
Vany sedang beristirahat di kamarnya melihat-lihat postingan media sosial dan dia tak sengaja melihat postingan media sosial dari pamannya yang menggugah kembali postingan yang telah di postingnya terakhir kali.
"Alhamdulillah kamu sudah bahagia, Nak. Semoga kamu selamanya akan selalu bahagia, maaf dulu kami tak bisa membahagiakanmu seperti suamimu membahagiakanmu sekarang," tulis paman tersebut dalam caption postingannya.
Vany menghala napas melihat postingan tersebut, membuat Agam yang sejak tadi berbaring di sampingnya mendengar helaan napas dari sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya membuat Vany memperlihatkan postingan yang diunggah oleh pamannya.
"Lihatlah, mereka bertingkah seolah mereka adalah keluarga yang baik dan perhatian padaku saat aku masih bersamanya, jika bukan karena kamu Mas mungkin aku sudah tinggal bersama dengan pria tua itu," ucap Vany, pria tua pilihan sang paman dinikahkan dengannya hanya untuk melunasi hutang-hutangnya.
"Itu karena kita jodoh, sejauh apapun jarak kita, kita tetap bertemu dan di pertemukan dalam sebuah hubungan pernikahan dan kita kembali berpisah. Namun, karena kamu memanglah jodoh terakhirku kita kembali dipertemukan, dan aku harap kita tak akan pernah dipisahkan lagi."
"Aamiin, Mas. Aku tak tahu jika tak ada kamu mungkin aku akan mengakhiri hidupku saat itu," ucap Vany membuat Agam langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Vany.
"Jangan pernah mengatakan hal itu, aku tak akan bisa jika sampai kehilanganmu." Vany memeluk erat sang suami.
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Vany, Agan melihatnya itu adalah pesan dari seseorang. Agam bisa melihat jika begitu banyak pesan dari akun yang sama.
"Siapa dia?" tanya Agam melihat nomor tersebut yang masih mengirim pesan pada Vany. Ya itu adalah sepupu Vany yang melihat Vany sedang online, membuat ia pun mengirim pesan sebanyak mungkin pada Vany agar Vany mau membalas salah satu pesannya.
"Dia sepupuku, anak dari paman. Aku nggak tahu apa yang sering dikirimnya, aku tak pernah membukanya, selama aku pergi dari kampung. Aku hanya melihat postingan mereka saja, takutnya ada hal-hal yang memang penting yang harus aku lihat, tetapi aku tak pernah merespon ataupun memberi tanggapan dari pesan-pesan mereka."
Mendengar itu Agam membuka pesan tersebut yang jumlahnya melebihi ratusan pesan, Agam hanya membuka pesan beberapa terbawah yang baru saja dikirim hari ini. Ia bisa membaca kalimat permintaan maaf dari mereka semua dan ingin agar Vany tetap menjaga silaturahmi pada mereka, walau bagaimanapun mereka adalah keluarga.
"Apa kamu mau memaafkan mereka?" tanya Agam melihat ke arah Vany membuat Vany mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Apa aku jahat jika aku tak mau memaafkan mereka?" tanyanya balik.
"Itu hakmu, kamu mau memaafkan atau tidak." Agam kembali membaca beberapa pesan disana.
"Mereka adalah keluargaku, hanya mereka yang aku punya. Paman memang pernah melakukan hal yang hampir saja merusak masa depanku begitupun yang lainnya. Mereka selalu membuat hari-hariku sangatlah lelah dengan pekerjaan ini dan itu, begitupun rasa iri yang diberikan oleh kedua sepupuku, saat mereka memakan dan menggunakan pakaian yang aku inginkan, tetapi aku tak mendapatkannya." Vany menghela napasnya kembali mengingat masa itu. Dari semua keburukan yang di alaminya, masih ada kebaikan di hati mereka yang bisa membuat Vany masih menganggap mereka keluarga.
"Jika tak ada mereka yang menampungku mungkin kondisiku akan lebih parah lagi. Mungkin aku akan terlunta-lunta di jalan dan mengemis atau bahkan mungkin aku bisa saja kehilangan nyawa saat usiaku masih kecil dulu saat orang tuaku meninggal," ucap Vany mengingat masa lalunya.
"Ya sudah saat pulang nanti kita akan menemui mereka, tak ada salahnya tetap menjalin silaturahmi dengan mereka, kan? Kita menghampiri mereka dan kembali ke tempat kita dengan begitu kamu tak akan ada bebankan," ucap Agam membuat Vany setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, tak ada salahnya ia berkunjung kembali ke rumah dimana rumah itu telah menampungnya selama bertahun-tahun.
Mungkin dengan begitu ia tak akan merasa bersalah karena mengabaikan niat baik mereka untuk kembali menjalin hubungan keluarga.
Mereka menikmati bulan madu mereka, berpindah dari negeri satu ke negeri yang lainnya. Vany sangat senang, ini untuk pertama kalinya ia pergi ke luar negeri dan bersama dengan orang yang ia sayangi, bersama dengan ayah dari anaknya. Bukan hanya Vany saja yang merasa senang. Adelia juga merasa sangat gembira karena Agam memenuhi semua apapun yang diinginkannya, baik pergi ke tempat-tempat yang diinginkan oleh Adelia ataupun membeli apa saja yang diinginkannya.
Rencananya mereka akan pergi ke empat negara. Namun, nyatanya selama lebih dari sebulan mereka hanya menikmati dua negara saja. Namun, semua itu sungguh sangat berkesan bagi Vany dan juga Agam, mereka bisa meresakan cinta mereka.
"Aku akan menitipkannya pada Vanessa," gumam Vany memilih beberapa oleh-oleh lagi, kemudian matanya tertuju pada sepasang baju yang terlihat sangat cantik dan ia pun mengingat paman dan juga bibinya.
