
Sofyan menyambut kehadiran mereka semua khususnya Adelia, begitu ia melihat cucunya ia langsung merentangkan tangannya dan memeluk cucunya dengan sangat erat.
"Cucuku sayang, kakek sangat merindukanmu," ucapnya sambil mengusap lembut rambut Adelia.
"Adelia juga merindukan Kakek. Bagaimana kabar Kakek?" ucap Adelia mengusap bagian jantung dari kakeknya, ia tahu jika kakeknya selama ini berada di rumah sakit karena bermasalah dengan jantungnya. Vany sudah menjelaskan kondisi kakeknya pada putrinya itu.
"Adelia adalah jantung keduanya kakek. Jadi, walaupun jantung kakek bermasalah, tetapi jantung kedua kakek pasti terus tersenyum dan menyemangati kakek. Kakek akan terus merasa senang dan sehat, Sayang," ucap Sofyan mengecap kedua pipi cucunya membuat Adelia tertawa geli saat rambut-rambut halus yang ada di pipi kakeknya itu menancap dan memberikan rasa geli di pipinya.
"Bagaimana keadaan Ayah?" sapa Agam setelah memeluk ibunya begitupun dengan Vany yang menyapa ibu mertuanya.
"Lihatlah, ayah jauh lebih sehat dari sebelumnya. Ayay punya obat yang tak ternilai dengan apapun. Ayah ingin sehat dan bisa bermain dengan cucu ayah. Bagaimana liburan kalian, menyenangkan tidak?" tanya Sofyan membuat Agam pun mengangguk dan tersenyum.
"Ayo, nanti saja kangen-kangenannya, mereka pasti lapar," ucap Sari membuat Sofyan pun langsung mempersilahkan mereka untuk menuju meja makan.
"Ibu, apa ada tamu lain?" tanya Vany yang melihat di meja makan begitu banyak makanan.
"Tak ada, Sayang. Ini khusus untuk menyambut kalian. Ibu sengaja membuat masakan kesukaan kalian. Oh ya, maaf jika semua ini tidak sesuai dengan keinginanmu, ibu hanya tahu jika kamu menyukai makanan ini dari salah satu temanmu," ucap Sari yang mencari tahu beberapa makanan kesukaan mereka dari orang-orang dekat Vany.
"Iya, Bu. Nggak papa, Vany suka semua makanan ini," ucap Vany kemudian mereka pun makan bersama-sama, sesekali Vany menceritakan bagaimana liburan mereka saat di luar negeri. Agam hanya mendengar dan tersenyum bahagia melihat bagaimana kedekatan Vany dengan kedua orang tuanya. Saat Vany masih bercerita dengan ibunya, Adelia juga asik bercerita panjang lebar pada kakeknya. Sementara dia yang merupakan anak kandung dari keduanya hanya bisa menggeleng dan fokus pada makanannya.
Sebelum ada Vany dan Adelia, dialah pusat perhatian dari kedua orang tuanya. Namun, setelah mereka ada sepertinya ia tersisih dan mereka kini mengambil posisinya. Namun, Agam bahagia akan hal itu, ia beruntung mendapatkan Vany dan membawa Vany ke keluarganya sebagai seorang istri.
Setelah selesai makan, Agam, Sofyan dan juga Adelia menuju ke taman belakang. Mereka bermain di sana. Sementara Vany bersama dengan Sari membereskan makanan yang ada di meja makan, ia meminta para bibi untuk membagi-bagikan makanan tersebut kepada pembantu yang lain yang bekerja di rumah itu. Karena porsinya sangat banyak, beberapa dari mereka juga bahkan membawa pulang untuk keluarga mereka di rumah, hal itu merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi mereka membawa pulang makanan yang enak yang mungkin bahkan belum pernah dimakan oleh keluarga mereka. Walau itu adalah makanan sisa dari majikan mereka. Namun, itu tak buat mereka sungkan untuk mengambil karena banyak dari makanan tersebut yang bahkan tak disentuh oleh keluarga besar Agam.
