yang menyiapkan semua ini? Bahkan bahan makanan juga lengkap di dalam kulkas," tanya Vany membuat Agam hanya mengangguk sambil terus memeluknya dari belakang.
"Kita akan tinggal di sini selama seminggu, anggap saja kita bulan madu lagi. Karena saat di luar negeri kita kan bertiga bukan berdua."
"Lalu bagaimana dengan Adelia?" tanya Vany membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher Agam.
"Tenang saja, ayah dan ibu pasti menjaganya. Lagian anak kita sudah besar dan dia anak yang pintar sudah waktunya memberikan adik untuknya," ucap Agam membuat Vany tersipu malu dan mendorong dada Agam.
"Sana tunggulah di luar, aku masak dulu nanti makanannya keburu gosong," ucap Vany kembali membalikan tubuhnya melanjutkan memasaknya, membuat Agam langsung mengecup pipi Vany dan berpamitan menemui temannya. Ia pun memilih untuk menghampiri temannya di rumah yang tak jauh dari rumah mereka.
Vany dengan senyum di wajahnya menyiapkan makan malam untuk mereka, ia sengaja membuat makan malam untuk 4 orang, mungkin saja Agam akan mengajak temannya itu untuk makan malam bersama dan benar saja saat makan malam Agam mengajak sahabatnya itu untuk makan bersama dengan mereka.
"Vany, bagaimana kabarmu?" tanyanya mengulurkan tangannya, membuat Vany pun menyambut uluran tangan pria yang pernah banyak menolongnya itu, saat ia masih tinggal di rumah ini.
"Aku baik, ayo silakan dicicipi, maaf aku hanya bisa masak ini," ucap Vany merendah padahal ia bisa melihat keduanya makan dengan lahap masakannya.
"Ini sudah sangat enak," ucapnya kemudian mereka pun makan dengan lahap makanan yang ada di hadapan mereka. Sesekali mereka bercanda, Agam menceritakan bagaimana pengalamannya bersama dengan Vany yang kembali bertemu setelah lama berpisah, membuat temannya itu ikut bahagia mendengar kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Malam itu mereka pun menginap di sana dan akan berencana menginap di rumah itu selama satu minggu ke depan, mengulangi kembali bulan madu mereka yang sempat terganggu dengan adanya Adelia yang selalu tidur bersama dengan mereka saat di luar negeri beberapa waktu lalu.