Vany menatap kedua pakaian itu dan mengusapnya.
"Mas, bagaimana kalau aku membeli ini untuk paman dan bibiku?"
"Iya, beli saja. Bukankah kamu juga mempunyai saudara sepupu? Tak masalah belikan saya juga untuk mereka, anggap saja ini ucapan terima kasih karena pernah memberikan kebahagiaan untukmu walaupun sangat kecil," ucap Agam membuat Vany mengangguk. Ia tak mau membalas kejahatan mereka dengan kejahatan juga, sekarang kehidupannya sudah lebih bahagia, ia berharap dengan tak menyimpan rasa dendam di hatinya kebahagiaannya akan terus bersamanya dan akan semakin bahagia kedepannya.
Vany pun membeli beberapa oleh-oleh juga untuk saudara sepupunya begitupun dengan anak-anak mereka, ternyata memaafkan membuat hatinya merasa lebih lega. Ia melihat kantong belanjaan yang begitu banyak yang di bawahnya begitupun dibawa oleh Agam.
__ADS_1
"Apa masih ada lagi?" tanya Agam membuat Vany pun menggeleng. Kemudian mereka pun kembali ke apartemen mereka, besok mereka harus pulang. Vany sangat puas dengan bulan madu mereka, walau Agam masih ingin bersama dengan Vany di berbagai negara yang ada di belahan dunia ini. Namun, ia sadar ia memiliki tanggung jawab lain selain membahagiakan keduanya.
Malam hari Agam dan Vany menyiapkan semua perlengkapan mereka yang akan mereka bawa pulang. Agam melihat Adelia yang sudah tertidur dengan pulas di tempat tidur mereka, selama sebulan ini berbulan madu mereka jarang tidur berdua dan hanya mencuri waktu saat Adelia sedang tidur. Namun, mereka sangat bahagia bisa tidur bersama dan menikmati waktu bersama, setelah semua selesai dengan barang-barang mereka Vany pun izin untuk tidur lebih dulu sementara Agam masih mempersiapkan kepulangan mereka.
Agam meminta orang-orang untuk memasukkan barang-barang mereka ke mobil sehingga besok pagi mereka bisa langsung menuju ke bandara.
Setelah semua selesai, Agam tak langsung tidur. Ia kembali melihat akun media sosial Vany, melihat-lihat pertemanan yang ada di statusnya ternyata Vany selama ini jarang mengunggah apa yang dilakukannya. Ia senang saat melihat Vany mengunggah pernikahan mereka dan juga momen-momen kebersamaan mereka saat bulan madu, kemudian ia kembali tertarik saat melihat beberapa pesan kembali masuk dari keluarga Vany yang ada di kampung.
Lagi-lagi masih pesan permintaan maaf dari mereka, membuat Agam pun membalas pesan tersebut.
"Maaf, bukannya aku tak ingin bersilaturahmi lagi dengan kalian, aku hanya sedang sibuk. Sekarang aku sedang di luar negeri bersama anak dan suamiku, jika ada waktu aku akan mengunjungi kalian. Walau kalian telah menzalimiku selama ini, twtapi aku tak pernah menyimpan dendam pada kalian," tulis Agam kemudian mengirimnya.
"Benarkah? Terima kasih Vany, kami menunggu kedatanganmu. Beri kabar jika kamu mau datang, biar kami bisa menyambutmu."
"Tak usah menyambutku, aku akan datang jika memang sudah ada waktu," balas Agam kemudian ia keluar dari akun media sosial tersebut, ia tak ingin lagi berbalas pesan tak penting dengan orang-orang yang pernah menyakiti istrinya itu. Ia setuju untuk mengunjungi mereka hanya untuk kebahagiaan mereka kedepannya.
Agam melihat Vany, ia melihat sosok yang tegar. Vany telah hidup sendiri sedari kecil dengan banyak kedukaan yang dialaminya, hidup bersama dengan keluarga yang tak menyayanginya pasti semua itu terasa berat baginya, ia kembali datang dan menambah bebannya saat ia memberikan Adelia padanya dan meninggalkannya. Penyesalan itu kini semakin dirasakannya, mengapa ia tak kembali pada Vany waktu itu saat mengetahui tunangannya mengakhiri pertunangan mereka, jika saat itu ia kembali bersama dengan Vany mungkin ia akan membesarkan Adelia bersama-sama.
Agam ikut bergabung berbaring dengan mereka, sebelum tidur Agam kembali mengecup kening keduanya.
"Selamat tidur, tidur yang nyenyak. Aku akan menjaga kalian," ucap Agam ikut tertidur sambil memeluk keduanya.
Pagi hari seperti rencana mereka, mereka akan kembali di pagi hari. Lagi-lagi Agam memanjakan keduanya dengan memberikan yang terbaik dalam penerbangannya. Sari dan juga Sofyan yang mengetahui jika keduanya sudah dalam perjalanan pulang menyiapkan penyambutan sederhana untuk anak, menantu dan cucunya itu. Ia meminta asisten rumah tangga untuk memasak makanan kesukaan Agam dan mencari tahu makanan kesukaan Vany, begitupun dengan Adelia.
Sofyan yang sudah sebulan tak menemui cucunya merasa sangat rindu, walau mereka tak pernah absen seharipun untuk saling berkomunikasi. Namun, tetap saja rasa rindu tetap dirasakannya karena berpisah dari cucunya.
__ADS_1
"Sebentar lagi cucuku akan datang, aku sudah tak sabar ingin memeluknya," ucap Sofyan membuat Sari pun hanya tersenyum menatap kebahagiaan di wajah suaminya. Kehadiran Adelia merupakan suatu berkah bagi keluarga mereka.