****
"Ayah, Vany berencana menemui keluarga mereka di kampung. Bagaimana menurut Ayah?" tanya Agam di mana ia sudah menceritakan semua bagaimana sikap orang tua Vany di kampung sebelumnya pada Vany.
__ADS_1
"Apa Vany sendiri yang ingin mengunjungi mereka?" tanya Sofyan di mana ia sudah dijelaskan pada Agam seperti apa sikap mereka semua pada Vany, bahkan saat mereka menikah dulu, Vany sudah mengundang mereka. Namun, tetap saja paman yang bertindak sebagai walinya tak bisa datang, begitupun yang lainnya.
"Awalnya Agam yang membuka pesan dari mereka semua yang meminta maaf dan meminta Vany untuk bersilaturahmi dengan mereka, Vany juga merasa ada hutang budi pada mereka yang telah membesarkannya, walau ada beberapa tindakan yang membuatnya tak nyaman selama tinggal dengan mereka," jelas Agam.
"Ya sudah, bawalah dia menemui keluarganya setidaknya jika telah membawanya tak ada lagi beban di hatinya, tetapi ayah tak mengizinkanmu untuk membawa Adelia. Ayah tak mau jika sampai terjadi sesuatu padanya saat berada di sana dan satu hal lagi. Selama di sana jaga istrimu baik-baik. Jika perlu setelah kalian bertegur sapa dan memberikan beberapa bingkisan pada mereka, kalian langsung pulang saja, menyapa mereka sudah cukup tak usah sampai berlama-lama," ucap Sofyan membuat Agam mengangguk mengerti. Ia juga setuju dengan pendapat ayahnya.
Keesokan harinya Vany sibuk membagi-bagikan oleh-oleh yang dibawanya, ia sengaja meminta Vanessa untuk membantunya membagi oleh-oleh untuk karyawan kantor, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya yang ada di apartemen sebelumnya dan terakhir ia melihat oleh-oleh yang khusus dibeli untuk keluarganya di kampung.
"Mas, bagaimana dengan oleh-oleh keluarga di kampung? Apa aku kirim saja atau kita yang membawanya langsung?" tanya Vany di mana selama beberapa hari ini mereka tak pernah membahas masalah kunjungan mereka ke kampung halaman paman Vany.
"Aku sudah mengatur semuanya, besok pagi kita akan pergi ke kampung. Adelia akan kita titip sama ayah dan ibu. Kita pergi pagi agar kita bisa pulang saat sore hari," ucap Agam.
"Iya, aku ikut kamu aja , Mas."
"Kita akan menginap di kontrakan di mana dulu kita tinggal setelah kita menikah, aku juga ingin kembali mengukir kenangan kita di sana. Aku sudah meminta pemilik kontrakan itu untuk menyiapkannya."
"Sebenarnya aku sudah membeli rumah itu khusus untukmu waktu itu, aku tak tahu jika kamu sudah tak tinggal lagi di sana. Aku membelinya sebelum aku ke luar negeri."
Mendengar itu Vany pun mengangguk, ternyata saat Agam pergi dulu ia tak langsung melepas tanggung jawab atasnya, walau mereka sudah bercerai, ia masih memikirkan kondisinya dengan membeli rumah itu untuknya.
"Ya sudah, sekarang istirahatlah besok kita berangkat pagi-pagi sekali. Malam ini Adelia biar tidur bersama dengan ayah dan ibu lagi," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk dan kembali membereskan beberapa oleh-oleh yang akan mereka bawa besok begitupun dengan pakaian yang akan mereka bawa, perjalanan ke kampung cukup jauh dan akan memakan waktu sehari dalam perjalanan, mereka membawa beberapa pasang pakaian untuk berjaga-jaga mengingat di sana adalah kampung akan sulit membeli pakaian untuk mereka jika pakaian mereka basah ataupun kotor.
****
Keesokan harinya sesuai rencana Vany dan Agam, mereka pun menuju ke kediaman keluarga besar Vany di kampung. Ia sengaja tak memberi kabar terlebih dahulu, Vany tak ingin membuat kehebohan di keluarganya, biarlah ia menemui mereka secara mendadak.
Sepanjang perjalanan Agam dan Vany terus bercerita panjang lebar mengenai rencana mereka kedepannya, Vany meminta Agam untuk mengizinkannya kembali bekerja di kantor. Namun, Agam tetap tak mengizinkannya dan memintanya untuk tetap tinggal di rumah menjaga Adelia dan menemani ibunya, Vany sama sekali tak keberatan akan hal itu, ia hanya merasa tak enak jika hanya terus berdiam diri di rumah karena sudah terbiasa bekerja sebelumnya. Namun, Agam meyakinkan jika dialah yang bekerja dan Vany akan tinggal di rumah.
__ADS_1
Dalam perjalanannya ke rumah paman dan sebentar lagi akan sampai, Vany melihat ke arah seseorang yang berjalan di depan mobil mereka itu adalah pak Yosep, pria yang hampir saja menjadi suaminya.
"Mas, kamu lihat pria yang di depan itu?" tanya Vany membuat Agam pun mengangguk. Ia memelankan mobilnya karena jalannya cukup sempit dan banyak orang yang berjalan di sana termasuk pak Yosep untuk melihat hasil panen mereka.
Agam dan Vany bisa melihat beberapa karung gabah berada di pinggir jalan, sepertinya saat ini di kampung itu telah memasuki musim panen.
"Pria itu? Pria tua itu?" tanya Agam yang bahkan ia bisa melihat jika pria itu lebih tua dari ayahnya.
"Iya, padahal istrinya sudah ada dua, tetapi dia masih ingin menambah lagi, untung saja aku tak menjadi istrinya."
"Dasar kakek-kakek tua, sudah punya dua istri masih tak mau bersyukur," gumam Agam ia menggenggam tangan Vany dan mengecupnya.
"Aku bersyukur kamu di takdirkan untukku, aku datang tepat waktu dan menggagalkan acara pernikahan kalian," ucap Agam buat Vany pun mengangguk. Ia juga bersyukur akan hal itu hingga saat ini.
Tanpa sadar mereka pun sampai di kediaman keluarga Vany. Agam markirkan mobilnya di depan kediaman tersebut, Vany bisa melihat jika paman dan bibinya ada di depan rumah dan melihat ke arah mereka.
"Itu paman dan bibiku," ucap Vany membuat Agam pun mengangguk dan mereka pun turun, tak lupa Agam membawa oleh-oleh yang mereka bawa dan simpan di bagasi, sementara pakaian mereka tetap mereka simpan di dalam mobil, mereka tak ada berkeinginan untuk menginap di sana, mereka memilih untuk menginap di hotel atau langsung melajukan mobil mereka menuju ke kontrakan yang sudah dibeli oleh Agam.
"Bapak, itu kan Vany," ucap ibu yang melihat Vany dan Agam berjalan menghampiri mereka. Bapak yang juga bisa melihat keponakannya itu pun menyambut mereka dengan senyuman, tak lupa ia meminta sang istri untuk menelpon kedua anaknya untuk datang dan menemui Vany.
"Selamat siang, Paman, Bibi," sapa Vany membuat paman pun menyambut mereka dengan senyuman dan mempersilahkan mereka masuk.
"Mengapa kalian tak mengabari kami sebelum datang? Kami kan bisa menyambutmu," ucap bibi membuat Vany pun hanya mengangguk dan merangkul tangan Agam untuk masuk ke ruang tamu rumah itu.
Semuanya cukup sederhana di sana dan situasinya juga masih sama. Vany melihat kamarnya, masih ada banyak barang yang ingin di ambilnya. Jika memang masih ada di sana, tak di buamg oleh mereka.
Barang-barang kenangan masa kecilnya bersama ayah dan ibunya, karena waktu itu Vany tidak sempat membawa semua itu saat pergi dari rumah pamannya.
__ADS_1